Office Hour

Office Hour
Selena



Tidak terasa sebulan telah berlalu dan kehidupan kami lalui dengan normal, Eh, nggak normal juga sih. Kini banyak yang menjauh dariku karena ketahuan ciuman sama Meilinda waktu itu. Pak Danu sih enak-enak saja dia malah mesem-mesem, mana HRD nyamperin dan nawar kalo Asuransi kesehatanku boleh nggak disatukan saja sama Meilinda, plis deh... nikah saja belom! Pada nggak mau rugi ya...


Seperti biasa Meilinda dan aku masih berdebat soal pekerjaan dan kini tugasku menjadi lebih banyak. Secara Pak Jaka kurang lancar ngetiknya dan aku jadi kekurangan anak buah. Karena, gitu-gitu Gio anaknya rajin dan  multifungsi. Dan aku belum mendapatkan staff yang sebaik dia dengan bayaran yang setara. Yang ini penting, Gaji yang setara.


Jadi aku lebih sering menginap di kantor daripada di rumah. Syarif bahkan menyediakan toiletries sendiri untukku mandi saking seringnya aku nginep di kantor.


Ibuku suka nyariin aku sambil bilang “Anggota tubuh masih lengkap kan Le?”


Sebenanya ibuku itu suka mikir apa ya? Mungkin dia pikir kerjaanku ini Mafia makanya jarang pulang. Padahal aku Cuma pegawai Bank.


Untung kalau malam Meilinda balik ke kantor dan menemaniku bekerja. Hehe


Nggak ngapain-ngapain kok, kita masih punya batasan.


Ya sedikit-sedikit membelai ini-itu sih...


Di suatu pagi, aku dan kacamata kesayanganku membaca laporan harian yang panjangnya macam selendang tujuh warna karena ada kejanggalan di Cabang Solo. Entah bagaimana feelingku ada fraud di transaksi mereka, tapi belum ketemu wujudnya. Jadi aku dengan seksama membaca semua laporan harian.


“Dimas,” terdengar suara yang kurindukan.


Sejak kasus itu, dia jarang teriak-teriak dan suaranya jadi lembut.


Aku yang deg-degan. Soalnya dia kan dasarnya Sangat Cantik.


Ditambah sekarang Kalem pula. Jadi kini kuperhatikan, sebagian besar pria di kantorku menatapnya lekat-lekat kalau Meilinda melenggang melewati mereka.


Ini Gawat sih...


Meilinda meletakkan Tas Hermes berbalut kulit buaya albino lengkap dengan kotaknya di atas mejaku.


“Gratifikasi-ku yang dari pak Siswoto alias Gunawan. Terserah mau kamu apain asal jangan kegores,” ujar ‘Kesayanganku’.


Aku menyandarkan tubuhku ke sofa, baru kerasa kalau punggungku pegal setengah mati.


“Aku lelang boleh ga? Aku serahkan ke Divisi Aset Management jadi...”


“Jangan!!” serunya sambil memeluk Hermesnya.


“Harus kamu yang handle. This is my baby, tapi kamu lebih berharga jadi harus kamu yang sentuh dia, okey?!” Aku disamain sama Hermes, sama-sama buaya sih ya. Pak Sebastian juga manggil aku ‘Boyo’.


“Yang lain nggak tahu betapa berharganya dia, jangan sampe nanti ditaro di kursi buluk atau lebih parah, di lantai!” serunya. Nggak usah sehisteris itu lah. Itu cuma tas... walopun harganya setara sama rumah BTN 5 unit.


“Iya, Bu, kalau sudah diserahkan ke Auditor berarti ya ibu sudah nggak ada urusan sama keberlangsungan hidup si buaya ini,” kalau di kantor aku tetap memanggilnya dengan sebutan ‘ibu’ untuk menghormati posisinya.


“Namanya Birkin, bukan buaya.”


“Iya, nanti Mbak Birkin diservice yang excellent banget dah, aku selimutin aku kelonin aku kasih AC nanti lemarinya, biar idup lagi jadi buaya,” Omelku sambil kembali fokus membaca.


Meilinda terkikik dan mengecup pipiku lembut.


“Love you...”


Aku hampir tersedak ludahku sendiri. Lalu meliriknya sampai dia berlalu dari ruanganku. Udah lop lopan aje...


Handri melemparku dengan kacang.


Okky bahkan ngeliatin aku lekat-lekat.


