
Malam itu udara tidak berangin, tidak mendung, dan terasa sumpek. Bahkan di dalam kantor pun banyak yang merasa kegerahan padahal seluruh ventilasi sudah dibuka.
Habis Maghrib, Anak buahku sudah angkat tangan.
“Nyerah Paaaak,” desis Oki sambil menelungkupkan wajahnya ke meja.
“Kalo nyerah terus mau apa?” tanyaku sebal.
“Pulang Pak,”
“Lu pulang jam segini naik KRL, lagi rame-ramenya, Jumat pulak,” aku berusaha merayunya agar di kantor lebih lama lagi, paling tidak dia cao jam 8 lah.
“Jadi gini Pak Dimas,” Oki mengangkat wajahnya dan memicingkan mata menatapku, “Kerjaan segunung dengan fraud yang kreatif begini, tidak memadai dengan kapasitas ilmu diriku yang baru berpengalaman di dunia Auditor. Istilahnya, gue Detektif Newbie harus memecahkan kasus Mafia Italy,”
“Bacot...” gerutuku.
Oki hanya terkekeh, “Intinya otak gue udah buntu, yang kebayang kasur Kos-an yang usang itu,”
“Paling lu habis dari sini nongkrong dulu di starling,”
“Lah tau...”
Dok!Dok!Dok! terdengar gipsum kami di gedor dari luar.
“Pulang Kiiiiiii!” Tresna berseru dari luar, dia sekretaris Direksi.
Ada Tresna pasti ada Heksa, “Audit nggak dibayar lembur Kiiii!” seru Heksa.
“Martabak 65 udah nungguin Kiiii, wakakakakak!”
Dan mereka tertawa rusuh sambil lari menjauh.
Dasar kompor kayak Bossnya (Mereka sekretaris Presdir, tau kan Presdirku namanya siapa?) Kelakuannya beneran masih kayak anak-anak.
Oki... juga Handri, Faisal dan Tenny, menatapku lekat-lekat kayak lagi memancarkan sinar radiasi untuk membuat hatiku luluh.
Aku melirik bantex di depanku.
Bantex, bukit bantex, gunung bantex, bantex selangit, dahlah aku nyerah.
“Yawda sana balik,” dengusku sebal.
“Yess!!” seru mereka langsung berdiri siap-siap.
Tapi yang keluar ruangan kenapa jadi semuanya?!
“Mar lu kenapa ikut pulang?!” seruku.
“Pacar gue udah nungguin Pak,” Maryanti lari keluar.
“Paling tukang ojek yang nungguin lo di trotoar!”
“Pacar gue tukang ojek Paaak,” seru Maryanti dari kejauhan.
“Nah lu kenapa pulang juga?!” desisku ke Gio.
“Mau cari obat buat ibu saya, hehe,” kata Gio.
“Perasaan tadi siang lu udah izin mau ambil obat,”
“Obatnya banyak Paaaaaak, Dadaaaah,”
“Elah,”
“Pak Dimas,” Tenny menepuk punggungku, sudah siap dengan ransel, helm dan jaket motor, “Hati-hati, Pak”
“Apa’an?”
“Kalo malem di sini banyak setannya, wakakakakak!” dan dia pun kabur.
“Sue’” gerutuku.
Lalu hening.
Di ruangan hanya ada aku dan Pak Jaka yang lagi liat-liatan dengan mesra.
Lalu menit berikutnya kami pun sudah sibuk menunduk sambil buka-buka lembaran dokumen.
Aku berpengalaman 10 tahun dalam bidang pembukuan dan 3 tahun di dunia Auditor, cukup banyak ide-ide nakal yang bisa kulakukan namun malah direalisasikan orang lain. Dan benar kata Oky, temuan di dokumen kami tahun ini lumayan banyak fraud yang kreatif.
Aku sempat membaca investigasi bahwa ada nasabah NPF (NPF adalah istilah Bank untuk tunggakan diatas 6 bulan) yang penyebab macetnya adalah cicilan KPR nunggak 1 tahun. Padahal di bank lain recordnya bersih, tidak pernah menunggak. Ini kenapa pas di Bank-ku malah nunggak? Padahal bunga yang kami bebankan jauh lebih kecil daripada pinjaman di bank lain.
