Office Hour

Office Hour
Cieee Dilamar Cieee



Sepanjang perjalanan mereka menuju cafe Selena merasa wajahnya memanas.


Bagaimana tidak, Bram terus menggandeng tangannya.


Begini yah rasanya bergandengan tangan dengan laki-laki yang kita suka. Begitu pikir Selena.


Tangan Bram besar, dua kali tangan Selena. Kulitnya kasar khas laki-laki maskulin dan ada beberapa kapalan di buku jarinya, mungkin hasil dari angkat beban. Setahu Selena, Bram suka ngegym di kantor. Namun pegangannya kokoh tanpa keraguan dan disaat yang bersamaan lembut melindungi. Gesekan kulit tangan mereka membuat Selena tersenyum, ia bersyukur untung sempat memberikan lotion super mahalnya tadi pagi di tangannya. Suatu hal yang membuatnya kuatir adalah suhu tangannya yang dingin. Bukan karena AC Mall, tapi karena kegugupannya.


Mudah-mudahan Bram mengira tangannya dingin karena ac mall.


Mereka masuk ke dalam lift, di sana hanya ada mereka berdua.


Bram melepaskan pegangan tangannya. Selena mendesah kecewa.


Namun hal berikutnya malah membuat jantung wanita itu serasa mau copot, Bram memeluk pinggulnya, mendekatkan dirinya lebih berat ke tubuh laki-laki itu.


"Dingin?" tanya Bram.


Selena harus jawab apa?!


Akhirnya dia hanya mengangguk pelan


Tangan Bram akhirnya naik dan memeluk lengannya.


Ya Tuhan... Berkahmu! Selena memejamkan  mata, berdoa.


Ia bagaikan tersengat listrik.


Mereka tiba di cafe... langganan Selena! Biasanya Selena dan Milady kabur ke cafe ini kalau sudah sangat penat dengan urusan kantor, atau saat mereka mau curhat yang orang lain nggak bisa dengar. Kalau libur kantor, Selena juga sering berkunjung ke Cafe ini. Di tempat ini ia suka menyendiri dengan novelnya ditemani berbagai macam cake dan teh. Kopi di sini juga terkenal enak, tapi satu paketnya memang bisa mencapai setengah juta. Namun disini sangat nyaman dan tidak berisik.


Apakah Bram tau hal itu?


Sambil menduga-duga Selena hanya bisa bergerak mengikuti Bram yang tidak ragu memeluknya sedari tadi.


"Mbak Lena apa kabar?" tanya manajer disana. "Mau di tempat biasa atau sudah booking mbak?"


"Saya sudah booking tempat atas nama Bram." Bram mewakilkan Selena menjawab.


"Oh iya pak, ada. Silahkan." si ibu manajer tersenyum simpul, dibalas dengan senyum bahagia Selena.


Mereka dibawa ke lokasi private namun paling eksklusif, biasanya lokasi ini sudah ditempati, namun kini Selena bisa merasakannya. Hebat juga Bram bisa booking ruangan khusus.


"Pak Bram?" desis Selena saat makanan mereka selesai dihidangkan. "Kok tau tempat ini?" penasaran wanita itu bertanya.


"Hm? Kamu bukannya sering kesini?" Jawab Bram.


Jadi pria ini memperhatikannya selama ini.


"Kamu sering di pojok itu, baca novel, kadang saya malah melihat kamu main game online pakai laptop kantor." Bram menyeringai.


"Kok tau saya main game online?!"


"Iya bayangan di layar laptopnya kepantul di jendela..."


Sampai segitunya Bram memperhatikannya? Baiklah, karena saat ini mereka bisa dibilang sedang berkencan, Selena akan bertanya semua hal yang selama ini ia pendam.


"Kamu cantik hari ini," sahut Bram.


Astaga malah kayak lirik lagu, romantissss! Tiba-tiba otak Selena langsung blank. Ia tidak jadi bertanya.


"Mudah-mudahan kamu dandan secantik ini untuk Saya," sahut Bram lagi.