Maryanti Nyinyir, “Cinta-cintaan di kantor,” dia jadi judes. “Jadi pingin punya pacar kan gue,”


“Pacar lo yang tukang ojek kemane?” tanyaku.


“Udah naik jabatan jadi pengusaha toko buah, gue ditinggalin soalnya dia pacaran sama anak dari ownernya toko buah,”


Nasib lo Mar.


Berikutnya, semua anak meringsek ke depan mejaku mengerubungi Mbak Birkin. Tenny bahkan bawa-bawa kaca pembesar, “Apa sih yang menarik dari nih tas, perasaan biasa aja,” gumamnya.


“Nafas lo jangan deket-deket Ten, ntar dia berkerut!” seru Maryanti.


“Coba cek pake alat pacu jantung, mana tau sebenernya ni buaya masih hidup,” desis Tenny lagi.


“Kita pajang di abang-abang pasar malem, ada yang mau beli nggak kira-kira?” desis Handri.


“Segini 700 juta’an? Kegores dikit turun harga dong?” Okky mengacungkan telunjuk untuk menyentuh kulit Mbak Birkin.


Aku menepak punggung tangannya.


“Jangan pegang-pegang ntar busuk, Keramat iniiii,” desisku.


“Coba Pak Dimas yang pegang, ntar warnanya berubah jadi gradasi, ceria soalnya...” kekeh Handri.


“Udah kerja sanaaah! Lagi kurang orang malah kasak-kusuk nggak jelas! Mau pulang tenggo nggak?” omelku.


“Mau dooong,” semua balik ke kubikel masing-masing.


Saat semua sudah tenang dan suasana dihiasi dengan suara anak-anak mengetik, nggak tau mereka ngetik apa’an sih, yang penting keliatan sibuk. Paling maryanti lagi curhat di Twitternya, Okky paling lagi donlot komik di internet, Handra paling lagi balas WA gebetannya lewat komputer. Yang penting ngetik kan...


Aku pun lalu mengambil gambar Birkin buaya di depanku dan kukirimkan ke ibuku.


Bu, ada yang mau beli nggak? 700juta second, sertifikat lengkap. Ketikku.


Mendingan buat ibu saja (Emot glassess). Balasnya.


Siapa yang mau beliin... Balasku.


Ya kowe lah...


Nanti ya buka paha sama tante-tante dulu.


Cah gendeng. Balas ibuku


Aku tahu ibuku banyak relasi walaupun dia cuma penjual nasi uduk. Selanjutnya tidak sampai setengah jam ada balasan.


Ono iki Bu Ajeng arep tuku. Balas ibuku memberi info.


Bu Ajeng rumahnya dimana? Soalnya harus dianter langsung. Kataku.


Nang Solo. Iso?


Wah, kebetulan. Apa aku ke solo saja ya kunjungan dadakan audit. Soalnya kalau cuma baca laporan nggak selesai-selesai. Sekalian jualan tas.


“Dimas, ikut aku sik yo?” Tanya Pak David sambil lewat dari ruangan Pak Danu mampir ke kubikelku.


“Ya pak bro...” desisku sambil mengikutinya.


*


*


“Kenalin ini Selena...” sahut Pak David.


Wanita itu mengangguk ramah padaku. Tidak seperti kebanyakan wanita yang tertegun dulu saat menatapku baru tersadar dan tersenyum, yang ini seperti sudah terbiasa dengan cowok semacam diriku. Raut mukanya biasa saja.


“De’e pindahan nang Garnet Property, Kowe nyari asisten toh? Iki level highclass loooh, wis lah ojo protes ini itu, akur-akur yo!!”


Kami berjabat tangan.


“Maaf, saya belum tahu persis gambaran pekerjaan saya.” Sahutnya.


“Sebelumnya posisi kamu sebagai apa?”


“Di Perusahaan saya yang lama saya bekerja sebagai Asisten Relationship Manager Operational Wilayah Barat, jadi kegiatan saya sehari-hari berhubungan dengan proyek, kontrak, Purchased Order dan Administrasi.”


Tunggu.


Aku kok kayaknya familiar ya dengan jabatan itu.


Dan dia tadi bilang Garnet Property.


Aku mikir dulu.


