Office Hour

Office Hour
Nikah Woy! (4)



Saat Mas Bram dan Ibuku sudah duduk di belakangku, adalah saat man to man antara aku dan Pak Hans.


Dia akan menyerahkan anak perempuannya padaku.


Menyerahkan di dalam perjanjian nikah adalah menyerahkan sepenuhnya, bukan sekedar menitipkan.


Itu berarti segala tanggung jawab atas diri Meilinda akan beralih ada di pundakku.


Mulai dari kesejahteraannya sampai perilakunya.


Mulai dari pahala yang dihasilkannya sampai dosa yang ia perbuat.


Aku bertekad akan sanggup.


Aku akan berusaha lebih baik dari Pak Hans yang mengurus anaknya sampai jadi secantik ini, sampai membuat aku jadi tergila-gila.


Juga akan lebih baik dari Pak Sebastian yang mengurus adiknya sampai Meilinda jadi wanita mandiri yang tegar.


Sepenting ini akad nikah...


10 menit yang lalu aku tidak menyadari kalau betapa besar arti pernikahan itu sebenarnya.


Aku akan membuat perjanjian antar manusia yang sifatnya seumur hidup, di hadapan Tuhan langsung dan para malaikatnya.


Terkutuklah aku kalau sampai mengkhianatinya.


Pak Fuqoha mengangkat mic nya.


Lalu menurunkannya lagi.


Ia memandangku dengan ragu.


"Dimas, kamu benar-benar sudah hapal loh ya, ini saya tanya dulu sebelum semuanya denger..." bisik Pak Fuqoha bertanya.


Pak Hans terkekeh geli mendengarnya.


"Itu contekannya ditarik aja, biar kagok sekalian," gerutu Pak Sebastian.


Nggak rela banget sih nyerahin adiknya.


"Bro, situ dah beristri, udah ada janin pula, udahlah relain Meilinda buat saya biar dirimu hidupnya fokus ke anak-anak,"


Pak Sebastian mencondongkan tubuhnya ke arahku.


"Saya tidak pernah menganggap Meilinda beban, dia bagian hidup saya."


Aku juga mencondongkan tubuhku.


"Yang jadi beban itu malah bapak, ngekor Meilinda terus sampe saya susah mendekat."


"Kenapa kalian malah jadi rebutan Meli..." kikik Pak Hans.


"Dia ini dari pertama gangguin terus Mang!" umpatku sambil menunjuk Pak Sebastian.


Pak Hans kembali terkikik.


"Kak..." Meilinda menatap Pak Sebastian. "Kami akan selalu ada untuk kakak." desisnya. "Mulai sekarang akan bertambah keluarga kita, ada Dimas juga yang akan selalu mendukung keluarga kita. Bukan berarti saya menikah terus kakak akan kehilangan hak atas saya, tapi Dimas ada disini untuk mengurangi beban ayah atas saya. Ayah bisa hidup dengan lebih tenang dan sekarang," Meilinda melirik ibunya yang duduk di belakang kami. "Mungkin memulai hidup baru, mengejar lagi cinta ayah." pandangannya penuh arti.


Pak Hans menyeringai.


"Ikhlas yah Pak Yan?" tanya Pak Fuqoha.


"Saya bukan anak kecil, kenapa malah jadi saya?!" Pak Sebastian sewot.


"Sayaaaa kan cuma tanyaaaaa..." jelas Pak Fuqoha. "Ini saya angkat mic niiih... Boleh ya dimulaaaaiiii?"


"Iyaaaa..." desisku dan Pak Sebastian hampir berbarengan.


Berikutnya aku nggak denger lagi Pak Fuqoha ngomong kata sambutan apa, karena pikiranku sudah fokus ke kalimat ijab kabul.


Aku baru terhenyak saat Pak Fuqoha mempersilahkan aku dan pak Hans untuk memulai.


Pak Hans menatapku dengan serius. Aku baru kali ini melihat raut wajah kebapakannya dengan jelas. Ada rasa kuatir di pandangannya, namun lebih banyak ketabahan yang tersirat.


Ia sudah melalui banyak masalah selama berpuluh-puluh tahun hidupnya. Guratan keriputnya yang tegas menandakan hal itu.


Meilinda adalah buah hatinya.


Aku sudah bisa membaca, ia sudah cukup tersakiti oleh suami pertama Meilinda. Ia juga ingin sepertiku, tidak ingin melihat air mata kesedihan mengalir lagi dari mata Meilinda.


Aku tahu hal ini dari Meilinda tempo hari.


Jadi selama ini, Pak Hans menggunakan Pak Sebastian untuk mengetesku berkali-kali.


