
“Mbak,” Daniel menghampiri seorang wanita yang sedang berdiri di teras Lobby, menghadap ke arah jalan raya di depan mereka, sambil berusaha menghapus air matanya.
Wanita itu menoleh dengan kaget dan melihat Daniel, lalu ia membuang muka dan berusaha tidak menunjukkan air matanya.
“Mau apa lagi kamu?” terdengar suara wanita itu serak dan sengau. Wanita itu adalah Isabel, dan dia mengenakan seragam Beaufort Company. Perusahaannya Alex.
Walau pun tadi saat di ruang meeting pas keributan, Isabel menutupi bajunya dengan cardigan panjang, Daniel sempat melihat ciri khas di kerah seragam wanita itu.
Apalagi Isabel sangat vokal di kerumunan, membuat Daniel langsung tertarik dengan wanita itu.
“Nih, minum dulu...” Daniel menawarkan kopi dari cafe terdekat, yang memang ia khusus beli untuk Isabel.
“Saya nggak suka kopi murah,”
“Ini kopi langganan Dimas loh,”
“Oh gitu,” dan Isabel pun menyambar gelas itu dan menyeruput isinya. Membuat Daniel langsung mencibir. Ya tapi dia memang tidak berbohong, kalau Daniel ada maunya ke Dimas, kopi itulah yang ia gunakan untuk menyogok temannya itu agar mengerjakan pekerjaan yang menurutnya sulit. Apalagi kalau udah ngomongin campur tangan Direksi, Daniel kerap meminta bantuan ke Dimas.
“Mbak... sejak kapan kenal Dimas?”
“Kapan ya...? sekitar 3-4 tahun lalu waktu kami sama-sama masih kerja di kantor lama. Dia bagian Akunting, saya bagian Sekretaris,”
“Emangnya Mbaknya pacaran sama Dimas?”
Wajah Isabel berubah jauh lebih muram, “Ya nggak sih. Sama seperti ‘yang lain’ kami hanya berharap,” lalu ia menoleh ke arah Daniel dan memicingkan mata, “Kamu jangan seenaknya menghakimi, Dimas itu mengalihkan perhatian saya dari runtuhnya dunia! Saya itu dulu hampir bunuh diri gara-gara diputusin! Sampai sekarang kalau saya patah hati, saya keingatnya Dimas, jadi berasa masih ada harapan buat hidup!”
“Daripada harapan hidup diserahkan ke Dimas bukannya lebih baik memasrahkan diri ke Yang Maha Kuasa, Mbak? Dimasnya juga tersiksa kali kalau kalo digituin, Mbaknya pikir dia itu Nabi?!” gerutu Daniel.
“Saya sebagai teman sering suka sedih kalo ngeliat Dimasnya kebingungan nanggepin cewek-cewek macam Mbak nya ini loh, yang maksa buat disukain padahal dianya kan manusia biasa, cowok biasa, dia bahkan punya selera sendiri, kali!”
Isabel pun menarik nafas panjang dan menghela. “Saya bukannya nggak tahu, tugas sehari-hari saya di kantor sekarang, adalah menghalau para gadis yang bikin perhitungan ke Boss-Boss kami yang maksa masuk ke kantor,”
“Mbaknya sekretaris yak?”
“Iya. Dan Boss-Boss kami, semuanya playboy. Lebih parah dari Dimas. Bukannya nolak-nolakin, mereka ‘pakai’ itu cewek-cewek. Kalau bosan dibuang. Dan saat si cewek bikin perhitungan, atau bahkan hamil dan seringkali sudah depresi karena menyerahkan segalanya, kami lah yang bertugas menghalau mereka, garda depan, sekretaris,”
“Sekretaris di perusahaan mana?” sebenarnya Daniel sudah tahu tapi ia berusaha memastikan agar tidak salah.
“Di Beaufort Company,”
“Wait...” desis Daniel. Tiba-tiba ia teringat suasana Raker tadi pagi, “Ada yang namanya Alex Beaufort nggak di sana?”
Isabel langsung mencebik, “Direktur yang nyamar jadi OB dan memata-matai kami. Ada... Pak Presdir sekaligus pemegang saham mayoritas. Alexancer Lucas Beaufort,”
“Dia bukannya bromancenya si Dimas yak? Setahu saya loh, mereka suka makan bareng tuh sama Pak Leon dan Pak Bara,”
Isabel langsung menoleh sambil membelalakkkan matanya.
“Hah?”
“Sama... siapa tuh yang cantik banget namanya tuh, pacarnya Alex beaufort kalau tak salah. Satu circle tuh. Dimas pernah cerita mereka semua dulu satu almamater beda jurusan di kampus. Lupa saya namanya,”
“Hah? Kamu serius nih?”