Apa ini...!!


Rayuan apa iniiii...!!


Kok rasanya badan langsung ringan!!


Memang untuk siapa lagi aku dandan dengan persiapan sehari sebelumnya?! Kondangan ke anaknya Pak Menteri aja nggak sampe segininya!


Tapi kenapa mulut Selena malah tidak bisa bergerak.


Bram merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah tas serut kecil.


"Ini buat kamu... Saya sebenarnya beli itu sudah lama, waktu di Jogja, tapi kesempatan untuk ngasihnya belum ada."


“Eh?” Selena bengong sambil menatap tas warna merah didepannya. "Buat... Saya?"


Bram mengangguk.


"Yakin buat saya?" tanya Selena lagi.


Pria itu mengangkat alisnya, dan pandangannya bergantian antara tas di atas meja di depannya dengan sosok Selena yang terbengong-bengong.


Setelah menyadari beberapa saat situasinya cukup canggung, Bram terkekeh geli lalu mengambil tas itu, mengeluarkan isinya dan menarik tangan Selena.


Gelang berlian yang tertulis grafir namanya.


"Grafirnya sudah jelas nama kamu, loh. Mana mungkin buat orang lain. Nama kamu cukup langka soalnya,"


Gelang ini dibeli sejak di Jogja.


Mungkinkah Bram...


"Pak-“ Selena hampir bertanya namun kemudian rasa ragu menyelimutinya. Jadi dia memutuskan diam dulu.


Namun sepertinya Bram mengetahui arah pertanyaan wanita itu.


Pria itu menghela napas lalu bersandar ke sofa.


"Saya waktu itu merasa kamu sudah bekerja keras membantu saya selama ini. Saya merasa perlu untuk memberikan sesuatu untuk kamu. Namun kejadian itu... merubah segalanya," desis Bram.


"Saya waktu itu benar-benar kecewa sama kamu." Tambahnya dengan mimik muka mengeras karena teringat masa lalu yang membuat emosinya memuncak.


Selena memejamkan matanya. Ia memang merusak segalanya.


"Tapi kemudian Saya berpikir bahwa tidak seharusnya Saya ikut campur ke kehidupan pribadi kamu, karena itu Saya berusaha untuk bersikap seperti biasa. Namun ternyata hasilnya tidak begitu baik. Tidak bisa seperti sediakala."


Bram mengangkat wajahnya dan mendekatkan tubuhnya ke arah Selena.


"Apalagi kamu tiba-tiba memutuskan untuk resign. Saya benar-benar kaget saat itu. Saya juga nggak mengerti bagaimana harus-"


"Itu salah saya!" potong Selena. "Saya... Saya marah karena saya merasa Pak Bram mengacuhkan Saya, bahkan pandangan Bapak ke Saya... membuat Saya terhina. Tapi maaf, Saya memang pantas menerima hal itu,"


"Saya nggak pernah bermaksud-"


"Maaf pak," potong Selena lagi.


"Mohon dengarkan saya, saya akan menceritakan semuanya yang saya pendam selama ini!"


Bram menghela napas lalu kembali duduk dengan berusaha santai menanggapi Selena.


"Saya... sudah lama menyukai Pak Bram. Lama sekali bahkan. Bukan karena Bapak ganteng atau pintar atau semacamnya, tapi karena Bapak bersikap baik kepada Saya, bahkan Bapak yang terkenal tegas ke wanita lain bisa tersenyum kepada Saya,"


"Pak Bram waktu itu pernah bilang kalau wanita disekeliling Pak Bram semuanya bodoh, hanya Saya yang pintar. Saat itu Saya mulai suka sama Bapak. Tapi Saya bertanya-tanya kenapa Saya selalu ditinggal di kantor kalau Bapak ada tugas keluar kota? Bahkan kalau Bapak ketemu klien Bapak membawa yang lain, Saya sendiri yang tidak pernah mendampingi Pak Bram bekerja di luar kantor. Apa Saya tidak cukup bagus untuk bernegosiasi atau kenapa?"


