
Akhirnya setelah undangan pernikahanku sudah jadi dan kami menyebarkannya, orang-orang heboh. Bahkan Desi khusus meminta 50 lembar untuk diberikan ke cewek-cewek yang mencariku. Dari awal dia memang sudah bilang, jadi di undangan aku tidak mencantumkan tanggal akad, takut diinterupsi. Pokoknya tau-tau udah resepsi saja lah. Aku sudah bilang ke Meilinda untuk menyiapkan 2 stel gaun untuk dipakai Desi dan anaknya, Risya, untuk datang ke pernikahan kami karena Desi banyak membantuku selama ini. Meilinda langsung antusias memilihkannya, lengkap dengan tasnya dan perhiasannya.
Mas Bram minta ijinku dan Meli untuk merekrut adik Gio menjadi tim pekerja bangunannya. Ia sudah bertemu dan melihat hasil kerja adik Gio dan merasa terkesan. Karena memang background adik Gio sebenarnya arsitek tapi tidak meneruskan kuliah karena kasus kakaknya kemarin, jadilah ia mudah-mudahan bisa bekerja dengan baik di Garnet Property.
Dan Gio?
Ia menemuiku di kantor dan bersujud minta maaf.
Aku beneran nggak enak sama yang nonton karena tingkahnya lebay. Dan gara-gara dia pake extra nangis kejer. Sekantor jadi tau aku pernah diculik, padahal itu kusembunyikan rapat-rapat tadinya karena males dice'engin Fendi.
Akhirnya Gio tetap bekerja di Garnet Retail. Aku dan Meilinda secara khusus menemui CEO di sana untuk menitipkan Gio agar tidak ada yang membullynya lagi.
Gitu-gitu aja aktivitasku selama sebulan.
Suatu hari di hari Sabtu, Aku bertanya secara serius ke Bang Sa'ad saat bertamu ke rumahnya, niatnya mau lihat usaha Nasi Padang Pak Kibul, sekalian numpang makan hahahaha!
Tapi sebelm ke sana kumanjakan dulu diriku untuk belanja.
Belanja apa?
Ya sekalian transaksi golok. Selain main game Candy Crush sampe lupa ini udah tanggal berapa, aku kan pecinta barang etnik. Aku butuh golok kecil untuk di kantor, hehe.
Buat apa?
Buat kuelus.
Nggak sih, buat koleksi aja... Beneran kok, nggak buat ngancem nasabah macet, kok!
Yah tergantung situasi.
Saat mengobrol dengan Bang Sa’ad di warung Nasi Padang Pak Kibul, Aku bertanya, Yolanda Cs diapain sama dia.
Bang Sa'ad menyeringai dan bilang...
"Tenang Mas, kita tahu kok mereka bukan cewek-cewek sembarangan. Kebanyakan dari mereka anak-anak orang kaya. Kita bisa ditangkep kalo kita main garap! Mereka yang salah eh mereka yang nuntut. Biasanya begitu, Iya nggak?!"
Aku mengangguk. Baguslah kalau ia mengerti.
"Jadi akhirnya kita bawa ke dinas sosial disertai bukti-bukti foto buat orang tuanya, lo nggak mau perpanjang kasusnya kan?"tanya Bang Sa'ad.
"Kacrut! Ada foto gue lagi bu gil!!" seruku.
"Udah disensor pake emoticon kok Mas!"
"Muka gue gimane?!"
"Nah, itu kelupaan. Tunggu aja ntar di internet hahahahahaha."
Aku hanya bisa menggerutu masam. "Gue sih nggak mau perpanjang kasusnya, tapi kalo tiba-tiba gue keseret UU ITE gimana, coba?!"
"Ya orang dinas sosial yang disalahin. Tim Siber bisa lacak ponsel lo, kan di sana nggak pernah ada gambar-gambar itu. Lagian foto itu bukan gue yang ambil, bukan dari ponsel gue, tapi dari hape si penculik-penculik itu,"
Aku mengelus daguku, memikirkan untung ruginya.
"Okelah bang," aku agak lega, akhirnya.
"Nih buat ngerokok." dan memberikan amplop coklat padanya, isinya segepok uang tanda terima kasih.
Ia mengibaskan tangan.
Serius ini nolak?!
"Dari Pak Bram kemarin udah, Boi. Dari Garnet juga udah gue terima. Jadi gue dapet dobel. Lumayan anak-anak geng bisa makan enak 6 bulan ini. Jumlahnya ratusan juta Mas! Nggak gue sangka Bataragunadi bisa seroyal itu. Seneng lah gue kerja-sama dengan mereka!"
"Bataragunadi yang mana? Ada empat orang Bataragunadi yang masih hidup di dunia ini Bang."
"Utusannya bilang dari Big Boss."
Big Boss yang ini pasti Pak Sebastian... Bukan Damaskus, hehe. (Baca Big Boss For A Countess punya Tante Author juga yaaa, uhuyy!)
Tapi kok rasanya aneh, ya? Masa sih beliau Sang raja Diraja Lalim Perkasa extra Medit Kuadrat, mau kehilangan ratusan juta untuk diriku?
