Office Hour

Office Hour
Mengharukaaaan



"Sayang?" Meilinda menghampiriku dengan wajah bingung saat aku lagi di dapur, bikin Nastar buat Mamas Yayan.


(Sekilas info : dapurnya itu mentereng, canggih dan berkelas. Tapi nggak pernah dipake! Mubazir... Biasanya bapak tukang masak di rumah ini, pakai dapur yang di paviliun belakang, makanan diantar ke rumah utama. Bisa jadi aku adalah penghuni pertama yang pakai dapur ini, soalnya beneran kinclong kayak berasa lagi ada di display...)


"Iya?" aku mengangkat wajahku sambil tanganku tetap bergerak mengaduk selai nanas di kompor.


Meilinda mengangkat bunganya sambil tersenyum. "Makasih ya..." sahutnya.


Ih senyumnya manis...


Aku jadi bengong sesaat.


Awas gosong selainya.


"Suka?" tanyaku.


"..banget," balasnya sambil menghirup wangi bunganya, lalu menatapku dengan lembut.


"Kamu baru kali ini kasih aku bunga loh," desisnya sambil bersandar ke konter dapur.


Aku mematikan kompor dan mendekatinya.


"Habis kamu nangis terus dari pagi. Tuh bengkak lagi kan," aku mengusap pipinya.


"Maaf yah. Aku hanya... kebanyakan baper yah aku?" ia menatapku dengan sedih.


"Jangan nangis lagi, yah. kamu harus sabar. Kan di sini masih ada aku."


Ia berjinjit dan menciumku.


Lembut...


Manis...


"Udah jadi belom nastarnya? Laper!" dengus Pak Sebastian. Dia udah nyender di pintu dapur.


Ish... penganggu!


Perasaan tadi dia mau ke kantor habis nganterin aku, kenapa udah balik lagi?!


"Ya belom lah Yayaaaan! " Omelku sambil kembali ke kompor. "Kalo laper diganjel indomie dulu sanaaaa!"


Meilinda terkikik sambil duduk dan memeluk bunganya.


Pak Sebastian menatap adiknya, lalu menatapku.


Pandangan bertanya. Kira-kira kubaca : Meli udah tahu hasil lab yang sebenarnya?


Aku menggeleng.


Dia mengangkat sebelah alisnya, kira-kita kubaca : kenapa nggak dikasih tau?


Aku menyeringai.


Lalu dia terlihat mencibir, kira-kira kubaca : terserah lo dah!


"Jangan kelamaan, kabarin kalo udah jadi, nanti malam mau balik ke penthouse soalnya."


"Mau sekalian kubikinin indomie, Mas?"


"Nggak usah, saya suruh chef aja." ia melenggang keluar dari dapur setelah mengganggu aktivitas bermesraanku.


Caranya menurunkan derajat seorang chef : nyuruh bikinin indomie.


**


Nastar sudah sukses mendarat di tangan Pak Sebastian, dia pergi ke arah pintu untuk menemui Milady. Mereka akan bersiap kembali ke penthouse dengan hati senang karena oleh-olehnya Nastar.


Milady agak mengernyit melihat toples di tangan suaminya, lalu berbisik "Jangan makan banyak-banyak, awas gula darah kamu," desisnya.


"Kalau mau disisain ngomong aja sayang, nggak usah pake alasan gula darahku," timpal Pak Sebastian.


Milady tergelak


Pak Sebastian mengecup pipinya. "Yang nggak boleh banyak-banyak tuh kamu, kan ada nanasnya,"


"Sedikit..." Milady terlihat merajuk merayu Pak Sebastian.


Aku begidik.


Karena nggak tahan sama adegan mesra beda generasi, aku menimpalinya.


"Yang isi coklat ada di bawah," gumamku.


"Ssshhh!!" dengus Pak Sebastian sambil mengusirku.


Aku menyingkir ke kamar.


Setelahnya...


Aku merayu Meilinda.


Awalnya dia bersikap sesuai prediksiku. Dia tersenyum dengan wajah meringis, antara nggak enak mau menolakku karena badmoodnya masih tersisa namun kasihan padaku.


