Office Hour

Office Hour
Meilinda Panik, Tapi semua TIDACK



Si Pangeran Tampan tukang pasung hati wanita, Dimas Tanurahardja, bersama dengan para Punggawanya, Ari dan Sena, selesai makan siang dari kantin dan akhirnya melewati gedung untuk menyebrang jalan lewat jembatan penyebrangan.


Kami ingatkan lagi kalau kantin yang kali ini mereka datangi tidak berada di gedung Garnet Bank, tapi di gedung seberang mereka yang tampilannya jelas kalah mewah. Gedung itu sebenarnya digunakan untuk kantor sebuah BUMN di bidang Penanaman Modal.


“Bro lo duluan deh, gue mau numpang kencing dulu di lantai 1,” sahut Dimas tiba-tiba.


“Ceile, Bro,” gumam Sena, “Tahan dikit ngapa, gedung Orang lo pipisin. Nggak bisa kalo nggak ngasih teritori lu ya?”


“Emang gue kucing garong,” dengus Dimas sambil membuka pintu tangga darurat karena liftnya penuh.


Namun setelah itu...


Dimas tidak kunjung kembali.


**


"Gila!! Benar-benar kurang ajar!!" seru Meilinda marah, lebih ke panik sebenarnya.


Sekarang mereka tahu kalau geng yang dulu berseteru dengannya tidak berhenti di situ saja.


Ternyata setelah dipecat dari Garnet Bank mereka mencari Gio, dan menyuruh pria tulang mleyot itu untuk mencari tahu di mana mantan-mantan Dimas sebelumnya, lalu memberitahukan keberadaan kantor Dimas kepada para mantan.


Tujuannya utamanya adalah penculikan, wanita-wanita yang datang setiap hari untuk menemui Dimas dimaksudkan sebagai pengalih perhatian dan untuk membuat semua lengah, kelelahan, kerepotan, dan bahkan penyebab putusnya Meilinda dengan Dimas agar dia tidak dibuntuti Meilinda terus sehingga memudahkan aksi penculikan.


Dan semua rencana itu berhasil.


Mereka semua berhasil dijebak!


Kini Dimas berada dalam genggaman tangan mereka.


Bram menyetir seperti orang gila menuju ke kantornya Pak Sebastian, Gedung Garnet Grup. Saat ini, lokasi itu paling dekat dengan rumah Gio.


"Panggil ahli IT dari kantor kamu, satu-dua orang saja untuk melacak ponsel Dimas. Sementara aku mint atolong Pak Arman,"


"Orang IT dari kantor kamu bisa diberdayakan?"


"Orang IT di kantorku cuma bisa mengurusi website dan perangkat komputer. Kalau masalah sistem lebih canggih yang dari GSA,"


Meilinda menekan layar ponselnya dengan gemetaran, dia menelpon Selena dulu.


"Mbak Mel, ini Cecil! Mbak Seleb lagi dipanggil ke ruang meeting soalnya Pak Dimas belum dateng..." yang mengangkat telepon dari Meilinda adalah Cecilia.


"Kenapa? Memang ada jadwal meeting apa?"


"Loh kok Mbak Mel malah nggak tau?! Ini semua mantan karyawan dari Divisi Kepatuhan yang dulu itu memboikot pekerjaan, mereka protes dan ngadain Demo karena katanya pemecatan mereka waktu itu tidk sesuai dengan aturan dari Depnaker. Wakil dari Depnaker baru saja datang, tapi Mbak Mel dan Pak Dimas nggak bisa dihubungi dar itadi! Jadi Mbak Selena dipanggil ke ruang meeting untuk menggantikan Pak Dimas,"


Astaga....


“Mbak Mel, Pak Dimas dari makan siang nggak dateng-dateng, Tadinya pergi sama Ari dan Sena. Tapi kata mereka Pak Dimas ke atas dulu buat ke Toilet. Ari dan Sena nunggu di lobby, tapi setengah jam ditunggu nggak dateng-dateng. Sampai mintol sekurity gedung cari-cari ke seluruh sudut gedung nggak ketemu-ketemu katanya!”


“Ya Tuhanku,” gumam Meilinda. Ternyata Gio tidak mengumbar ancaman, dan semua ini bukan omong kosong.


"Cecil, Kami kini sedang mencari Dimas. Ada kemungkinan dia diculik."


"Haaaaahhhhh!!!!" seru Cecilia.


