
Aku dan Selena mungkin tipe manusia yang sama. Cuek dan mengetahui potensi diri. Selena lebih judes sih dan ternyata dia lebih teoritis dibanding aku.
Hebatnya, sekali baca dia sudah hapal dan mengerti yang harus dia lakukan.
“Ini kenapa transaksinya berulang-ulang dengan nominal yang sama? Ini lebih dari 20 kali loh ada slip penarikan, jumlahnya cuma 200rb an,” denga tegas Selena menegur orang cabang
Orang cabang yang tadinya menatap kami dengan terpesona pas tengah hari pada berubah jadi jengkel. Belum tahu ya kalo kami nggak kenal ampun.
“Ya mungkin itu kepentingan Nasabahnya, mbak, mana saya tahu. Kan buat pembukuannya dia!”
Selena memeriksa ponselnya.
“Nasabah dengan nama itu ada di linked in dan Instagram, dia terlihat hanya karyawan biasa di perusahaan property, sepertinya jabatannya tidak mengerjakan pembukuan dan administrasi apapun. Ada nomor teleponnya ini di linked in, saya coba telepon ya.”
“Nanti dulu mbak! Jangan asal nelpon begitu dong!! Kok ngacak-acak kerjaan orang sih!” Si Kepala Cabang sewot.
“Masih banyak lagi yang mau saya acak-acak, termasuk jabatan Anda,” sahut Selena dingin.
Semua diam.
“Buka khazanahnya, ” perintahku. Teller memutar kombinasi dan Bu Kepala Operasional memutar kuncinya. Ia mau mengeluarkan uang dan aku mencegahnya.
“Saya saja yang ngeluarin.”
(khazanah adalah bahasa bank untuk brankas uang).
“Eh, biar saya saja pak. Biar bapak bisa langsung hitung.”
“Kamu...” desisku.
“..sana jauh-jauh,” desisku pasang tampang angker mode on. Bu Kaops ragu-ragu, “3 meter batasnya. Jauh-jauh, mepet dinding,” desisku.
Ia menurut dengan ragu-ragu.
Aku mengeluarkan uang dari khazanah dan menghitung bundelannya dalam hati. Kurang 1 lembar. Lalu ambil tumpukan paling bawah dan menghitung cepat dengan jari. Tidak sampai 10 menit 500juta sudah selesai kuhitung. Beberapa lembar kertas ada yang terlalu tipis.
Lalu memfoto temuan.
Selena mengambil tumpukan bilyet deposito yang sudah dicairkan dan menerawang tanda-tangan nasabah. Setiap tanda-tangannya sama persis dengan yang lain, tanpa ada garis yang berbelok. Tidak berapa lama, para nasabah yang tadi pagi kami telepon datang ke Bank. Mempertanyakan penarikan tabungannya yang tanpa sepengetahuan mereka.
Aku memeriksa giro yang beredar, surat kuasa penarikan dari direksi. Aku menggoogling nama itu, bekas karyawan di Garnet Bank, sudah pensiun 4 tahun lalu. Aku mensearching nama perusahaannya, NPWP dan TDPnya tidak terdaftar didepartemen perdagangan. Giro kosong. Aku memeriksa kertas yang digunakan untuk surat kuasa, lalu mengambil kertas A4 di mesin printer. Guratan yang sama. Surat kuasa di-print di kantor ini.
Di Ruang meeting, para nasabah ribut mempertanyakan kejelasan. Pengacara Bank datang.
Pak Posan dan Pak Albert.
“Bro!” sapa mereka padaku. Kami berjabat tangan dengan antusias.
“Lo janji sama gue traktir bakso,” tagihku.
“Siap lah! Habis kasus, oke?! Itu si Dirga dateng bawa pasukan,” Pak Posan menunjuk mobil polisi reserse yang baru saja datang, terlihat wajah yang tak asing.
Kompol Dirgantara.
Si Anying ternyata dipindah ke Solo. Kenapa dia nggak ngabarin gue, coba?! Kan belum sempat minta pesta perpisahan di Jakarta kemarin.
“Ah! G0blok, bosen gue ketemu lo lagi lo lagi!!” desisku sambil menjabat tangannya dan berpelukan seerat Tebetubbies’.
“Kangen gue ama lo Pak Kadiiiv!!” seru Dirga.
“Apa kabar Pak Kompooool!” seruku.
Sekalian reuni bro...
Kulihat, para staff Bank hanya melihat kami semua dengan tegang. Mungkin mereka tidak menyangka kalau aku memiliki banyak relasi di sini.
Aku mengatakan ke Teller kalau ada Nasabah yang datang dan bertanya ada apa sampai bawa-bawa polisi, bilang saja ada nasabah kredit macet yang baru saja berbuat keributan.
