
Aku dan Pak Jafar kali ini maju berdua. Bang Ketua yang tadi, masih berjaga di depan portal rumah Pak Kibul.
Kenapa kami hanya berdua?
Jawabannya, karena kami masih single.
Paling tidak kalau ada apa-apa, kami bukan tulang punggung keluarga.
"Bang, minta ijin buat ketemu Pak Kibul," sahutku.
"Lo yang tadi? Masih belom nyerah?! Nyali lo gede juga yah..."
"Gue ketemu Pak Kibul buat manjangin jangka waktu atau kasih modal tambahan, bukan buat nyita rumahnya. Sita-mensita urusan pengadilan nanti kalo diskusi yang ini nggak berjalan baik. Gue nggak bawa siapa-siapa, cuma bawa nyawa doang,"
Lagian kalo berhasil disita juga jualnya susah, pasti penghuni baru bakalan dapet teror dari lingkungan sekitarnya. Secara rumah ‘Kepala Suku’ gitu loh.
Bang Ketua menatapku dengan seksama. "Gue peringatin lo ye, sampe lo bertindak yang aneh-aneh, gue bacok lo punya idung mancung!"
Hidungku langsung pingin bersin.
"Iya, Yang penting ketemu Pak Kibul dulu," sahutku. Kami dikasih jalan, dibukain gerbang.
Pak Kibul, si beruang kutub perut buncit, sebel aku ngeliat doi, menyapa kami di teras rumahnya.
Berikutnya urusan Pak Jafar yang ngomong. Aku cuma duduk mendampingi, mengamati dari segi kepatuhan apakah ada pelanggaran ditindakannya, dan mereka mulai berhitung-hitung simulasi angsuran yang baru.
Ada kali setengah jam aku main candy crush.
Tapi tampaknya angsuran yang baru masih berat dari segi penghasilan Pak Kibul.
"Masih kegedean Pak Angsurannya, anak istri saya makan apa?! Nggak cukup biaya sehari-hari!"
Lah, dulu waktu minjem duit katanya masih punya penghasilan lain.
"Bukannya masih ada kontrakan pak? Dilaporan ada kontrakan 15 pintu tuh, Pak Kibul sendiri yang tandatangan di pernyataan penghasilan," kata Pak Jafar.
"Itu sebenarnya punya sodara saya," Katanya akhirnya.
Kami berdua berdecak kesal. Beneran dia tukang ngibul!
"Kontrakannya punya abang saya yang di depan itu."
Ternyata kontrakannya punya Bang Ketua, dan masih sodara sama Pak Kibul, toh.
Aku dan Pak Jafar mendengus, kasus buntu, terpaksa ujungnya penyitaan.
"Gini aja deh, Saya lunasin aja gimana?" Kata Pak Kibul akhirnya.
Kami bengong.
Lalu saling bertatapan.
Katanya nggak punya duit kok mau lunasin...
Gimana, sih?!
"Yu! Ayu! Sini kamu!!" Teriaknya ke dalam salah satu kamar.
Ada cewek pake kerudung mukanya lumayan manis, keluar kamar dan menatap bapaknya dengan kuatir.
"Ini anak saya baru lulus sekolah, umurnya 18 tahun. Ambil aja deh, tapi anggap lunas yah!"
Anjrit...
"Kami bukan sekte perdagangan manusia pak, kami pegawai bank!" sahut Pak Jafar
"Ah Bank kalian kan udah kaya! Nih pake aja anak saya masih perawan harga tinggi yah! Lunas lah semua hutang saya!"
Bapak nggak ada akhlak.
Si Ayu udah meronta aja dia diseret-seret bapaknya.
Tapi setelah melihatku, dia langsung diam.
Lalu mukanya bersemu merah.
"Sama yang itu pak?!" dia jadi antusias sambil menunjukku.
Aku diam saja sambil lanjut main game.
"Yang ini Level tinggi... nggak main sama anak SMA!" desis Pak Jafar sambil melirikku.
Gue gebok ntar dia di mobil.
"Ikut aja," sahutku kemudian. Aku sambil berbalas pesan singkat dengan Trevor.
