
POVnya kembali ke diriku lagi ya saudara-saudari, mudah-mudahan nggak bosen. Hehe.
Di sesi kedua Raker adalah saatnya presentasi oleh Divisi SAM (Special Aset Management, alias Debt Collector tapi khusus penyitaan jaminan yang kasusnya mind blowing dan butuh penanganan khusus seperti kemarin Mbak Birkinnya Bu Meilinda, atau yang ada urusannya sama pengadilan perdata dan pelelangan).
Daniel dan Andrew sudah kembali ke tempat duduk. Aku memandang mereka dengan pandangan bertanya, kok cepet?
Andrew menggelengkan kepala sambil menyeringai ke arah Daniel, Daniel mengerling padaku.
Ada apaan coba?!
"Udah pada disuruh pergi?" bisikku ke Andrew.
"Udah beres Mas, kecuali Isabel dia nunggu di operator," katanya.
Aku menghela napas. Isabel termasuk sulit untuk dihindari karena wataknya pantang menyerah.
"Dia nungguin Daniel di sana," Sahut Andrew cepat
Aku menoleh padanya dengan cepat. Nungguin Daniel? Maksudnya?!
"Daniel dapet jodoh kayaknya,” kekeh Andrew.
Aku melongo karena tidak menyangka, lalu terkekeh. Hebat juga Daniel.
"Mas,” Si Daniel nunduk-nunduk untuk mendekati mejaku dan bisik-bisik, “habis ini gue izin keluar kantor buat nemenin Isabel ke Gedung Garnet, ada urusan sama Pak Arman katanya,”
“Kenapa sampe ke gedung Garnet segala?” tanyaku.
“Masalah deposito yang tadi pagi lo minta dari Pak Alex itu loh Mas,”
“Yaaa, apa hubungannya Isabel sama deposito si Alex?”
“Lo nggak tahu Isabel kerja di Beaufort?”
“Kagak,” jawabku mengakui. “Isabel orang Beaufort?!” Ini serius nih?
“Iya, dia sekretaris di sana, barusan disuruh Mbak Six untuk antar dokumen ke Garnet, mumpung dia ada di sini,”
“Mbak Six... Bianca bukan?”
“Nah! Itu dia namanya! Pacarnya Pak Alex, Bianca. Baru sekarang gue inget, hehe!” Daniel cengengesan.
Aku sebenarnya masih rada nge-blank mengenai pembicaraan ini, tapi kuizinkan saja Daniel pergi. Masalahnya aku harus fokus ke Raker sesi ke berapa entahlah ini.
Aku mengacungkan jempolku ke Daniel. Dia cuma mesem-mesem.
"Lo nggak pilih satu, Drew?" Tanyaku.
"Gue masih belom bisa lupain yang itu..." Andrew menunjuk Selena yang berada di sebelah kiriku dengan dagunya.
"Kalo dia berat bro, lo harus hadepan sama gue,"
Andrew menghela napas sambil duduk bersandar di kursinya. "Lo tau nggak sih apa aja yang gue pernah lalui ama Selena?" bisiknya.
"Tau sebagian besarnya, dia ngomong ke gue," kataku.
"Menurut lo gue bisa lupa sama kenangan yang begitu?" dia bertanya balik.
Aku jelas nggak bisa jawab.
Bayangan Meilinda saat pertama kali kami berjumpa saja masih terpatri jelas di otakku. Jadi, aku sangat mengerti perasaan Andrew sekarang.
Oke kita menenangkan diri dulu. Dengan bekerja sepenuh hati. Ini masih ‘Office Hour’ soalnya.
**
Saat ini waktunya Divisi SAM presentasi. SAM singkatan dari Special Asset Manajemen. Tugas mereka mengatur jaminan yang diagunkan, mulai dari penyitaan oleh Debt Collector, proses negosiasi, proses penjualan agunan, sampai proses pengadilan.
Di Divisi ini konon orangnya galak-galak, ya karena mereka harus berhadapan dengan nasabah yang nggak terima ditagih hutangnya atau rumahnya disita. Sering mereka harus berhadapan dengan preman, keamanan, atau senjata tajam yang diacungkan. Pokoknya sehari-harinya kehidupan mereka keras.
"... Bulan ini ada 3 panggilan pengadilan perdata. Yang dua sudah sidang terakhir, dibantu divisi Legal. Yang satu masih berembuk dengan pihak nasabah." Kata Pak Jafar, Kepala Divisi SAM. Mekanisme beliau ada di bawah divisiku. Tapi segala hal yang sifatnya terinci, aku serahkan kepada mereka. Aku Cuma harus tandatangan di kolom ‘Mengetahui’ saja.
"Divisi Pak Jafar lumayan bagus kinerja semester ini. Nasabah yang wataknya sulit macam Pak Kibul juga sudah bisa teratasi." kata Pak Danu.
"Ya Pak, ada pihak yang membantu kami waktu itu." Pak Jafar menyeringai padaku.
Mana mungkin aku bisa lupa kasus dikejar-kejar preman pake golok?! Aku mencibir masam padanya.
