
Nama Masku bisa membuat lidah orang kepelintir, jadi setelah aku lahir aku diberi nama yang tidak terlalu sulit seperti Masku, cerita ibuku begitu.
Namanya Bramantyo Sandro Hastungkoro Yuda.
Disingkat Bram Santuy.
Usia kami hanya terpaut 3 tahun, tapi sikapnya membuat ia tampak lebih dewasa dari usianya
Sejak Bapakku meninggal sekitar 10 tahun lalu, Mas Bram langsung meninggalkan kuliahnya dan mengambil alih perekonomian keluargaku. Bapakku meninggalkan warisan sebidang tanah seluas 5 hektar di Surabaya sebagai warisan. Mas Bram menjual seluruh tanah itu ke Garnet Grup untuk mereka jadikan pusat pertokoan dan hasil dari penjualan itu Masku investasikan ke saham, reksadana dan deposito. Dari bunganya kini kami bisa membeli rumah, kendaraan, restoran ibuku, juga rumah seluas 500 meter persegi yang sudah beroperasi sebagai kos-kosan dan setahuku Mas Bram juga memiliki 3 unit apartemen yang ia sewakan. Ia juga yang membayar kuliahku dan memberi uang jajanku.
Aku belajar mengenai akuntansi juga dari Masku, bahkan melihat secara langsung bagaimana roda perekonomian sekitar kami berfungsi.
Setelah transaksi jual beli tanah itu, Mas Bram melamar kerja di Garnet Grup. Pihak perusahaan sudah melihat kepiawaian dan keluwesan Masku bernegosiasi saat ia menjual tanah kami, dan dalam waktu singkat tanpa psikotes macam-macam Bram diterima langsung sebagai pegawai tetap di salah satu anak usaha Garnet Grup yang bergerak di bidang property (Kalau aku, di bidang perbankannya). Persyaratan yang diberikan perusahaan adalah Masku harus tetap mengambil titlenya sambil bekerja, minimal mendapatkan S1. Masku menuntaskannya dengan double degree tittle S2.
Yang menjadi kekhawatiran ibuku sampai sekarang adalah Mas Bram masih single.
Berbeda denganku yang tiap bulan gonta ganti pacar, jelas ibuku tidak kuatir padaku. Ibuku hanya kuatir aku menghamili banyak anak orang hahaha.
Mas Bram bilang pada ibuku kalau ia masih ingin berkarier. Tapi dia bilang padaku kalau semua wanita disekitarnya bodoh.
Ia memang prefeksionis sejati.
Itulah kenapa aku sangat mengagumi Masku.
Jadi, sebagai wujud penghormatanku, aku serahkan beberapa chapter untuk menceritakan mengenai kisahnya, yang mana aku sendiri belum tahu.
Persilahkan Author sebagai Narator.
----
Bram duduk setengah berdiri dengan meja kantor ruangan Auditor sebagai tumpuannya, ia hanya memperhatikan saat adiknya, Dimas, sibuk mengutak atik keyboardnya dan menatap serius komputernya.
Ck....
Terdengar decakan halus dari mulut Dimas pertanda pria itu mulai jengkel dengan pekerjaannya. Namun Bram dengan sabar menunggu. Ia tidak memainkan ponselnya, ia juga tidak mengarahkkan pandangannya ke hal lain, hanya memperhatikan adiknya yang dikejar dateline.
Hari ini kebetulan Bram sedang ada pekerjaan di dekat kantor Dimas, sehingga pria itu berinisiatif untuk menjemput adiknya dan pulang bersama. Namun nyatanya Dimas masih sibuk dengan pekerjaannya, sementara jam dinding mulai menunjukkan pukul 7 malam.
Di ruangan ini ada Dimas, Daniel dan yang paling diperhatikan Bram dari tadi sekaligus motif tersembunyinya menjemput adiknya adalah... Selena.