Pak Jafar melotot padaku.
"Lumayan buat waktu senggang..." tambahku.
Pak Jafar menggebuk punggungku.
"Dia bercanda, kepanasan soalnya," sahut Pak Jafar ke Pak Kibul dan anaknya.
"Gue serius," desisku sambil melihat ke arah Pak Jafar dengan tampang dibikin lempeng.
"Ambil nih!" sahut Pak Kibul sambil mendorong anaknya. "Anak perempuaan cuma jadi beban."
Aku rasanya pingin nonjok orang mendengar kalimatnya, walau pun seandainya cuma bercanda, tapi itu nggak lucu banget!
"Tapi saya taksir harga dulu yah pak. Nanti saya balikin. Hutang bapak masih tetap ada yah. Tapi saya akan cari cara agar angsurannya meringankan," sahutku sambil berdiri.
"Ambil tas kamu, ijasah SMA, ganti baju yang rapi. Saya tunggu di luar," bisikku ke Ayu.
Ayu terlihat gemetar dan buru-buru masuk kamarnya, bersiap-siap.
"Lo ngapain sih? Bisa disuspend kita kalo sampe ketahuan bawa anak orang. Lo tau undang-undangnya nggak?!" seru Pak Jafar.
"Pikiran lo ke gue jelek banget sih?! Emang di bayangan lo bakalan gue apain tuh cewek?!" aku mengomel tersinggung. "Dan lagi kita bawa atas ijin bapaknya! Lo rekam kan tadi cuy?!"
"Ya iya gue rekam tapi masa gue jadiin itu pembelaan?! Tetep aja salah kali! Bisa dituntut jual beli manusia kita!" kata Pak Jafar panik.
"Kapan gue bilang gue mau beli tu cewek?! Emangnya prostitusi?! Gue cari Bang Ketua dulu! Mau pamit sekalian bisnis!"
"Bisnis apaan lagi sih?" dia nggak sabar. "Udah balik aja yuk!!"
"Sstttt!!"
Aku menghampiri Bang Ketua yang lagi duduk sama anak buahnya di bale-bale gang. Dia langsung waspada saat melihatku.
"Kalo urusan udah selese pulang sana!" teriaknya.
Pak Jafar udah mau mundur aja, tapi aku melangkahkan kakiku dengan mantap.
"Bang..." sapaku. "Goloknya beli dimana?"
"Tau apa lo?!" tantangnya. "Mau ngejilat gue, Hah?!"
"Gue serius Bang, gue dirumah punya yang gagangnya persis kayak punya lo, dari Ciomas, Golok Sulangkar. Kabarnya itu golok dimiliki oleh sekeluarga jadi ukurannya beda-beda tapi gagangnya sama, dan terakhir mencar-mencar dijualin ahli waris karena jawaranya udah pada meninggal. Masalahnyayang punya gue, ukurannya tere kalau di gue, gue bisa sial kalo gue bawa-bawa kemana-mana,"
Dia menatap goloknya.
Lalu menatapku.
"Lo juga punya?!" serunya penasaran.
Aku menunjukan foto golok yang kupunya kepadanya.
Dia mengangguk mengerti. "Anj**y... Gue udah nyari-nyari dia kemana-mana ternyata ada di elo."
"Gue beli punya lo boleh? Itu Bapaknya kan?!"
"Nggak bisa! Ini udah jagain gue 15 tahun, dia pernah dua kali bacok orang sampe mati!"
"Gue beli 5juta." tawarku langsung.
Dia terpana.
Aku tersenyum.
"Jadi ukurannya cocok sama lo ya Bang, bisa jadi pas sama gue jadi adem kalo gue ukur-ukur sih jadinya ‘ibu’ kalo sam ague,” aku memberinya alasan.
"Bentar gue rembukan sama bini gue dulu..." desisnya sambil beranjak buru-buru dan masuk rumahnya yang ternyata ada di belakang bale-bale.
Ada juga kegunaan warisan bokap dari Banten. Bokap gue suka travelling kemana-mana. Biasa, turis Italy lagi gabut.
