Office Hour

Office Hour
The Puppy and The Vampire



Esok paginya, sudah menjelang siang sebenarnya, saat aku sedang menyibukkan diri berkutat dengan bantex mengenai APU-PPT ( semacam laporan mengenai indikasi pencucian uang) karena memang berkaitan dengan kasus Pak Jaka kemarin, Selena mengusik ketenangan bekerjaku.


"Pak Dimas, kerasa nggak sih kalo dari pagi ruangan kita agak sepi?" Selena mengerutkan keningnya sambil mengetuk-ngetuk dagunya.


Aku diam.


Berpikir.


Eh, iya juga.


Mana nih biang ribut?


"Cecil mana?" Tanyaku akhirnya. "Juga Andrew? Sena? Si cewek Tampan?"


Selena tidak langsung menjawabku tapi ia memanjangkan lehernya untuk mengintip ke arah ruangan Pak Danu lebih dulu, lalu dengan langkah agak terburu-buru ia pun berbisik,


“Jadi begini adik ipar,” bisiknya sambil meremas kerah kemejaku dan menariknya supaya wajah kami berdekatan. Sesak sumpah, aku sampai termehek saat dasiku ikut ketarik kuku runcingnya itu. “Pagi ini gue ngeliat Cecil jalan sama Pak Danu ke arah parkiran mobil basement, dan akhirnya mereka pergi berdua belum balik sampe sekarang,”


“Kenapa begitu Kakak Ipar?” tanyaku.


“Iya, itu pertanyaannya. Kenapa begitu? Kok kita nggak diajak?”


Aku memicingkan mata sambil menatap si calon kakak ipar dari kawah gunung berapi. “Sepertinya tidak mungkin masalah pekerjaan ya, karena pasti harusnya ngajak gue,”


“Pak Danu nggak izin lo buat ngajak anak buah lo?” tanya Selena.


“Secara hierarki, kita semua anak buahnya sih. Jabatan gue hanya menandakan kalau tanggung jawab gue lebih banyak dari lo, yang lain sih sama aja tertekannya,”


“Jangan-jangan gaji juga gedean gue,” desis Selena sambil mengernyit.


“Pas gue periksa sih emang lo lebih gede 300ribu sih Len,”


“Kenapa gitu?”


“Kekuatan orang dalam, Bapak lo dan Pak Sebastian satu grup boyband. Namanya Tua-GaPat Band,”


“Lo bercanda apa beneran sih?”


“Bercandanya beneran, sih,”


Setelah itu pintu ruangan kami di’dobrak oleh Ari Sangaji yang masuk sambil langsung memeluk bahuku sekaligus bahunya Selena. Di belakang Ari Sangaji si cewek ganteng, ada Bang Sena yang tampak malas-malasan sambil bilang, “Udah kali Ri nggak usah bikin heboh,” katanya.


“Nggak bisa Bangsen! Ini kasus ini! Kasus! Sekaligus seru kayaknya ada anak anjing disandera Hyena!” seru Ari sambil menggiring kami ke pojok ruangan. Tenaganya lebih kuat dari Selena rupanya.


Kenapa cewek-cewek di sekitarku Alpha semua?


Atau akunya saja yang terllau lemah?


“Apa sih? Rambut gue baru di blow dua juta nih! Keserimpet kancing baju lo!” keluh Selena sambil menggeliat membebaskan diri dari Ari.


“Sssst!! Bawel! Dengerin gue! Dengerin!!” desis Ari sambil menekan leher kami supaya kami berdua menunduk.


“Riii,” Bang Sena memperingatkan kami.


“Tau nggak? Tapi lo berdua diem-diem aja , Cuma kita sedivisi yang tahu ya! Inget!”


“Duuuh apa siiih?!” Selena mulai tak nyaman.


“Gue dan Bang Sen waktu habis dari kantin basement, lewat tangga darurat nggak lewat lift. Nah kita lewat mobilnya Pak Danu yang baru parkir di tempat beliau biasa parkir tuh,”


“Iyaaa?”


“Hampir aja gue nyapa dia, eeeh kita ngeliat Mbak Cecil dong di dalem mobilnya Pak Dirut,”


“Iyaaaa?” aku dan Selena semakin tegang.