Tapi darip[ada buang-buang waktu, akulanjut saja ke penjabaran jobdesk. “Begitu sudah cukup sih dasarnya, Intinya pekerjaan kita nanti adalah melakukan pengawasan terhadap seluruh kegiatan operasional karyawan dari semua segi pekerjaan. Saya hanya butuh kamu Jujur dan teliti. Kalau ada yang tidak mengerti jangan ragu bertanya ke saya atau pak Jaka dan jangan sekalipun mengambil tindakan sendiri.”


Pak David kelihatannya senyum-senyum sendiri aje, napa lu pak, kaget ngeliat gue ngejelasin teori ke staff ?!


Aku menunjukkan Selena mejanya. Terlihat sekali semua karyawan menatap Selena sampai dia ke kubikel masih tetap diperhatiin. Kalo ada yang ngetik, biasanya sudut matanya tetap fokus ke Selena.


“Kamu di Garnet Property dulunya.” Tanyaku, aku masih mikir loh ini.


Selena mengangguk.


“Sampai kemarin masih kerja disana pak. Tapi maaf ya pak saya keep dulu alasan pindah saya, hanya Pak Yan yang tahu.” Kata Selena.


Maksudnya Pak Yan itu Pak Sebastian ya? Tampaknya dia punya hubungan erat juga dengan Pak Sebastian sampai bisa menyebut pakai nama kecilnya. Dan sangat terlihat dia menutup diri.


Caranya menatapku... dingin.


Astaga aku baru ingat!


Manager Operational Wilayah Barat itu kan Masku!!


“Di Garnet Property ada kakak saya, namanya Bramantyo.” Sahutku. “Kamu kenal?” langsung saja kutanyakan.


Srekk!


Dia menjatuhkan tasnya.


Matanya menatapku sambil terbelalak.


Kenapa?


Ada genderuwo di belakangku?


“Pak Bram...?” sahutnya.


Aku mengangguk.


“Pak Bram itu kakak Pak Dimas?” ulangnya.


“Iya.”


Lalu dia berdecak kesal.


Ck... (begitu decaknya)


Lalu dia hanya diam menunduk menatap lantai.


“Di sini ada pantry? Saya mau bikin kopi.” Sahutnya kemudian.


“Di ujung...” sahutku.


Lalu dia jalan ke pantry dengan terburu-buru.


Kenapa sih tu cewek?!


*


*


Bu Meilinda terpaku menatap meja di pojok sampingku, meja yang bekas Gio ditempati oleh Selena sekarang. Ia menatap Selena dari ujung ubun-ubun sampai ke kaki yang sebenarnya hanya bisa terlihat dari sela-sela meja.


“Siapa?” tanyanya padaku. Selena menyadari tatapan itu dan berdiri menghormat.


“Nama saya Selena bu.” Sahutnya lugas.


“Dari mana kamu?”


“Sampai kemarin saya masih kerja di Garnet Property, saya dulu asistennya Pak Bram.”


“Ngapain sekarang kamu di sini?!” tanya Meilinda super judes.


“Saya di sini menggantikan Pak Gio yang dipindah ke Garnet Retail.”


“Yang ngirim kamu kesini siapa?”


“Pak Yan.” Jawab Selena.


Aku merasa saat mereka mengobrol seperti ada petir di tengah-tengah. Menggelegar dan mendung.


Meilinda mendengus lalu menelepon seseorang.


Aku? Lagi ngemil kacang telor. Nonton aja.


“Ini orang kamu, kak?!” semburnya dari telepon. Ia meloudspeaker ponselnya.


“Selena sudah disitu Mel ?” Tanya Pak Sebastian.


“Sudah.”


“Ditempatin dimana?”


“Di Divisinya Dimas.”


“Waaaah hahahaha!” seru Pak Sebastian sambil ngakak. “Memang pinter banget si David. Oke Lah saya titip. Anaknya Pak Farid itu.”


“Farid? Farid siapa? Farid yang mana kak? Farid AL Farouq?”


“Iya, Farid Al Farouq. Anak tunggal tuh, jangan kegores Mel, hahahaha! Bilang dimas dijaga baek-baek hahahah”


Bu Meilinda menutup teleponnya dan kembali menatap Selena. Lalu menatapku dan melempar bantex.


“Puas kamu?!” serunya marah, lalu meninggalkan ruanganku sambil menghentak-hentakkan kakinya.


Aku bengong.


Ada apa lagi sih nih?!


“Azzek, kangen juga ngeliat pak Dimas diomelin Bu Meli,” kekeh Handri sambil tetap makan kacang.


“Keselek jangan jadi alasan ambil izin sakit ya! awas lu,” aku misuh.