Selena mengambil napas sejenak.


"Pada akhirnya datang kesempatan Saya untuk mendampingi bapak tugas luar, Saya berusaha melakukan yang terbaik namun tidak berjalan lancar, Saya kesal. Dan akhirnya mencari pelampiasan, seharusnya saya hanya bertukar tender kayu Bapak Saya dengan mereka. Itu win-win solution sementara mereka membantu kita membebaskan lahan. Tapi karena saya kesal akhirnya saya mau saja diajak untuk pesta..." sesal Selena sambil mulai menagis. Air matanya menetes ke pipi.


Selena merasa matanya panas. Akhirnya air mata yang tidak ia harapkan turun dan jatuh ke pangkuannya.


"Saat melakukan hal itu dengan orang lain, yang dipikiran Saya hanya wajah Pak Bram. Tapi saat ini mengingat wajah Pak Bram setelah itu membuat Saya sampai sekarang merasa sakit," Selena tidak sanggup berkata-kata lagi. Ia hanya bisa menangis.


Bram menghela napas.


Sialan si Dimas benar-benar dapat Balenciaganya... Bisa nego lagi nggak yah?! Gerutu Bram dalam hati.


"Lena," desis Bram. "Biar jelas semua, Saya bilang sekarang yah,"


Selena masih menangis.


"Saya juga sudah sejak lama tertarik sama kamu, hanya kamu wanita yang bisa mengimbangi Saya dalam berpikir. Kamu itu simple, nggak ribet, dan bisa mengerjakan semua dengan tetap efisien," Bram tidak menemukan kata-kata yang pas, padahal menurutnya Selena lebih dari itu.


"Prinsip Saya tetap ada batasan dalam hal bekerja, itu sebabnya Saya tidak pernah membawa kamu untuk bekerja diluar kantor. Saya takut. Takut kalau perasaan Saya ke kamu bisa semakin besar saat kita hanya berdua saja. karena..." Bram menghela napas dan menunduk.


"Masa-masa seperti itu memungkinkan untuk menjadi lebih akrab. Cinta lokasi semacam itu sering terjadi padahal saya sendiri sudah tertarik sama kamu sejak lama. Saya tidak ingin perasaan Saya terhadap kamu menguat. Karena hal itu bisa berdampak buruk ke pekerjaan,"


"Tapi pekerjaan saya berhubungan dengan kontrak, Pak. Seharusnya saya ikut dinas,"


"Lena, tidak ada yang bisa menghandle Direksi sebaik kamu saat Saya sedang tidak di kantor."


"Saya suka sama Pak Bram."


"Iya Saya juga... suka kamu," Astaga akhirnya terucap juga kalimat ini. Gumam Bram dalam hati. Rasanya dadanya berdebar kencang sekali.


"Kenapa baru sekarang?" lriih Selena.


Selena menghela napas lega, ia menyunggingkan senyum tipis, rasanya ia ingin menangis lagi.


Gelang di tangan berkilauan, gemerlapnya mewarnai hatinya kini.


"Lena, tapi mungkin ada satu masalah,"


"Ya?"


"Saya... Bisa jadi sangat posesif," Bram mengernyit, takut kalau wanita ini mundur. Tapi ia harus bilang apa adanya karena ia benar-benar ingin hubungan cintanya dengan Selena berjalan cukup lama.


Selena tertawa kecil.


"Ohya?" tanya wanita itu


Bram salah tingkah.


"Apalagi kehidupan seksual kamu... cukup berbahaya."


"Sejak kepergok Bapak, Saya jadi nggak nafsu sama laki-laki lain lagi. Yang ada di benak Saya cuma wajah Pak Bram." keluh Selena. Tapi dengan gaya bicara yang manja.


Bram menunduk tampak berpikir. Selena menatap makhluk didepannya ini dengan seksama. Semakin ia lihat semakin menawan, semakin memikat. Kalau dipikir Selena belum pernah sedekat ini dengan Bram sebelumnya. Dan karena perbedaan tinggi badan yang mencolok Selena tidak pernah berkesempatan memperhatikan sosoknya dengan lebih jelas.