“Dan mereka ciuman,”


Aku diam,


Selena Diam,


Ari tegang dan melotot ke kami.


Bang Sena nyeruput kopi. Ssruppt gitu bunyinya, seakan melepas semua beban yang ada lalu dia menghela nafas, “Suka banget sih ikut campur urusan orang, kan nggak ada salahnya toh masih sama-sama single, beda umur doang agak jauh 10 taun,”


Ya iya sih Bang Sena bener.


Tapi ini kan seru.


Lalu kami berdiri berhadapan, sama-sama berkacak pinggang sambil mikirin Cecilia Wira Atmo. Anak semata wayang konglomerat Solo yang punya pabrik tekstil.


Apakah ini tandanya akan ada hubungan kekeluargaan antara Wira Atmo dengan Khamandanu Family?


“Kayaknya bakalan heboh, khehehehe,” kekeh kami bertiga menantikan saat-saat itu dengan mendebarkan.


"Eh, si Andrew bareng sama lo berdua nggak?" tanyaku.


"Iya dia bilang mau ngerokok sebentar diluar. " sahut Ari sambil  ikutan ngopi di sebelah Bang Sena.


“Ada apa sih sama Andrew? Dia kayak menghindari belakangan, juga lebih pendiam dibanding sebelumnya. Muka bawaannya muram terus,” tanya Bang Sena.


Aku lihat-lihatan sama Selena. Memang nggak guna kalau menyembunyikan sesuatu dari orang yang feelingnya luar biasa kuat macam makhluk tampan kayak Bang Sena ini.


"Tuh kan, lo sih Len pake rencana soang," keluhku.


"Apa sih, saya kan niat bantuin Pak Dimas juga!"


"Dah gue bilang libatin aja Mas Bram, lo gak percaya amat sama dia,"


"Gue kan takut ditinggaliiiin," sungut Selena sambil mengibaskan rambutnya


"Tapi staff gue jadi kepecah gini maen kubu-kubuan, kerja jadi nggak nyaman suasananya,"


"Ya gimana lagi?!"


Lalu kami bekerja dalam diam.


Menjelang jam 11.30 siang, Andrew baru datang dengan kopi di tangannya. Ia melewatiku dan Selena, lalu duduk di mejanya, memilih-milih materi lalu mengetik.


Aku mengamati raut wajahnya.


Biasa aja sih tampangnya, tapi tingkah diamnya itu membuat suasana mencekam, kayak lagi ngambek sama bini.


Terus begitu sampai siang, kayak ada yang nusuk-nusuk dari belakang.


Suasana makin tegang saat Meilinda datang.


"Mas?" ia memanggilku. Aku hanya meliriknya dari sela-sela kacamataku yang entah bagaimana selalu otomatis melorot sampe tengah hidung kalau dia datang.


Mata sayunya menatapku dengan kilatan menggoda.


"Ya?" tanyaku


"Kamu... Bisa bicara sebentar? Di ruangan saya?"


Aku langsung deg-degan.


"Nanti saya menyusul, ibu duluan saja." aku mengangkat proposal yang sedang kutekuni.


Ia hanya tersenyum lembut mengiyakan, dan akhirnya keluar dari ruanganku.


Astaga, Harus apa aku?


Kenapa dia lembut banget sikapnya hari ini??


Duh... aman nggak ni?!


Aku berdehem untuk menjaga kelembapan tenggorokanku yang langsung kering detik itu juga.


Lalu melirik Selena.


Ia juga sedang memperhatikanku, terang-terangan, menyeringai sambil menahan dagunya dengan tangannya.


"Pak Dimas." sahutnya. "Udah banyak kejadian, nggak usah tarik ulur lagi. Sekali-kali jujur sama diri sendiri kenapa, sih?"


Ia bicara kayak di ruangan itu cuma ada kita berdua. Akibatnya Andrew, Bang Sena dan terutama Ari jadi pasang telinga. Ari malah udah nyengir duluan.


Aku menghela napas. "Dia bilang mau ngomong ke Pak Hans untuk ke arah yang..."