Sosoknya yang cantik dan kalem namun dingin, seperti yang diingat Bram. Tampaknya saat ini pun Selena tetap bekerja seperti orang gila, persis saat dulu sewaktu ia masih menjadi staffnya Bram. Berbeda dengan kebanyakan cewek lain yang seringkali menaruh hati pada Dimas, Selena justru malah antipati terhadap sosok seperti Dimas.
"Sayang..." terdengar panggilan halus dari arah pintu masuk kubikel raksasa Dimas. Semua menoleh ke suara itu. Meilinda masih awet dengan dandanan super cantik splendid shimmeringnya di jam lembur. Membuat kaum hawa langsung merasa seperti katak di tengah lumpur.
"Eh, ada Bram juga," Meilinda menghentikan langkahnya danmenghampiri pria bertubuh tinggi itu.
"Malam Bu," sapa Bram sambil menundukkan kepalanya.
Dalam hatinya Bram berpikir, Apa tadi aku nggak salah dengar yah, Bu Meilinda manggil 'sayang'? Ke siapa? Ke Dimas kah?!
Namun karena di sini banyak orang jadi Bram memutuskan akan bertanya ke Dimas nanti saja.
"Kamu jemput Dimas?" tanya Meilinda.
"Rencananya begitu."
"Untung aja dia nggak keburu saya bawa pulang, Lagian kelihatannya lemburnya masih lama tuh. Besok OJK mau datang soalnya Bram," ujar Meilinda.
(OJK adalah Otoritas Jasa Keuangan, lembaga pemerintah yang bertugas mengawasi kinerja Bank-Bank di Negara ini)
Wanita itu berjalan dengan anggun menghampiri meja Dimas lalu memposisikan dirinya di belakang pria itu sambil menunduk dan membelai punggungnya, lalu berbicara sambil berbisik. Tak berapa lama Dimas mengangguk, lalu Meilinda mencium pipi pria itu.
Bram menatap adegan itu dengan alis terangkat.
Bukan hanya Bram, semua yang ada di situ juga mengernyit, Daniel bahkan berdehem dan pura-pura batuk.
"Saya pulang duluan ya, hati-hati di jalan, Bram," sahut Meilinda sambil melenggang seakan kejadian tadi sudah biasa untuknya. Tak lupa ia sempat mendengus kesal ke arah Selena sebelum berlalu.
Sepeninggal Bu Meilinda, Bram menatap adiknya, namun Dimas masih fokus ke layar komputernya dan mengetik secepat yang ia bisa.
Lalu matanya tak sengaja beradu dengan Selena. DI saat yang sama, ternyata wanita itu juga sedang menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.
Sadar kalau kepergok sedang memperhatikan Bram, Selena pun langsung menunduk dan melanjutkan mengetik dan memilih tenggelam dalam dunianya sendiri.
"Len, Len,Len." panggil Dimas.
“Heeeemmm,” geram Selena. Dalam hatinya, ‘Ganggu aja sih lo! Orang lagi nyoba fokus’.
"Berapa NPF kita di bulan September dan Desember?”
"September 0.30%, Desember 1.10%." Selena menjawab dengan cepat seolah angka itu terpatri di otaknya.
"Iya karena waktu itu belum ada penambahan modal pak. Di Maret turun lagi jadi 0.15%..."
"Nggak bisa gue masukin laporan Maret soalnya udah beda tahun, nanti gue jabarin lisan saja." desis Dimas. Kemudian tampak laki-laki itu menoleh ke kanan dan kirinya mencari sesuatu. "Kacamata gue kemana sih!"
"Di atas kepala Bapaaaaak," gerutu Selena.
"Astagaaaaa!" seru Dimas sambil menyambar kacamata yang ternyata nangkring di ubun-ubunnya.
"Secara kognitif seharusnya tingkat kepikunan Pak Dimas dimulai 30 tahun lagi."
"Iya, makasih udah ngingetin hal yang absurd..."
Terdengar kikikan Daniel yang samar-samar di kejauhan, namun bikin kesal.