“Coba tanyain aja, Mbak. Saya ngehnya, waktu itu pas mereka makan bareng, si Mbak yang cantik itu pakai seragam sama persis sama yang Mbak Isabelnya pakai sekarang ini,”
“Si SIx? Dimas kenal sama Six?”
“Six apa’an? Enam atau yang lain?”
“Iya, penyebutan sekretaris di kantor kami pakai nomor urut. Nomor satu sampai lima itu jajaran Direksi. Sekretaris Direksi jadi dimulai dari Six, Seven, Eight, Nine , Ten. Saya Number Ten, nomor Sepuluh,”
“Ya kenal dong jadi...”
“Sebentar! Kamu diam di sana sebentar, saya mau telpon si SIx dulu!” Isabel mengacungkan telunjuknya ke depan hidung Daniel dan menekan tombol di layar sentuh smartphonenya. Daniel mencebik, henpon yang dia inginkan dipegang Isabel.
Ya dia bisa saja sih beli pakai warisan bapaknya. Tapi apa kata dunia pakai duit warisan cuma buat beli hape puluhan jetong. Mendingan Daniel nabung atau ngutang aplikasi online aja sekalian daripada malu-maluin keluarga besar.
Tapi ngiler juga sih ngeliat Sekretaris setara Isabel pake hape keren.
Di ujung sana,
Wanita yang jadi salah satu tokoh favorit para pembaca di jajaran novel Tante Author karena terkenal dengan kejudesannya dan sikap cueknya yang semau gue, Bianca Damar, alias, Mbak Six kalau Alex nyebutnya di kantor, mengangkat telepon dari Isabel dengan menggerutu karena ia sedang di tengah keribetan masalah keuangan.
Bianca memang sering membantu Divisi lain untuk segera meloloskan request Boss Besar alias Alex Beaufort yang kadang permohonannya aneh-aneh. Contohnya saat ini, tiba-tiba saja Alex minta dikirimkan dana 50 Miliar ke rekening penampungan di Garnet Bank, suatu hal yang mengejutkan karena Alex sudah bilang jangan berhubungan apa pun dengan Garnet karena mereka rival bisnis. Walau pun di luar perusahaan mereka bestie kental. Masalahnya Alex dan Arman saling membenci.
Berhubungan dengan Garnet dan anak usaha mereka sama saja gencatan senjata dan membuka kembali jaringan dengan Arman. Karena segala sesuatunya harus melewati Arman dulu sebagai Corsec yang ditunjuk untuk screening. Walau pun dalam hal ini, Alex diminta oleh Dimas.
Ditambah lagi, tahun ini Beaufort Bank dalam target memenuhi profit. Penempatan Antar Bank (atau sesama Bank, Garnet Bank vs Beaufort Bank) semacam yang Alex minta memang tidak dikenakan pajak, tapi tidak boleh mematok bunga deposito yang tinggi. Itu sebabnya hal ini dipandang Bianca sebagai sesuatu yang kurang menguntungkan.
“Six! Lo di kantor?!” tembak Isabel.
“Ten, Kamu tahu kan kalau kita lagi sangat sibuk? Kamu kemana saja meninggalkan Pos kamu? Saya harus menghandle pekerjaan Pak Andre selagi kamu tiba-tiba hilang! Sekretaris tidak diperkenankan untuk-”
“Gue di Garnet!” potong Isabel.
“Untuk apa kamu di Garnet? Kita di sini lebih butuh kamu!”
“Lo boleh dah ambil gaji gue bulan ini kalau mau, tapi gue butuh info dulu dari lo,”
“Ah iya gue lupa siapa bokin lo, elaaah!” gerutu Isabel, “Lo kenal Dimas nggak? Dimas Tanurahardja,’
“Kenal. Dia juga teman Alex, teman Leon Bara, pacarnya Meilinda,”
“Kenapa gue bisa nggak tauuuu!” seru Isabel menyesal.
“Ya wajar kalau kamu tidak tahu. Hubungan pertemanan kami di luar bisnis. Dimas sering kok mengunjungi Gedung Beaufort untuk menemui Leon dan Bara, urusan game kalo tak salah. Cek saja CCTV,”
“Kalau nemuin Pak Leon dan Pak Bara kan nggak lewat gue Siiiix, mana gue tau udah beda lantaiii,” keluh Isabel.
“Memang ngapain kamu tanya-tanya mengenai Dimas?”
“Gue sekali lagi patah hati...”
