Office Hour

Office Hour
Pergi Bersama Sena



Pekerjaan pertamaku bersama Sena adalah mengunjungi sebuah jaminan dari divisi marketing unit Mikro yang sudah lama tidak membayar cicilan. Ada kali 3 tahun nggak bayar cicilan, mandek semandek-mandeknya, bahasa bank-nya Kolektibilitas 5. Kami sebagai divisi Audit memastikan kalau semua prosedur terhadap laporan dan proposal dari marketing sudah sesuai peraturan yang berlaku, sehingga kasus ini bisa kami ajukan ke unit pelelangan. Tapi kalau hal itu tidak sesuai dengan prosedur, dengan kata lain ada kecurangan dari pihak bank, maka kasus ini akan masuk ke pengadilan perdata.


Kalau sudah masuk ke pengadilan perdata, maka jawabannya hanya ada dua. Kalau kami menang jaminan bisa kami sita. Tapi kalau kami kalah, jaminan menjadi milik nasabah, itu berarti kami menanggung kerugian yang besar plus denda fraud dari OJK.


Kalau masuk ke unit pelelangan, kami akan bantu untuk menjual rumah itu. Kalau rumahnya terjual tinggi, maka kami akan menutup kerugian, selisihnya tetap kami berikan ke nasabah. Tapi kalau harga rumahnya dibawah harga prediksi, ya kami tetap rugi tapi jumlah kekurangannya nggak nyesek-nyesek amat.


“Bank itu rumit juga ya Mas,” desis Sena saat mendengarkan penjelasanku. Kami hanya berdua saja dalam perjalanan ke lokasi.


Kenapa aku membawa si abang penjantan yang satu ini?


Karena menurut ceritanya, Sena ini dulu mantan kriminal dan lokasi yang kami datangi di daerah utara Jakarta terkenal dengan kondisi premanismenya.


“Hem, rumit sih nggak ya kalau nasabah mendengarkan dengan baik penjelasan marketing. Tanya sejelas-jelasnya, ngitung bunga tuh gimana, nanti jaminan diapain aja, haknya nasabah tuh apa aja,” kataku.


“Tapi kan orang kalau minjem biasanya dalam kondisi kepepet Mas, gimana dia mau mikir?”


“Sena... kita bukan pinjol, kita bukan koperasi, dan bukan agen properti. Orang minjem ke kita untuk barang mewah, seperti cicilan rumah, cicilan mobil, modal usaha. Tidak mungkin dalam kondisi kepepet,”


“Oh, gitu ya...”


“Jadi orang yang minjam ke bank biasanya bukan untuk kebutuhan sehari-hari. Tapi untuk barang sekunder dan tersier. Dan kita hitung benar-benar penghasilan dan kebutuhan Nasabah. Apakah dia bisa bayar atau malah cicilannya terlalu berat untuknya. Tapi yaaa... resiko macet akan tetap ada, kondisi ekonomi memang tidak bisa diprediksi,”


“Jadi kalau ada rejeki mendingan nabung aja ya Mas?”


“Semoga kita semua banyak rejeki halal jadi tak perlu pinjam ke bank atau ke orang lain,”


“Dan semoga yang berhutang, pinjamannya segera dilunaskan oleh Yang maha Kuasa, Aamiin,”


“Aamiin,”


Dan saat kami hampir tiba di gang masuk rumah yang jadi jaminan, Sena pun mencengkeram lenganku, membuatku reflek menekan rem. Untung saja di belakang tak ada kendaraan lain.


“Kenapa Sen?!” tanyaku panik.


Tapi Sena hanya menatapku dengan serius.


“Mas,” lirihnya.


“Sen?” tanyaku,”


“Jadi gini, Dimas,” ia berbisik sambil menatapku dengan mata coklatnya.


“Ya Sena?”


“Sebenarnya...”


“Sebenarnya?”


“Sebenarnya...” Sena terlihat menarik nafas dengan galau.


Aku jadi deg-degan.


Kenapa matanya menatapku lekat-lekat?


Kenapa dia serius sekali?


Apa yang mau dia katakan?


Apakah berhubungan dengan hal pribadi?


Lalu ia pun berujar. “Ini lokasi tempat mangkal ormas, jadi kayaknya kita harus parkir agak jauh di parkiran ruko di sana tadi itu yang kita lewati itu, lebih baik. Dan kayaknya kita harus ganti baju pake baju biasa soalnya di sini banyak yang benci sama Debt Collector. Setahu gue mereka pernah bentrok sama DC dari salah satu Finance,”


Aku pun tak jadi deg-degan.


Karena diliatin dengan seserius itu sama orang yang maskulinnya level dewa macam Sena, siapa yang hati ini tak mencelos.


Sue’ bener... otak dan jantungku teracuni tatapan tajam-nya.


“Okeeee...”


“Dan sejujurnya, Mas, gue benci Debt Collector,” desis Sena.


“Kita kerja di Bank, Sen. Dan divisi Audit menangani kolektibilitas,”


“Miris ya hidup gue?”


Aku enggan menjawab. Miris atau tidaknya hidup seseorang ditentukan dari tingkat keikhlasan soalnya.


**


“Waaah gawat,” desis Sena saat kami tiba di sebuah rumah di salah satu gang. Dengan rolling door khas warung warna biru dan etalase yang menyediakan berbagai kebutuhan harian.


