
Kini, kami berdua ada di kamarku. Aku merebahkan diriku di kasur latex kesayangan sambil... main Candy Crush lagi, haha. Level 1544 yang tertunda gara-gara Mak Lampir gebetannya Mas Bram. Sementara Meilinda sibuk mengoprek segala sudut ruangan kamarku, mungkin dia mau memeriksa aku punya majalah porn0 atau alat-alat 'pertukangan'.
Setelah 15 menit akhirnya dia menyerah dan duduk di sampingku. Menatapku dengan matanya yang sayu.
"Apa?" tanyaku dengan mata masih fokus ke layar ponsel.
"nggak papa," kali ini nada suaranya terdengar lebih lembut.
"nggak papa apa kenapa-napa?" tanyaku.
"nggak papa ya nggak papa... ribet kamu," omelnya.
"Ngambek mulu sih..." desisku agak cuek karena injury time gameku hampir habis, jadi jariku lagi extra hati-hati.
Aku merasakan Meilinda mendekatiku, wangi parfum mahalnya yang khas menerpa hidungku. Tapi aku mendiamkannya. Aku hanya ingin melihat yang akan ia lakukan.
Ia merebut ponselku.
lalu melemparnya ke ujung ranjangku.
dan naik ke atas badanku.
"Mau apa sih, sayang?" tanyaku. Bukannya nggak tau sih, pingin aja nanya.
"Mau ngerjain kamu," ia mengecup resleting celanaku
"Nakal ya kamu," aku menyeringai. "Sini..."
Aku menarik dagunya. Lalu menciumnya selembut mungkin yang aku bisa.
Bibirnya lembut dan lembab.
Aku memeluknya dan mengangkatnya, untuk berganti posisi menjadi di atas tubuhnya dan memudahkanku melakukan kegiatan yang aku suka.
yang aku suka loh ya.
Kami berciuman kembali, manis... apa anggota tubuh lainnya lebih manis? Aku ingin sekali tahu sehingga bibirku mulai menjelajah ke pipinya, rahangnya, dan lehernya.
Lalu berlama-lama di sina.
Ia melenguh pelan. Suaranya indah sekali.
Tanganku?
Nggak usah ditanya sudah pasti ke bagian yang lain.
Aku menelusup ke area bokongnya dan meremasnya. Ia terkikik senang.
"Buka..." pintaku.
Ia meloloskan gaunnya ke atas.
Aku membuka pengait bra nya dengan satu tangan, yang satu itu aku lumayan lancar, entah kenapa jemariku ini untuk kegiatan per-anu-an adaptasinya cepet. Kalo disuruh ngetik malah keok.
Aku otomatis tersenyum menatapnya, lalu mengingat awal pertemuan kami pertama berjumpa. Aku merindukan bagian tubuhnya yang ini.
Aku merangkumnya dengan his4pan, memainkan lidahku, memainkan hasrat kami.
Aku mendengarnya mengeluh keras.
"Jangan keras-keras, Mas Bram masih di kamar sebelah," bisikku. Ia terkikik.
"Biar aja dia dengar gratis,"
"Jangan dong, nanti dia pingin kamu yang repot!"
Ia terbahak dan mencubit pinggangku.
Jemari lentik Meilinda menelusup ke dalam kaosku, gerakannya perlahan naik turun sementara aku meremas dadanya dan mencium lehernya.
"Aku paling suka yang ini," desisku sambil membelai dadanya. Kuperlakukan selembut mungkin, karena sepertinya rapuh dan sensitif.
"Aku mau yang ini," rajuknya sambil membelai resletingku.
Aku menyeringai.
Ia mendorongku dan kembali memimpin permainan.
"Aku service sebentar ya... biar kepala kamu enteng.” rayunya sambil menunduk di atasku. Lalu membuka celanaku dan beringsut turun dari ranjang untuk menarik ujung jeansku sampai lolos.
Ia memasukkan setengah tubuhku ke mulutnya tanpa ragu.
Sambil memejamkan matanya seakan menikmati rasanya.
Aku mengeras seiring dengan sentuhan lembut lidahnya yang hangat.
