Office Hour

Office Hour
Meeting Bersama Sarah



"Brother," Aku menepuk bahu Andrew saat kami bersiap-siap untuk masuk ke ruang meeting besar untuk memulai acara. Daripada presentasiku nggak beres gara-gara ibu kepala seksi auditnya sibuk sama urusan pribadi mendingan aku kasih tahu saja langsung sama yang bersangkutan.


"Ya?"


"Kalo bisa, hari ini ibu yang itu jangan lo bikin galau dulu." Aku menunjuk Selena yang kini sudah rapi dan sedang mensortir berkas.


"Hari ini? Jadi besok boleh dong?!"


Entah Andrew bercanda atau serius. Karena mukanya tetap lempeng.


Aku menyerahkan dua buah bantex tebal hasil prestasi 1 bulan divisiku untuk ia pelajari sembari mengikuti rapat kerja.


"Dia calon kakak ipar gue soalnya." Kataku akhirnya.


Andew menghentikan kegiatannya dan menatapku, lalu ia tersenyum.


"Nggak janji. Gue udah nyari dia lima tahun. Dia ganti nomer habis lulus kuliah dan gue nggak tau dia di mana. Sekarang ketemu lagi masa gue lepas?!"


Sekarang gantian aku yang memperhatikannya.


"Yah, Bukan urusan gue sih, Gue Cuma nggak mau dengerin orang ribut aja," Kataku. "Lo tau nggak sih kalau selama ini dia ada di deket lo? Masa orang Garnet Hotel nggak kenal dia?"


"Maksudnya?"


"Lo kan kenal bapaknya, Farid Al Farouq."


Terlihat mata Andrew terbelalak.


"Oh, dia anaknya Pak Farid toh, gue nggak tau loh tadinya. Ya jelas gue kenal bapaknya lah. Hm... Jadi gue bisa langsung kasih tahu bapaknya, apa aja yang gue udah lakuin ke anaknya biar dia secepatnya jadi milik gue dong yah. Ato mungkin langsung aja ke calon suaminya," Ia menyeringai licik ke arahku.


Kacrut...


Aku salah ngomong.


Me and my big mouth.


Udah deh kali ini aku diem aja dulu.


**


Meeting berjalan alot saking Bu Sarah ekstra ngegas protes ke manajemen. Seluruh unit dia protes, seakan di perusahaan ini yang kerjanya bener cuma doi.


"Setelah itu operasional salah ketik laporan BI, nasabah saya yang seharusnya lancar dilaporkan kol 5!! Jadi beliau marah dan cair semua depositonya!! Gimana nggak keterlaluan pak!!" serunya gas poll. Bentar lagi tabung gasnya meledak.


"Belum lagi Divisi Audit nambahin masalah pake minta-minta NIB lah! Minta NPWP lah!! Mana mau nasabah kasih udah keburu kecewa! Saya nggak mau kasih yah, catet aja jadi temuan selamanya nanti biar cair semua depositonya nggak usah minta-minta saya lagi!!"


Aku hampir aja ngakak kalo Selena nggak menendang kakiku.


Lucu bener si ibu ini, terus kalo dia nggak mau nyari nasabah terus dia ngapain dong dikantor? Itu kan emang kerjaannya.


Terlihat Fendi udah menunduk aja dengan muka merah, kelihatannya dia juga malu sama tingkah atasannya.


Di ruang meeting ini ada sekitar 250 orang dari berbagai cabang dari dalam negeri dan perwakilan luar negeri, debat terbuka , dan dia mempermalukan dirinya sendiri. Anak buahnya melipir ke belakang nggak mau ikutan.


"Ayo Dimas, dijawab," Sahut Pak Sebastian ke arahku.


Kenapa ada genderuwo di sini sih, bukannya udah naro sajen semalem, apa sajennya kurang mahal?


Harusnya ibuku di sini kali yah haha...


Aku memutuskan untuk menggunakan pesonaku kali ini. Biar semua mingkem.


"Ehm." Check sound tu wa ga.


Kenapa ruangan jadi hening gini yah tiba-tiba. Perasaan pas Bu Sarah ngomong masih pada ribut.


Terus itu layar besar kenapa dari awal nyorotnya ke divisiku sih? Emang nggak ada objek lain?! Kayaknya bentar lagi nge-zoom dadanya Selena.


"Jadi begini yah Bu Sarah sayang," Kataku selembut mungkin. Terdengar decakan dari sebelah kiriku, dan siulan entah dari mana. Muka Bu Sarah langsung merah. Iya aku tau aku lagi lebay ngumbar sayang, aku obral khusus hari ini. Senin harga naik.


