
Hari demi hari berlalu, kami disibukkan dengan pekerjaan, tapi belum ada yang menarik untuk diceritakan alias itu-itu saja. Dan belum ada pergerakan lagi dari Stephen dan Sarah jadi hari-hariku penuh damai.
Damai yang kumaksud adalah tanpa disertai kejadian aneh-aneh, bukan damai jenis ruangan tenang tanpa suara, tahu lah siapa aja yang ada di tim ku. Kalau urusan Selena ditambah Cecil dibonus Ari Sangaji lagi ngobrol ya itu lain cerita. Pasti lah mereka mengundang perhatian dan kehebohan sampai sekantor ikutan ngobrol dan pasang telinga sampai toa Pak Danu membahana berteriak supaya kami tenang.
Andrew masih menghindariku tapi aku baru tahu sifatnya dia ternyata cukup gentle. Dia belum menyerah kalah, sih, tapi ia mendiamkanku. Kalau briefing ya ikut tapi nggak kasih pendapat, kalau aku tanya hanya menatapku dengan dingin lalu cuek dengan pekerjaannya. Surprisenya, pekerjaannya bahkan lebih baik dari Selena. Jujur, mereka bisa jadi tim yang baik sebenarnya. Selena di teori dan Andrew di praktek.
Nggak,
Nggak bisa begini terus, aku tak tahan.
Semua harus selesai dengan baik, bagaikan suami-istri jangan sampai bermusuhan lebih dari 3 hari.
Jadi aku panggil Andrew di saat makan siang, ku putuskan untuk berbicara dari hati ke hati.
Sesama orang ganteng jangan saling memusuhi, Intinya.
“Hm?” gumam Andrew sambil duduk dengan malas di salah satu sofa cafe di area Lobby. Aku duduk di depannya, sambil memesan Cappucino.
“Gue harap konflik yang terjadi di antara kita reda dengan baik-“
“Apa hubungan lo dengan Selena?” Aku langsung ditembak begini sama Andrew.
“Ipar,” jawabku singkat.
“Yang terjadi di depan mata gue bukan begitu,” Andrew melipat kedua tangan di depan dadanya dan mengernyit kesal ke arahku.
“Itu hanya upaya untuk menjauhkan lo dari dia,” desisku. “Tingkah lo dianggap sudah keterlaluan oleh dia, dia lagi jatuh cinta ke orang lain tapi lo-nya nggak mau mundur. Memangnya bisa lo bersikap seenaknya begitu?”
Andrew tersenyum sinis menanggapiku, lalu ia mencondongkan diri ke arahku, “Lo tahu apa yang udah Selena ambil dari gue?” tanyanya.
Aku jadi deg-degan.
Terus terang saja, Selena itu jenis Badgirl yang tindakannya sulit kutebak. Kalau baperan udah pasti masuk ke jebakannya. Dan biasanya susah buat lepas, macam masuk ke jaring laba-laba.
“Yang di sini, Boss,” Andrew menunjuk ke arah dadanya, “Dan yang di sini,” ia juga menunjuk kepalanya. “Gue sampai hampir gila waktu dia ninggalin gue. Gue udah pesen cincin kawin, gue udah bilang ke semua keluarga kalau gue bakalan bawa calon istri, gue yakin banget dia bakalan jadi milik gue. Apa yang Nggak buat dia, bro? Tabungan ludes harta habis, kerjaan gue terlantar, gue bahkan rela ninggalin keluarga gue buat ikut dia melancong kemana-mana. Gue udah beli rumah di LA buat hidup berdua sama dia! Gara-gara itu gue harus kerja mulai dari bawah lagi! Untung psikiater gue hebat dan Om Stephen baek sama gue! Orang tua gue bahkan udah muak liat tampang gue, soalnya pas nyokap gue sakit, gue malah milih tinggal di Amrik sama Selena dan gak pulang!”
Aku mendengarkannya sambil ternganga.
Anjrit... Selena berdosa banget.
Kalau begini, yang harus turun tangan itu Mas Bram-nya langsung. Aku udah nggak bisa ikut campur.
“Bro, gini aja,” desisku. “Gimana kalau gue bikinin janji ketemu Mas Bram. Setelah itu terserah kalian berdua,”
Andrew duduk bersandar dengan lesu, “Iya, begitu lebih baik,” gumamnya smabil menunduk.
