Office Hour

Office Hour
Dibalik Layar



Waktu itu, sekitar sebulan yang lalu.


Bram harus ke Jogja untuk mengurusi pembebasan lahan yang berjalan alot dengan warga sekitar. Plot sudah disusun dan warga yang terkena gusuran sudah menandatangani kontrak. Seharusnya tidak ada masalah sampai ternyata ahli waris yang terkena gusuran melakukan somasi.


Hal ini sebenarnya sudah biasa terjadi, namun penyelesaiannya memang membutuhkan waktu yang tidak sebentar, karena melibatkan pengadilan perdata.


Biasanya Bram membawa Trevor dan dua asisten, namun Trevor sedang ada urusan dengan Pak Sebastian dan kedua asistennya sedang seminar.


Jadi ia membawa Selena.


Tidak dapat dipungkiri wanita 27 tahun itu memiliki jaringan yang luas.


Setelah selesai rapat dengan warga, Selena menghubungi seseorang dari kejaksaan dan beberapa kenalannya di kantor hukum.


Lalu ia menatap Bram dan berkata.


"Kemungkinan dalam tiga hari setelah persidangan keputusannya keluar yah pak. Saya pastikan kita menang." Ujarnya bersemangat. Selena merasa ia melakukan tugasnya dengan cukup baik, ia berharap apresiasi dari Bram.


Bram hanya mengangguk. Lalu dengan lemah lembut ia mengingatkan,


"Selena, jangan terlalu sering menggunakan jaringan diluar kantor. Konflik seperti ini membutuhkan waktu jeda agar pihak yang kalah bisa ikhlas, sehingga proyek kedepannya tidak ada gangguan lagi,"  sahut Bram.


Alih-alih merasa mendapat ilmu baru, hal itu ternyata justru membuat Selena merasa pekerjaannya tidak dihargai padahal ia berusaha sekuat tenaga membuat Bram senang.


Ia sudah bekerja dibawah Bram selama 5 tahun, namun baru kali ini ia dibawa keluar kota. Bram sering keluar kota dan biasanya membawa staffnya yang lain, alasannya ia butuh Selena tetap di kantor untuk menghandle pekerjaan internal, seperti meeting Direksi, pembuatan laporan, atau pertemuan dengan Klien saat Bram tidak ditempat.


Itu sebabnya Selena berusaha menunjukan performa terbaiknya saat diajak keluar kota.


Namun hasilnya malah tidak memuaskan.


Malamnya saat Bram lembur, sebelum kembali ke hotel ia berkeliling kantor memastikan ruangan telah terkunci dengan baik. Seharusnya saat itu semua sudah kembali ke hotel, pikirnya.


Saat ia membuka ruangan yang terletak agak menjauh, ruang administrasi, ia melihat pemandangan yang diluar ekspektasinya.


Lalu menutup pintunya saat itu juga dan menggigit bibirnya sendiri, menahan geram.


Masih segar dalam ingatannya, Selena dan 3 orang pria sedang berpesta, tanpa sehelai benang pun.


Dan Bram yakin... Selena juga melihatnya.


Esok paginya wanita itu datang menemuinya.


Selena meminta maaf padanya dan memohon supaya Bram merahasiakan kehidupan lainnya.


Bram tidak mempermasalahkan hal itu karena menganggap bukan urusannya. Namun yang membuatnya mulai tidak suka, saat Selena dengan gamblangnya berkata


"Seharusnya Bapak ikut bergabung, saya bisa kasih service yang memuaskan."


Dibalik penampilan dinginnya, Selena yang sebenarnya, memiliki sikap yang nakal.


Bram hanya berujar.


"Terimakasih, tapi untuk urusan yang satu itu, saya tidak butuh kamu." masih dengan tutur kata yang lembut. Namun itu pukulan telak untuk Selena. Ia merasa Bram sedang menghinanya.


Bram tidak mengindahkan Selena sejak itu, membuat hubungan keduanya renggang dan bahkan pekerjaan mereka mulai tidak singkron karena Selena mulai sering ngambek dan membantah.


Di waktu yang hampir bersamaan, Gio dipecat dan Dimas butuh karyawan.


Sebenarnya bukan Selena yang Bram harapkan lepas darinya, ia beranggapan wanita itu masih bisa dibimbing. Namun Selena sendiri yang mengajukan mutasi dengan alasan ia ingin mencoba bidang pekerjaan yang lain.


Saat keputusan mutasinya keluar, Bram memanggil Selena secara pribadi dan mereka bertemu di coffe shop.


"Kenapa, Lena? Ada masalah dengan saya?" tanya Bram lembut.