"Ssstttt jangan gembar-gembor dulu!" desis Meilinda. "Aku pikir Selena pasti bisa menggantikan Dimas di ruang meeting. Sekarang aku butuh bantuan kamu untuk mengabari Pak Danu dan Pak Haryono, usahakan rahasia yah Cecil. Aku kasih tau detailnya lewat wa, aku kirim rekaman percakapan kami dengan narasumber ke kamu. Kamu dengarkan rekamannya baik-baik dan berikan rekamannya ke Pak Haryono. Oke?! Saya sekarang menuju GSA untuk minta bantuan pelacakan,"


"I-iya Mbak!! Ya Ampun lagi-lagi heboh!!" dan Cecil memencet tombol Off.


Tangan Meilinda masih gemetaran saat menutup sambungan teleponnya.


“Dimas menghilang,” dengan gugup ia berujar.


"Tadi Gio bilang rencana penculikannya hari ini." kata Bram.


"Aku pagi masih ketemu dia," kata Meilinda. "Dan sebelum makan siang masih bisa melihat dia di area kantor. Jadi mungkin aksinya baru saja terjadi. Mungkin saat kita ketemu Gio."


"Mudah-mudahan belum terlambat,"


"Maksud kamu 'terlambat' tuh apa?!" Meilinda sewot.


"Kamu tahu maksudku," gumam Bram lugas.


Meilinda menghela napas. Mengakui perkataan Bram.


Yah, apa lagi motif penculikan kalau bukan...


****


Cecil berusaha mencari-cari Pak Haryono namun belum ketemu. Pak Danu dan Selena sedang bernegosiasi di ruang meeting dengan para pekerja yang berdemo.


Wanita itu kebingungan.


Kalau menurut pendapatnya, urusan pekerjaan lebih penting dari diculiknya Dimas. Karena ia yakin Dimas paling hanya kehilangan keperjakaannya, dan hari-hari selanjutnya pasti akan normal kembali. Lagi pula siapa sih yang bisa menyakiti Pak Dimas, pikir Cecil. Toh setahunya Dimas terkenal sebagai ahli negosiator di sini dan wajah pria itu begitu memikat, jadi sudah pasti akan selamat.


Tapi sebenarnya kalau sudah begini, malah ia mempertanyakan sikap Meilinda yang tidak profesional, meninggalkan pekerjaannya begitu saja demi cintanya. Divisi Meilinda acak-acakan setelah Pak Dimas dimutasi, lalu Meilinda menyalahkan staffnya. Jadi selama ini prestasinya berasal dari hasil kerja Dimas.


Siapa yang salah dalam hal ini...?


Jadi Cecilia berusaha untuk berpikir memakai logikanya.


Ia masuk ke ruang meeting, lalu menghampiri Pak Danu yang sedang berbicara dengan wakil dari Depnaker. Selena sedang sibuk berdebat dengan Pak Jaka bekas atasan Dimas dulu yang diberhentikan karena Meilinda tidak menganggapnya capable, sudah pasti nggak bisa diganggu, ponselnya saja ia tinggalkan tadi.


"Pak, saya mau menyampaikan hal penting," sahut Cecilia.


"Bisa ditunda dulu gak Cecil?"


"Sebentaaar saja pak..." Cecil berusaha merayu Pak Danu.


Ia tahu dari hari ke hari Pak Danu sering curi-curi pandang ke arahnya, jadi saat ini ia yakin Pak Danu akan serius menanggapinya. Kalau Pak Haryono pasti udah ngamuk diganggu di tengah demo.


"Kamu udah kabarin Dimas dan Meli?" tanya Pak Danu.


"Itu dia pak, masalahnya. Bu Meli barusan hubungi saya. Kata dia lagi cari Pak Dimas. Ada kemungkinan Pak Dimas diculik."


Pak Danu menatap Cecil.


Kali ini mukanya serem.


Cecil sampai merinding karena ia jadi merasa kayak diliatin Lucifer.


"Kamu jangan bercanda dong, waktunya lagi nggak tepat, " sahut Pak Danu.


"Pak, saya juga tahu kali kapan waktunya bercanda kapan waktunya serius. Becanda kayak begini mah ga bakalan lucu walopun saya suka sama bapak juga, yang ada malah bikin kesal aja kan?!" dengus Cecil.


Pak Danu menghela napas.


"Kenapa sih kehidupan kita selalu diganggu sama mereka berdua. Kerjanya bikin masalah terus... " Keluh Pak Danu.


"Saya tahu bapak nggak akan sempat untuk menangani masalah ini, tapi saya takut ngomong sama Pak Haryono, pasti beliau meradang kalau diganggu di tengah demo begini, padahal saya butuh Arya buat dibawa ke GSA buat melacak keberadaan Pak Dimas. Kalau bawa orang IT kan harus ijin Pak Haryono sebagai yang punya kuasa."


