
Ngomong sih begitu...
Bilang 'hanya ada kita berdua sampai tua'
BAH!!
Kenapa sekarang aku malah ada di rumah Bang Sa'ad makan pisang goreng?!
Aku lagi butuh Mas Bram!
Dan kebetulan Masku lagi mau otw transaksi golok ke rumah Bang Sa'ad. Akhirnya aku ikutan.
Dia jemput aku di rumah dan sepanjang perjalanan ke rumah Bang Sa'ad kepalaku pusing.
Mikirin tampang Meilinda di kloset.
Sepertinya aku lagi butuh pengalih perhatian.
Sampai di rumah Bang Sa'ad, aku langsung makan sambil mengamati deretan batu cincin koleksi doi. Setengah pikiranku menerawang, setengahnya terkagum-kagum memandangi batu.
Loh, ada yang siluetnya muka orang?
"Berapa nih Bang?" Aku mengangkat batu Pancawarna dengan gradasi unik.
"Seratus." Jawab Bang Sa'ad sambil menyeringai.
"Madekipe..." Umpatku.
"Itu ada siluet Pangeran Diponegoro!"
"Jiiahhhhh diada-adain," Sahutku. Lalu aku memicingkan mataku. "Mirip sih..."
"Seratus nggak kurang, kalau nawar, harga naik!"
Aku melotot.
"Nawar Harga Naik... gundulmu berambut," aku sebel.
"Iya, soalnya gue kesel, batu siluet langka ditawar..."
"Beneran kapitalis lo," Umpatku. "Lo koleksi beginian berapa taun ngumpulinnya Bang?"
"Hampir tiga perempat hidup gue. Gue koleksi sejak gue SD. Ada beberapa yang koleksi bokap gue juga. Dia Almarhum, itu warisannya."
"Lama juga..."
"Bisa nggak sih beginian dijadiin jaminan di Bank?" tanyanya.
"Bisa. Tapi harganya jatoh. Soalnya nggak bisa jual cepet kalo lo Wan Prestasi, termasuk ke kategori barang koleksi soalnya. Sama kayak berlian, "
( Wan Prestasi adalah bahasa orang Bank untuk kondisi pinjaman macet)
"Wah, kok kedengerannya curang bener. Ngumpulin beginian lama loh waktunya, dan pasti nggak murah biayanya." Sungut Bang Sa'ad.
"Sama kayak gue nanya ke elo macam..." Aku berpikir mengenai suatu kasus. "Misalnya, ada orang butuh dana banget, terus jual tas louis vuitton ke elo 100juta. Lo mau beli?"
"Buat apa'an tas 100 juta?! Tas gue 100rb aje udah gue pake 5 taun masih bagus, "
"Nah, sama. Batu beginian juga. Tidak semua kalangan tertarik karena bukan kebutuhan primer." Jelasku. "Emang lo butuh pinjeman ke Bank buat apa?"
"Hm... Gue mau nikah,"
Aku dan Mas Bram melongo.
"Lo mau nikah?! Lo kenapa sama Mbak Sekar?!" seruku.
"...nikah-in anak gueeee!" Tambah Bang Sa'ad.
Aku diam sambil berdehem.
"Gue baek-baek aja sama Sekar, kaleeeeeeeeee!" Sungut Bang Sa'ad.
"Emang si tole bego, aku jadi latah kan," Sungut Masku.
Aku menyeringai.
"Lo butuh biaya buat acara nikahan berapa juta?" Tanyaku.
"200juta'an. Ambil dah tuh Pangeran Diponegoro gue!" Sahutnya.
"Nikah sultan 200 juta. Mau diadain 3 hari 3 malem?!"
"Acara nikahan lo sendiri bisa belasan milyar, Cuy!" sindir Bang Sa'ad.
"Bukan gue yang bayar." sahutku cepat.
"Itu duit panaik buat calon mantu," Sungutnya. "Gue sih ada di tabungan beberapa ratus juta tapi rasanya banyak benda koleksi gue yang bisa dimanfaatkan buat kebutuhan seperti itu, nggak harus pake tabungan yang buat kebutuhan sehari-hari."
Aku menyeringai.
"Sini Pangerannya, gue tebus 200juta." Sahutku.
****
"Kenapa kamu, Le?" Tanya Masku saat kami makan siang di mall terdekat.
Kami jarang loh makan siang berdua aja sama Mas Bram di tempat umum.
Terakhir kami bareng makan berdua di restoran waktu SD di McD Sarinah, itu pun karena berdua kabur dari rumah karena aku ngambek soalnya bapak marah gara-gara ulangan matematikaku dapat 4 dan Aku dipukul pake sabuk, nangis, ngajak Bram buat kabur, makan di McD ditraktir tante-tante sekitar jam 5an sore, karena bosan dan nggak tahu harus ngapain lagi, kita berdua pulang (hehe).
Aku hanya menghela napas menanggapinya.
"Kamu nggak biasa belanja segitu mahal... Kamu lagi kepikiran apa?" Tanya Mas Bram.
Aku menatapnya sambil mengunyah rroti bakarku perlahan.
Masku ini... Dia orang yang paling mengerti aku dari dulu. Tidak harus dijelaskan dia sudah tahu ada yang tidak beres.
Aku sih mau jelasin, tapi rasanya malas.
Karena...
Banyak mata yang memperhatikan gerak-gerik kami dan menguping pembicaraan kami.
Salah kami sih pilih restoran yang banyak anak mudanya. Mana weekend pula.
Jadi pada ngumpul kan.
Lagian ngapain juga sih makan di restoran. Tau gitu kan ke warteg aja sekalian.