"Dananya Pak Effendi itu dicatat atas nama perusahaannya. Jadi dibutuhkan NIB. Sementara Bu Sarah hanya mencantumkan SIUP danTDP saja, ini udah jaman kapan bu? SIUP dan TDP sudah tidak berlaku lagi sejak ada Pasal 116 UU Cipta Kerja. Bagi pengusaha wajib ada NPWP yang bisa menjadi patokan apakah ia taat bayar pajak atau tidak. Kalau nasabah Bu Sarah tukang gorengan yang penghasilannya sehari cuma puluhan ribu ya saya nggak protes deh NPWP nggak ada, masalahnya ini tukang gorengannya omsetnya perbulan milyaran,"


"Tukang goreng saham..." Gumam Andrew. Aku terkekeh mengiyakan. "Nasabahnya namanya Ir. Effendi Prasodjo ini yah mas? Yang punya stasiun tv?"


Aku mengangguk. "Iya kemarin dilaporin kol 5 sama operasional jadi dia marah tapi kita nggak sempat minta update KTP" Bisikku.


"Bu Sarah, untuk yang nasabah ini kami bantu minta yah, selanjutnya untuk nasabah yang lain Bu Sarah bisa sendiri kan?"


"Coba aja minta kalo nggak disemprot kamu!!" Tantang Sarah.


Aku dan Andrew langsung menatap Selena berbarengan.


Selena balas menatap kami bergantian.


Aku mengerling padanya.


Dia menggeram.


"Nanti gue beliin Mixue," Bisikku menyogoknya.


Gampang banget nyerahnya cuma dijanjiin Mixue doang. Mungkin karena di sini ada Andrew jadi pertahanannya agak lemah,


Waaaah harus dimanfaatkan sebaik-baiknya ini!


Ia meloudspeaker ponselnya pake mic biar semua denger.


"Selena Sayang! Udah lama kamu nggak nelpon Om, duh kangen banget sama kamu..." Begitu sapa pria dari seberang telepon.


Aku langsung menunduk ga tahan ngakak sumpah!


Bu Sarah sampai terperangah, ya wajar, karena di depan orang lain nasabah ini perhitungan banget dan galaknya ampun-ampunan. Jangan sampe dia ngeh kalo lagi di loud speaker.


"Aku nelpon Om Pepen karena ada maunya aja Om. Om punya dana di Garnet Bank yah?!" tempak Selena ke Pak Effendi.


“Adaaa, kok kamu tahu sih?”


“Aku kerja di sana sekarang Om!”


"Ah! Marketing kamutuh nggak beres Len! Namanya Sarah, kenal nggak?”


“Yang gara-gara pelaporan BI bukan Om?”


“Ya nggak itu doang gara-garanya, Om sih ngerti yah peralihan laporan dari BI Checking ke Slik karena anak usaha Om yang satunya juga ada yang salah dilaporin sama Bank lain, tapi yang Om ga suka, dia janjiin Aku rate 6% begitu di bilyet tulisannya 5% dia bilang 1%nya nanti belakangan dikirim biar laporan pajak-ku bagus. Tapi sampe akhir bulan nggak dikirim juga. Pelaporan kol 5 itu cuma bonus kesel Om lah,"


Kami langsung menatap Bu Sarah.


249 orang menatap dia dengan pandangan sinis.


"Om aku minta NIB yang baru sama NPWP update yah! Data di kita expired nih"


"Ambil kesini yah sekalian makan siang." Tawar si om seberang telepon.


"Kirim via whatsap yah sekarang." Ni cewek nggak ada basa-basinya. "Sama aku minta 150bio yah, 4% dilock setahun, kalo break berlaku 1%."


"Haduuuh kamu nih bikin om jadi bingung!"


"Om nggak inget aku udah beli tiket buat liburan ke Canada sama Om,  tapi om nggak dateng gara-gara istri ke..."


"Iya iya iya! Om salah sama kamu! iya Sayaang jangan marah lagi yaaaah, ini ada 200 em kamu depositoin lah, bunga terserah kamu mau dikirim ke mana, oke?!"


"KTP dan NPWP dalam waktu semenit!"


"Sayang-"


Selena memutuskan sambungannya.


Aku masih menelungkupkan wajahku ke meja menahan tawa.


"Puas Pak Dimas?!" desis Selena.


"Gud job," Aku mengelus kepalanya. Lalu memeriksa ponselku. Dana dari Alex Beaufort sudah di rekening Bank jumlahnya 55 milyar. Wih, ditambahin sama Alex! Sip.


"Jadi hari ini Divisi Audit udah bantu 260milyar untuk Divisi Pendanaan, silahkan insentif dikirim ke rekening kas kami, lumayan buat satu tim liburan ke Turki, kita mau foto-foto ama kucing-kucing di sana," Sahutku ke Pak Stephen. Ia hanya membeku menatap kami dengan kejengkelan yang terlihat jelas.


