Office Hour

Office Hour
Berkunjung ke Rumah Gio



Menjelang siang, aku rencananya mau makan siang sama Sena dan Ari nyoba warteg baru yang ada di gedung depan. Kita kali ini nggak ke kantin Menantu Semok, aku malas ngajak Ari ke sana. Kita ke kantin yang biasa didatangi para driver, jadi dari tukang warteg sampe tukang jusnya bapak-bapak semua. Biar dia gada kesempatan buat tebar pesona.


Tapi mereka jalan duluan karena aku harus mampir ke ruangan Pak Haryono urusan pekerjaan dan berbagai temuan. Pas ke sana sih nggak ada masalah, nah, pas baliknya, ruangan pak Haryono itu sebelah persis ruangan pak Stephen.


Sosok yang terlihat dari belakang itu sudah sangat aku hafal. Cantik, seksi, pinggang sempit pinggul montok, rambut panjang sepinggang.


Meilinda ada di dalam ruangan Pak Stephen, sedang tertawa. Di tangannya ada rangkaian bunga warna pink dan Pak Stephen sedang menggenggam tangannya.


Aku otomatis mundur sampai sudut titik buta yang kira-kira masih bisa ngintip.


Di ruangan Pak Haryono pastinya, di mana lagi, coba?!


Anjrit.


Panas bener udaranya...


Aku baru sadar, aku nggak seromantis itu. Tidak pernah sekalipun aku ngasih dia buket. Paling hadiah yang dia terima hanya cincin berlian yang matanya segede pasir doang.


Masih nangkring di jari manisnya sih.


Lalu ada geli-geli di leherku.


"Pain sih lo bro?"


"Babi ngepet gesek-gesek!!" seruku kaget.


Ternyata geli-geli tadi jenggotnya pak Haryono. Iya yah aku kan masih di area ruangan dia.


Ia memiringkan kepalanya sedikit lalu tersenyum menggoda saat melihat pemandangan di ruangan Pak Stephen


"Mam pus lo..." ia mengejekku. Raja tega emang.


Aku lanjut mengamati aktivitas di ruangan sebelah sambil berkacak pinggang, makin lama aku makin merasa yang salah dalam hubunganku dengan Meilinda adalah aku sendiri.


Bukan salahnya terlahir dan dididik dalam keluarga kaya raya, memang begitulah hidup mereka.


Aku yang salah karena memilih mendekat.


Aku penasaran sama Meilinda dan akhirnya jadi terpikat.


Dan kini bayangan akan masa depan kami berdua makin lama malah semakin pudar.


Mungkin memang Pak Stephen yang lebih pantas mendampingi Meilinda. Selain usia mereka tidak terlalu jauh, keluarga mereka dari golongan pebisnis, mereka juga memiliki jabatan yang tinggi.


Dari semua segi mereka sangat cocok.


Aku?


Bahkan wajahku yang katanya paling ganteng segedung aja tidak membuatku seberuntung orang lain.


Atau aku yang kurang bersyukur?


Jadi aku menghela nafas panjang, dan kuputuskan lebih baik kuselesaikan masalahku dulu sambil berdoa supaya Meilinda tidak tergoda rayuan maut Pak Stephen.


Dengan galau aku menatap nasi daging cincang sayur labu di depanku. Teh manis di depan piringku, esnya sudah mencair, tapi rasanya aku malas makan.


Panas hati ini melihat senyuman Meilinda ditujukan bukan padaku.


Memangnya dulu hubungan mereka seperti apa sih?


Seingatku sejak aku bekerja di Garnet Bank, belum pernah Meilinda tersenyum ke orang lain, kecuali ke Kanjeng Putri loh.


“Pak Dimas, kalo sakit maag minum obat sanah,” tegur Ari Sangaji sambil menarik piringku ke arahnya.


Dengan sigap kutangkap tangannya dan kukeplak.


“Main tarik-tarik aja lu, gue nunggu wangsit!” gerutuku. “Lu kan udah sepiring, Ri!”


“Kerjaan banyak bener Paaak, gue gampang laper! Mana lagi haid, duh bawaannya pingin ngunyah,” Kali ini ia menarik es teh manisku dan ia seruput. Sisa esnya doang ia berikan lagi padaku.


Terus aku disuruh ngunyah es batu doang gitu?!


“Napa sih lo Mas? Perasaan Raker udah selesai dengan sukses, masih aja jidat lo dilipet?” Sena berkomentar sambil mainan hape.


“Oh iya! Gue kan mau nanya!!” Aku gebrak meja, “Lo pacarnya Sandra Ellen? Cucunya si Putri itu?”


“Canggah,” ralat Sena.


“Apalah itu. Adeknya si Gerald!”


“Iya, begitulah,”


“Itu gimana ceritanyaaaa??”


“Sandra Ellen siapa?” tanya Ari celingukan.


“Eh, sebelum gue cerita, soalnya bakalan panjang, Sandra kan punya toko perhiasan nih,” kata Sena sambil menyeringai padaku, “Lo mau pesen? Buat Bu Meilinda gitu. Sapa tahu dapet diskon,”


“Woh! Boleh juga...” aku tergoda diskon dong. Si Stephen ngasih buket bunga, aku nggak mau kalah kasih perhiasan. Walaupun itu menghabiskan tabunganku. Sekarang, bodo amat sama nabung buat rumah, urusan cintaku lebih penting!


*****


(Mari kita simak cerita dari sisi Orang Ketiga, Narator By : Author)


Meilinda mendengarkan dengan seksama seseorang yang berbicara dengan lewat telepon.