Tapi salut juga sama tim debt collector, ancaman seperti itu bisa setiap hari mereka hadapi. Padahal pas minjem uang, nasabah sangat maniiiissss perangainya.
"Ini kasus apa sih Mas?" Tanya Pak Haryono.
"Side streaming pak," Jelasku.
"Ini yang waktu itu pernah kesini bawa-bawa massa ya? Katanya anggota forum salah satu suku itu kan?!" Kata Pak Haryono, dia ingat karena waktu itu dia yang mengerahkan semua keamanan untuk bergerak mengusir massa dari gedung.
(Side Streaming : kasus macet pada pinjaman nasabah yang diakibatkan karena dana yang dicairkan oleh bank digunakan dengan tujuan yang berbeda dari yang diajukan. Biasanya kalau kasusnya begini Nasabah kena karma sendiri dan akhirnya macet.)
“Hebat juga bisa sampai membuat Pak Kibul jual rumah untuk melunasi tunggak-kannya.” Desis Pak Haryono sambil menyeringai padaku.
“ini catatan utama untuk marketing yah, pelajari benar-benar 5C, jangan sampai nasabah nunggak karena salah analisa malah jadi menyusahkan banyak pihak.” Kata Pak Danu.
(5C, adalah akronim dari Character, Capacity, Capital, Condition, Collateral. Di mana jika nasabah telah memenuhi 5 prinsip tersebut, maka bisa dipastikan bisa lebih mudah untuk mengakses kredit di bank).
Dipikir-pikir Bank juga males kali kalo harus nagih-nagih ke nasabah yang nunggak. Kalau macet prosesnya makan waktu, makan tenaga, harus keluar biaya juga buat bayar pengacara dan notaris, belum kalo adu emosi.
Kalo nasabah bisa diajak kerjasama, kayak KPR terus macet, nasabah bersedia buat coba jual rumahnya secara sendiri ya silahkan, mau minta bantuan tim SAM buat tolong lelangin juga bisa. Nanti kan dari hasil penjualan buat bayar hutangnya di Bank, kalo masih ada selisih ya dibalikin ke Nasabah. Bukan buat Bank kok duitnya.
Masalahnya kalau Debt Collector yang dari Bank, kami tidak dapat fee apa pun dari kasus. Semua diselesaikan layaknya kerja biasa, kita cuma terima gaji biasa aja. Beda kalau yang kasus Maryanti kemarin, udah melibatkan pihak ketiga. Gaji karyawan di perusahaan jasa pihak ketiga macam begitu, diukur dari nominal tunggakan yang mereka selesaikan.
“Kok bisa diselesaikan? Pendekatannya bagaimana?” tanya Pak Danu pinisirin.
Pak Jafar terekeh. Kayaknya beliau nggak tahan mau cerita behind the scene kasusnya.
Di moment ini, mau tidak mau kami berdua terkenang akan ‘kemesraan’ jaman dulu waktu aku masih jadi kepala seksi di divisi kepatuhan.
Sesuai namanya Divisi Kepatuhan, tugas kami memastikan seluruh karyawan mematuhi aturan perusahaan. Tidak luput divisi SAM juga termasuk.
Dan jujur, ini divisi SAM yang paling malas aku urusin.
Masalahnya pasti ada aja kejadian yang bikin jantung berdebar. Di sini, percaya aja, tampangku nggak berarti apapun. Yang paling mutlak harus dimiliki oleh Divisi SAM terutama para debt collectornya adalah : kemampuan berdebat.
Ngebacot kalo kata anak Akhlakless.
Dan karena debt colector kami digaji oleh Bank, bukan pihak ketiga, jadi notabene mereka adalah karyawan bank. Sudah pasti dalam bekerja harus ikuti aturan perusahaan dan aturan pemerintah.
Susah...
Mau marah-marah tapi pake aturan.
Mari kita flashback sejenak pada masa 6 bulan yang lalu.
Sebut saja Pak Kibul.
Nasabah kategori UMKM. Pinjam dana untuk usaha nasi padang, malah dipake buat renovasi rumah. Otomatis warungnya nggak berkembang, pendapatan gitu - gitu aja, angsuran jadi macet. Coba dia beneran pake buat perkembangan usahanya, pasti bakalan sesuai sama hitungan marketing kami dan pendapatan beliau bisa bertambah. ini dinamakan kasus Side Streaming. Penggunaan dana tidak sesuai dengan pengajuan.
Aku, Pak Jafar dan dua orang anak SAM, Samsul dan Fathur datang ke rumahnya. Rencananya untuk membicarakan mengenai kelangsungan pinjamannya. (Betewe, ini Tante Author gila juga masukin nama asli untuk karyawan Tim Sam. Samsul dan Fathur ini beneran ada orangnya. Ya adegannya memang ‘terinpirasi’ kisah nyata sih, tapi di hiperbolis habis-habisan sama tante, wakakaka).
Tapi sampai rumahnya, kami dihadang massa. Perkumpulan pemuda salah satu suku di pulau Jawa, kata mereka.
