Office Hour

Office Hour
Yang Terjadi Sebenarnya



Rumah Gio sangat kumuh, kotor dan bau. Bahkan bagian terkumuh dari ruangan di rumah Meilinda saja 10x lebih baik. Meilinda menatap sekelilingnya dengan mengernyit.


Bukankah kakak sudah menempatkan Gio di Garnet Retail, sesuai permohonan Dimas waktu itu? Tapi kenapa keadaannya malah seperti ini?! Gaji si Gio habis untuk apa saja sih?! Pikir Meilinda.


"Kamu bisa akalin kuncinya atau dobrak pintunya?" tanya Meilinda saat mereka tiba di teras rumah Gio.


Bram menekan gagang pintu ke bawah dan pintunya langsung terbuka. "Nggak dikunci," desis Pria itu masih dengan tampang selempeng dinding.


Meilinda mengerucutkan bibirnya.


"Terus? nggak masuk?" tanya Meilinda.


"Nggak diizinin sama yang punya rumah. Tunggu aja di sini." sahut Bram sambil duduk di pinggiran dinding yang menjorok.


Meilinda mau protes, tapi melihat tatapan Bram yang angker ia jadi urungkan niatnya. Pria itu memiliki aura yang membuat siapa pun jadi bertekuk lutut.


Tapi kalau diukur pakai logika, tindakan Bram sudah yang paling benar. Bisa-bisa mereka dituntut untuk memasuki rumah tanpa ijin pemilik. Walaupun Meilinda bisa membayar seseorang untuk mengurusi proses pelaporannya namun itu akan mempengaruhi kredibilitasnya.


Tidak sampai 30 menit, Gio datang dengan terengah-engah. Menatap Meilinda dan Bram yang menunggu di depan pintunya.


"Saya akan teriak maling," ancam Gio.


"Silakan," desis Bram tetap tenang.


"Mana ada maling yang penampilannya seperti kami nunggu di teras rumah pula. Mikir dong kamu," umpat Meilinda.


"Saya bisa lapor keamanan karena tindakan pengancaman!" seru Gio. Ia berusaha membuat para tetangganya datang karena ribut-ribut.


"Kami barusan sudah lapor pak RT, Gio," sahut Meilinda. Bukan lapor sih, beramah tamah lebih tepatnya. Dengan sedikit selipan uang buat biaya sehari-hari. Makanya, sekeras apa pun Gio teriak, tak akan ada yang datang karena Meilinda dan Bram juga sudah membagi-bagikan uang tutup mulut.


"Saya bisa teriak sekarang," ancam Gio lagi.


"Teriak aja sanah. Saya tunggu," akhirnya Meilinda menyilangkan tangannya menantang Gio.


Gio langsung tahu segala tindakannya akan sia-sia.


"Permisi..."


Mereka menoleh ke arah suara di belakang Bram.


Gina, adik Gio yang berusia 12 tahun, datang membawakan minum dengan wajah sumringah.


"Hei, sayang... Kamu nggak usah repot-repot loh," Meilinda langsung menghampiri anak itu sambil mengelus pipinya.


"Kan tante sama om tamunya kakak," sahut Gina.


"Iya iya sayang. Ih kamu sopan banget yah! Pinter loh," Meilinda memeluk Gina. Gina terkikik senang dengan perlakuan Meilinda.


Bram mengelus kepala anak itu sambil menyesap tehnya.


"Masuk, Gio. Kamu nggak kepanasan di situ?" seringai pria itu.


"Ba-bagaimana..." Gio tergagap menatap pemandangan itu.


Gina sudah mengurung diri di kamar seharian karena trauma, dan sekarang ia melihat adiknya berwajah berseri-seri membalas pelukan Meilinda.


"Ngomong di dalam," Bram memberikan perintah.


Gio langsung kaku dan merasa terancam. Ia akhirnya memutuskan untuk menuruti Bram karena merasa adiknya dijadikan sandera.


**


Mereka bertiga duduk di kursi plastik di ruangan depan. Rumah Gio dari luar sudah menyedihkan, bagian dalamnya jauh lebih menyedihkan. Tidak ada perabotan layak, bahkan Gina saat ini mengutak atik iphone barunya di lantai di dekat stop kontak sambil kegirangan. Barusan Meilinda menghubungi drivernya untuk mengantarkan beberapa merchandise yang disimpan di mobil mevvahnya, untung Meilinda masih menyimpan beberapa kotak.


"Mau apa?" tanya Gio masih sewot.


"Saya sudah menyelidiki alurnya seminggu ini. Akhirnya sampai ke kamu. Kenapa sih kamu bertingkah begini?!" tanya Meilinda.


"Saya nggak ada hubungannya," Gio memalingkan mukanya.


"Masih nggak mau ngaku!?"


"Ibu tahu nggak sih gara-gara ibu dan Pak Dimas, keadaan kami semua malah kacau!!" seru Gio.