(Percaya nggak percaya, orang yang tampangnya macam aku dan Mas Bram lebih nyaman makan di warteg karena tidak menarik perhatian dan makan sekaligus kenyang. Kebanyakan konsumen warteg adalah laki-laki, bapak-bapak, pakaian lusuh keringetan, dan kopi di warteg selalu enak. Entah kenapa... Mungkin karena ceret air panasnya jarang dicuci hahaha)
"Aku beli bukan mau dikoleksi sendiri kok..." Dengusku sambil mengutak atik ponselku sambil menghubungi temanku. Dari tadi orang yang ini susah dihubungi, mungkin karena doi sibuk sama Bossnya. Katanya sih hari minggu aja dia pasti sibuk karena tuntutan pekerjaan harus menghandle 5 anak usaha sekaligus.
Punya anak buah loyal dia peras tenaganya bagaikan budak!
Lagian kenapa sih si Leon mau aja sih disuruh-suruh.
"Bro!" Tiba-tiba si Leon sudah nongol di depan kami, duduk di samping Mas Bram dan meneguk Teh masku sampai habis.
"Laaaaah..." desis Masku. Lalu dia memandangi gelasnya yang kosong dengan masam.
"Kenapa lo ngos-ngosan begitu?"
"Katanya suruh cepet ke sini... Gimana sih lo!" omelnya.
Aku terkekeh.
Pantesan Alex memeras tenaganya... Habis si Leon type yang nggak bisa nolak permintaan.
"Mana barangnya? Gue harus jalan lagi nih mau ngurus dokumen imigrasi," desis Leon sambil merapikan rambutnya melalui layar ponselnya. Ceile, Sempet-sempetnya...
"Mau kemana sih urusan ama imigrasi?" tanyaku
"Bulan depan ada tugas ke Sisilia mau ngurusin transaksi berlian kuning,"
"Banyak mafia disana... kamu hati-hati." desis Masku ke Leon.
"Ya Mas. Makanya gue hari ini juga sekalian ngelobi kedutaan... Kita ada cabang sih di Palermo, tapi lebih enak pake orang dalem aja,"
Lalu Leon menatapku. "Juga gue minta tolong supaya lo lobi kakak ipar lo, buat kasih kita kontak kenalannya di sana."
"Kenalan?"
Leon menyeringai.
Aku tahu sih siapa yang dia maksud, karena jaringan Mas Yan yang luas dan bisnisnya yang melejit tiba-tiba, sudah pasti ada jalan belakang yang bertindak.
Seperti... Barisan para Mafia International.
"Butuh sajen loh kalo mau hubungin mereka,"
"Iya. Makanya sajennya gue beli dari lo sekarang," Leon menengadahkan tangannya.
"Serius lo mau pake batu Pangeran buat... Sogokan ke mafia Sisilia?!"
"Souvenir." Leon meralat ucapanku.
"Souvenir..." ujarku meralat ucapanku.
"Tapi gue liat dulu," sahutnya. Aku menyerahkan batu yang kubeli dari Bang Sa'ad dengan ragu.
Saat dia mengeluarkan dari case beludru, Leon tampak menaikkan alisnya.
"Ini bikinan?" Begitu katanya.
"CGI dari Yang Kuasa. Asli bikinan Alam." sahutku. "...kata yang jual." aku buru-buru menambahkan.
"Siluet orang pake sorbannya kentara banget loh..." desis Leon. Ia mengambil teleskop kecil dari tas pouchnya. Lalu mengamati batu itu lebih dekat.
Sambil menunggu, Aku dan Mas Bram pesan minum lagi.
"Le, minum teh terus, lidah jadi sepet,"
"Iya ya Mas, butuh kopi nih. Pindah ke cafe apa?"
"Belum selesai dia," Bram menunjuk Leon yang masih mengamati batu dengan serius, sudah 10 menit berlalu.
"Ini lo dapet dari mana?" tanyanya akhirnya.
"Ada preman be***wi di daerah Kramat yang jual\, katanya warisan bapaknya dari garut." Sahutku.
"Berapa lo jual ke gue?" tanya Leon.
"Berapa lo mau beli?" tanyaku balik.
Leon mencibir.
Aku tidak bisa dipancing.
"500." sahut Leon.
"500ribu? Kira-kira dong kalo mau nge-prank," sungutku.
"500juta bambaaaang," desis Leon.
"Eh, buset..."
Aku langsung pusing lagi.
Di lagi aku diam karena mempertimbangkan banyak hal, Mas Bram melemparku dengan kentang goreng, kasih tanda kalau aku harus jujur dan amanah.
"Tapi dudukannya jelek banget yah, cuma pake perak. Mungkin bakalan gue ganti pake emas putih kalau mau ngasih sajen ke mafia," desis Leon sambil menatap batu itu lagi. "Pancawarna kayak gini, dianggap batu betuah. Terkenal di jajaran pebisnis Asia." ia menyeringai.
Mas Bram kembali melemparku dengan kentang goreng.
Aku menatapnya dengan ragu.
Ia menatapku sinis.
Lama-lama satu bungkus kentang goreng bisa ia lempar ke mukaku kali, kalau aku nggak buka suara.
"Berapa nomer rekening lo?" Leon menyambar ponselnya.
Aku galau.
Mas Bram siap-siap melemparku lagi.
Iyaaa... Aku membuka mulutku tanpa suara.
"200juta aja lo transfer gue. Gue beli 200 dari yang punya. Mau buat modal nikahan anaknya," akhirnya aku menyerah dari pada ditimpukin kentang.
"Wah, murah amat. Gue transfer agak lebih lah buat usaha lo. Oke bro." desis Leon.
Aku cemberut ke mas Bram.
Mas Bram menyeringai.
“Lebihnya berapa juta?” tanyaku ke Leon sambil mengintip ke layar hape Leon.
“20rebu, anggap aja ongkir COD-an,” kata Leon
Aku makin cemberut.