“Ngopi dulu, Bro. Gue traktir,”
Jarang-jarang aku traktir orang. Tapi aku beneran kasihan banget sama Andrew.
Tapi sekali lagi Tante Author baek banget, mau menyelamatkanku.
Gimana? Gimana?
Saat lagi ngopi dan ngudut dalam kebisuan, memikirkan apa yang akan terjadi setelah ini, nggak pernah aku duduk berdua di cafe sama cowok tuh diem-dieman. Tapi tampang Andrew udah ngenes banget judulnya. Aku juga nggak berani ganggu, bisa-bisa ikutan nangis, hehe.
“Pak Dimaaaas!” sebuah suara yang terdengar familiar di telingaku, datang dari arah belakang. Aku menoleh dan kulihat Ayu Binti Kibul, cewek solehah yang jilbabnya selalu pink, mendekatiku dengan mata berbinar.
“Loh?? Yu? Kok di sini?” tanyaku senang.
Lagi sepet gini, ngeliat yang riang-ceria-bahagia-bagai tak ada beban- kan beneran bikin hati adem. Di belakang Ayu ada Milady yang sedang menenteng tas belanja.
Ayu mencium tanganku lalu cengengesan, “Tadi diajak ke klien sama Bu Lady, terus habis itu kita shopping! Hihihi! Eeeeh karena Ayu lapar pas di jalan, mumpung lewat gedung Pak Dimas, diajak ke sini,”
Milady mendekat dan mengecup dahiku, “Aku sedang melarikan diri dari keposesifan laki-laki,”
“Mobil kamu dibawa Pak Sebastian,” kataku, terbayang betapa tersiksanya Pak Sebastian dengan mobil Jazz istrinya yang sudah pasti akan langsung bawa ke bengkel buat ganti Oli, cek power steering, cek kampas rem, cek semua belt. Apalagi sistemnya masih manual, pedal minded. Serta memastikan tidak ada lagi bekas tergores di body Jazznya Milady.
“Iya makanya tadi pakai mobil Trevor,”
“Kebayang sih posesifnya bojomu tuh, udah tingkat dewa pasti,”
“Dan kebayang nggak kalau dia tahu aku di sini ketemu kamu?”
Aku langsung merinding. Itu tandanya aku bakal mati 2 kali. “Nggak usah tahu,” desisku tegang.
Dan saat itu aku menyadari kalau Andrew sedang memperhatikan Ayu lekat-lekat.
Kutunggu sesaat.
Ayu lirik-lirik Andrew sambil mundur perlahan ke belakang Milady.
Andrew masih menatap Ayu dari atas ke bawah.
Ayu mengernyit risih sambil membetulkan hijabnya untuk menutupi dadanya.
Andrew masih diam sambil menatap Ayu.
“Hoy, sadar, bukan mahram!” tegurku.
Aku langsung sebal karena aku baru sadar. Iya juga ya. Mungkin itu juga sebabnya Selena ninggalin Andrew. Kalo gitu ya wajar Selena stop di situ aja, kali.
“Tapi ya lo tahu, Agama bukan prioritas di keluarga gue, Budha, Hindu, Islam, Katolik, Kristen, semua bercampur aduk. Bahkan gue Atheis,”
“Tetap aja beda jalur,” desisku agak tak nyaman dengan pembicaraan ini.
“Hm...” Andrew menyeruput kopinya sambil matanya tak lepas dari Ayu. Milady duduk di sebelah Andrew sambil senyum-senyum. Ia menepuk-nepuk kursi di antara aku dan Milady, mengisyaratkan supaya Ayu ikut duduk.
“Kamu keponakannya Pak Stephen kan ya? Dulu pernah kerja di Garnet Hotel?” tanya Milady.
“Ya Bu Lady, kita pernah ketemu waktu peletakan batu pertama ya,” kata Andrew.
“Iya, gaya kamu nyentrik jadi saya langsung hafal,”
Andrew hanya mendengus sambil tertawa pelan mendengarnya.
Berikutnya kurasakan Ayu memegang lenganku dari bawah meja, kencang sekali. Sepertinya dia takut.
Kusadari, tampaknya selama ini Ayu menganggapku keluarganya. Mungkin seorang kakak atau paman. Ia memperlakukan aku yang laki-laki ini dengan gamblang, kadang main peluk-peluk aja tanpa ada batasan dalam sentuhan. Tapi terlihat sekali kalau ia takut dengan laki-laki selain aku.