Pasti dia dalam tekanan atau apa, atau lagi dihipnotis sesuatu.
Sudahlah,
"Kalo gitu, ini untuk beli 'nona' yang di sana." aku menunjuk golok dengan sarung berwarna coklat muda yang sarungnya terbuat dari kayu amboyna burl.
Memukau...
Duh berkilau banget deh itu golok!
Aku sewot, mahal bener sih! "Emangnya lo tau di dalem amplop ini ada berapa isinya?!" desisku sebal.
"Jiah! Orang kayak gue itu udah sering dapet amplop, cuma dengan melihat ketebalan dan luas bentuknya aja gue bisa langsung nebak isinya ada berapa!" ujarnya.
Sue dasar mata rupiahan...
"Duit kita sekarang kan luas lembarnya disamain semua kali..." kataku mencoba membela diri.
"Tambah dua juta lagi, lo bawa pulang lah si Nona! Itu dari baja bohler Jerman, ketajamannya bisa buat motong plastik!
Aku menyerah...
Aku memang manusia lemah.
***
Kami menikah sekitar sebulan lagi, tapi barang-barangku sudah dibajak Meilinda untuk dibawa ke istananya.
Terus terang aku lebih memilih tinggal di rumah ibuku karena istananya terlalu luas dan kehidupan mewah tidak cocok untukku, tapi Pak Hans yang meminta secara langsung padaku.
Karena pada suatu hari saat aku bertamu... Eh, bukan deng, mau nge-date ceritanya mumpung malem minggu kan, tapi nungguin Meli dandan dulu, Pak Hans lagi menyibukkan diri di tamannya.
Aku menghampirinya yang sedang menatap kebunnya sambil berkacak pinggang.
"Kenapa Mang?" tanyaku.
Aku masih memanggilnya Mamang. Kelihatannya dia suka panggilan itu. Jadi selanjutnya itu semacam panggilan 'sayangku' untuknya.
"Kamu liat Mas, " dia menunjuk jamur yang tumbuh banyak banget di rumputnya.
Aku menghela napas.
"Kan lagi musim hujan..." sahutku.
Ia pun ikutan menghela napas. Lalu mulai menghujaniku dengan penjelasan mengenai jenis pupuk super, anti semut, anti jamur yang jenis premium bla bla bla yang dibelinya yang tidak kumengerti. Aku berusaha memahami pun nggak masuk ke otak ternyata. Memang kalau sudah beda alam ya begini.
Sampai ditengah-tengah dia menjelaskkan mengenai sesuatu tentang B12 atau apalah itu, tiba-tiba topiknya melenceng ke :
"Kamu mau tinggal dimana kalau sudah menikah?" tanyanya.
"Hm..." aku mengingat hal ini saat berdiskusi dengan ibuku dan Mas Bram tempo hari, bukannya tidak memikirkan hal ini, tapi sebenarnya ibuku tenang-tenang saja karena Mas Bram sudah mengklaim kalau ia akan tinggal bersama ibuku. Selena juga setuju hal itu. Meilinda pun sebenarnya ingin tinggal di rumah ibuku karena ia menganggap ibuku adalah ibunya sendiri.
"Kenapa Mang?" tanyaku balik. Aku bukannya ingin bertanya, tapi Sebenarnya sih mau minta pendapat. Aku ingin tahu maunya Pak Hans.
"Kalau saya harapkan sih kamu tinggal di sini saja sama saya. Habis rumah saya kegedean sih..."
"Hm.."
Iya lah kegedean.
Bangunan 2000m2 halaman 1000m2 dan rumah bagi pelayan, bangunan penunjang lainnya, garasi, dll 2000m2, anggota keluarga cuma 4 orang, pembantu, chef, sopir dan security 30 orang... Mobil belasan. Belum termasuk makhluk tak kasat mata yang berseliweran.
"Bukannya ada pak Sebastian, Milady dan Trevor?" tanyaku.
"Sebastian dan Milady lebih banyak tinggal di penthouse. Dan sepertinya mereka akan menetap."
Aku berdecak.
Saking nggak inginnya aku bertemu Milady, dia bahkan rela tinggal di penthouse.
"Saya mengerti kalau kalian ingin privasi sebagai suami istri, kalian boleh menggabungkan dua kamar jadi satu kalau mau. Asal kalian tinggal di sini menemani saya."
"Iya, Tenang aja Mamangku sayang. Bisa diatur," aku mengerti kegalauannya. Ia sudah tua dan kuatir hidup sendirian.
"Rumah ini sudah saya balik nama menjadi nama Meilinda. Jadi secara teknis kamu tinggal di rumah sendiri."
Aku hanya mengangguk.
Kami terdiam menikmati angin dingin yang berhembus.
Jadilah aku akan tinggal di istana ini. Mengenai biaya listrik air gaji karyawan dsb, kupikirkan belakangan.
Tapi...
Berapa ya bayar listriknya.
Belum apa-apa udah tegang duluan otakku.
Yang beginian sih nggak bisa kupikirkan belakangan! Masih bisa nggak aku koleksi Golok nih?!