Agar kejadian suami pertama tidak terulang kembali.


Dan terakhir, saat Pak Sebastian sudah mulai menyerah padaku, Pak Hans maju sendiri. Dengan menyamar sebagai tukang kebun dan menyiramku dengan sengaja... lalu Pak Sebastian yang memukuliku karena emosi, sebenarnya di luar prediksinya, tapi tampaknya posisiku yang tidak melawan menjadi nilai plus dimata Pak Hans.


Benar kata Meilinda waktu dulu.


Pak Hans terlihat klemar-klemer tapi nusuk di belakang.


Bukan tanpa alasan Pak Sebastian segan sekali padanya.


Aku menarik napasku.


Ini saatnya...


"Saudara Dimas Tanurahardja Sandro Bin Emilio Sandro, Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Meilinda Adinata Bataragunadi Binti Hansel Bataragunadi dengan mas kawinnya berupa perhiasan emas seberat xxgram dan seperangkat alat sholat, tunai !"


Otomatis aku menjawab.


"Saya terima nikahnya dan kawinnya Meilinda Adinata Bataragunadi Binti Hansel Bataragunadi dengan maskawinnya yang tersebut dibayar tunai"


Gila...


Sepatah kata itu ternyata berat sekali kuucapkan!


Hampir saja lidahku terselip!


Ternyata memang ada daya magis yang tersirat, tidak semudah dibaca.


Aku bahkan nggak tahu apakah ucapanku sudah benar. Mulutku bergerak sendiri tadi!


"Sah?" tanya pak Fuqoha ke kedua saksi, Pak Sebastian dan Trevor.


"Sah." sahut Trevor.


Pak Sebastian menghela napas. "Sah." tegasnya.


Pengakuannya ternyata sangat berarti bagiku.


Aku memandangnya dengan ucapan terima kasih yang tak terhingga.


Ia membalas tatapanku dengan... Senyuman tipis.


Sekali lagi aku tahu kalau ucapanku benar adanya.


Dia lega.


Dia akhirnya punya waktu untuk dirinya dan keluarga kecilnya.


Dia menyerahkan Meilinda padaku dengan ikhlas.


Pak Fuqoha langsung melantunkan doa mengenai rasa syukur.


"Silakan, tanda tangan dokumen administrasi dulu..." aku dan Meilinda menandatangani secarik kertas.


"Silakan wali, dan saksi tandatangan..." sahut Pak Fuqoha.


Setelah selesai, ia menyerahkan buku nikah istri dan suami pada kami.


"Kalian sudah sah menjadi suami-istri. Alhamdulillah."


“Alhamdulillaaaaah.”


**


Aku memasukkan cincin berlian ke jemari Meilinda.


Seingatku ia juga mengenakan cincin berlian lain, tapi hari ini jemarinya terlihat polos tanpa perhiasan apapun.


Cincin nikahnya jadi terlihat eksklusif karena hanya satu-satunya di tangannya.


Lalu ia menerima kotak beludru dari Pak Sebastian.


Cincin batu safir.


Aku kenal cincin itu dan logo yang ada di samping dudukkannya. Itu logo keluarga Bataragunadi yang melegenda. Ada di jari Trevor, Pak Sebastian dan Pak Hans.


Aku hanya menantu, bukan anak kandung.


Apakah aku pantas menerimanya?!


"Mel... Itu?"


"Titipan dari kakak..." sahut Meilinda. Dia mengangkat cincin itu. Lalu melirik Pak Sebastian.


Pak Sebastian hanya mengangguk pelan.


"Mantan suamiku malah tidak mendapat cincin ini. Ini hanya untuk keluarga. Tapi..." ia memperlihatkan grafir namaku di balik cincin. Dimas Tanurahardja - Sandro. "Sebagai kenangan dan rasa terima kasih kami terhadap Pak Emilio Sandro dan Ibu Sulastri Ningsih, Kami sudah menganggap kamu adalah bagian dari kami. Aku tahu cincin kawin yang kamu persiapkan hanya milikku, jangan kuatir, ini bukan dari emas atau perak. Ini dari palladium dengan kualitas terbaik. Kamu bisa tetap memakainya saat sholat." ia memasukan cincin ke Jemariku.


"Terimakasih..." aku mengucapkannya saat ia memasukkan cincin itu ke jemariku. "Aku sayang kamu." desisku.


Meluncur otomatis kalimat doa yang kuingat di luar kepala. Mengenai keberkahan seorang istri bagi suami.


Ia menerimanya sambil menangis.


Semua yang di situ sesaat terperangah mendengarku berdoa.


Pada nggak nyangka yah aku ternyata bisa alim...


Ehem !