
"Ayah," sapa Trevor sambil mengernyit. Rupanya ia juga sama sepertiku, tidak menyangka kalau ayahnya datang bersama Milady ke Garnet Property. Hal langka yang terjadi. Saking langkanya, di sini tidak ada yang mengenalnya. Karyawan berseliweran seperti hari normal seakan tidak mengetahui kalau pemegang saham mayoritas mereka, yang mengendalikan gaji mereka, hidup mati mereka, datang di pagi hari.
Namun sepertinya Pak Sebastian cukup menikmati saat-saat itu, tidak dikenali banyak orang membuatnya lebih bisa memperhatikan kinerja karyawannya.
Pak Sebastian menempelkan jari telunjuknya ke bibir, memberi tanda ke Trevor kalau ia ingin tetap dirahasiakan keberadaannya dari karyawan lain.
Trevor membuka ruangannya, mempersilahkan kami masuk.
"Trev, bukannya lo sering dijemput bokap lo? Kalo ke bank kan lo suka digeret ?!" bisikku. “Kok kayaknya nggaka da yang kenal Bapak lo?”
"Dia nunggu di lobi, di dalem mobil. Gue buru-buru turun nyamperin, biasanya," bisik Trevor.
"Hm..." aku mengelus daguku. "Tadi dia dari lift basement."
"Kenapa dia bisa sama-sama Milady?" tanya Trevor. “Ketemu di lift kali yak?”
Aku menatap Trevor yang lagi berpikir keras.
Astaga... Bahkan dia nggak tahu kalo bapaknya sendiri kawin lagi?!
Bener-bener dah si genderuwo.
Sudahlah... aku sudah disuruh tutup mulut. Kalau rahasianya bocor gara-gara diriku, bisa-bisa nanti nadiku bukan cuma ditekan, tapi mungkin bakalan ditarik putus.
"Jadi," Pak Sebastian duduk di kursi Trevor sambil mengangkat kakinya ke atas meja, lalu merogoh kantong jasnya dan mengeluarkan cerutu. "Gunawan Ambrose... Mantan pacar Meilinda yang sudah punya tiga istri," katanya. Lengkap sekali ya penyebutan embel-embelnya si Gunawan. Keliatan banget si Big Boss udah ‘mpet’.
Trevor menyalakan pemantik dan mengajukannya ke ujung cerutu ayahnya yang sudah dipotong.
"Kamu belum putuskan kontraknya?" Dia melihat ke arah Trevor.
"Belum, Ayah. Karena Gunawan terdaftar sebagai kuasa ahli di pemerintah Rusia. Untuk memperbarui kuasa, butuh waktu 6 bulan. Proyek di sana bisa mangkrak, sedangkan tenaga kerja harus gajian perjam, rugi bandar,"
"Tapi gerakannya di negara ini dibatasi, jadi dia masuk lewat perusahaan rekanannya sendiri. Dimas juga tidak bisa menolak proposalnya, karena tidak ada dasar," sahutnya.
Trevor menyerahkan portofolio Gunawan Ambrose kepadaku, untuk informasi inilah aku ke sini. Untuk mempelajari mengenai 'nasabah' baru. Terus terang, aku tidak ada dendam kepada Gunawan, karena toh Meilinda sudah jadi milikku, dan sebentar lagi kami akan menikah. Tapi yang jadi perhatianku, bagaimana cara Gunawan mengenal Bu Sarah. Proposal itu diajukan oleh Bu Sarah. Mungkin aku juga harus tanya ke Fendi nanti.
"Kalau dari segi pengembalian dana dia bankable, ya manajemen tidak ada alasan menolak. Lagi pula, saya tidak ada otorisasi untuk hold di depan, tim audit hanya bisa bergerak terhadap klien yang sudah resmi menjadi nasabah bank, bukan yang calon," sahutku.
"Kamu pelajari saja dulu portofolionya. Saya kasih tau Lionel." ia mengutak atik ponselnya.
"Siapa Lionel?" tanyaku.
Ia menatapku seakan aku orang paling aneh sejagad.
"CEO kamu," sahutnya sambil menghela napas. "Direktur utama kamu, pimpinan perusahaan kamu, ketua geng putus, atau apalah kamu nyebutnya," gerutunya.
"CEO saya namanya Pak Danu," sahutku
Sekali lagi ia menatapku seakan aku virus H5N1.
"Iyaaa boyoooo, Khamandanu Rufus Lionel," dengusnya berusaha sabar menghadapiku.
Aku langsung batuk karena tersedak.
Astagaaaa!
Namanya si Bossbro Vampire keren banget! Kenapa juga disingkat jadi Rusli.
Nanti kalo sampe kantor bakalan habis dia kuce'engin.
"Siyap boss," sahutku mengalah.
"Done," sahutnya sambil beranjak "Kamu ikut saya sarapan,"
"Saya sudah sarapan," aku nolak cepat.
"Menolak, saya pecat," sahutnya nggak bisa diganggu gugat. Ia langsung merangkul bahuku dan memaksaku keluar dari ruangan. Aku nggak bisa menghindar.