“Apa hubungannya patah hati kamu dengan Dimas,”
“Lo nggak usah tau, gue bisa malu sampai ke langit ketujuh,” dan Isabel menutup teleponnya dan menatap Daniel. “Mereka bestie doooong! Sial banget gue!!”
Daniel hanya menyeringai, “Kamu jatuh cinta ke orang yang salah. Nah kalau begini, wajar kan kalau Dimas sampai pacaran sama Bu Meilinda. Kan memang hubungan sekitar mereka erat jatuhnya,”
“Kalah telak gue...” Isabel mengusap wajahnya.
Daniel bersandar di railing sambil memperhatikan Isabel yang sedang pusing. Senyumnya melembut. Dalam hatinya ia berpikir, apakah semua sekretaris di Beaufort se-menawan ini gayanya? Pakaian mereka provokatif sekaligus anggun, dan gaya tubuh mereka seakan terlatih untuk elegan di kondisi apa pun. Daniel jadi teringat para anak buah Pak Arman di Garnet Grup. Para agen Assassin dan Bodyguard di sekeliling Pak Sebastian juga dirancang demikian. Seakan Beaufort terinspirasi dan berusaha menciptakan GSA versi perempuan.
Atau sebaliknya? Garnetlah yang mengadaptasi Beaufort?
Yang mana pun mereka 11 12, mirip.
“Dalam hal mencintai tidak ada kalah menang, Mbak. Adanya takdir...” sahut Daniel.
Isabel menarik nafas panjang.
Lalu ponsel Isabel pun berdering, dari Six.
“Apaaaa,” jawab Isabel.
“Bukan itu cara yang tepat untuk menjawab telepon, Ten. Kamu itu sekretaris dan ini masih jam kerja,”
“Duuuh Mbak SIx bawel banget sih!” sungut Isabel kesal. Tapi secara spontan ia perbaiki juga cara berdirinya dan ia kibas-kibaskan debu yang menempel di seragamnya. “Bisa saya bantu, Six?”
“Kamu masih di Garnet kan Ten? Kurir akan ke sana untuk mengirimkan berkas penempatan Deposito. Kamu antarkan ke Direktur yang berwenang untuk minta tandatangan ya, setelah itu serahkan ke Pak Arman di Garnet Grup untuk minta Screening,”
“Gue harus ke Pak Arman? Ogah!”
“Jangan menolak,”
“Bisa-bisa gue dilecehkan hanya dengan diliatin doang SIx, dia itu kalo merhatiin cewek macam gue berasa mau nerkam!”
“Bukannya kamu juga suka ya?”
“Gue takut kecanduan! Gue udah tobat sejak si Alex jadi Presdir!!”
“Ya kamu bisa minta seseorang dari Garnet untuk menemani kamu. Mungkin Dimas bisa bantu-“
“Jangan Dimas, Plis. Gue sendiri aja,”
“Oh iya, bagaimana kamu bisa kenal Dimas-“
“Lo nggak usah mau tahu, janganb ahas itu lagi... gue mau move on,”
“Move on gimana maksudnya?”
“Enough is enough, Bye!” gerutu Isabel sambil mentup teleponnya dan menatap Daniel. “Gue kena tulah... sial banget hari ini,” gumam Isabel.
“Yuk, kutemani ke Garnet...” Daniel langsung menawarkan dirinya.
“Serius kamu mau nemani saya?”
“Saya tahu sikap Pak Arman ke cewek-cewek. Udah terkenal gosipnya. Tapi kalau kita ngaku pacaran, dia nggak akan ganggu,”
“Hah? Kita bakalan ngaku pacaran?”
“Mau pacar beneran juga nggak papa, hehe,”
“Kamu nggak kenal saya. Mas. Masa lalu saya bisa bikin kamu geleng-geleng kepala,”
“Yaaaa, pelan-pelan lah kita saling kenal. Nama saya Daniel...” Daniel mengulurkan tangannya ke Isabel.
“Hem... Isabel,” sambut Isabel.
“Habis ini kita Diner tapinya ya?” tawar Daniel lagi sambil menyeringai.
Dan begitulah awal perjumpaan Daniel dan Isabel. Akhirnya mereka memang akrab dan pertemanan ini nantinya berujung ke pernikahan. Lumayan lah Daniel dapet cewek Beaufort. Walau pun mungkin para pembaca dalam hati spontan reflek berujar, ih si Isabel kan bekasan direksi’ (silakan yang belum baca Limerence... hwehehehe), tapi bagi Daniel yang polos dan baik hatinya ini yang penting adalah masa depan. Apalagi Isabel sudah berikrar untuk berhenti dari yang begitu-begituan.
Tapi kita tidak membahas mereka lebih lanjut. Karena ini novelnya Dimas. Hehehehe.