"Menikah? Iya gue tahu. Mbak Mel udah cerita kemarin. Dia nggak mau lagi Pak Dimas diganggu cewek lain setelah kejadian penculikan itu. Pernikahan adalah jalan terbaik untuk menyingkirkan semuanya. Tapi ih, Malu dong... Masa ceweknya yang maju duluan! Gimana sih lo!"


Sekali lagi aku menghela napas.


"Gue nggak tegas yah?" Tanyaku.


Selena mengangguk.


"Cemen?"


Selena mengangguk lagi.


"Apa lagi?"


Beneran kayak pisau yang dilempar ke punggungku, terus dicabut dan dihujam lagi.


"Gitu?" tanyaku lagi.


Selena mengangguk.


"Jadi harusnya?" tanyaku.


"Apa sih yang Pak Dimas cari? Kebahagiaan macam apa yang sesuai standar Pak Dimas? Pertimbangan yang selama ini bapak pikirkan hanya akan berdampak buruk. Pake putus segala padahal masih cinta. Kebayang nggak sakitnya Mbak Mel digituin?" sahut Selena.


Aku menyeringai. Lalu mengangguk karena setuju padanya.


Kejadian kemarin sudah cukup membuka mataku kalau pada saat-saat terakhir, selain keluargaku, aku ternyata memikirkan Meilinda begitu dalam. Sampai rasanya sakit di dada... Sesak.


Jadi aku bertekad untuk tidak menyia-nyiakan lagi kesempatan ini.


Aku akan meraihnya lagi.


Dan tidak akan membiarkan siapa pun menjadi penganggu kali ini.


Tidak barisan para mantan, tidak Pak Stephen, tidak Pak Sebastian.


Yang penting adalah perasaan kami.


Jadi,


"Nih, baru dateng dari Bu Sarah... Coba lo investigasi. Agen marketingnya Gunawan Ambrose katanya dari Garnet Finance di Cabang Rusia. Barusan Bu Sarah yang bawa kesini. Gue izin setengah hari ngurusin calon bini!" Aku memberi tugas ke Selena dan segera meninggalkan ruangan untuk berjalan menuju ruangan Meilinda.


Selena mendengus jengkel karena tugasnya bertambah.


Lagi-lagi ada yang dikorbankan untuk cinta, tapi kalau yang dikorbankan sejenis Malampir sepertinya aku akan mencoba ‘mengikhlaskannya’. Paling dia ngomel-ngomel bentar bakalan adem kalo ditenangin Mas Bram..


**


"Apa kabar, kamu?" tanya si cantik dengan senyum manisnya saat aku mengetuk pintu kantornya dan masuk ke dalam.


Aku membalas senyumnya, lalu duduk di depannya.


Melirik ke arah jam dinding.


Pukul 11.45.


"Baik, Bu... Anggota tubuh masih lengkap, otak masih bisa berpikir waras."


Ia menyeringai.


Lalu meletakkan map plastik di depanku.


"Ini surat komitmen dari semua staff kepatuhan. Boleh tolong direview?"


Aku melihat sekilas lembar per lembarnya lalu mengangguk.


"Sudah bicara dari hati ke hati dengan mereka?" tanyaku.


"Sejauh ini lancar, kemarin saya di sini sampai jam 9 malam mendengarkan keluh kesah anak-anak. Sampai Jaka dan pihak Depnaker memutuskan masalahnya selesai, aku langsung pulang setelah itu,"


"Lalu bagaimana anak-anak lain?"


"Mereka kangen sama kamu katanya..."


Aku tertawa.


"Saya kan nggak pernah ikut campur di unit kepatuhan bu..."


"Iya, tapi dulu kamu kan terbiasa screening pekerjaan mereka sebelum sampai ke saya. Waktu saya pegang dua Divisi. Walaupun kamu unit berbeda, unit auditor, tapi semua keganjilan di transaksi sudah kamu wanti-wanti dulu. Jadi mereka lebih terarah,"


"Hm. Jadi dengan kata lain, saya yang salah dong?"


"Iya, kamu sih manjain mereka terus. Terutama Jaka, kamu backup terus,"


Aku tersenyum karena ketahuan tingkah lakuku selama ini. Kalau ia tahu aku selalu backup Pak Jaka, jadi Meilinda sudah memperhatikanku jauh sebelum kami mulai dekat.