Rahang Bram persegi, kokoh dan penuh ketegasan. Matanya tajam bagaikan bisa melihat ke dalam hati, alisnya tebal dan sering mengerut, apalagi kalau sedang memikirkan sesuatu seperti sekarang. Bibirnya agak tebal, dan tampak berpadu serasi dengan panca indera yang lain.


Gaya Bram sangat rapi dan maskulin. Aura otoriternya terpancar kuat, namun saat berbicara ia penuh kelembutan. Pandangan pertama orang bisa menjauh karena segan, namun berikutnya orang akan mendekat lebih akrab karena ia sering tersenyum dan empatinya tinggi.


Pria yang misterius... Pikir Selena.


"Kamu akan melihat diri Saya yang lain, kamu siap menjalani hubungan ini? Bisa saja terjadi hal-hal menyebalkan. Saya bisa saja menjadi orang lain yang tidak sesuai dengan bayangan kamu." sahut Bram.


"Seperti?"


"Kamu mengenal Saya seperti apa?" tanya Bram.


"Pak Bram... Orangnya tenang, penuh pertimbangan, lembut namun tegas dalam mengambil keputusan, suka berpikir jauh kedepan." sahut Selena mantap. Ia adalah pengagum fanatik Bram yang selama ini ada di balik layar.


"Saya ini nggak romantis, nggak suka hal yang bertele-tele, dan nggak suka wanita manja." sahut Bram.


Selena terdiam.


Hal yang Selena tidak tahu dari Bram.


"Kita tegaskan saja di awal yah Lena, karena Saya juga ingin menjaga hubungan baik dengan kamu sampai lama kedepannya, jangan sampai kamu kaget lalu kamu menghilang lagi,"


Menarik. Pikir wanita itu. Apalagi sisi Bram yang Selena tidak tahu?


"Bagaimana, Pak?" Selena mencondongkan badannya ke arah Bram, dan karena dadanya yang besar terantuk pinggiran meja jadi dia memposisikan duduknya dengan meja menopang dadanya.


Bukan disengaja sih, tapi cukup membuat pria semacam Bram tertegun sebentar melihatnya.


Bram menatap mata Selena, kali ini pandangannya lebih dalam seakan menantang wanita itu.


"Kalau Saya bilang Saya nggak suka kamu dekat dengan Dimas, kamu bersedia resign?"


Wah...


Pertanyaan yang tidak disangka-sangka.


Apa Bram tahu kalau Selena memang pernah menggoda Dimas? Walaupun tujuannya hanya untuk menguji sejauh mana Dimas mengendalikan diri.


Karena semua wanita termasuk Selena mengakui kalau Dimas adalah pria yang sangat menarik.


"Saya bersedia. Lagipula pekerjaan di kantor hanya untuk mengisi waktu luang Saya, Saya sudah kaya dari lahir soalnya, jadi tak ada ruginya buat saya resign dari sana," sahut Selena gamblang.


"Hahahaha!!" Bram langsung terbahak.


Selena sampai terperajat mendengar suara tawa Bram yang lepas.


"Sepertinya Saya mengajukan pertanyaan yang salah ya," Sahut Bram disela-sela tawanya.


Selena mengangkat bahunya.


"Menurut saya tidak, rasa kuatir Pak Bram beralasan sebenarnya, karena pesona Pak Dimas memang sulit untuk diindahkan wanita manapun, termasuk Saya. Cukup menyulitkan Saya sebenarnya untuk tidak menggodanya. Saya sebenarnya terbantu dengan tingkahnya yang suka bikin kesal," sahut Selena menjelaskkan teorinya.


"Kalau dari wajah, selera Saya jelas Pak Bram, tapi Pak Dimas sering mengeluarkan feromon keseksian yang tidak perlu dan di saat yang tidak tepat, jadi susah berkonsentrasi kalau ada dia di dekat Saya. Rasanya... Saya risih."