"Mau apa looo?!?" seru salah satunya yang tampangnya paling serem.
"Lo nggak usah ikutan, kita dateng buat urusan bisnis!" kata Samsul.
Kami dilarang memberitahu siapa pun yang tidak terlibat mengenai pinjaman Pak Kibul ke bank, karena itu sudah masuk peraturan pemerintah, bisa dianggap mencemarkan nama baik nasabah.
"Maju selangkah, pala berdarah!" ngancemnya pake pantun.
"Bang! Kita ini mau nawarin jalan terbaik, nggak maen sita-sita aja, ada aturannya." kata Samsul lagi.
"Jalan terbaik macam apa? Biar gue yang wakilin." kata Bang Ketua.
"Nggak bisa lah bang, ini kan urusannya Pak Kibul." Samsul memelas. Males aja manggil polisi.
"Warga di sini itu ada di bawah di bawah perlindungan gue! Jadi urusan apa pun bisa lewat gue."
"Kalo gitu abang bisa lah bantu Pak Kibul buat ngurusin bisnisnya sama kami..."
Bang Ketua diem.
Mungkin dia lagi mikir.
Iya juga, segala urusan diwakilin dia, termasuk bayar angsuran dong.
"Peringatan terakhir, mau pergi nggak?!" Bang Ketua deadlock, kepentok sama ucapannya sendiri jadi makin emosi.
Anak buahnya maju selangkah sambil bawa-bawa golok.
Aku terkesima.
Bukan karena tindakan mereka, tapi karena Golok mereka keren-keren.
Bukan golok buat macul bambu yang sering keliatan di acara buser.
Jiwa kolektorku bergetar.
"Bang\, gue anggota Gib**s no anggota S243**G!" sahut Samsul.
Aku diam.
Radar waspadaku langsung menyala.
Kenapa dia malah nyebutin nomor anggota buat club paguyuban yang satu lagi, coba?!
Jadi aku senggol Samsul sambil berbisik.
"Itu nomer anggota buat yang di tanah abang, kaseeeppp..."
"Mampus..." bisik Samsul menyadari kesalahannya. Mungkin dia gugup.
"Nomer anggota apa'an?! Bang**ttt!!' Seru Bang Ketua sambil maju lagi, kali ini ambil ancang-ancang.
Kami mundur selangkah.
"Gue anggota Am**n Bersatu, Bang!" seru Samsul berusaha memperbaiki kesalahannya. Tapi malah makin fatal.
"Oh...musuh ya lo!! Gue anggota forum sukuisme (sensor)!!"
Aku menyesal pakai sepatu kerja, kenapa nggak kupakai sepatu lari saja tadi, ah kebanyakan gaya sih. Kan sayang baru beli 3 juta boleh malak Mas Bram udah dipake lari di gang!
Mereka maju kayak zombie di Resident Evil. Kencang sekali menghampiri kami sambil mengibaskan golok bagaikan kucing garong ngejar betinanya.
Kami langsung bubar!
Lari!!
Sejauh kaki melangkah.
Aku yakin Samsul dan Fathur langsung keinget anak istri sambil lari.
Dan aku,
Melipir ke warung kopi sebelah.
Sebelum sampe ke rumah Pak Kibul udah kusogok 200rb soalnya buat kalo ada apa-apa aku numpang ngumpet. Sengaja kucari warung yang penjualnya ibu-ibu, biasanya luluh sama tampangku.
Masalahnya yang ditampung nggak bisa banyak-banyak, nanti bisa mencolok. Jadi Pak Jafar, Samsul dan Fathur harus cari tempat sembunyi sendiri.
Aku melihat Pak Jafar berlindung di warung sate tiga rumah dariku.
Entahlah gimana nasib Samsul dan Fathur.
"Nggak lancar yah Mas ganteng?!" tanya Ibu penjaga warung pake genit.
"Namanya juga kerja, bu." sahutku.
Aku mengambil tissue untuk melap sepatuku.
Ia menyuguhkan kopi di depanku.
Aku seruput pake berdoa dulu takut dipelet.
"Boy, gue gabung. Di warung sate banyak asepnya!” Pak Jafar mengirimkan aku wa beberapa menit setelahnya.
Aku saat itu udah berada di belakang konter warteg, bantuin goreng tempe.
"Mana Samsul ama Fathur, makan dulu aja habis itu kita berdua ke rumah Pak Kibul lagi," balasku.
"Butuh back up ga?" kayaknya dia udah siap-siap nelpon polisi.
"Ntar dulu." balasku lagi.
Samsul dan Fathur mengendap-endap lewat pintu belakang warteg, ketemu aku yang lagi nyuci beras.
"Serius lo Mas," umpat Samsul.
"Kampret, gara-gara lo ngomong nggak dipikir," dengusku.
"Gue udah takut duluan! Ada kali itu 20 orang! Anak gue masih kecil-kecil bro!" kata Samsul.
Ya wajar sih.
"Makan dulu sana! Dah gue bayar," kataku.
"Lo ngapain di sini?"
"Ya bikin nasi lah masa mejeng di dapur," sungutku.