Office Hour

Office Hour
Pawangnya Muncul



“Saya juga pacarnya!” seru Vanessa. “Saya bahkan sudah pesan WO buat nikah sama Dimas,”


“Buset!!” seruku dan penonton, “Kapan kita pacaran?!”


“Pas hujan, pas kamu beliin aku kopi,” kata Vanessa


“Ya tapi sebatas itu doang Ness, aku nggak ingat udah nembak kamu,”


“Semua terjadi dengan otomatis. Kuanggap itu lampu hijau untuk kita melangkah lebih jauh,”


Melangkah lebih jauh, akhirnya malah kejauhan, kesasar dan nyebur jurang ni cewek. Bapernya tingkat dewa.


“It’s just a cup of Coffe, Dimas and i get closed when we go to movie,” kata Hanny.


Tunggu...tunggu...


Hanya karena aku menemaninya nonton di bioskop dia kira kita pacaran. Waktu itu bahkan kita nontonnya nggak berdua aja tapi rame-rame, bareng temen-temen yang lain looooh!


Tapi memang gara-gara di Hanny ini dapet tempat di ujung dan kursi sebelahnya kosong padahal itu film horor, dia ketakutan jadi aku inisiatif pindah tempat ke sebelahnya biar dia lebih nyaman.


Aku spechless.


“Sekarang kamu ini siapa? Nambah-nambahin kerjaan aja deh buat gue usir-usirin!!” seru Vanessa menuding Meilinda.


“Dia pacarku,” aku mengakui kalimat Meilinda.


“Dimas!!” seru mereka berdua.


“Dia pacarku, dan aku berniat menikahinya,” kutambahkan kalimat agar mereka lebih yakin lagi.


PLAKK!!


Hanny menampar Meilinda.


Aku bengong.


Penonton terpekik kaget.


Meilinda hanya diam dengan pipinya yang kemerahan, menatap Hanny dengan tajam.


“Go to Hell you b1tch!!” seru Hanny sambil menantang Meilinda.


"Memangnya kamu siapa sampai bisa ngomong begitu?" Meilinda balik menantangnya. Dia tetap santai sambil tersenyum menantang Hanny.


"My dad is the owner of PT. Bukit Mas Grup, most of the building in this country used material from us. Just leave him before you get hurt..."


"Oh..." Meilinda menghubungi seseorang lewat ponselnya. "Pak Abdinegara? Saya Meilinda Bataragunadi."


Hanny langsung terpekik mendengar nama itu. Vanessa langsung pucat.


“Batara... gunadi?” terdengar Vanessa mengulangi nama itu dengan kuatir.


"Putri anda ada di sini, namanya..." ia bertanya padaku lewat tatapannya.


"Hanny." jawabku.


"Namanya Hanny, benar itu putri anda? Iya... Dia berbuat onar di kantor saya Pak, malah dia berani tampar saya! Pak Abdi, kalau sampai terulang untuk kedua kalinya dia muncul di depan saya lagi, saya pastikan akan menarik seluruh saham saya dari perusahaan Bapak. Mengerti ya pak?! Baik kali ini saya maafkan, tolong ajarkan sopan santun kepada putri anda,"


Saat Meilinda selesai menelpon, Hanny menatap kami dengan ketakutan.


"Puas? Kamu berani sebut keluarga kamu, saya juga berani walaupun secara etika tidak adil... tapi di sini saya juga memiliki kepentingan." desis Meilinda.


Semua hening.


Perlu yah main kaya-kayaan kayak begini?!


Aku tidak suka permainan Meilinda.


Menurutku dia bahkan lebih kasar dari Hanny.


Dia terbiasa mengancam hidup orang lain dengan kekayaan keluarganya.


Aku menghela napas.


“Aku selesaikan sampai di sini,” desisku.


“Aku saja yang selesaikan sampai tuntas,” kata Meilinda


“Ini urusan dari jaman kapan, Dimas? Bertahun-tahun nggak selesai malah kamunya melarikan diri? Mau sampai kapan kamu kasih harapan palsu ke mereka?!”


Kenapa jadi sewot?!


“Aku nggak minta kamu ikut-ikutan,”


“Coba bilang padaku dengan cara apa kamu selesaikan? Paling kamu alem-alem nih cewek-cewek, berharap mereka lupakan kamu. Tapi pada akhirnya mereka malah semakin mendekat! Kamu kan gitu, nggak tahan kalau nggak bikin skandal!”


“Nggak suka bikin skandal tuh siapa sebenarnya Mel?! Kamu kira aku senang ada kejadian begini? Hidupku hancur sejak ada mereka!! Tapi aku juga nggak ingin menggunakan kekuasaan Kakak  kamu lagi untuk urusanku!”


