
Aku keluar dari Pantry sambil merangkai dasiku, masih pakai sandal jepit, rambut masih acak-acakan, Pak Danu sudah merangkul bahuku dan dia rupanya bersama Pak Haryono membopongku keluar dari Area manajemen dan setengah berlari ke ruangan HRD.
Aku diculik, judulnya!
“Nih, Dave, tersangkanya!” sahut Pak Haryono sambil menepuk-nepuk bahuku.
Pak David masih berdiri dengan bersandar di mejanya dan sedang menatapku dengan serius.
“Kowe iki piye toh Maaaas, Mas! Kan You audit jancoeg! Ngerti dong masalah SOP? Hah?! Eeees Oooo Peeeee, you ada moco nggak sampe ntek iku SOP haaaa?!” Pak David ngomel.
“Yang tidak diperkenankan pacaran satu kantor karena akan menimbulkan double insurance?” tebakku.
“DIA PACARAN DOOONG! Lo denger itu nggak Nu?! Dia udah ngaku! Kan dah bisa gue tebak!! Elaaaaah!” seru Pak Haryono heboh.
“Duh, saya belum sempat nyalain komputer...” gerutuku.
“Dispensasi waktu, sampe kita puas interogasi luuu!” seru Pak Haryono.
Aku diteriakin macam maling sendal jepit kepergok dan lagi diinterogasi pemuda Karang Taruna.
“Si Meli bukannya belum habis masa iddah ya?” tanya Pak Danu.
“Kan bisa sambil jalan, lu tau track record si Dimas,”
“Memang saya punya track record apa’an?”
“Playboy kelas kakap,” jawab ketiganya berbarengan.
“Sue’” gumamku kesal.
“iki wis level Salmon, la wong koyok Meli iso kesambet!”
“Dikira saya setan,” desisku
“Pake jurus apa lu Mas?” tanya Pak Haryono.
“Saya mau bikin ppt ini loh sebelum ke Bandung,” desisku.
“jadwal ppt saya tunda dulu, kamu cerita aja,” kata Pak Danu.
“Lah gimana sih Pak,”Omelku.
“You wis ketemu Pak Yan durung?” tanya Pak David. Pak Yan adalah panggilan untuk Pak Sebastian.
“Sudah Pak,”
“Respone piye?”
“Serem,”
“Ya iya lah, maksud kita bukan itu Bro...” dengus Pak Haryono.
“Ini mungkin sejak di Hambalang mereka sudah dekat,” kata Pak Danu.
“Oh, yang ke Bagaswirya itu ya. Ya wajar kalo gitu, pasti kan ada setan-setannya. Tidur aja harus berduaan, kalo nggak diganggu genderuwo,” kata Pak Haryono.
“Tapi Meli kan memang kenalan Bu Gandhes,”
“Hubungan Meli dan Gerald juga tidak begitu baik sih,”
“Saya lanjut-“
“NGGAK BISA! DUDUK DULU!”
“Halah...”
Setelah satu jam yang menyesakkan, karena semuanya takut sama Bu Melinda dan tahu kalau aku sudah pernah ketemu sama Pak Sebastian, akhirnya diputuskan hubungan ini bisa dilanjutkan dengan catatan Divisi Audit tidak di bawah kepemimpinan Bu Meilinda lagi, tapi berubah ke ranah Pak Danu. Juga, kami dilarang blak-balakan mengenai hubungan kami takutnya yang lain ikut-ikutan.
“Pokoknya Dave, kalau ada yang protes ‘itu Bu Meli dan Dimas bisa pacaran sekantor, kok kita nggak boleh?!’ Bilang aja...”
“Sana minta izin Pak Sebastian dulu!” seru semua serempak.
“Hemm...” desisku malas.
**
Dan akhirnya aku punmasuk lagi ke area manajemen dengan diiringi oleh...
“DIMAAAASSS!! Kemana aja kamu sejam nggak nongol?? Saya hampir lapor polisi siapa tahu kamu diculik!!” seru Toa dari ruangan di ujung sana.
Masih aja teriak-teriak padahal aku pacarnya. Namanya juga profesional ya bu. Tapi kenapa aku jadi tambah kesel ya.
Btw, aku kan memang barusan diculik loh... diculik HRD.
“ETOS KERJA DIMAAAS! ETOS KERJA!! NONGKRONG MELULU KERJANYA! CEPET BIKIN PRESENTASI!!”
“Bu...” aku menongolkan kepalaku ke dalam ruangannya, dia sedang duduk sambil mencorat-coret entah apa lagi yang akan ia koreksi, “Ibu kalo teriak-teriak gitu kayak supervisor di pabrik garmen. Minta dilempar gelas,”
“Gedung Jarvas yang jadi jaminan kita ada di setiabudi! Bukan yang di Kemang!! Ngetik aja sampe salah! Harga jualnya beda tauk!!” serunya tak mengindahkanku.
“Yang di Kemang bu,”
“Setiabudi!”
“Kemang buuuu,”
“Setiabudi! Saya maunya yang di Setiabudi! Nego sana ke Gerald!”
“Lah kok saya, itu kan kerjaan Marketing,” gerutuku.
“Saya nggak Ridho ya relasi saya diurusin Sarah!! Lebih baik saya cabut semua kreditnya, biar marketing nggak ada pencapaian! Awas kamu jangan dilimpahkan!”
Sementara Bu Sarah lagi ada di seberang sana, hanya lagi-lagi mencibir mendengar Bu Meilinda teriak-teriak menyebut namanya.
