
Aku hanya mengikuti Meilinda yang menarikku perlahan sambil menyeringai menggodaku, bagai terhipnotis aku menuruti kemana pun ia pergi.
Rumah Darmawangsa sepi, para pelayan sedang istirahat di paviliun samping, Trevor dan Pak Hans masih di kantor, dan Mas Yan - Milady sepertinya sudah mantap menetap di penthouse Garnet Hotel.
Saat kami tiba di kamar, aku langsung meraih tubuh Meilinda dan menggendongnya ke atas meja rias.
Hanya lengu han dan d3 sa han yang terdengar dari kami.
Aku meloloskan hoodieku, lalu membuka kemejaku, dan melonggarkan ikat pinggang.
Ia melepas kemeja dan celananya.
Kami berciuman seakan itu hari terakhir kami bertemu.
"Aku cinta kamu," desahku. Aku mengu lum dadanya.
Ia melenguh.
"Aku benar-benar cinta kamu," aku mulai meracau. Isi otakku kosong.
Saat helai an kain terakhir meninggalkan tubuh kami, Meilinda mendorongku dan turun dari konter, lalu mengarahkanku untuk berbaring di ranjangnya.
"Aku di atas ya..." pintanya.
Ia kembali mendorongku supaya aku lebih santai, lalu naik ke tubuhku.
Aku mengamati tubuhnya.
Semua yang ada di dirinya indah...
Semua yang ada di dirinya cantik...
Surgaku ada di sana.
Ia merambat lebih turun lagi dan memasukkan tubuhku ke mulutnya, lalu epalanya mulai bergerak perlahan.
Astaga...
Aku tidak bisa menjelaskan rasanya dengan detail, yang aku tahu aku terlena sesaat melupakan keberadaanku.
Saat aku mulai mengeras sepenuhnya, ia menghentikan aktivitasnya dan mulai duduk dengan menegakkan punggungnya.
Ia meraih adikku dan menggesekkannya ke bagian tengah dirinya.
Matanya nanar memandangku.
Ada saatnya aku merasa aku ini baji ngan paling beruntung di dunia. Karena aku memiliki wanita yang paling kuinginkan.
Setelah selama ini mencari ke mana-mana tak tentu arah, sampai aku merasa mati rasa dan memutuskan untuk tidak mengumbar janji apa pun ke siapa pun, berkali-kali terlibat dalam hubungan tanpa status yang membuang waktu, kenal dengan banyak sekali wanita-wanita tercantik di golongannya, berhati-hati dalam setiap langkah jangan sampai aku merugikan diri sendiri.
Entah bagaimana caranya aku masih bisa mempertahankan diriku dari hubungan in tim, padahal aku bisa mendapatkannya dengan mudah.
Aku memang tidak sepenuhnya buta dalam hal itu, ada banyak cara untuk bisa memuaskan wanita selain masalah s3ksual. Seperti yang kulakukan dengan Meilinda di mobil tadi.
Dan sampailah aku ke sini, ke pelabuhan.
Mungkin memang diriku diciptakan untuk Meilinda.
"Mel..."
"Coba buat diri kamu rileks," ia berbisik padaku
Aku tidak tahu bagaimana caranya rileks dalam kondisi seperti ini.
Apalagi saat aku merasakan kehangatan dirinya.
Sial...
Seperti ini rasanya ternyata!
Pantas hampir semua laki-laki kecanduan dengan rasanya.
Ditambah lagi gerakan tubuhnya.
Le nguhan nya
D3 sah annya
Semua adalah fantasi yang selama ini hanya dapat kulihat di video dan bayanganku saja.
Saat ini semua tersaji di depanku.
Ia bergerak dengan perlahan...
Lama-lama makin cepat.
Dan yang kuingat beberapa menit setelahnya, dekapannya mengencang dan berkedut.
Dia sudah lepas.
Dan kini terengah-engah di atasku.
Menatapku dengan sendu sambil mengatur napasnya.
"Kamu cantik..." desisku sambil meraih rahangnya dan menciumnya.
"Kamu belum selesai." bisiknya.
"Iya... No more 'woman on top' this time,"
Dan aku menariknya ke posisi bawah, menahan kedua tangannya di atas kepalanya.
Aku akan mewujudkan semua fantasi li arku terhadap istriku.
Wanita kesayanganku.
**
Aku skip seminggu setelahnya ya Mak e Mak, nyari situasi yang seru aja menurutku nih.
Aku terbangun dari tidur karena ada suara berisik di sekitarku.
Males banget rasanya mau bangun, gravitasi di sekitar springbednya Meilinda terlalu berat untuk kutolak. Apalagi tadi malam kami benar-benar bekerja keras untuk menuntaskan segala fantasi liar yang sudah tertahan berbulan-bulan.
Aku berusaha duduk dan mengerjabkan mata.
Lalu dengan was-was mencari jam tangan rolex ber GPS dari Mas Yan.
Aku nggak kebablasan tidur dua hari lagi kan?!