Ternyata... dia punya 3 KTP dengan tanggal lahir berbeda.
Dan di dua KTP lain, cicilannya mencapai 500juta sebulan. Gajinya cuma 6 jutaan. Mungkin udah overload, dia akhirnya menggunakan KTP Asli di bank kami karena kami terbiasa meminta data lain untuk menyamakan KTP Asli, seperti SIM, NPWP dan kalau perlu BPJS juga. 1 tanggal lahir untuk semua.
“Ini sih sampai kapan mau lunas? mana asetnya kreditan semua...” desisku sambil berdoa supaya aku tidak terjatuh ke lubang yang sama.
Miris.
Jujur aku kasihan sama anak-istrinya, kalau dia meninggal yang akan meneruskan semua hutang adalah keluarganya.
“Pinter tapi bodoh,” desisku.
“Begitulah Mas, jaman sekarang...” gumam Pak Jaka.
“Pak,” Aku menoleh padanya untuk refresh otak dari dokumen, “Udah berapa tahun kerja di Garnet?”
“Hm, sejak saya fresh Graduate, di Garnet Corp dulu... sekitar 15 tahun sekarang,”
Padahal dia sudah 15 tahun kerja, di Garnet Corp pula. Kenapa dia hanya jadi Kepala Divisi di Garnet Bank? Apa jenjang karir di Garnet seketat ini?
“Pas memulai karir, saya seperti kamu Mas, berapi-api. Tapi sejak ide saya diambil sama manajer saya, di lain pihak saya malah terancam dipecat karena protes, saya lagi kehilangan kepercayaan sama rekan sekantor,” kata Pak Jaka.
Jaman sekarang, selama tembok kantor anda masih gipsum, jangan coba-coba untuk mengutarakan ide brilian. Kuping yang berjarak dari lobby bisa saja mendengar. Jadi, saranku kalau punya ide yang kira-kira bisa membangun perusahaan, atau mengambil hati atasan, atau mau menyingkirkan atasan (hehe) lebih baik ide itu langsung saja dilakukan nggak usah ngomong-ngomong ke orang lain dulu.
Aku hanya tersenyum masam lalu kembali menunduk untuk membaca temuan lebih lanjut.
Menjelang jam 9 malam,
“Mas, Kamu sudah selesai?” Tanya Kepala Divisiku.
Aku langsung tahu maksud pertanyaan itu.
Sudahlah...
“Bapak pulang duluan saja. Anak bapak ulang tahun kan? Sudah jam 9 ini.” Aku merasa iba padanya, karena dia termasuk yang kurang beruntung soal jarak dari rumah ke kantor.
Namun banyak yang bilang aku terlalu baik kepada Pak Jaka. Bukannya sombong, tapi memang sombong, sih (ehem) pengalamanku jauh lebih banyak darinya yang terhitung atasanku. Dari mulai pembukuan, presentasi, laporan rutin, laporan mendadak, sampai kasus-kasus rumit adalah hasil kerja kerasku.
Ia selama ini hanya menandatangani laporan yang kubuat. Aku pernah mengeluhkan hal ini ke manajemen, namun ternyata Pak Jaka sudah bekerja selama 15 tahun dari sejak perusahaan berdiri. Bisa dibilang beliau adalah sesepuh yang cukup berjasa dan owner kenal baik. Jadi, aku yang tergolong newbie ini hanya bisa pasrah.
Ini tahun ketiga ku di perusahaan, kita lihat kalau masih begini-begini saja aku mungkin akan menggunakan ‘koneksi’ untuk menuntut sedikit kenaikan kesejahteraan.
Aku membuka bantex ke 186, Temuan Audit dari cabang di Surabaya.
Kantor kini sudah sepi.
Dan aku pun mulai terserah sindrom seperti Oki. Otakku buntu.
Butuh kopi cangkir ke 8.
Aku pun mengangkat pantatku, memakai sandal jepitku, membuka dasi dan name tagku, lalu sambil menenteng Mug Merah kesayangan, aku menuju pantry.
