
"Kesini kamu!!"
Pesan singkat dari Big Boss Bataragunadi, menghiasi layar ponselku saat aku bersiap-siap untuk pulang lebih awal. Meilinda sudah diantar pulang sama drivernya jam 12 tadi, dan sekarang jam 15 aku baru saja ijin Pak Haryono untuk pulang cepat mau jenguk kesayanganku. Agak makan waktu masalah ijinnya, karena seharusnya aku ijin ke Pak Danu sebagai atasan langsungku. Tapi dari tadi aku cari-cari Pak Danu nggak ketemu, whatsap nggak dibalas, jadi aku titip pesan ke Pak Haryono.
Iya, Cecil juga nggak keliatan.
Dua orang itu akan kami mintai pertanggung-jawabannya atas ketidakhadiran mereka dari pagi.
Hwekekekekekekeke!! (Ini ketawa licik)
Aku sampai di 'Istana' Bataragunadi jam 16. Lalu memutuskan untuk pinjam otoped sama Pak Sekuriti untuk berjalan ke arah pintu masuk yang jauhnya 50 meter dari gerbang.
Baru juga menapaki setengah jalan....
BYURR!!!
Udah disiram air sama entah siapa.
Aku menghentikan otopedku dan menoleh ke arah taman favoritku. Tempatku biasa melayangkan pandangan kalau sedang merenung sambil nungguin Meilinda siap-siap kalau pagi jemput dia.
Masa-masa itu apakah akan datang lagi?
"Huuadddooh!!! Maaf Den Maaf!!"
Seorang kakek-kakek tergopoh-gopoh mendekat.
"Kirain nggak ada orang! Habis jalanannya berdebu sekali!!"
Bajuku beneran basah, untung ponselku aman di kantong dan tasku kedap air.
Tadinya mau ngomel tapi melihat tukang kebun istana udah kakek-kakek, jadi malah iba.
"Bapak nggak apa-apa?" tanyaku.
"Lah kok malah kamu yang nanya!? Kamu sendiri gimana? Walah basah semua!" Dia panik dan mengelap bajuku pakai handuk yang tadinya dia sampirkan ke lehernya.
"Nggak, dikirain tadi Mamang Kebun oleng, jadinya malah nyiram saya," sahutku.
Saking basahnya merata aku jadi berkonspirasi jangan-jangan dia memang lagi nge-prank aku, disuruh sama Pak Sebastian.
Kalo begini sih jangan masuk dulu ke dalam rumah bisa-bisa becek lantainya.
Jadi sambil nunggu bajuku kering dan kebetulan matahari masih terik, jadinya aku,
"Butuh bantuan Pak? Sambil nunggu baju saya kering," aku menyeringai.
Mamang Kebun kelihatan bengong.
"Wah, Ya butuh sih sebenarnya," ia tampak berpikir mau minta bantuan apa padaku.
Dan akhirnya aku bantuin dia cangkul tanah buat menanam bonsai raksasa di taman.
Akhirnya setelah beberapa lama,
"Segini cukup pak?"
"Ya cukup lah Den, itu mah terlalu dalam kayak mau mbangun sumur!"
"Kenapa nggak bilang stop tadi, ih si mamang nih,"
"Habis situ semangat banget jadi nggak tega mau bilang berhenti. Lagian ini kan bonsai, Den, akarnya di atas ngapain gali tanah dalem-dalem." ia terkakak.
Aku mencibir.
"Bonsai apa sih ini kok gede banget?"
"Ini bisa mencapai 30 meter loh tingginya nanti. Namanya Wisteria. Tapi beracun, sih Den. Jadi jangan dijadiin lalap,"
"Saya favorit nasi pake kecap, bukan nasi pake lalap,"
"Dulu waktu di kampung saya pernah nasi pake garam,"
"Waktu belom gajian, saya pernah nasi pake royco,"
"Ah situ pasti banyak yang mau traktir, ngganteng gini!"
"Nggak enak minta-minta Mang, lagi lembur adanya nasi sama royco di pantry,"
"Enak?"
Aku terdiam. "Sejujurnya sih, enak Mang,"
Kami tertawa berbarengan.
Setelah selesai semua sampai menanam tanaman herbal segala, kami lalu duduk berdua di rumput sambil memandang ke taman yang luas.
"Bagus kan taman yang saya rawat?" tanya Mamang Kebun
"Bagus Mang... Saya suka ngeliatin taman ini kalo pagi-pagi nungguin Meilinda. Tanamannya mahal semua," sahutku.
"Iya, wisteria tadi harganya 100jutaan. Malah ada bonsai di dalam yang usianya sudah 200 tahun, harganya sekitar 500jutaan,"
"E buset," desisku.
Tapi kalau maniak, berapa pun harganya biasanya dibeli sih.
"Memang siapa yang suka tanaman Pak? Setahu saya, Pak Sebastian dan Meli nggak terlalu suka merhatiin taman, mereka asal ‘rumput warnanya ijo’ aja udah dianggap taman,"
"Hahahaha iya kamu bener sih Den. Kalau saya sih suka merawat tanaman. Kalau melihat mereka tumbuh indah berbunga rasanya hati saya adem,"
"Udah lama kerja di sini Mang?"
"Memang berapa seumur hidupnya Mamang?!"
ia terkekeh. "Tahun ini usia saya 85 tahun."