Mereka berbincang sambil mata tetap fokus ke layar komputer. Sejauh ini Bram puas akan kinerja Selena. Ia bersyukur wanita itu tidak berubah, tetap menjadi dirinya sendiri, namun ia entah bagaimana tidak suka melihat Selena berbincang dengan Dimas. Karena biasanya ia lah yang berdiskusi dengan Selena, namun saat ini karena mereka sudah berada di ranah yang berbeda hal tersebut sudah bukan miliknya lagi.
"Pak Dimas." panggil Selena.
"Hemm?"
"Hanya mengingatkan, sebaiknya Bapak membatasi hubungan asmara dengan sesama karyawan di area kantor, hal itu bisa dinilai sebagai konflik kepentingan dan akan jadi pertanyaan OJK apabila terkuak. Walaupun saya mengerti saat ini kita sudah merupakan unit yang terpisah tapi-"
"Ngerti. Lanjut kerja." potong Dimas. "Itu mantan Boss elu udah nungguin setengah jam, mau nginterogasi gue kayaknya."
Selena pun menatap Bram lagi, kali ini lebih dingin dari yang tadi.
Wanita itu sedang membandingkan saat bekerja dengan Bram yang kalem dan bekerja dengan Dimas yang dinamis.
Sejujurnya, Selena lebih menyukai bekerja dengan Bram karena pria itu selalu menenangkannya, cara kerja Bram lebih tertata dan tidak banyak membebani Selena, tahu-tahu pekerjaan sudah dibereskan Bram. Selena bahkan merasa Bram tidak membutuhkannya.
Bekerja dengan Dimas membuatnya agak kerepotan karena setiap harinya bagaikan gudang masalah. Apalagi kehidupan Dimas ternyata penuh kejutan.
"Selena, cek ketentuan BI mengenai reliability asset terhadap Bank Konvensional buku 1." kata Dimas.
"Baik pak."
"...juga terhadap minimal aset."
"Baik pak."
"...juga terhadap permodalan."
"Baik pak."
"...juga terhadap pembiayaan bermasalah."
"..." nggak dijawab.
"...juga terhadap-"
"Bagaimana kalau bapak email saja ke saya masalahnya nanti saya cari per Bab!" potong Selena tampak tak sabar.
"Siap!!" sahut Dimas senang sambil mengirim email. “Titah Bu Boss sudah saya laksanakan!”
“Bu Boss tapi kok rasanya saya kayak diperbudak yaaa,” sungut Selena.
Bram menonton adegan itu sambil menahan tawa. Calon Bu Boss memang julukan yang pas dengan Selena karena di mana pun ia berada ia sangat menghayati perannya sebagai problem solving.
Dimas melirik Bram dengan senyum simpul, tanda kalau ia berhasil mengerjai mantan anak buah kesayangan Bram.
Bram membalasnya dengan cibiran.
"Ada yang bisa bikinin kopi nggak?" tanya Dimas. Selena mengeluarkan ceret stainless steel listrik dari bawah mejanya.
"Tinggal tuang." sahutnya masih dengan muka seriusnya.
Dimas menatap Bram senang sambil bertepuk tangan. Begitu bergunanya Selena dalam kehidupan kerja.
Seperti saat Selena masih bekerja bersama Bram,
Membuatkan kopi tanpa diminta. Membelikan makan siang saat Bram butuh, memesankan tiket, membuat proposal, membuat kontrak, membuat rencana anggaran, sampai memeriksa vendor satu per satu, semua dikerjakan dengan sempurna.
Namun ada satu kejadian yang membuat Bram rela melepas Selena. Dan tampaknya wanita itu mengerti tindakan Bram.
Menjelang kepindahannya Bram hanya berpesan supaya Selena menyembunyikan gelagat yang tak sengaja ia tunjukan pada Bram waktu itu, rahasiakan tutup rapat-rapat sebaik mungkin.
Yah, Selena tidak sebaik yang orang-orang pikirkan.