Sepanjang koridor, Area manajemen dalam keadaan hening. Tidak ada manusia, hanya ada gunungan kertas di masing-masing meja. Kecuali mejanya Tresna, adanya ciki. Bahkan dia rangkai ciki itu di atas kubikel, entahlah ada isinya atau tidak tapi aku sering tergoda buat comot satu dari sana. Cowok itu terbiasa menyimpan semua dokumen numpang di lemarinya Pak Danu. Sementara mejanya sendiri bersih.
Sekretaris gada akhlak tapi keberaniannya patut diacungi jempol.
Tapi mejanya Heksa lebih parah, yang terpampang di sana malah figur anime. Ada Luffy, Naruto, dan cewek berdada tumpah-tumpah.
Aku pun menoleh ke meja Pak Danu yang berada di ruangan di belakang kubikel mereka. Mencari siapa tau ada koleksi patung tengkorak atau peti mati di sana.
Nggak ada.
Untung saja.
“Ugh...”
Aku diam.
Kok aku rasanya dengar suara barusan?
Fokusku teralihkan.
Mataku melirik ke sekeliling ruangan.
Hening.
Aku mencoba fokus kembali.
“Auh...”
Aku tersentak.
Telingaku tidak salah dengar kan? Ada lenguhan seorang wanita.
Sedetik, dua detik,
Hening.
Aku menatap jam dinding.
Jam 10 malam. Dan sepi...
Weekend soalnya.
“Ya Ampun...” keluhku. Perasaan tadi masih jam 9an, aku berencana pulang dengan kereta terakhir karena kemarin kan Dinas ke Hambalang dan ibuku mulai mengomel karena rumahnya hanya dijadikan ‘hotel’. Sepertinya aku harus menginap lagi malam ini. Sudah jam 10, dan kereta terakhir jam 11, terlalu mepet waktunya aku malas buru-buru.
Dan ternyata aku hanya sendirian di ruangan itu.
“Aow!”
Kepalaku reflek berpaling ke jajaran ruangan Direksi.
Suaranya dari sana.
Masa sih setan?! Dan setelah 2 tahun sering lembur kenapa baru diganggu sekarang? Baru sadar kalo gue ternyata gantengnya sekarang gitu?! Apa setannya pendatang baru?
“Hmh...”
Aku tidak yakin tapi akhirnya aku berjalan perlahan ke bagian ruangan Direksi. Ada empat ruangan dan semua lampunya sudah dimatikan. Ada Direksi yang mengunci pintunya, ada juga yang membiarkan ruangannya terbuka.
Aku berdiri dan menajamkan pendengaran.
Suara detik jam, suara mesin dispenser, suara mesin kulkas, suara AC, dan...
“Argh!”
Suara lenguhan yang kali ini lumayan kencang.
Dan aku sangat mengenal suara itu. Si nenek gerandong yang Lexusnya tadi sore kuelus.
“Aaah!!” lenguhan itu kembali terdengar. Aku menempelkan telingaku di ruangan Bu Meilinda. Asal suaranya dari ruangan Bu Meilinda. Dan suara itu aku yakini sebagai suara Bu Meilinda.
Apa aku ketuk saja ya pintunya?
Aku berdiri berkacak pinggang sambil menatap pintu dari jati itu. Ruangan di dalamnya gelap. Aku bermaksud menunggu suara lenguhan lagi. Kalau terdengar kembali aku akan mengetuk pintunya.
Sambil komat-kamit baca doa juga sebenarnya. (aku bukan penakut, tapi berlindung kepada Tuhan dari Godaan Setan tak ada salahnya kan).
“Sh1t…”
Oke yang tadi bukan lenguhan tapi sudah jadi keluhan. Itu pasti bukan Setan.
Aku mengetuk pintunya pelan, 2 kali dulu. “Bu?” tanyaku.
Tidak terdengar suara apa pun dari dalam. Aku kembali mengetuk, kali ini 3x ketukan. “Ibu nggak papa?” tanyaku pelan.
“Siapa?” terdengar suara dari dalam, terdengar lemah dan terengah seperti habis lari. Apa dia habis olahraga di dalam lalu jantungnya kumat, siapa tahu punya penyakit jantung, atau dia kecapekan karena emosi labilnya?
“Dimas bu,” Sahutku.
“Kamu ngapain masih di kantor jam segini? Mau kelihatan kerjanya yah?!” terdengar makian dari dalam.