"Kamu ikut mereka yah, saya hubungi Haryono sebentar. Kamu tunggu aja di Lobi," Pak Danu mengambil ponselnya, mencari nomor Pak Haryono.


"Baik Pak, terimakasih loh mau repot-repot," Cecil menunduk hormat sekilas, lalu membalikkan tubuhnya mau keluar dari ruangan meeting.


Namun sesuatu menghentikan gerakannya. Pak Danu menggenggam tangannya mencegahnya pergi.


Cecil menatap Pria itu. Bertanya dengan matanya.


"Saya juga suka sama kamu." Kata Pak Danu lembut.


Ehm...


****


"Meli, pencarian Dimas biar Cecil dan Haryono saja yang menangani. Kamu balik ke kantor."


Begitu isi pesan Pak Danu ke Meilinda. Meilinda memekik frustasi.


Bagaimana ini?!


ia menatap Bram dan Trevor dengan bingung.


Saat ini mereka sedang berada di Markas GSA, membahas rencana selanjutnya dan bersiap menelpon polisi. Keteangan mereka juga diperkuat oleh detektif swasta yang waktu itu Meilind asewa untuk menyelidiki Gio, Pak Kardi, yang juga anggota GSA.


"Gimana Nih?" tanya Meilinda ke mereka.


"Bu Meilinda kembali saja ke kantor. Kalau masalah profesionalitas jangan ditawar-tawar. Ibu lebih dibutuhkan di sana," Kata Pak Arman. Sekretaris sekaligus Komandan GSA.


Iya, dia memang sejantan itu.


"Tapi..."


"Bu Meilinda, Dimas pasti baik-baik aja kok. Kami sudah hubungi semua anggota untuk mencari Pak Dimas, mereka akan memperluas pencarian ke tempat-tempat yang tadi disebutkan narasumber" Pak Arman melirik Bram yang juga sedang meliriknya.


tampaknya mereka berdua sepakat kalau Meilinda tidak perlu ikut pencarian, karena melihat dari sifatnya, sudah pasti keadaan malah akan tambah heboh. Apalagi kalau Dimas udah diketemukan pasti bakalan penuh adegan drama.


"Kalian... nggak lagi coba menyingkirkan saya biar saya nggak histeris kan?!" Tebak Meilinda curiga.


Pak Arman dan Bram terkekeh. Mereka mengakui.


"Mel..." panggil Bram. "Sampai sini, ini sudah urusan laki-laki. Kamu pasti mengerti maksudku."


Meilinda menahan geram.


"Dengar yah, awas kalau sampai keperjakaan Dimas hilang gara-gara..." dan ia tak kuasa melanjutkan kalimatnya.


"Yang penting, Dimas kembali dengan selamat." Potong Bram. "Keperjakaan tidak terlalu penting artinya bagi kami, beda dengan Wanita. Lagipula, hilang atau tidak, yang penting kan dia tetap mencintai kamu."


"Tapi mukjizat banget yah dia bisa mempertahankan hal itu. Seharusnya udah sejak lama hilang, kali," Desis Pak Arman dengan mata berkilat.


“Pak Arman ini loh, jangan menyamakan Dimas dengan kamu dooong,” Bram menahan tawanya.


“Yah, jaman sekarang pak, kalau laki-laki masih single, mapan, ganteng pula tap masih perjaka. Kita kan nyangkanya gitu,”


“Gitu apaaa?” tantang Bram.


“Ya gitu deh,” kekeh pak Arman. “Apalagi dia dekat sama Pak Fendi,”


“Jangan asal tuduh kamu, gitu-gitu adik saya itu,”


“Lah Pak Bram juga mendukung, kok,”


Tapi mereka berdua cengengesan.


Meilinda menghela napas menahan sabar.


“Eh Pak Arman, ngomong-ngomong saya da kumpulan preman yang bisa diberdayakan nih untuk mencari ke sudut kampung yang GSA sulit masuk,”


“Ah ya kami memang butuh itu. Kalau pakai seragam dan senjata masuk ke kampung, yanga da suka ditanya-tanya dan dihalang-halanmgi dikira mau menangkap mereka,”


“Ini... ada pemasok golok sakti dari Jakpus... Namanya Bang Sa’ad,” Bram mengutak atik ponselnya


“Biar saya tebak... nama Bapaknya Bang-Kotan bukan?” kekeh Pak Arman.


“Bisa aje lu...” gumam Bram sambil menepuk-nepuk Bahu pak Arman,


“Boss!” serunya menyapa Bang Sa’ad. “Ada hal yang menarik nih! Masa Dimas diculik wahahahaha!” tawa Bram menggelegar.