Selena hanya menunduk. Tangannya gemetar.


"Kalau saya membuat kamu kesal, saya minta maaf." tambah Bram.


Membuat Selena semakin merasa lemah. Air matanya langsung jatuh. Bram makin kuatir dengan keadaannya.


"Maaf pak... Sejak kejadian itu, saya semakin merasa Bapak tidak membutuhkan kehadiran saya lagi. Saya juga merasa malu dengan sikap saya waktu itu."


Selena menggeleng.


"Pak, sejujurnya semakin hari perasaan saya terhadap Bapak semakin kuat. Dan maaf sekali lagi, saya sangat memohon maaf, bahwa perkataan saya yang waktu itu sebenarnya bersungguh-sungguh."


Bram hanya diam.


"Namun saya akui saya sangat lancang karena saya terlena dengan kebaikan Bapak. Saya sudah tidak kuat menunjukan muka saya dihadapan Pak Bram," Selena terisak malu


Bram menghela napas berat sambil menyandarkan tubuhnya ke sofa.


Selena, wanita yang menurutnya sempurna, dalam segala hal.


Sampai kejadian waktu itu merusak segalanya.


Andai wanita itu tahu... alasan Bram tidak pernah mengajaknya dinas keluar kota, atau pun mengurus pekerjaan di luar kantor bersama dengannya.


Adalah karena Bram sangat menghormati Selena.


Perasaan Bram terhadap Selena sudah tumbuh dari sejak Selena menjadi asistennya. Tapi gaya hidup Selena dengan jajaran pacar yang gonta-ganti, membuat Bram mundur. Ia merasa tidak pantas bersanding dengan wanita itu.


Semua pacar yang Selena pamerkan adalah eksekutif dari kalangan pejabat dan konglomerat. Sebagian besar orang berpengaruh dan selebritis.


Dan Bram merasa bukan siapa-siapa.


“Lena, kemarin itu... beberapa yang bersama kamu di sana adalah orang dari kejaksaan dan-“


“Mereka orang-orang yang membantu saya membebaskan lahan proyek Pak Bram,”


“Astaga,” Bram mengusap dahinya, “Kamu sudah berbuat terlalu jauh untuk pekerjaan,”


“Tidak ada ruginya untuk saya, yang penting proyek Pak Bram sukses. Saya senang bisa membantu. tapi...” Selena mengangkat bahunya, “Tampaknya Pak Bram tidak berkenan,”


Bram menggelengkan kepalanya, “Bukan begitu maksud saya Len-“


“Saya mengundurkan diri ya Pak, semoga semua proyek Pak Bram berjalan lancar,” Selena berdiri tanpa menunggu kalimat selanjutnya dan berlalu dari sana.


Bram pun duduk sambil termenung.


Sampai segitunya Selena membela pekerjaannya, demi sebuah pengakuan dari Bram. Di lain pihak, Bram ingin Selena tidak merendahkan dirinya. Karena di mata Bram, Selena adalah wanita yang sangat cantik.


Belum sampai Bram selesai berpikir, suasana diperparah dengan kabar kalau Selena pindah ke Garnet Bank.


Bagaimana Bram tidak kuatir saat Selena ternyata bekerja dibawah kepemimpinan Dimas.


Dirinya belum bisa melupakan bagaimana tatapan Selena ke dirinya saat ia memergoki wanita itu bermain. Lalu gerakannya yang mengindikasikan kalau wanita itu adalah profesional.


Sangat memikat


Sangat seksi


Dan Dimas? Siapapun tahu dia penjahat.


Pasangan yang sangat serasi di dunia hitam.


(Note dari Dimas : Maaaas, aku ini masih perjaka loooh! Masa dunia hitam sih?! Segitu tak percayanya kau padaku Mas?! Tega niaaaan!)


Hal itu ternyata juga dikawatirkan oleh Meilinda.


Walaupun Selena menunjukkan eksistensi sebagai wanita yang bersahaja, radar Meilinda malah menangkap hal yang sebaliknya.


Anggapannya, Selena memiliki feromon yang sama dengan Dimas.


Walaupun sudah dijelaskan oleh Dimas bahwa tidak ada yang terjadi antara pria itu dan Selena, tapi Meilinda merasa kalau sosok Selena berbahaya, begitu kata instingnya.


Apa mungkin karena merasa tersaingi dengan wanita yang memiliki Hermes Asli, belum barang-barang branded lain yang dimiliki Selena dan kalung berliannya yang menyilaukan juga dada Selena yang berukuran cup C.


Dan satu hal fatal yang Meilinda kuatirkan adalah... usia.