"Risih? bukannya malah senang?"


Selena mengangkat wajahnya menatap Bram dengan mantap.


"Saya risih pak, kayak punya saingan berat,"


"Hahahahaha!!!" Bram tertawa lagi, kali ini lebih kencang. Wanita ini benar-benar menarik.


Diketawain pria yang disukainya itu ternyata bikin keki. Apalagi gara-gara Dimas, makin kesal hati Selena dibuatnya.


"Saya tidak menyangka kamu akan menganggap Dimas seperti itu." Kata Bram.


"Kita ngapain sih Pak, harus ngomongin Pak Dimas? Dia kan udah banyak diomongin orang," wanita itu memprotes suasana.


"Ya kamu benar juga."


Selena menyeruput teh mawarnya.


"Pak..." panggilnya kemudian.


Bram mengangkat alisnya.


"Kapan Saya bisa jadi istri Pak Bram?"


Astaga! Benar-benar wanita yang tidak terduga.


"Kamu..."


Baru kali ini Bram kesulitan mencari kata-kata. Ada wanita yang ingin dia peristri dan wanita ini mengutarakan keinginannya dengan gamblang, tanpa ragu, dan dengan jangka waktu yang singkat.


"Memangnya kamu siap jadi istri?"


"Memangnya apa lagi tujuan hidup wanita yang sebenarnya? Single forever? Saya nggak mau hidup sendirian,"


"Kenapa harus sama Saya?"


Jawaban Bram membuat bingung Selena. Tanpa ia tahu kalau Bram sedang mengujinya.


"Memang apa lagi ujung dari pernyataan suka? Apa pria seperti Pak Bram ini juga hanya suka main-main dengan wanita di awal saja?”


"Kamu terlalu nakal untuk jadi seorang istri, apa yang Saya bisa banggakan dari kamu? Kita terbuka saja yang Len, kamu ingin lihat sisi Saya yang lain, Saya utarakan sekarang. Coba kamu pikir bagaimana kamu bisa membuat Saya merasa special padahal seluruh jengkal tubuh kamu sudah disentuh laki-laki lain,"


Menyebalkan! Bram ternyata sangat jahat...


Selena merasa dia diterjunkan berkali-kali ke dalam lava panas, dan ini bukan pertama kalinya ia direndahkan Bram.


"Memangnya kalau perawan, ada jaminan dia tidak akan menyakiti Pak Bram? Selama ini nyatanya hubungan tidak ada yang berhasil..." gumam Selena.


Bram tersenyum lalu mencongkan tubuhnya.


"Saya jahat ya?" tanyanya lembut.


Selena mengangguk.


"Kamu yang jahat duluan sama Saya. Sekarang kamu tahu rasanya kan?" Desis Bram tajam.


Selena menatap Bram dengan mata besarnya yang berkaca-kaca.


"Saya melihat dengan mata kepala Saya sendiri wanita yang Saya sayang disentuh beberapa laki-laki. Kamu pikir bagaimana rasanya?" sahut Bram.


Dia menantang Selena.


Tapi kata-kata ‘Wanita yang Saya sayang’ membuat Selena gemetar.


”Mung-mungkin seperti halnya Saya marah saat melihat Pak Bram berkencan dengan wanita lain yang lebih... kalem dari Saya. Tapi sakitnya mungkin lebih besar." Desis Selena, namun lebih terdengar seperti gumaman tak jelas.


"Tidak ada yang Saya sentuh begitu intens, paling jauh hanya cium kening. Saya memperlakukan dengan baik semua wanita yang pernah dekat dengan Saya," sahut Bram.


Selena diam.


Air mata mulai jatuh lagi ke pangkuan wanita itu.


Hening beberapa saat, hanya ada isak tangis Selena.


"Oke kita menikah. Saya hubungin EO nya dari sekarang. Kabari orangtua kamu. Minggu depan saya datang menghadap mereka,"


Hah!!