Anjay… apa gue cuekin aja x yah. Tinggal pulang gitu biar aja dia semaput didalam.
“Kan ibu sendiri yang nyuruh saya meriksa laporan OJK sampai selesai,” gerutuku.
“Ya tapi masa kamu senurut itu sama saya? Biasanya kan kamu ngeyel!”
Aku menarik nafas mengatus kesabaranku. “Ibu sendiri ngapain di dalam? Perlu bantuan saya atau nggak. Kalo nggak saya tinggal tidur nih,” desisku agak jengkel, tapi tetap tidak bisa meninggalkan TKP. Mungkin benar kata orang-orang, aku ini terlalu baik.
“Tinggal aja sana!” desis suara dari dalam.
Yowes lah. Memang beliau tidak membutuhkan kehadiran orang lain.
“Oke bu. Kalo perlu apa-apa saya ada di pantry. Tidur.” Sahutku sambil beranjak. Aku berniat menghabiskan kopi yang barusan kubuat sejenak di ruangan, membiarkan komputerku dalam keadaan menyala sambil speakernya menyalakan alunan doa (siapa tahu Bu Meilinda memang perlu ditenangkan batinnya kan?! Hehe) lalu siap-siap tidur di kasur lipat di pantry.
Baru sekitar 3-4 langkah…
“Tunggu, Dimas!” terdengar suara lagi.
“Yaaaa…?” aku sudah malas menanggapi, sebenarnya. Tapi dia Direktur. Gimana dong? Katanya tadi siang kan dia harus ku-utamakan.
“Kamu… bisa jaga rahasia?”
“Hah?” sepertinya benar dia belum minum pil penenangnya malam ini.
“Bisa jaga rahasia nggak?” suaranya agak mendesakku.
“Nggak bisa,” desisku keburu sebal. “Saya pamit ya buuu, Ngantuk,” desisku cuek
“Tunggu dulu Dimas! Saya kayaknya butuh kamu…” suaranya terdengar memelas.
“Yaaa…?”
“Tapi kamu benar-benar harus rahasiakan.”
Memangnya ada apa sih? Dia punya panu? Ato belum ke salon? Ato ada jerawat tiba-tiba gitu? Main rahasia-rahasiaan dipikir ini kantor CIA kali.
“Iyaaaa,” apa aku harus mengacungkan jari kelingking? Janji aku akan rahasiakan. Beuh… nggak ah. Kalo menguntungkan diriku mungkin bisa kuumbar ke pihak yang berkepentingan.
“Oke, kamu boleh masuk,” desisnya kemudian.
Aku memutar kenop pintu perlahan dan melangkah masuk ruangan dengan perlahan pula. Aku melongokkan kepala berusaha menajamkan mataku. Ruangan itu gelap tapi Bu Meilinda tidak ada di kursi kerjanya. Mampus beneran setan yang nyamar jadi Meilinda!
“Saya di sini,” terdengar suara Bu Meilinda dari balik sofa. Sofa kulit hitam yang menghadap ke arah jendela kaca besar. Karena sofa itu besar dan tubuh Bu Meilinda mungil, jadi kesannya tenggelam.
Aku menghela napas lega. Soalnya malas juga kalau berurusan dengan yang gaib-gaib. Kepala Bu Meilinda menoleh ke samping. Tampang indo berkulit putih dengan hidung mancung mempesona. Kecantikannya semasa muda masih terlihat jelas, yang membedakan hanya kerutan-kerutan halus yang menghiasi bibirnya.
“Ya bu. Butuh bantuan apa?” Aku berjalan menghampirinya dengan malas-malasan lalu menatapnya. Dan lututku tiba-tiba terasa lemas, tubuhku serasa dihantam pistol kejut listrik.
Butuh sekitar 5 detik untukku menyadari kalau wanita ini sangat butuh bantuan. Tapi tubuhku belum bisa digerakkan, dan mataku... mataku tidak bisa dikendalikan. Aku reflek menatap Meilinda dari atas kepalanya turun ke bawah sampai ke kakinya, itupun kakinya tidak menapak lantai karena dalam posisi terikat menyatu ke
pahanya, lalu mataku mengulangi lagi pandangannya sampai lebih dari 3 kali.