Well, dia belum tahu kalau setengah karyawan di gedung ini bakalan diangkut ke meja hijau.
Selena mengerjakan tugasnya dengan baik, aku sangat bersyukur masih dibantu Yang Maha Kuasa. Jadi sekalian saja dia kuajak makan bakso sama teman-temanku, saat ini dia sedang dirayu sama Kompol.
“Ga, lo jangan macem macem itu bekingannya kuat, lo nggak bakalan tahan!” sahutku ke Dirga, si Kompol.
Selena melemparku dengan krupuk. Dia memang wanita yang penuh rencana. Kami saat ini sedang menunggu Pak Haryono datang.
“Bekingan siapa punya? Paling elo kan? Mending sama gue aja, lebih lurus dari si asw...” sahut Dirga dengan mata yang nggak beralih dari Selena.
“Jangan mau Len, ntar lo tiap hari dikasi cadongan.” candaku.
“Eh ini kapan selesainya?” Tanyaku.
“Lo kan ikut dulu kale sebagai pelapor, nggak ada macam tahun lalu lo kabur-kaburan ye! “ Sungut Dirga.
“Pak Dimas pernah berurusan dengan polisi?” tanya Selena.
“Sering... hehehehe,” desisku.
“Kasus wanita,” tambah Dirga Kompol Meleduk.
“Kasus wanita?!” seru Selena kaget.
“Udahlah, anggap aja dulu banyak yang berantem gara-gara gue tolak,”aku mengibaskan tanganku.
“Sok ganteng bet!!” seru Selena.
“Tapi dia sering tau-tau ngilang waktu interogasi, eh nyangkut di warteg,”
“Semena-mena lu ye ditanya-tanya berbelas-belas pertanyaan cuman dikasih aqua, gue lagi
pengen telor balado, ya gue kabur dulu makan,”
**
Bangun dengan kepala pusing macam ada kampak nancep di ubun-ubun tuh nggak enak banget.
Aku habis berapa botol sih tadi malem?!
Mana badan pegel nggak bisa digerakin pula... Aku memalingkan wajahku ke samping, ke arah beban yang berat menimpa lengan dan dadaku.
"Paaagi Cintaaaa," kudengar suara wanita menyapaku. "Kamu bobonya nyenyak banget sih..." suara sesak seksi terdengar dari sampingku, aku mengerjabkan mataku lagi dan mendapati Selena tersenyum padaku sambil tetap memelukku. Aku menggeliat, dan seketika sangat menyadari kalau dibawah selimut ini Aku tidak mengenakan sehelai pun pakaian.
"Nggak usah kebanyakan becanda, ntar jadi beneran lu malah repot,"omelku sambil menjatuhkan badanku lagi ke ranjang. Entah kenapa gravitasinya sangat kuat disini.
Aku juga bersyukur yang terlihat di sebelahku adalah Mak Lampir ini. Kalau cewek lain... entahlah, bisa perang dunia kali ya.
"Pak Dimas ngabisin 15 sloki lho habis itu nggak sadar. Saya hampir aja nelpon Pak Bram dipikir Pak Dimas udah mati,"
"Bo'ong banget lo, paling lo bakal ninggalin gue di club kan!"
"Eh, ketahuan. Hebat banget bisa nebak," desisnya sambil menyeringai.
"Kita checkin bandara 3 jam lagi ya pak, saya mau ke spa dulu."
Beneran si Posan nggak tanggung-tanggung kalo ngasih entertain.
"Eh, btw, si Posan habis berapa?"
"Yang menang pak Dimas, kok. Paling transferannya nanti siang soalnya kayaknya Pak Posan saat ini belum sadar dari pingsannya sih,"
Yessss!!
Kan udah aku bilang nggak usah nantangin minum deh. Udah pada tua juga.
Mentang-mentang orang Bat*k pede nantangin orang Jaw* minum akhirnya tepar sendiri\, udah bawa-bawa ras pula akhirnya yang menang tetep yang muda lah.
"Sebelum ke spa bikinin kopi dulu dong," rajukku sambil memijat kepalaku.
"Ck, bikin sendiri ah, saya sibuk,"
"Ini masih jam kantor loh," sahutku mengingatkan.
Selena melemparkan sekotak rokok kesukaanku.
"Makan itu dulu. Saya mau relaksasi," desisnya sambil berpakaian dan menutup pintu.
"Jangan pake bon kantor! Gesek sendiri!!" seruku.
"Bawel!" balasnya dari luar.
Diriku versi perempuan.
Aku meraih ponselku. 45 missed call dari Bu Meilinda.
Lalu mengerang karena pusing yang kembali menyerang.