"Kanjeng Sesepuhan," Aku menunduk dan mencium tangannya.
"Halah!" sahutnya sambil mengacak-acak rambutku. Kami sama-sama terkekeh.
Lalu kami diam lagi.
"Aden ini mau ketemu siapa, tadinya?" tanyanya akhirnya.
"Nama saya Dimas, Pak. Saya mau nengok Meilinda tadi dia demam. Sekalian Pak Sebastian juga manggil saya," aku memperlihatkan isi whatsap Pak sebastian ke Mamang tukang kebun. Ia memicingkan mata terus terkekeh.
"Kayaknya marah besar itu, tanda serunya sampai dobel,"
"Iya, makanya saya ulur-ulur waktu kedatangannya, ada perasaan nggak enak," aku meringis.
Ia mengangguk. "Memangnya kamu bikin salah apa kok sampai merasa nggak enak perasaan kamu?"
Aku menggaruk rambutku.
"Yah... Kayaknya rasa cinta saya bikin orang lain ikut kesusahan."
"Kok dibikin rumit?"
Aku mengangkat bahuku.
"Jadi, saya ini sudah selama 4 bulan ini menjalin hubungan sama bu Meilinda."
Dan aku mulai menceritakan alur ceritaku, kecuali bagian yang mesum-mesum. Semua kata-kata mengalir bagaikan air.
Kenapa yah?
Rasanya bercerita dengan orang yang lebih tua itu bagaikan pelepasan stress yang kualami selama ini. Apa benar aku mencari sosok Bapakku selama ini? Beliau meninggal saat aku kuliah dan Bram juga sedang mengusahakan kestabilan keadaan keuangan keluarga. Kami sama-sama sibuk saat itu dan ternyata kesibukan menyita sebagian besar waktu kami sampai sekarang, jadi kami hanya bisa saling curhat sepenggal-sepenggal. Itupun karena kami kurang berpengalaman dalam hal cinta-cintaan jadi masa lalu kami malah morat-marit.
Setelah selesai bercerita aku merasa lega.
".... Jadi tadinya saya berpikir cinta itu tidak harus memiliki, tapi akhirnya saya sadar kalau salah." aku mengakhiri ceritaku.
"Den, apa sih cinta itu? Menurut Aden bagaimana cinta itu?"
Aku memikirkan jawabannya.
"Den, kalau kamu masih berpikir mengenai jawabannya, itu berarti kamu masih dalam keadaan tertekan. Jangan, Den, hasilnya tidak bagus kalau dipaksakan. Hanya karena pandangan orang lain atau karena keadaan yang dianggap menjebak, lalu Aden langsung klaim jatuh cinta, jangan begitu den!"
Aku menatap Mamang tukang kebun.
"Saya nggak bisa kalau jauh-jauh dari Bu Meilinda, pak. Rasanya sesak. Melihat dia sama laki-laki aja saya langsung naik pintam. Lalu itu namanya sekedar ngefans atau beneran cinta?"
"Suka sama cinta itu beda Den. Sekarang kira-kira apa yang Aden sudah lakukan untuk memperjuangkan keberadaan Bu Meli agar tetap di sisi aden?"
"Hm... Belum ada." sahutku.
Mamang terkekeh."Masa belum ada?"
"Apa yah yang sudah saya perjuangkan? Kalau dia sih banyak. Sampai diancam, sampai saya putusin, sampai cari-cari info soal dalang keributan, sampai sekarang... Sakit gara-gara kecapekan juga karena saya,"
Mamang menunjukan seringainya.
"Nah, kalo begitu, jadi benar Aden Dimas ini sudah jatuh cinta sama Neng Meilinda. Itu harus dipertahankan selamanya Den, karena jodoh itu amanah dari Tuhan,"
"Indikasinya apa saya beneran jatuh cinta?"
"Loh... Masih nggak sadar?" tanyanya.
Aku mengangkat bahuku.
"Rela jadi supir sampai ke Bandung, diomelin berkali-kali sama Mas Yan, lalu surat ancaman itu dipikir sampeyan nggak capek mengusut pelakunya? Terus itu... Sampai mutusin hubungan karena nggak mau Neng Meli kerepotan sama cewek-cewek, diculik segala, lah itu apa namanya kalau bukan perjuangan cinta?"
"Nggak merasa berjuang sih. Kayak udah kewajiban aja pak, mengalir begitu saja."
"Lah ya itu namanya cinta toh Leee!"
Aku tertawa.
Lucu juga si mamang tukang kebun ini.
Tak terasa pakaianku sudah mengering.
"Saya masuk dulu deh Mang, ke dalam, daripada Big Bos ngomel lagi,"
"Eh, dia sepertinya lagi marah banget loh. Kamu siapkan hati,"
"Udah biasa Mang dia ngomel-ngomel ke saya,"
"Ya jangan dibikin kebiasaan, kan yang mau menjalani kamu sama Neng Meli, jangan biarkan orang lain mengatur perbuatan kamu."
Aku mengangguk karena bisa mencerna kalimatnya.
"Ya sudah sana masuk. Kalau butuh bantuan, saya di sini." katanya.
"Ya Mang. Wismilak kayak merk rokok saya!"
"Ya selain Wismilak juga Bismillah dong!" sahutnya.
Aku tertawa lalu mengucapkan doa dalam hati.