Melirik lagi ke arah jam dinding


Jam 11.50


"Mel, kamu mau makan di mana?" Pak Stephen main dobrak pintu ruangan Meilinda dengan sekali sentak.


Lalu ia menatapku sambil mengernyit. kelihatan banget menganggap aku rival.


"Wah, aku ganggu nih ya!" Ia melayangkan godaan, tapi nadanya ketus.


"Iya, ganggu." jawabku nggak kalah ketus.


Meilinda hanya tersenyum, tapi ke arahku.


"Nggak bisa dong berdua aja satu ruangan, nanti ada hal-hal yang tidak diinginkan." Pak Stephen menyindir.


"Ya makanya nunggu jam 12 sambil ngomongin kerjaan dulu." aku masih ketus.


Meilinda terkikik.


Pak Stephen mencibir.


"Pak, ada yang mau saya bicarakan." sahutku. Pak Stephen mendekat, lalu berdiri di belakang Meilinda sambil bersandar ke konter dan memasukkan tangannya ke saku celana.


"Bu Sarah masukin proposal untuk Johans company dari Amerika untuk kredit dana talangan pembangunan jalan tol. Katanya direkomendasikan sama Gunawan Ambrose."


Meilinda langsung tegang.


"Oh, Gunawan... Nanti saya telpon dia." sahut Pak Stephen.


"Pinjaman100 milyar apa tidak terlalu besar untuk perusahaan dengan aset cuma 5 milyar pak? Walaupun itu perusahaan luar?" sahutku.


"Nanti dianalisa team leader saya. Kamu lihat yang rekomendasi dong. Gunawan kan masih saudara Meli, nggak mungkin dia menyesatkan. Mungkin mereka mau ada deal sama sister company kita yang lain? Kepentingannya kan bisa macam-macam,"


Aku lihat-lihatan sama Meli. Sepertinya Pak Stephen tidak tahu menahu soal hubungan Meilinda dan Gunawan Ambrose dulu. Meilinda terlihat tegang, namun masih bisa mengendalikan emosinya.


Aku tersenyum ke arahnya menenangkan. Meyakinkan kalau Gunawan nggak akan bisa ganggu-ganggu dia lagi.


Ia hanya tersenyum simpul membalasku.


Dari sudut mataku aku bisa melihat kalau Pak Stephen memperhatikan kelakuan kami, namun ia diam saja.


Dalam keheningan aku dan Meilinda saling berbalas pandangan, berbicara dalam diam.


"Kamu sudah selesai? Kalau nggak ada hal lain bisa keluar aja dulu? Saya mau bicara sama Meli." Kata Pak Stephen. Mungkin ia risih melihatku.


Aku menatap Meilinda lagi, kali ini extra mengerling.


Ia terkikik sambil menopang dagunya menatapku.


Aku melirik jam dinding.


Pukul 12.00


Sip! Udah jam istirahat.


Jadi untuk mencairkan suasana sekaligus mempercepat proses, aku berdiri dan menghampiri Meilinda, lalu mencium bibirnya.


"Kangen banget deh," Bisikku sambil membelai pipinya. Dari sudut mataku aku bisa melihat Stephen terperangah melihat tingkah kami berdua.


Ia terkikik, lalu tangannya melingkari leherku dan menarikku mendekat. “Hari Minggu ketemu ayahku ya? Kalian harus membicarakan mengenai jadwal pernikahan kita,”


Kami kembali berciuman. Aku menarik pinggulnya ke arahku dan memeluknya sambil tetap menciumnya, dan bersandar di konter belakang meja.


Sejajar dengan Pak Stephen.


Bedanya aku sama Meilinda, dia sendirian.


Ehee


Bodo amat sama orang lain...


"Ehm... Mel..." aku melepas ciumanku.


"Hm?" dia masih menciumi rahang dan leherku.


"Kamu demam."


"Hm?"


"Badan kamu panas nih!" aku mendorongnya menjauh.


Mukanya udah merah banget


"Ohya?" ia tampak linglung


Aku menggelengkan kepala, lalu segera menghubungi drivernya untuk ke rumah sakit.