“Ya sudah nanti saya kontak si Fendi aja,”
“SANA KERJA!! KHUSUS KAMU JANGAN MAKAN SIANG KARENA MOLOR SEJAM!” Seru Bu Meilinda.
Aku pun memicingkan mata ke arah Pak Danu dan Pak Haryono yang lagi cengengesan di ujung sana. Gara-gara mereka aku nggak boleh makan siang kan! Mana Croissant udah kubagi-bagiin.
Untung masih ada nasi uduk bikinan ibuku di ransel.
Masih kudengar suara omelannya saat aku berjalan ke arah ruanganku sendiri, “Harus saya apakan sih kamu Maaaaas-Mas?!”
Dari sekian banyak wanita yang kukenal, hanya dia yang tidak tahu harus diapakan diriku ini. Coba tanya cewek lain.
**
Bagaimana sih keseharian Auditor dalam kondisi normal?
Aku mengenakan kacamataku dan membaca bantex temuan minggu lalu, kupelajari seluruh proposal yang masuk ke tempatku kata per kata, memeriksa ketentuan-ketentuannya, serta membandingkannya dengan kasus tahun lalu.
Setelah memeriksa kejanggalan aku membuat mitigasi awal.
Saat aku bekerja, biasanya orang akan menjauh karena sudah pasti aku tidak bisa diganggu, kecuali ada bencana alam, atau Ibuku tiba-tiba telepon, atau kalau Bu Meilinda berteriak ‘Dimas!! Ke ruangan saya sekarang!!!’ (tanda seru 3 kali).
Gitu.
Kalau tanda serunya hanya dua kali, aku cuek aja.
Siangnya setelah terlibat percekcokan lewat telepon dengan para cabang mengenai temuan-temuan, aku mendapat pesan singkat dari Arya.
“Mas, lo harus kerjasama dengan orang dalem dulu baru bisa tahu ip addressnya, Tapi kalo soal hape gue masih bisa usahain bikin situs pancingan. Kalo dia buka, gue bisa langsung retas, ” kata Arya.
Aku memang bertanya kemungkinan bisa meretas komputer atau laptop seseorang saat dia dalam keadaan offline.
“Yaudah hapenya dulu aja kita hack,” kataku.
“Enaknya bikin situs apa Mas biar si korban buka domain?” tanya Arya.
“Situs ngobrol sama cewek, tulis di sana kalo situs itu anggotanya cewek usia 18 sampai 25 tahunan,”
“wih...”
Siangnya, karena aku dilarang maksi, selesai Sholat Dzuhur tiba-tiba ada paket makan siang mewah dari restoran Chinesse yang terkenal wenakkk.
Sepaket makanan itu lumayan mahal untuk kantong karyawan biasa seperti kami. Dan aku mendapatkannya dari Bu Meilinda.
Wajar kalo kecurigaan mereka semakin besar.
Arya bergabung di ruanganku, men-comot ayam zaitunku di mix sama bekalnya dia. Lalu kami mendiskusikan permintaanku untuk melacak komputer seseorang.
Dia senantiasa mengajarkanku caranya.
Menjelang sore biasanya ruanganku dipenuhi dengan cewek-cewek dari divisi lain yang mengerubungi meja Gio, salah satu staff junior Audit.
Gio ini anaknya agak melambai, tapi otaknya cukup cerdas.
Teman Gio rata-rata wanita dan mereka terkadang berkumpul di ruangan Divisi Audit untuk bergosip. Pak Jaka dan Aku sudah mewanti-wanti Gio untuk tidak menyimpan file yang sifatnya rahasia di ruang terbuka.
Aku sih tidak terganggu saat mereka ’berdiskusi’, aku dikaruniai kelebihan untuk fokus ke satu objek kalau aku nawaetu.
Sampai pukul 17, wangi yang kukenal menyeruak masuk ruangan Divisi Audit.
“Kamu udah selesai, Dimas?” tanya Bu Meilinda. Aku mengernyit merasa aneh karena suaranya lembuuut banget. Kacamataku sampai melorot ke pangkal hidung saking kagetnya.
“Errr, sebentar lagi, Bu,” Aku melirik ke belahan dadanya yang bisa bikin panas dingin.
Tunggu, tadi pagi belahan itu nggak ada loh.
“Lanjut besok aja yah, kita siap-siap ke Bandung yuk?” Ia mengulurkan tangan dan menepis lembut rambut yang jatuh ke alisku.
Anjritt!
Kok jadi tegang yaa.
Seperti aku, seketika ruangan hening. Posisi Bu Meilinda membelakangi kerumunan cewek-cewek tapi sedetik kemudian aku bisa melihat dia melirik ke belakang.
Ah! Aku bisa membaca situasinya, rencana harus berjalan sempurna.
Aku melepas kacamataku dan tersenyum semanis mungkin.
Catat : Di kantor yang ini aku sangat jarang tersenyum.
Lalu perlahan melonggarkan dasiku dan membuka satu kancing diatas.
“Yuk, tapi sebelum masuk tol, kita ngopi dulu yah…” sahutku sambil melemparkan nametag ke laci, menyambar hoodie dan tasku, lalu meraih pinggang Bu Meilinda dan menggiringnya keluar ruangan.
Saat menunggu lift aku bisa merasakan panas di punggungku. Aku bisa merasakan secara insting, banyak sekali yang memperhatikan kami. Spontan aku meraih tas Bu Meilinda dan inisiatif membawakannya.
Sipp banget kan tindakanku, kurang romantis apa, coba?!
Sudah pasti bakalan gempar sih ini.