"Sayang..." Meilinda mengelus kepala Gina, menenangkannya. "Kamu bisa main hapenya dikamar nggak? Tante dan Om mau bicara sama kakak."


"Kenapa kakak teriak-teriak?" tanya Gina.


"Sepertinya Kak Gio cuma lagi galau. Tapi nggak papa, sebentar lagi reda. Oke?" Kata Meilinda lembut.


Walaupun ragu akhirnya Gina masuk ke kamarnya.


"Kenapa kamu kasih tau alamat Dimas ke orang-orang?" Tanya Meilinda ke Gio. Mereka memulai interogasi.


"Mereka tanya yah saya jawab, toh nggak ada yang salah dari ngasih tau alamat orang lain, kan saya nggak dititipin rahasia," jawab Gio cuek.


"Mereka nggak tanya, kamu yang cari tahu semua mantan Dimas, lalu kamu berikan lokasinya untuk mengerjai Dimas," Meilinda menuduh Gio.


"Kenapa? Pak Dimas kewalahan yah?! Ya cuma begitu saja nggak sebanding sama penderitaan saya,"


"Kamu itu sudah bikin repot banyak orang tau nggak?!"


"Ibu tau nggak sih gara-gara saya dipindahin ke retail, saya jadi banyak dibully?! Saya disiksa secara mental dan fisik sampai ibu saya nggak keurus dan akhirnya meninggal! Belum lagi penanganan terakhir waktu ibu saya kritis menyita banyak biaya sampai saya harus berhutang ratusan juta sama rumah sakit!! Akibatnya adik saya sampai berhenti kuliah dan kerja jadi kuli bangunan di jawa!! Lalu Gina sampai mendapat ancaman dari debt collector dan trauma!!" Gio sampai terengah-engah mencurahkan isi hatinya.


Meilinda terperangah mendengarnya.


Bram menghela napas sambil memperhatikan mereka.


"Heh!!" Seru Meilinda. "Itu semua kan kesalahan kamu sendiri!!  Beruntung kamu nggak langsung dipecat! Kamu bahkan masih dapat pesangon dari Garnet Bank sebelum dipindah ke retail!! Terus sekarang kamu menyalahkan saya begitu?! Otak kamu itu perlu diganti kayaknya!!" seru Meilinda nggak mau kalah.


Namun belum berhenti sampai di situ.


"Ibu kamu meninggal terus kamu salahin saya? Salahin Dimas?! Memangnya kami Tuhan, hah?! Kenal ibu kamu aja nggak!! Kamu dibully di retail gara-gara mereka tau tingkah kamu di Bank!! Terus kamu salahin kita, apa maksud kamu?! Terus bagaimana dengan kondisi mental saya yang kamu kirimi tulisan merah? Isi pesanya juga cetar!!"


Tidak ada yang dapat menandingi suara Meilinda kalau lagi mengomel. Sampai tetangga beda blok juga bisa dengar. Apalagi dari rumah ke rumah hanya dibatasi bata tipis.


Tapi sekali lagi, mereka diam dan hanya bisa menyimak dengan menguping, sambil menghitung lembaran merah yang sudah dibagi-bagikan Meilinda.


Dan luar biasanya Meilinda malah tidak menarik napas untuk satu kalimat panjang. Ia bahkan tidak terengah-engah. Saat mulutnya mulai membuka lagi karena belum puas mengomeli Gio, Bram menepuk bahunya dan mengelus lengan wanita itu, menenangkannya.


Meilinda menatap Bram dengan pandangan nggak rela, tapi Bram langsung memicingkan mata mengintimidasinya.


Bulu kuduk Meilinda langsung meremang.


Oh, ini dia pesona Bram yang nggak sanggup ditolak banyak orang.


Meilinda sering mendengar dari Trevor. Walaupun Bram ia selalu menampakkan senyumnya, namun matanya seperti haus darah.


Akhirnya Meilinda diam dalam dekapan Bram yang masih memeluk bahunya dan mengelus lengannya.


"Gio," panggil Bram. Gio entah kenapa langsung terlonjak dari duduknya. "Kami turut berduka atas kejadian yang menimpa kamu. Tidak ada satu pun dari kami yang mengharapkan hal tersebut," Bram berbicara dengan suara rendah.


Semua diam


Semua hening


Dan tiba-tiba bahkan tidak terdengar suara kendaraan lewat.


Semesta menyimak...


Ehehe


"Saya perlu tahu siapa saja yang kamu beritahu alamat Dimas, dan apa rencana mereka. Setelah itu saya berjanji akan mengusahakan supaya kedua adik kamu mendapatkan pendidikan yang layak," kata Bram dengan suara rendah.


Mata Gio membesar.


Ia menatap sosok Bram bagaikan melihat malaikat.


Ketakutan dan terkesima.


Bahkan orang paling baik yang pernah ia kenal seperti Dimas saja tidak bisa membuat ia merasa bertekuk lutut semacam ini.


"...itu..." Gio akhirnya bercerita.