“Ibunya baru meninggal dua minggu yang lalu bu, dan hutang di rumah sakit mencapai 200 juta. Rumah sakit mengalihkan hutangnya ke agen penagih hutang, kemarin mereka datang saat dirumah hanya ada adiknya berumur 12 tahun baru pulang sekolah, lalu tetangga bilang adiknya dimaki-maki sama debt collectornya, sampai sekarang nggak mau sekolah ngurung diri dikamarnya.” Kata detektif swasta yang ia sewa.


Meilinda menghela napas.


“Kasih saya alamatnya, saya mau kesana,”


“Baik, Pak Kardi. Terimakasih infonya.” Dan Meilinda menutup teleponnya. (Familiar sama nama Pak Kardi? Iya dong, dia kan anggota GSA).


Lalu sekitar satu jam kemudian,


Dan di sinilah ia sekarang.


Di depan rumah kontrakan Gio.


Dan saat ini ia ditemani Bram.


Kenapa Bram? Karena postur pria itu memungkinkan untuk dijadikan bodyguard dadakan, dan wajahnya yang bisa membuat orang merasa tertekan.


Itu pun Meilinda bertemu Bram secara tidak sengaja. Di dekat sini ada proyek apartemen bersubsidi dan Garnet Property memenangkan tender menjadi pengembangnya.


Kemungkinan area ini juga akan digusur dalam waktu dekat untuk pengembangan itu.


Jadi karena area kontrakan Gio termasuk kumuh, Meilinda turun dari Lexusnya dan naik mobil proyeknya Bram, agar tidak mencolok katanya.


“Mel...” tanya Bram. “Kamu sudah 30 menit di dalam mobil, harus aku yang masuk atau kita mau di sini seharian? Aku banyak kerjaan,”


“Sedikit lagi. Aku mau memastikan Gio ada di rumah,” Kata Meilinda.


“Hm... diliat dari motornya sih dia ada di rumah,” Bram memicingkan mata memperhatikan pemandangan di depannya.


Meilinda tidak menjawabnya.


“Lagi siapin hati ya...” sahut Bram.


Meilinda mendecak.


Bram tepat sasaran.


Lalu terdapat pergerakan dari dalam rumah. Gio ada di situ, keluar dari rumah untuk berjalan ke arah motornya.


“Dia pergi. Mau ikutin?” Tanya Bram.


“Iya, Mau,” sahut Meilinda tegas.


*****


Gio memandang nota yang diterimanya dari pembuat resep di apotik.


Bahkan obat anti depresan saja semahal ini. Aku sudah tidak punya uang lagi. Apa yang harus Aku lakukan. Pikirnya.


Adiknya mengancam akan bunuh diri karena kemarin debt collector memaki-makinya. Sampai sekarang adiknya tidak makan dan tidak minum, meringkuk di balik selimutnya dan ketakutan.


Lagi-lagi Gio harus ambil cuti. Ia sudah mendapat 2 kali teguran karena terlalu banyak mengambil ijin tidak masuk kerja, jatah cuti untuk tahun ini sebenarnya sudah habis jadi gajinya dipotong untuk ijin tidak masuknya. Dan orang-orang di kantor mulai mengeluh mengenai ketidakhadirannya.


Apa aku terima saja tawaran untuk menjadi gi**lo?


Sekali transaksi 500ribu.


Cukup menggiurkan, tapi setelah itu apa yang akan terjadi? Pikir Gio.


“Permisi,” Terdengar suara bariton yang menarik perhatiannya. Gio mengangkat wajahnya dan melihat sosok yang menurutnya sangat rupawan.


Ia pikir di dunia ini hanya Dimas yang berwajah tampan, tapi pria yang mengunjunginya ini juga sangat menawan.


“I-i-iya?”


“Gio bukan?” tanyanya.


Gio mengangguk ragu. Kok dia bisa tahu namanya? Ia juga mengingat-ingat di mana ia melihat sosok ini. Rasanya sosok ini familiar setelah ia perhatikan dengan lebih seksama.


"Saya boleh bicara sebentar sama kamu, Gio?" tanya Bram.


"Eh... maaf, siapa yah?" tanya Gio sambil mengernyit.


"Nama saya Bram. Saya kakaknya Dimas,"


Gio, tak disangka, langsung pucat saat mendengar nama itu. Kakinya mundur selangkah.


Bram reflek mencengkeram lengannya saat gerak-gerik Gio mulai mengindikasikan perlawanan.


"Jangan berprasangka buruk dulu yah Gio, kami tahu kamu sedang kesulitan. Saya mau menawarkan jalan keluar asalkan kamu bekerjasama," sahut Bram dengan intonasi selembut mungkin.


Namun walaupun Bram sudah mengusahakan untuk tidak menekannya, tampaknya situasi yang dilalui Gio cukup sulit, sehingga pria bertulang lunak itu akhirnya memutuskan untuk lari.


Gio melangkahkan kakinya sekuat tenaga ke arah yang ia tahu. Bagaikan maling yang baru saja mengambil ayam buat dijadikan opor.


*****


"Kabur nih," lapor Bram sambil menemui Meilinda yang menunggunya di dalam mobil.


"Iya, saya lihat," Meilinda menatap Bram sambil berpangku tangan. "Terus kamu nggak kejar?"


"Males," jawab Bram pendek.


Meilinda langsung menatapnya tak percaya, meminta penjelasan. Oh, begini tingkah pria itu kalau sudah mulai tak berkenan, pikir wanita itu.


Bram masuk ke mobil dan menstarternya.


"Kita bisa tunggu di rumahnya, toh dia nggak akan kemana-mana," kata Pria itu.


Meilinda langsung lega.


Untung dia belum protes apa pun. Tampaknya Bram kurang suka banyak berkata-kata, ia lebih suka langsung bertindak.