Akhirnya demi keselamatan nafsuku, aku menyerahkan hasil Lab yang baru dan kubandingkan dengan hasil lab lama yang kufoto.


Dia melongo.


Lalu dia menangis lagi.


Mungkin yang ini nangis lega.


"Biar aku maki-maki Dirut rumah sakitnya!" serunya.


"Nggak usah, udah diwakilin Mas Yan tadi siang," sahutku.


Ini kakak beradik bawaannya temperamen melulu.


"Terus...sayang. Aku..." aku mengutak atik ponselku, lalu menunjukan layarnya. "... Aku mau coba gaya ini!"


Dia mencibir.


Mungkin dia melihat binar di mataku.


"Astaga, Dimas..." Sahutnya sambil menggelengkan kepalanya. "Untung aku sering yoga."gumamnya pelan.


Aku cuma nyengir sambil siap-siap.


**


Sekitar Sebulan setelahnya...


Aku ke kantor seperti biasa dengan gumaman senandung dari bibirku, mengikuti alunan lagu yang terdengar dari earphone yang terpasang di telingaku.


Sesekali senyum-senyum saat penyiar radio melontarkan joke garing.


Untung aja pake masker, jadi aku mau senyum-senyum sendiri nggak bakalan diliatin orang.


Iya, aku masih ke kantor pakai transjakarta


Iya, masih pake masker, hoodie kesayangan, tas ransel, sepatu kets, gaya kayak Alan Walker. Iyaa...


Habis outfit itu yang paling nyaman.


Sedikit rindu sama suasana KRL yang desak-desakan sih, kalau naik Transjak nggak terlalu ramai... tapi tetap aja cowok nggak dapet tempat duduk.


Hm...


Cowok juga bisa capek loh.


Anyway, aku melepas earphoneku saat melihat Lionel juga menunggu lift. Walaupun dia udah jadi komisaris, ke kantor cuma seminggu 3 kali, dia masih dengan gaya dandanan vampir gothicnya. Setelan suit hitam-hitam dan tampang angker. Padahal tidak ada yang akan protes kalau komisaris ke kantor pakai kaos oblong dan celana pendek juga.


Terlihat kerumunan disekitarnya menjauhinya dalam radius 1 meter. Padahal lagi jam sibuk masuk kantor, tapi mereka lebih rela menunggu Pak Danu naik lift duluan dan terlambat absen kayaknya, dari pada satu lift sama doi.


Kudengar dia baru pulang dari Solo. Kemungkinan menemui calon mertua, Bu Ajeng Atmo, ibu Cecilia.


Jadi aku menagih oleh-oleh darinya sambil merangkul bahunya.


"Serabi solo, abon gulung, bakpia balong, serabi cup..." gumamku baca mantra.


"Monggo Maaas, Jangan kangkung, Jangan tempe, Jangan Rawon, " balasnya.


“Terus bolehnya apa?”


“Ya Jangan...”


Kami berdua terkekeh-kekeh.


(kata ‘jangan’ kalau di jawa berarti ‘sayur’. Memang kata-kata ini sering dibikin jokes karena beda pengertian. Kalau aku ngomelin anakku yang mainan stop kontak, dari jauh bilang, Adeeeek, Jangaaaaan! Apakah dia akan bilang : Horeee Yummy! Begitukah?)


"Gimana kabar bu Ajeng?"


"Baek, dapet salam dari trio rusuh."


"Gue masih dendam sama Posan, gara-gara dia gue jadi berantem sama Meli,"


"Lah, itu kan salah lo sendiri,"


"Pokoknya harus ada yang disalahin. Aku Dirut nih sekarang! CEO tak pernah salah pokoknya, kalau CEO salah yang dipecat karyawan," desisku menyindir dunia sinetron.


Pak Danu terkekeh.


"Gaya pakaian lo masih gitu-gitu aja nggak berubah. Tidak menampakkan citra seorang CEO."


"Biarkan saja diriku ini laaah," sahutku. "Bukan gue yang minta jadi CEO. Hanya jabatan yang naik tapi masalah jadi tambah banyak. Itu si Sarif gue tawarin gantiin jabatan gue, dia malah kabur. Nggak doyan duit kayaknya dia."


Pak Danu masuk ke lift.