Ia memperlakukan tubuhku seakan kulitku ini lezat rasanya.
Aku menyuruhnya memutar tubuhnya, ia melakukannya sambil menikmatiku. Kami berbaring dalam posisi miring, dan sekali gerakan kuloloskan pantynya melewati tubuhnya.
Ia merenggangkan pahanya, dan kini kelopak mawarnya ada di depan hidungku. Merekah menggiurkan.
Aku tidak ragu lagi untuk mencicipi dessert.
**
Bercinta tanpa kehilangan keperjakaanku itu rasanya seperti tidak lengkap.
Seperti ada yang salah.
Rasanya kurang terus.
Walau pun akhirnya kami sama-sama pelepasan, yang mana detailnya tidak begitu dijabarkan di novel ini karena Tante Author bakalan kena banned, kan nggak lucu ada satu episode bertema ‘makan cake dan eclat’ yang ilang, nanti komentar dipenuhi dengan sedulur yang kiciwi.
Tapi akhirnya kami memutuskan untuk menghentikan aktivitas kami setelah aku menumpahkan ‘bakal calon anakku’ ke mulutnya.
Kami berbaring sambil berpelukan di ranjangku, dan ujung jemari kaki Meilinda dengan sigap memindahkan ponselku ke karpet, alias dia tendang biar aku nggak main game terus.
Dan dimulailah percakapan yang lebih dalam. Pertanyaan pertama yang selalu membuatku penasaran,
“Kamu kehilangan keperawanan sama siapa?” tanyaku.
Ia terkekeh sambil mengecup rahangku.
“Soalnya... Jeffry kan nggak nafsu sama cewek, dan pas sama Gunawan kamu kelihatannya udah pro banget,” sambungku.
“Jeffry bisa kok on sama aku, tapi kayaknya dia membayangkan yang lain saat melakukan hal itu denganku,” kata Meilinda.
“Tapi bukan dengannya aku kehilangan virginity-ku,” katanya lagi.
"Namanya Pak..." dia diam sebentar sambil cekikan, aku hanya menatapnya sambil mengernyit. “Pak Gajah, belalainya panjang, warnanya hitam dan bisa getar plus ada mesinnya buat gerakan naik turun. Panjangnya sekitar 30senti yang medium, tapi aku punya juga yang large kok,”
Aku menatapnya masam. Pas disebutkan detailnya kok aku jadi kesal ya?!
“Besok kenalin aku ke Pak Gajah,”
“Buat apa juga?”
“Mau aku culik terus aku buang dari lantai 15,” gerutuku.
“Heheheh, nggak bisa, soalnya udah hilang,”
“Kok bisa hilang,”
“Kubiarkan hilang, lebih tepatnya,”
“Maksudnya gimana?”
“Soalnya, pas saat terakhir, Jeffry pulang dari dinas di luar kota, aku melihat Pak Gajah-ku di kopernya,”
Aku langsung mau muntah
“Kubiarkan saja terbawa olehnya. Memang sudah lama kusimpan di atas lemari, sih. Tapi aku tak menyangka akan dibawa oleh suamiku sendiri,”
“Gila! Itu sebelum atau sesudah kamu tahu kalau orientasinya Jeffry berbeda?”
“Setelah aku tahu, dan dia sudah menalakku secara lisan. Ia mau kabur ke Paris sebelum dipukuli kakak. Keadaan kacau saat itu. Mana mungkin aku mempersoalkan barang-barangku yang terbawa olehnya,”
“Sabar banget sih kamu,”
“Yaaa... hal mengenai kelainan seksual bukan salahku. Dan aku tak ingin menghakimi siapa-siapa walau pun itu bertentangan dengan prinsipku. Aku juga bukan orang suci,” gumam Meilinda sambil mempererat pelukannya.
Bagaikan tak ingin aku hilang.
Tapi dibenakku ini malah memikirkan hal lain. Membayangkan Jeffry membuatku... “Aku mau minum,” beneran perutku mual. Aku membuka selimutku dan beranjak.