Aku sempat mendengar salah seorang karyawan bisik-bisik “Pak Dimas dilawan... ya mati kutu lah,”


Aku berdehem saja.


Di sebelahnya Bu Meilinda tersenyum lembut ke arahku.


"Sarah..." Dia buka suara. "Tolong perbaiki kinerja kamu yah, saya sudah minta NIB dan NPWP Pak Effendi dari 6 bulan lalu waktu belum konflik tapi kamu tidak berikan informasi itu ke saya, jangan sampai kebalap lagi sama gengnya Dimas, karena kalau temuan kamu sampai di tim Audit, kamu ditelanjangi di depan orang banyak macam begini,"


Semua orang terkekeh.


Suara Meilinda yang lembut begini malah membuat bulu kudukku meremang.


"Tapi bu, tugas saya kan cuma cari dana, kalo kelengkapan yah customer service lah yang follow up." Bu Sarah berdalih. Masih nggak mau kalah dia.


"Heh!" Tegur Pak Haryono. "Cari dana saja kamu nggak becus, kamu jualan rate special mahal semua kamu bisa menggerus bonus anak-anak!" Pak Haryono angkat suara, yah wajar karena dari tadi yang disalahin operasional yang notabene di bawah yuridiksinya termasuk customer service, "Mana nasabah kamu sister company semua! Coba saya tanya yang benar-benar Nasabah kamu cari ada berapa bio hah?!"


Sarah bungkam.


Fyi.


Ini penjelasannya panjang, mengenai prosedur Bank.Kalau nggak baca skip aja ke chapter beriktunya yaaaa. Kasian puasa-puasa disuguhi penjelasan kan pusing, wakakaka.


(Bio itu bahasa singkatan untuk Billion, bahasa Indonesianya adalah Miliar/milyar. Biasa dipakai orang bank terutama yang kerja di bagian pendanaan atau cari dana untuk deposito, tabungan, dan investasi lain.)


(BI Checking adalah laporan kronologis transaksi Bank seseorang dari track record pembiayaan. Pembiayaan disini dikenal juga dengan sebut Kredit/peminjaman dana dari Bank, dari mulai KPR, modal kerja, dan kartu kredit. Jadi di laporan BI Checking itu ketahuan si orang bayar pinjaman banknya pernah nunggakk berapa hari, atau lancar terus, atau malah macet.)


(Slik, sama seperti Bi Checking. Bedanya, BI Checking dikelola oleh Bank Indonesia, kalau Slik dikelola oleh OJK. Sesuai peraturan pemerintah untuk tahun 2018 ini semua transaksi yang tadinya dikelola oleh BI dipindahtugaskan ke OJK, jadi ada kayak pemindahan laporan juga dari BI Checking ke Slik. prosesnya cukup rumit dan sering terjadi clash macam kasus nasabah Bu Sarah ini. Harusnya dia Kol 1 / kategori lancar malah dilaporkan Kol 5 / Kategori Macet. itu berpengaruh banget ke kredibilitas si Nasabah apalagi ke masalah kepercayaan. siapa coba yang bakal percaya sama orang yang sering nunggakk di Bank, kewajiban lo aja nggak lo bayar apalagi perjanjian kerja? bisa-bisa dilanggar kali. Gitu pengertiannya. Yang tugasnya menginput kronologis nasabah adalah Unit Operasional, jadi kerjaan mereka itu sebenernya buanyakk buanget. coba ada berapa ribu nasabah yang harus mereka input? Walaupun dibantu sama sistem tetap saja mereka harus periksa satu per satu jangan sampai sistem salah masukin.)


(NIB, ini penting banget buat pembaca yang mau buka usaha, dulu namanya TDP (Tanda Daftar Perusahaan) dan SIUP (Surat Ijin Usaha Perdagangan) sekarang ketentuannya diubah jadi satu dokumen aja namanya NIB (Nomor Induk Berusaha) pengurusannya bisa secara online kok melalui laman resmi One Stop Submission (OSS).


NIB tidak hanya diperlukan bagi perusahaan besar macam Garnet Bank, tapi UMKM pun harus memiliki NIB. Gunanya selain sebagai tanda daftar, juga bisa memperoleh kesempatan yang lebih besar untuk mendapatkan pendampingan dari pemerintah. Pendampingan tersebut tentunya akan sangat berguna bagi UMKM yang ingin mengembangkan usaha. Tidak jarang mereka mendapat fasilitas untuk mengikuti pameran. Memiliki NIB akan memudahkan akses pembiayaan ke lembaga keuangan bank dan non-bank).