Oh, ternyata enggak, masih tanggal 25 hari Minggu... Baguslah.
Karena seingatku terakhir kali aku tidur adalah hari Minggu jam 3 pagi. Sekarang masih hari minggu, jadi aku mungkin baru tidur beberapa jam.
Suara berisik yang ku dengar berasal dari dekatku. Aku tajamkan pendengaranku, tampaknya juga ada suara tangisan dan suara seorang wanita.
Aku berusaha berdiri dan beranjak dari kasur
Dan kulihat di kloset baju, ada Meilinda dan Milady sedang berpelukan.
"Kenapa?" Tanyaku.
Mereka tampak kaget melihatku.
"Sayang..." Meilinda menghapus air matanya. "Nggak papa, cuma baru aja curhat sama Milady..."
Aku menaikkan sebelah alisku.
Curhat sampai nangis begitu? Setahu aku kalau sampai wanita curhat hingga menangis, kalo nggak ngomongin drakor ya pasti masalah cinta-cintaan.
"Nggak papa atau kenapa-napa?" tanyaku memancing.
"Pake baju dulu dong broooo..." dengus Milady sambil melempar boxer ke kepalaku dari tumpukan bajuku di sebelahnya.
"Lo tuh ada di dalam lemari baju gue, sis... Jangan salahin gue dong," Balasku.
Milady terkekeh.
Jelas bukan dia yang lagi curhat.
"Apa?" Aku menuntut penjelasan ke Meilinda sambil mengenakan boxer.
Sambil setengah oleng karena masih ngantuk.
Meilinda menatap Milady.
Milady menghela napas sambil tersenyum tipis.
"Dia suami kamu, dia pantas tahu. Kalian harus bicara..." Bisik Milady ke Meilinda.
"Hm," Dengusku setuju sambil berkacak pinggang.
Sejak kapan sih Meilinda menyembunyikan sesuatu dariku? Perasaan baru hari ini sih.
Makanya aku langsung ngeh karena pasti ada yang penting.
Dia menyerahkan secarik kertas padaku.
Hasil tes kandungan.
Meilinda sudah memasuki masa menopause.
"Terus?" Tanyaku sambil menyudahi membaca laporan.
Mata kesayanganku melotot.
"Ya itu!" Sahutnya tak sabar. Tangannya menunjuk kertas di tanganku.
"Iya... Sudah memasuki masa menopause. Terus kamu nangis kenapa?"
"Ya kita nggak bakalan bisa punya anak Yang!" Serunya.
Ngiung ngiung ngiung... Kayak ada sirine ambulan di dekat telingaku.
Baru bangun ini, jangan diteriakin dulu dong!
Aku mengernyit karena menahan suara yang menusuk telingaku. Nggak dikantor (Selena) nggak di rumah (Meilinda) kenapa di sekitarku banyak wanita dengan suara mirip toa sih?!
"Iyaaa terus kenapaaaa aku nggak ngertiiii..." desisku sambil menyerahkan laporan kembali ke Meilinda.
Meilinda bertatapan dengan Milady.
"Kamu nggak mau punya keturunan?" Tanya Meilinda.
Aku mengangkat bahu.
"Bukan masalah bagiku," sahutku. Lalu menunjuk Milady dengan daguku. "Kalau Mas Yan mungkin masalah. Tapi kalau aku, itu bukan prioritas,"
"Keluarga kita tidak akan lengkap tanpa anak-anak!" Tambah Meilinda.
"Aturan dari mana itu, Sayang?"
"Yaaa... h," Si Sayangku tampak berpikir.
Milady tersenyum padaku.
Aku yakin ia juga berpendapat sama denganku, tapi ia tidak enak mengatakannya ke Meilinda karena ia sedang hamil.
"Jodoh, mati, anak, rejeki. Itu semua terserah Tuhan. Kita nggak bisa mengaturnya." sahutku.
"Kamu... Serius? Anak bukan prioritas kamu?!" tanya Meilinda.
Aku menghela napas.
"Kayaknya lebih ke kamu yang ingin yah. Aku sih biasa-biasa aja," sahutku sambil menghampirinya.
Lalu aku mengelus pipinya.
Ia tampak sedih, namun saat ini ada sedikit kelegaan di matanya. Airmatanya sudah berhenti. Namun kelopaknya tampak membengkak. Entah sudah berapa lama ia menangis.
"Kalau kamu memang sangat menginginkan anak, ada solusi untuk anak asuh atau adopsi. Kita punya jutaan anak yatim piatu tersebar di seluruh negeri. Atau kalau hanya ada kita berdua sampai tua, aku sih nggak masalah," Aku menyampirkan rambutnya yang menutupi wajahnya ke belakang telinganya. "Hanya... Aku ingin kamu tidak maksakan diri. Jangan dengarkan paradigma orang lain. Cukup dengarkan aku saja. Lihat aku saja."
Aku mencium bibirnya.
Setelahnya Meilinda kembali terisak sambil memelukku.