
Kami sibuk.
Sesibuk apa?
Sesibuk tukang nasi uduk tiba-tiba dapet orderan 1000 dus buat besok pagi.
Sesibuk editor nyortirin novel yang jumlahnya ribuan untuk dipilih sebagai pemenang kontes #Wanita Kuat dalam waktu seminggu.
Sesibuk petugas KPU quick count surat suara rakyat dalam semalam.
Sesibuk itulah kami.
Aku bahkan sampai membayar 5 security untuk menghalangi ‘pengganggu’ yang datang mencariku. Kalau Desi sih kukasih cium pipi aja udah jadi pengikut setia. Dia sigap memaki-maki cewek-cewek yang datang.
Pokoknya, Aku nggak mau diganggu, Selena dan Cecil bahkan ikutan menginap di kantor. Bedanya, aku tidur di kasur lipat di pantry, mereka di sofa ruangan Meilinda.
Jangan sampai mereka tahu sofa itu dipakai buat apa aja...
Kenapa kami sibuk?
Karena besok Rapat Kinerja (disingkat : Raker) dimulai.
Hari pembantaian, kata marketing.
Hari membantai, kata kami.
Hari tebar pesona, kata manajemen.
Hari sibuk beberes, kata Syarif.
Dari mulai shareholder, owner, seluruh direksi terkait, dan personel cabang semua diundang datang. Ini hari pembagian rapot kalau kata anak SMA jaman dulu taon 90an.
Dilagi sibuk-sibuknya seperti biasa ada kejadian-kejadian penting. Seperti tiba-tiba Pak Stephen datang dan ada anak baru di Divisiku namanya Andrew. Dan Selena entah kenapa langsung pucat saat melihat cowok itu.
Jadi saat aku habis mandi di kantor masih berbalut handuk di pinggang, itu masih jam 5 pagi, Pak Danu nongol masih pake kaos oblong warna hitam. (Aku beneran nggak nyangka ada orang di kantor jam segitu, Direktur Utama pula. Udah kepalang basah ya sudahlah).
"Mas, ada Stephen sam Andrew di ruangan David, kenalan dulu gih sana," tanyanya.
Kenalan... macam anak SD.
"Itu lingkaran hitam makin tebel aje, cuci muka dulu lah Pak biar eyelinernya nggak luntur gituuu," candaku berusaha mengalihkan perhatian sambil gosok gigi di wastafel cuci piring. Masalahnya serem banget ngeliat sosok pucat sekitar mata hitam.
Bukan, itu bukan Panda. Itu Vampir.
"Tato lu kinclong amat, lu amplas ye. Nakal bener lu ya. Awas lu macem-macem," Balasnya sambil terkekeh. Pengalihanku nggak mempan. Aku menempelkan telunjukku ke bibir.
"Lo nggak usah ngancem pake SOP, udah diem aje, Paaak," bisikku mencoba bernegosiasi.
"Kalo bukan lu, udah gua seret ke tukang hapus tato plus SP4,"
Aku terkekeh. "Eh, jangan sinting lo ye, SP cuma sampe 3 yah, habis itu langsung surat somasi dan penyitaan. Ga usah nambah-nambahin lo. Udah gue dandan dulu, ntar gue nyusul," dengusku.
"Dandan? Cieee yang mau ketemu saingan," ejeknya sambil keluar dari pantry.
(SP : Surat Peringatan. Yang dimaksud di sini adalah surat peringatan untuk nasabah yang pembayaran angsurannya macet. Biasanya antara surat satu dengan lainnya berjarak 2 minggu sampai 1 bulan. SP cuma sampai 3 tahap, setelah itu berlanjut ke Surat Somasi dan Penyitaan. Biasanya kedua pihak -Bank dan Nasabah- sudah menggunakan pengacara kalau sampai tahap ini untuk negosiasi mengenai aset yang dijaminkan.)
Jadi jam setengah 6, bahkan matahari belum nyampe, kantorku masih rame kayak pasar subuh. Semua sibuk nyiapin bahan buat Raker. Siap-siap dibantai sih tepatnya. Paling tidak mereka keukeuh membela diri dulu sebelum direndahkan di depan banyak orang.
Aku memakai kemeja casual bermotif garis lengan panjang, celana bahan chino dan sendal swallow (pake sepatu belakangan aja, masih pagi), jalan ke ruangan HRD sambil merangkai dasi berwarna senada.
Aku melewati ruangan Pak Haryono, dari sekian banyak orang sebenernya dia yang paling sibuk karena dia harus menangani ketersediaan ruang, layout, konsumsi, panggung dan lainnya, sekaligus juga mempersiapkan kinerja untuk unit operasional dan unit IT. Kulihat dia bahkan masih pake singlet dan sarung, rambutnya masih diikat ke atas, doi juga bobo di kantor tadi malem. Untuk usia setua doi, badannya masih berotot sempurna, keren juga sih tampilannya.
Kecuali sarung kotak-kotaknya. Aku penasaran dia pake celana nggak di baliknya. Kalo burungnya terbang kan bisa buyar semua konsentrasi.
"Eh! eh! Kadal buduk!" panggilnya kepadaku, aku berhenti sebentar di depan ruangannya untuk menanggapinya. "Ini temuan lo buat divisi gue banyak banget ye, gue sampe lieur asw! Nambah kerjaan gue aje lo!!"
"Lagian megang divisi paling banyak, kalo nggak banyak temuan jadi gue ga kerja dong broo,"
"Gue jadi ngebayangin pensiun dini gara-gara lo kampret!" sungutnya
"Jangan pendi dulu dong, gue belum puas ngebully lo... wakakakak!”