"Sayang ilmu lo nggak kepake kalo masih di jabatan yang lama. Lagian udah sejak lama lo bantu manajemen dari balik layar buat semua kasus yang terjadi, sampe lo turun langsung ke lokasi dan sering handle kerjaan yang bukan jobdesk lo. Udah saatnya lo di puncak." sahut Pak Danu.


Aku melepas maskerku dan menurunkan hoodie.


"Nikah sama Meli udah ngebuat gue ngerasa di puncak..." sahutku sambil bersandar di dinding lift.


Beneran nggak ada lagi yang mau masuk lift, nih? Pada telat nggak papa nih?!


"Puncak apa? Puncak kenikmatan? Bahasanya stensil banget deh..." kata Pak Danu.


Aku terkekeh. "Puncak kesabaran," Ralatku.


Dia terbahak.


Aku perhatikan, gigi taringnya terlihat lebih panjang dari gigi yang lain. Baek-baek deh sama ni ora...eh, makhluk. Dia tersinggung bisa-bisa diisep darah lo, terus bentol-bentol (nyamuk, maksudnya).


"Eeehhh  Pak Diruuuuut!" Sapa Daniel. "Kok jam segini udah dateng?! Apa lo hari ini puasa, jadi sahur dulu nggak tidur lagi langsung berangkat kerja?!"


Aku menatapnya. Terlihat kalau ia ceria, tapi ada nada keluhan dari suaranya.


"Lo sendiri jam segini udah nyampe kantor... Lo kan udah biasa telat 4 menit 30 detik, udah jadi trademark lo. Kenapa jam..." aku melirik Rolex ber GPS dari Mas Yan yang terpasang di tanganku, harta kedua setelah Meilinda. "...Jam 7.30 lo udah nangkring di sini?!"


Dia menyeringai penuh arti, tapi tidak menjawabku.


"Di lante 5 ngapain? Mau meeting pagi?" tanyaku lagi.


"Kita tuh lagi ngurusin-"


Fendi langsung mencubit lengan Daniel sampai cowok itu meringis kesakitan, Daniel nggak jadi menjelaskan kegiatannya di lantai 5.


Aku curiga.


"Dia gerecokin Desi kalau-kalau nyimpen cemilan," kata Fendi. Kayaknya itu cuma pengalih perhatian.


"Dapet rampasan apa?" pancingku.


"Yupi, dua biji..." sahut Daniel.


Aku menengadahkan tanganku, minta yupi.


"Tega amat lo bro, cuma ada dua ini, gue lagi laper..." keluh Daniel.


Aku tetap menengadahkan tanganku.


"Lo kan baru jadian sama Si Number Nine. Palingan bentar lagi dikirimin bakmi," sahutku sambil membuka bungkus Yupi dan mengunyahnya.


Daniel menyeringai.


"Kayaknya hapal banget kebiasaan Isabel sampe tahu dia bakalan ngirimin gue bakmi."


"Dia jadi bucin gue sekitar beberapa tahun sampai akhirnya ketemu lo." aku beneran tidak ingin lagi ada 'Isabel-Isabel' yang lain.


Mungkin...


Mungkin memang harus ada seorang anak untuk meredam aktivitas memikatku. Mungkin ketampananku ini bisa terbagi ke anak-anakku.


Atau malah bisa jadi karena adanya Meilinda yang manis, anakku malah dobel cakepnya?!


Duh, gusti.


Aku menggaruk tengkuk-ku karena merinding.


Lalu menyadari sesuatu.


"Fen, lu ngapain di sini? Kan udah gue pindahin ke PIK? Kangen ama Gue?!"


Fendi menatapku sambil tersenyum licik.


"Iye...." dia mengerlingkan mata padaku.


Aku langsung jadi kepingin banget belajar Krav Maga dari Mas Yan.


"Takut amat sih. Gue juga punya etika kali. Lebih ke males diteriakin Bu Meli, sih," Desisnya.


Lalu ia terlihat melirik Daniel.


Mereka saling melirik.


Lalu saling melayangkan kode lewat tatapannya.


Aku makin merinding.


Jangan-jangan mereka....


Ih!


Saat lift terbuka, di sana sudah lebih banyak orang yang berkumpul.