Dan tampaknya Milady juga menyadari perangai Andrew yang berubah.
“Ayu,” desis Milady sambil menoleh ke arah Ayu, “Ini Andrew, dia teman Pak Dimas,” katanya mengenal Andrew ke Ayu.
“I-iya Bu,” Ayu menunduk sekilas ke arah Andrew, tapi matanya tetap ke bawah menghindari paparan sinar mentari langsung. Tatapannya Andrew memang nyelekit sih.
Aku pun mengelus punggung Ayu menenangkannya, “Nggak usah takut Yu, dia itu lembut kalo sama cewek. Tampang Megaloman, hati Crayon Sinchan,”
Andrew mendengus.
“Hm... Ayu kayaknya ganggu obrolan ya Pak, apa kita duduk misah aja Bu?” Ayu menatap Milady.
“Boleh-“
“DI sini aja nggak papa, lagian dari tadi gue diem-dieman sama si kampret. Sok jago mau nengahin malah keok sendiri,” ejek Andrew padaku.
Aku mencebik, ya mana kutahu kalau masalahnya sebesar itu.
Dasar Selena berdosa...
“Ayu kerja Property?” tanya Andrew ke Ayu. Tampak Ayu agak menarik nafas saat tahu namanya disebut Andrew.
“Iya Pak,”
“Sebagai apa?”
“Operator, Pak,”
“Kenal Dimas dimana?”
Dan aku pun menceritakan awal perjumpaan kami selama setengah jam.
“Pak Dimas udah Ayu anggap paman sendiri,” desis Ayu. “Lagipula, berkat Pak Dimas, Bapak sekarang buka usaha Nasi Padang lagi dan lumayan laku. Pak Dimas kenal baik sama Bang Sa’ad, dan Bapak Ayu sangat segan ke Bang Sa’ad. Terus Bang Sa’ad bilang kalau Bapak harus menjalankan lagi usaha warung nasi padangnya seperti janji pertamanya ke Pak Dimas. Jadi sejak bulan lalu, Bapak sudah nggak minta uang listrik ke Ayu,” begitu Ayu menjelaskan panjang lebar.
Aku pun dilanda kelegaan yang luar biasa mendengar cerita Ayu.
“Jadi kamu udah kerja keras sejak lulus sekolah ya,” desis Andrew.
“Ayu hanya melakukan sebisanya, Ayu pingin sukses seperti Bu Lady. Pingin ngeliat Ibu dan Bapak senyum terus,”
Dan kami pun terdiam. Doa sederhana dari seorang anak solehah, disakiti sebagaimana pun oleh Bapak Durjana tetap saja dia sayang orang tuanya. Begitu baik hatinya. Dan itulah yang membuat hati Bapaknya luluh.
Memang, DiriNya Maha membolak-balikkan hati manusia. Dan doa seorang anak solehah termasuk salah satu doa yang mustajab atau mudah dikabulkan oleh Allah SWT.
Sayu-sayup kami mendengar Andrew berbisik, “Mungkin udah saatnya juga gue berhenti main-main dan cari pasangan yang kayak gini,”
Lalu kami terdiam.
“Eh Lady, gue mau pesen makan, yuk ke konter,” sahutku.
“Ha? Tinggal panggil-“
“Ayo ke konter, cantiiik,” aku memberi kode dengan penekanan.
Milady ternganga lalu cekikikan sambil menggelengkan kepala, ia menyambut uluran tanganku dan kami berdua meninggalkan Andrew dan Ayu.
Dari kejauhan, sambil berlagak bolak-balik buku menu di samping kasir, kami lirik-lirik ke arah mereka berdua. Tampak Ayu sudah mulai bisa menatap wajah Andrew dan mengobrol seperti biasa, walau pun Andrew tetap dengan gaya sengak-nya dan senyum sinisnya. Bahkan cewek itu tampak tersenyum ceria menanggapi Andrew.
“Dasar akal bulus, merencanakan apa lagi sih kamu?” desis Milady sambil mencubit pipiku.
“Ini mau mengarahkan Andrew ke jalan yang benar, biar tobat dikit,” desisku.
“Memangnya kamu sudah tobat?”
Aku diam saja.