Tapi kok warungnya gelap bener yak.


“Gawat gimana Sen?” desisku sambil menyalakan rokokku. Kami sudah berganti pakaian yang kami beli di  ruko sebelah mobil kami parkir. Dia pakai hoodie hitam, semakin menambah ke-gahar-annya. Aku pakai kaos biasa yang menampilkan tato di tanganku. Aku juga nggak mau kalah jantan laah. Soalnya wajahku dibandingkan dengannya berasa menye-menye.


“Ini jaminannya Mas?”


“Iya...”


“ini sih fraud,”


“Fraud gimana?”


“Lo liat barang di etalase?’


“Iya? Kosmetik,”


“Ya iya, tapi emangnya salah kalo laki jualan kosmetik?!"


“Terus...” Sena merangkul bahuku, sambil bersuara dengan pelan, “lo liat Mas, barang yang dijual tuh warna kemasannya kayak udah pudar gitu. Dan berdebu,"


"Mungkin emang nggak laku?"


"Ck… lo positif thinking banget sih,"


"Ya gue malah nggak ngerti maksud lo apa nyong!" sahutku sebal. Ni lakik kalo ngomong kenapa ngalor-ngidur banget sih, kan gue jadi bingung, mana laper pulak.


Tuh telor balado di warteg sebelah udah manggil-manggil minta dicomot.


"Maksud gue, nying, mereka jual obat. Dan kalo mereka jualan gituan di rumah yang jadi jaminan kita, lo lelang berapa pun nggak bakalan ada yang mau nawar soalnya udah pasti penghuni baru bakalan kena ter0r! Yang jualan begituan udah pasti sindikat!"


Ya iya lah aku langsung bengong.


Tapi aku masih nggak percaya sampai ada bukti validnya.


"Ceile, yang jualan juga lagi beler…" gumam Sena sambil terkekeh, ia mengintai dengan seksama. Di dalamnya si abang-abang toko lagi godek-godek.


"Tapi harus kita datengin, bro," desisku. Harus ada dokumentasi, masalahnya.


"Tapi dokumentasinya sembunyi-sembunyi yak, jangan terang-terangan. Ini area preman sukuisme soalnya. Marketing lo ada main nih sama gangster, duit pencairan paling buat modal jual obat,"


"Marketingnya udah resign,"


"Ya lebih parah lagi," Sena menggaruk rambutnya. "Yuk kita samperin, lo liat buktinya yak,"


Jadi kami menghampiri warung yang dalamnya gelap itu. Roling door hanya dibuka setengah aja.


Ada seorang laki-laki yang tampangnya kayak penderita bulimia karena kurus banget.


Dalamnya bau apek pula.


"Bang," sapa Sena, "Jual tissue nggak?"


Kenapa harus tissue sih? Tapi aku diam saja mengamati.


"Nih," si abang menyerahkan tisu paseo 50sheet.


"Berapa?"


"2 rebu,"


Aku membelalakkan mataku. Buset murah amat?! Apa nggak rugi nih warung?! Masa tisue 50 sheet dijual dua rebu?! Apakah aku tersesat ke waktu lampau? Tahun 90an?!


Mungkin di sini pabriknya kali ya, jadi murah. Aku masih berpikiran positif.


Namun ada lagi hal paling mindblowing.


"Nih bang," Sena menyerahkan duit warna ungu, 10ribu.


Lalu si abang diam sejenak sambil geleng-geleng aneh.


"Kembaliannya Bang?" tanya Sena.


"Ohiye," gumam si abang sambil merogoh dompet di kantong celananya. Dompetnya tebel gilak. "Tadi berapa duitnya?" tanyanya.


"Seratus ribu," jawab Sena.


Aku makin melongo.


"Nih kembaliannya," Dan si abang menyerahkan… Tiga lembar duit biru, @50ribu.


Aku mau ngakak tapi mati-matian kutahan.


"Sekalian deh bang…Tramadol dan aprazolam. Sepaket aja," desis Sena.


"Lo beli tisu juga beli tramadol, mau c0li dua hari ya lo?!" si abang berdiri sambil mengambil plastik yang berisi banyak kapsul.


Sena hanya terkekeh.


"Pacar lo nggak beli?!" tanyanya sambil godek-godek. Mungkin darahnya di otaknya udah turun ke dengkul jadi dia geleng-geleng.


"Ini mau dipake berdua," desis Sena.


"Lima puluh aja," Kata si Abang.


Sena memberikannya uang 20.000 dua lembar.


Kurang sepuluh ribu tapi si abang bilang : makasih.


Pengalaman yang mendebarkan.


Kami pun pergi dari sana sambil pura-pura sempoyongan. Lalu kabur nyebrang jalan ke arah parkiran mobil.


“Setoran Ketua Suku,” Aku menadahkan tangan saat kami berdua sampai di dalam mobil.


“Lah! Gratifikasi!” seru Sena sambil ngakak. Tapi dia serahkan juga duit selisih dari si Abang Beler tadi.


“Nggak gratifikasi kalo gue beliin gorengan buat orang kantor week,” aku menjulurkan lidah.


“Njiiir!” gumam Sena.


Enak aja mau menang banyak sendirian, wekekekek!