Aku sebenarnya tahu apa yang harus kulakukan tapi sistem tubuhku seketika kacau balau.
“Kuncinya ada di dalam tas saya di atas meja.” Sahut Bu Meilinda. Ia tampak sangat kelelahan.
Tahu rasanya tindihan? Nah, aku dalam posisi itu, tapi sambil berdiri.
“Dimas!” Aku bisa mendengar Bu Meilinda memanggil namaku sambil berteriak. Kekesalannya mungkin sudah memuncak. Dan mungkin dia sedang kesakitan, karena posisi tubuhnya sekarang… cukup absurd diceritakan.
Saat nyawaku sudah kembali 80% aku mulai bisa memalingkan kepalaku. Ini baru aib. Dan aku dianugerahi keadaan bisa melihat pemandangan spektakuler pertama dalam 30 tahun. Kok jadi pusing yah...
Aku berjalan menuju meja kerja didepannya niatnya mau mengambil tas untuk meraih kunci borgol.
Yap… kunci borgol.
Anda tidak salah melihat tulisan.
Wanita itu entah bagaimana terkunci dalam posisi terikat di sofa dengan borgol di kaki dan tangannya dalam keadaan gaya yang kalau dicari di internet hanya bisa diakses memakai VPN.
Dan aku… alih-alih mengambil kunci malah bersandar di meja setengah membungkuk membelakanginya. Kedua tanganku menahan tubuhku di tepi meja , aku merasa tas Bu Meilinda yang seharga ratusan juta serasa jauh sekali.
“Astaga…” keluhku sambil menyambar tas dan mencari-cari benda yang kira-kira mirip dengan kunci borgol. “Kuncinya diselipin di mana bu?” tanyaku berusaha tidak menoleh.
“Tadi Saya langsung jatuhkan ke tas mungkin agak ke dalam.” sahutnya. Lalu dia melenguh kesakitan. Aku bisa mendengar suara dengung mesin yang bunyinya memang halus, tapi kalau menajamkan telinga sedikit bisa terdengar. Suaranya memang hampir tak terdengar karena berada di dalam tubuh Meilinda.
Akhirnya kunci berhasil kuraih dan penderitaanku menahan nafsu akan segera berakhir.
Haruskah aku menutup mataku saat berjalan ke arahnya? Tapi bagaimana cara membuka kuncinya kalau aku menutup mataku? Apa harus meraba-raba? Kalau salah pegang gimana?!
“Dimas, saya sudah lemas…” Bu Meilinda mengingatkan.
‘Dimas, saya sudah lemas’… Anjritt adegan apa lagi yang kebayang di otakku iniiiiii…
“Ya Bu.” Aku memutuskan untuk tidak menghiraukan sosok Bu Meilinda sambil berdoa dalam hati menyemangati diri sendiri : Kamu kuat Dimaaas, jangan keluar duluuu, kamu kuaaat.
Dari segi kondisi dan tingkat kesulitan, aku menyasar tangan kanan Bu Meilinda agar ia lebih bisa mengatur tubuhnya sendiri lebih dulu. Setelah itu berjalan sedikit untuk membuka kunci di tangan kirinya dan menyerahkan kuncinya ke wanita itu agar ia bisa membebaskan kakinya sendiri.
Lalu aku mulai berjalan keluar dengan menghitung langkah. Tidak ingin memanfaatkan keadaan untuk tujuan nafsu karena sudah kupikirkan masak-masak akan jadi tragedi yang beruntut ke masa depan dan karier yang kubangun selama ini akan hancur. Dan lagi berapa banyak sih wanita yang bisa kubayar untuk berpose persis seperti Meilinda tadi…tinggal meluncur ke spa di depan sana.
Tapi ini Meilinda loh…
Dasar Setan…
Setan sudah banyak kufitnah malam ini…
“Mas,”
Dia memanggilku lagi.
Aku menghentikan langkahku.
“Makasih,” desisnya.
Seumur-umur aku kenal dengannya, aku tidak pernah mendengarnya mengucapkan ‘terima kasih’, baik padaku atau pun kepada orang lain.
Tapi mendengarnya tubuhku malah semakin menegang.
“Iya Bu,” hanya itu yang mampu kuucapkan, lalu aku pergi dari sana.
Mengunci diri di pantry.