“Oh ituuu yang bikin kamu emosi? Karena aku pakai kekayaan keluargaku untuk menyingkirkan serangga di dekatmu? Kenapa marah? Apa kamu memang tipe cowok yang suka banyak penggemar sambil memakaiku untuk urusan cinta? Kamu itu ternyata fakboi juga ya!”


“Kamu tahu seperti apa aku ini, dari awal, tapi kamu tetap maju. Kupikir kamu sudah maklum. Aku yang selesaikan urusanku, tanpa bawa-bawa harta. Terserah kamu mau ngomong apa! Nggak usah ikut campur lagi!” aku menggeret lengan Hanny untuk menyingkir dari Meilinda. Vanessa di tanganku yang lain.


Meilinda menatapku seakan tidak percaya dengan kelakuanku, aku tidak mengacuhkannya.


Di mataku saat ini, Meilinda jauh lebih berbahaya dibanding Hanny dan Vanessa, keluarga mereka bisa bangkrut dan kacau kalau sampai Meilinda menghubungi kolega-koleganya. Aku tak ingin ada kehebohan yang lebih besar lagi.


Hanny menangis terisak di depanku.


“Pec**!! Lo harus bayar gue punya luka! Lo pikir operasi gue murah hah!!” seru Vanessa sambil mencoba memukul Hanny. Aku hanya menahan pinggangnya supaya tidak berbuat lebih jauh. Lalu menjauhkannya dari Hanny.


“Satu meter, tidak lebih, atau aku beneran panggil polisi!” tunjukku ke Vanessa


“Mas! Dia yang duluan pukul Aku!!” Vanessa menatap Hanny dengan marah.


“Kalian berdua menjauh dari gedung ini dulu, baru boleh bunuh-bunuhan... ngerti?! Dan jangan bawa-bawa aku ke dalam masalah kalian!!” hardikku. Aku akan bertindak tegas kali ini.


Vanessa menatapku dengan napas masih memburu. “Kamu beneran sudah nggak peduli lagi sama... aku?”


“Aku sudah bilang, aku cinta orang lain. Kamu cuma sia-sia di sini,” desisku.


Hanny hanya diam disebelahku sambil masih terisak menatap lantai.


Aku menghapus air mata yang menetes di pipinya.


Bagaimanapun, kami pernah memiliki kenangan indah, aku tidak bisa mengkasarinya.


Aku saat ini tidak peduli anggapan Meilinda.


"Hanny maaf yah..." sahutku. "Since we meet i only see you as a friend. Close friend. You always make my day fun. Hey, dont cry, its not you," Aku mengusap kepalanya.


"I-i-i just wanna loved you," sahutnya serak.


“But, i don’t,” Ya, tapi aku tidak mencintanya. Tidak ada yang bisa memaksa cinta mau tumbuh di mana. Itu urusan Tuhan. HakNya Illahi.


Mungkin dia juga shock karena keluarganya diancam Meilinda. Aku mengerti sih ketakutannya, ia pernah bilang kalau ayahnya sangat galak. Dan tadi Meilinda langsung menelpon ayahnya.


Entah bagaimana nasibnya saat nanti pulang ke rumah.


Dia langsung sadar siapa yang punya kuasa di sini.


"Hati orang nggak bisa dipaksa... Kamu berhak bahagia, tapi apa pasangan kamu juga bahagia sama seperti perasaan kamu? Kamu harus pastikan yang itu,"


Aku mengelus punggungnya.


"Kamu boleh cinta sama aku, aku ga bisa larang kamu. Tapi jangan sampai kamu terobsesi. Kamu merendahkan diri kamu sendiri, gimana kamu bisa bikin orang lain lihat kamu terhormat, mereka akan lihat kamu rendah. Ngerti?"


"Dimas...is she... really your lover?" Hanny menatapku penuh harap.


Aku tidak ingin memberinya harapan.


"Iya, dia pacarku. Wanita yang kupilih untuk jadi istriku, tanpa tekanan siapa pun. Aku bahkan rela berhadapan dengan kakaknya yang menentang hubungan kami untuk bisa bersamanya," kataku tegas.


Vanessa menangis meraung.


Hanny hanya terdiam.


"Maaf yah, aku harus pergi. Kalian pulang yah, jangan cari-cari aku lagi. You both deserve to be happy..."


Aku membelai pipi Hanny dan menggenggam tangan Vanessa yang masih histeris.


Ampun deh cewek-cewek ini. Bikin aku berasa di atas angin, hehe


Ya sudahlah aku cuma bisa begini. Yang penting mereka nggak ngikutin aku lagi.