Bingung nggak masalah Tere, Bapak dan Ibu keluarga si Golok?
Jadi gini,
ada keterangan menarik yang ternyata menjadi salah satu syarat penting dalam memilih golok, baik untuk penggunaan sehari-hari, maupun sebagai pelindung. Yaitu, mengukur dengan ibu jari kita sebagai patokannya.
Ibu jari inilah yang dijadikan alat ukur apakah suatu golok cocok untuk kita sesuai dengan keperluan. Adapun tekniknya adalah, meletakan ibu jari pada sisi tumpul golok (sisi terpanjang) dimulai dari ujung gagang golok, susul menyusul dengan kedua ibu jari kanan dan kiri, sampai ujung. Hitungannya ada empat, yaitu; Ibu, Bapak, Anak, Tere.
Apabila ujung golok berakhir dengan hitungan; Ibu, maka golok itu sempurna untuk kita miliki dan menjadi pegangan setiap hari.
Apabila berakhir dengan hitungan; Bapak, boleh saja golok itu kita miliki, karena golok akan bersifat seperti seorang bapak terhadap pemiliknya, tetapi yang patut dicatat, golok dengan hitungan Bapak akan memberikan hawa panas bagi pemiliknya, mudah marah dan keras, karenanya bila memilih golok "Bapak" sebaiknya disimpan baik-baik di rumah dan hanya membawanya pada saat membutuhkan pembelaan "Bapak".
Sedangkan golok yang panjangnya jatuh pada hitungan Anak dan Tere, akan membawa celaka bagi pemiliknya.
Masalahnya, yang kumiliki ini adalah warisan seseorang yang sudah diukur berdasarkan jemari si Almarhum empunya terdahulu. Jadi hitungannya benda koleksi, tidak boleh digunakan sehari-hari atau akan bawa celaka seandainya tak ccok dengan si pembeli.
Akhirnya aku dan Pak Jafar jadi ngopi dulu dirumah Bang Ketua. Dia mengenalkan dirinya dengan nama Sa'ad. Sambil dia cerita-cerita, aku mengagumi koleksi ratusan golok dan batu akiknya.
Beneran nggak main-main koleksinya rasanya pingin malingin rumahnya dia aja.
Perkenalan berakhir dengan aku membeli 3 bilah golok cantik gemoy, dan Pak Jafar udah dengan cincin batu akik barunya nangkring di jari tengah.
"Nggak percaya dia punya barang ini, langka loh ini! Belom tentu saya keliling Indonesia dapet. Emang agak mahal tapi worth it!" Pak Jafar mengagumi batu di jarinya.
Aku masih senyum-senyum puas nggak sabar mau pamer ke Mas Bram soal harta karun yang kudapatkan.
"Itu namanya jodoh, pak." sahutku.
Akhirnya golokku mau dibeli Bang Sa'ad karena punya memori berkesan didirinya, aku disuruh barter sama koleksinya. Ya tetep aja tukar tambah dikit karena aku pilih 3 bilah golok Galonggong Tasik yang kuanggap beneran berkualitas di baja dan sarungnya.
Rencananya besok aku kesini lagi untuk mengantar golok Tere milikku ke Bang Sa'ad.
Bang Sa'ad, nyebutnya dipisah, nggak usah digabung Ye?!
Saat aku sampai di rumah Pak Kibul, Ayu udah nunggu di depan rumahnya, ditemani ibunya yang menangis lebay.
"Pak jangan bawa anak saya! Dia anak perempuan satu-satunya!" teriaknya
Si ibu berusaha mencari perhatian tetangga-tetangga biar dikira aku maksa bawa anaknya dan bisa dipenjara.
"Saya nggak maksa, loh. Rekaman Pak Kibul yang menyerahkan Ayu masih kami simpan."
Si ibu kaget, dia nggak nyangka kami punya rekaman.
Pak Jafar memutar filenya volume maksimal.
Si ibu pucat.
"Bu, saya cuma pinjam Ayu sebentar. Tenang bu, dijagain kok. Nanti sebelum sore kami antar pulang." sahutku.
Akhirnya Ayu mengikutiku jalan ke arah mobil.