*****
Saat kami sampai di depan resepsionist, ada sesuatu menubrukku.
"Pak Dimaaaassss!" seru seorang wanita yang kini nemplok kayak magnet kulkas.
"Ayu kangeeen! Akhirnya bisa ketemu lagiiii... huhuuu" seru wanita itu.
Statusnya masih 'cewek' dong yah, bukan 'wanita'.
Aku menoleh ke Pak Sebastian, dia menatapku sambil menaikkan alisnya.
"Astaga, nggak saya duga sampai anak sekolah berhijab aja kamu garap," desisnya.
"Tapi kan udah baligh pak," aku membela diri.
Si Genderuwo langsung menatapku seakan aku kriminal.
"Bercanda kali pak, nggak usah salah paham dong. Saya bukan pedo-" Aku tidak melanjutkan ucapanku karena langsung menyadari kalau aku salah ngomong, melihat usia Milady yang notabene lebih muda dari anaknya sendiri, yang pantas dapat julukan pedo sebenarnya adalah...
Sudahlah.
Ia menatapku sambil melipat tangannya di dada, raut wajahnya kesal tapi pasrah. Lalu memberiku tanda kalau aku harus mempercepat pertemuanku dengan Ayu sambil menunjuk Ayu dengan dagunya.
"Kamu apa kabar Yu? Betah kerja di sini?" aku mendorongnya dengan lembut sambil mengamatinya. Eh, kok dia jadi cantik banget yah. Berasa punya adek cewek deh! Aku pun mengelus-elus kepalanya merasa bangga punya adek semanis ini.
"Betah Pak, Bu Milady baiiikkk banget sama Ayu! Ayu diajarin dandan, diajarin akuntansi, diajarin jualan rumah!"
"Bagus bagus. Kerja yang rajin yah!" aku mengacungkan jempol tanda ‘Sip!’.
Lalu dia menatap Pak Sebastian.
"MasyaAllah... Memang keluarga Pak Dimas ini ganteng-ganteng yah! Pak Bram saja udah Cakep! Sekarang bapaknya Pak Dimas ternyata lebih ng-ganteeeeng lagi!"
Yang disebut 'Bapaknya Pak Dimas' sama Ayu, itu siapaaaaa???
"Memangnya mirip saya yah?" tanyaku sambil melirik Pak Sebastian. Kelihatannya dia nggak rela disama-samain.
"Lah iya, Bapaknya Pak Dimas tampan bersahaja! Nggak heran pak Dimas jadi begini! Ayu jadi penasaran ibunya Pak Dimas kayak gimana!"
Beuh!
Nggak ikhlas aku dengernya...
"Ayu, Ini bukan bapak saya. Kenalin, ini Pak Sebastian..."
"Loh? Bukan bapaknya Pak Dimas toh? Eheheheheheh..." Ayu tersipu sambil meraih tangan Pak Sebastian dan menciumnya.
Duh nih anak solehah banget dah! Terenyuh aku ngeliatnya.
"Pak Sebastian ini Ayahnya Pak Trevor. Yang punya perusahaan ini,"
Aku melihat mukanya Ayu langsung pucat, matanya membelalak antara menatapku dan menatap Pak Sebastian bergantian.
Lalu dia bersujud sambil berseru.
"Tuan Besar!! Saya minta maaf yang sebesar-besarnya, mohon jangan hukum saya! Saya rela disuruh apa saja asal halal demi menebus kesalahan saya!!”
Ceile... dipikir ini novel menye kali ya, pake adegan Tuan Besar segala. Aku Tuan Muda dong? Nanti bagus juga kalo Pak Arman di sebut Sekretaris Man.
"Iya, nggak papa," Pak Sebastian menatap Ayu sambil meringis. Pertanda kalau ia langsung suka sama Ayu.
"Tolong jangan pecat sayaaaa!!" seru Ayu sambil gemetaran.
Pak Sebastian berdecak sambil mengutak-atik ponselnya. "Pecat kamu... Bisa-bisa saya diomelin lagi sama Milady," desisnya.
Lah! Diua malah takut sama Milady.
"Bucin," bisikku.
Dia hanya melirikku sambil mata tetap fokus ke ponselnya.
Mungkin di pikirannya, kalau aku bukan calon suami Meilinda dan anak bu Lastri, sudah dikirimnya aku ke kutub utara dipendam di es abadi biar bangkitnya pas Imam Mahdi muncul aja.
Dan yang lebih parah, aku sebenarnya cukup akrab dengan Milady saat dulu aku belum terlalu mengenal Meilinda. Bahkan Milady hampir saja kutembak jadi pacar.
Jadi, walaupun sangat ingin, ia tidak bisa menyingkirkanku karena backinganku cukup kuat dari berbagai sisi.
Aku lalu memberi kode ke Ayu kalau ia harus kembali bekerja di posnya, dengan mengibaskan tanganku. Ayu langsung mengangguk cepat sambil mundur ke belakang, lalu lari secepat mungkin.