"Eh... Kok kenapa kantor jadinya sesak banget yah." desisku


"Heheheheheh tenang Masss, tenaaaang!” sahut Daniel. Apanya coba yang tenang?! Tapi dia menyeringai penuh arti padaku.


Aku merinding lagi.


Lalu semua terdiam sambil menatapku dengan sinis.


Meilinda dan Selena keluar dari ruangan Direktur Kepatuhan sambil menatapku dengan kesal.


Bahkan Mas Yan ada di kantor ini, berdiri di sebelah Trevor dan Mlilady.


Tapi...


Mereka menatapku dengan tajam.


Aku berhenti melangkah dan menatap semuanya.


Ada apa ini?


Apa aku berbuat salah.


Pak Danu melewatiku menuju ke depan, lalu berdiri menghadapku.


“Gimana Dimas? Ngaku salah tidak?” tanyanya.


“Hah?!” dengusku. Apa nih? Aku lalu mengingat-ngingat pekerjaan apa yang kira-kira belakangan kukerjakan tapi dampaknya besar.


Keputusan apa yang kuambil dan ada resiko berakhir dengan kefatalan massive?


Apa?


Apa Dimas?! Mikir Dong!!


Rasanya sih nggak ada dan jangan sampai ada deh!


“Anuuu,” gumamku pelan. Aku beneran bingung.


“Mau dikasih tahu lo salah apa?” tanya Pak Danu.


“Boleh Pak, siapa tahu masih bisa dibenerin,” desisku. Tangakumulaikeringat dingin.


“Salahnya adalah... Lo masa lupa kalau ini hari ulang tahun lo?”


Eh?!


"SURPRISEEEEEE!!!!"


CTARR!!


CTARR!!


Aku kaget.


Aku sampai limbung ke belakang saking kagetnya.


Eh, ada apa iniiii!!!


Ada kertas-kertas gliter beterbangan di kepalaku.


Terus Meilinda memelukku.


Dan Alunan lagu Happy Birthday mengalun serentak.


Halahhhhh....!!!


Ini tanggal... 6 Juni.


Walaaaaah...


Aku lupaaaaaaaaa.


Padahal pas ulang tahun Meilinda aku kasih surprise, sekarang aku malah ketularan lupa juga kayak dia!


"Selamat Ulang tahun, Sayang," Meilinda mencium bibirku, diiringi sorakan yang lain.


"Ini... Kalo nggak ide kamu, pasti ide Nyi Blorong," Tebakku sambil melirik Selena.


Dia menjulurkan lidah dan mendesis padaku.


"Bukan. Ini ide Kakak,"


Aku melotot dan menatap Mas Yan dengan wajah nggak percaya, tapi terharu.


"Selamat ulang tahun Boyo, nih kadonya. Pajak bayar sendiri." ia menggeplak kepalaku, dan melempar kunci berlogo kuda padaku.


Ferrari...


Ah Gilaaaa!!


Seneng banget tapi stress, dan otakku mulai otomatis menghitung pajak tahunan mobil mewah.


Lalu semua mengerumuniku dan menyelamatiku.


"Jadi dari tadi lo berdua lirik-lirikan gara-gara beginian?! " tebakku ke Daniel dan Fendi.


"Lo datengnya kepagian, bro," kata Fendi. Dia jauh-jauh datang dari PIK ternyata untuk acara ini?!


"...Catering baru aja dateng kita prasmanan di ruang meeting besar di lantai lima, belom dekorasinya..." Fendi menepuk-nepuk bahuku. "Sampe gue diomelin Pak Haryono kan takut ketahuan,"


"Kado dari gue udah lo makan ye." sahut Daniel sambil menjabat tanganku.


Jadi Yupi tadi kado?!


Sudahlah...


"Ini dari aku." Meilinda menyerahkan kotak padaku. "Buka, deh," ia tersenyum simpul.


Aku membuka sambil deg-degan.


Ada test pack garis dua, foto USG, sama kartu, tulisannya : see you soon, Ayah.


Aku seketika merasa tubuhku mati rasa. Langsung lemas.


Lalu merasa wajahku memanas.


Aku akan jadi Ayah!


Wow...