Dia menjepretku pakai karet gelang, aku kabur.
(Pendi \= Pensiun Dini. Pensiun yang terjadi lebih awal dari ketentuan. Biasanya kalau di perusahaan swasta usia pensiun sekitar 55-58 tahun. Tahun ini Pak Haryono menginjak usia 52 tahun. Durhaka juga aku ya ngerjain orang tua).
**
"Ini kenalin dulu bro. Andre Wicaksana, dia keponakannya Pak Stephen Wijayakusuma." kata Pak David.
"Saya Andrew pak." dia mengulurkan tangan padaku.
"Iya Pak, disingkat. Andre W... Jadi Andrew."
"Oh." sahutku. "Saya Dimas...Ta."
"Jancoeg, itu mah penyiar Radio Ardan," desis Pak David sambil cekikikkan.
Tiba-tiba udaranya jadi dingin banget, dan ada yang kayak nusuk-nusuk dari depan.
Aku menoleh ke makhluk di depanku, yang berdiri di sebelah Andrew. Agak jiper sih perawakannya lumayan mengintimidasi jiwa kecharminganku soalnya. Tampangnya mirip itu tuh... pemain film Hollywood yang muncur di Wolferine : Origin. Daniel Henney.
(Udah nggak usah ketawa, iya Tante Author memang kesengsem sama tokoh ini sejak baca ‘I Hate My Boss’ nya Margaret Aegis).
"Pak Stephen," sapaku setengah menunduk. "Apa kabar? sehat? Udah sarapan? Apa mau bareng saya ngopi di ruangan baru bapak?"
Ia masih menilaiku dari atas ke bawah. Lalu ia berdecak.
"Masih bocah ternyata yah," sindirnya.
"Bocah atau tidaknya ditentukan dari sikap terhadap orang lain, pak," bantahku.
Ia mengangguk.
Lalu menegakkan dagunya.
"Gue denger lo pinter banget di sini bro, coba lo kasih gue prospek buat hadapin Raker," tantangnya.
Aku menyeringai.
"Masa minta prospek ke tim audit sih. Insentifnya ke saya jadi yah, jangan ke Bu Sarah," desisku sambil mengutak atik ponselku.
Setelah mendapat nomor telepon kenalan lama, "Brother... Apa kabar looooo!" sapaku.
Temanku dari ujung dunia sana mengomel.
"Eh, gue tau lo baru pulang clubbing, nggak usah sok-sokan bilang masih malem-masih malem deh. Masih kuat stamina lo, gue ngerti! Gue bagi deposito ye, 50 aje. Ratenya sesuai konter ye." Kataku.
Temanku yang diseberang telepon mengomel lebih kencang.
"Lo tuh baru dapet proyek dari pemerintah, beritanya dimana-mana jangan suka berdalih! Diblokir ye 6 bulan bro, lo cair kecepetan gue kurangin setengah bunganye. E-banking dulu 5 milyar sekarang, sisanya RTGS ntar siang!"
Temanku diseberang cuma bisa bilang "Kuyaaaaa!!"
"Gue tungguin 15 menit. Nomer rekening gue wa. Data-data ntar kirim email ke gue." tembakku, lalu aku memutuskan sambungan takut pulsaku habis kalo kelamaan.
Pak Stephen mengangkat alisnya yang tebal sambil bertanya padaku dengan tatapannya.
"Ini Alex Beaufort." aku menyebutkan nama teman yang baru saja kuhubungi. Iya lah dia, sapa lagi yang punya duit banyak? Masa aku malak Pak Sebastian?! Enak aja dulu si Alex makan King Crab gue kaga dikasih... Kan Pajak Jalan buat ngilernya belom dibayar.
Mendengar nama itu Stephen memalingkan wajahnya sambil tersenyum masam tak percaya. Mungkin dia nggak nyangka kalau aku juga punya jaringan.
“Jadi, ada apa pak ke sini? Memangnya di sini kurang orang ya?” tanyaku. Agak kurang ajar sih, habis sebel juga diliatin sama tampang songongnya itu. Ya ku songongin balik lah.
“Gue ke sini dalam misi tertentu, Lo nggak usah ikut campur.” ia tersenyum mencurigakan.
Aku pura-pura nggak ngerti dan seperti biasa mencoba mengalihkan perhatian dengan mengobrol ke hal lain. “Nanti Bu Sarah ada di bawah ranah Pak Stephen dong ya,”
Tiba-tiba senyumnya langsung lenyap.
“Bagus juga sih kalau Pak Stephen bisa mengendalikan 'keaktifannya bekerja', personel di sini otaknya nggak pada nyampe kalau diajak ngobrol sama dia.” tambahku.
Pak David terbahak. “Ora lepel kita ngobrol sama keluarga bangsawan, Maaaas. Bahasa ne wis bedoooo. Kita ngoko dia kromo inggil!”
“Saking kromonya malah berubah jadi kode binary, pusing lebih baik nggak dengerin lah!” balasku.
Kami berdua terbahak.
Stephen menggaruk tengkuknya “Sarah separah itu?” tanyanya mulai ragu.
“Yang sabar ngadepinnya ya Pak Bro, kalo nggak kuat lambaikan tangan,” desisku.
“Lambaikan tangan kemana?” Pak Stephen mulai panik.
“Ke Pak David lah masa ke Saya.”
“Aku lambaikan tangan ke kamu Mas, kowe la wudo blejet wis mingkem si Sarah... hahaha!!” Kata Pak David. (Wudo : telanjang).
Aku mencibir semasam mungkin, mainannya bawa-bawa fisik nih... “Macam gue mau ngeliat tuyul aje pake bug1l di tengah ruangan,”