“Mau minum juga... sisa kamu masih ketinggalan di lidahku,” ia beranjak dan mengambil kaosku yang tergeletak di lantai, lalu mengenakannya.
“Gimana rasanya?” kekehku.
“Mau coba juga?”
“Ogah!” seruku sambil membuka pintu kamar.
“Itu kan punya kamu sendiri, masa suruh aku yang telan, kamunya malah nggak mau, hehe,”
Aku diam saja ah...
Mas Bram sudah di depan dispenser sambil menegak air dari gelas besarnya.
Penampilannya rapi, kayaknya mau kencan lagi.
Dia terlihat hampir tersedak saat melihat Meilinda keluar dari kamar.
Meilinda langsung menyembunyikan tubuhnya di belakangku untuk menutupi tubuhnya yang terceplak jelas di kaosku.
“Bu,” sapa Mas Bram sambil berdehem dan tersenyum. Mencoba sopan tapi salah tingkah.
“Pacaran terooosss,” godaku ke Mas Bram. Sambil melewatinya untuk ambil gelas di kabinet dapur.
“Ikeh-ikeh terooos,” balas Mas Bram.
“Dih! Cuma foreplay doang kok. Masih perjaka nih aku,” aku menjulurkan lidah.
“Nggak percaya!” balas Mas Bram.
Meilinda duduk di kursi meja makan sambil melipat kedua tangan menutupi dadanya.
Masku duduk di depannya sambil mencomot pisang goreng di atas meja.
“Mau pergi, Bram?” tanya Meilinda.
“Iya, mau nemenin Selena ke Sentul,”
“Selena-nya Dimas?”
“Selena-nya Dimas...” Masku terdengar tidak rela mendengar julukan itu, “Tadinya dia punya saya bu, tapi setelah dipindahkan ke Garnet Bank saya nggak ragu lagi untuk menjalin hubungan dengannya karena bukan karyawan saya lagi,”
“Saya pikir itu hanya rumor, ternyata beneran ya,”
“Yaaa, setelah ini nggak usah kuatir dia akan tergoda dengan Dimas. Karena dia milik saya,”
Aku menyerahkan gelas berisi air ke sebelah Meilinda dan duduk di sebelahnya, “Berasa gue suka godain Selena aje,” desisku, “Dia sekarang makin galak Mas, jutek banget sama cowok-cowok,”
“Bagus... bagus...” kekeh Mas Bram. “Terutama sama kamu,”
Aku mengangguk, ‘Terutama sama aku. Pas Meilinda aku masih bisa ngelawan. Meli masih ada manis-manisnya. Paling nggak, secempreng-cempreng suaranya masih seksi lah dia. Masih bergetar hati ini, hehe,”
Meli mencubit pahaku.
Aku mengernyit sekilas.
“Tapi kalau Selena, mending aku diam aja pasang headset kalau dia ngomel,”
“Iya, karena perasaan kamu nggak tumbuh di dia,” kata Mas Bram, “Dan kayaknya kamu udah suka Bu Meilinda sejak lama sih,”
“Orangnya ada id depanmu nih Mas,” desisku.
Meilinda hanya menyeringai.
“Tau nggak Bu, Dimas ini nggak pernah memuji wanita di depan kami. Padahal pacarnya banyak banget,”
“Aku nggak pernah pacaran,”
Mas Bram mengibaskan tangannya seakan menghiraukanku, “Tapi sekalinya dia memuji perempuan, itu saat dia diterima di Garnet Bank. Dia bilang ‘Boss aku cantik banget, makin galak makin seksi’,”
“Beneran Bram?!” tanya Meilinda.
“Mana pernah aku ngomong gitu Mas?!” Aku beneran nggak ingat pernah ngomong begitu ke Mas Bram.
“Di depanku dan ibuk, “ Mas Bram ngangguk-angguk. “Kami ngeliat kamu tuh pulang, pandangan mata kosong, sambil ngomong begitu. Terus masuk kamar,”
“Masa Seh?!” jeritku. Beneran aku nggak inget pernah ada kejadian kayak gitu.
“Tanya ibuk sanah!” Mas Bram mesem-mesem sambil ambil pisang goreng kedua.