
Setelah Leon pergi, aku kembali menerawang.
Aku sudah berjanji tidak akan membuat Meilinda menangis.
Tapi tadi pagi ia kembali menangis.
Yah walaupun bukan gara-gara aku, tapi gara-gara sifat insecurenya kambuh. Tapi tetap saja aku serba salah.
Mau menghibur juga nggak bisa karena sebenarnya aku tidak memahami kekuatirannya.
Kentang goreng kembali menyerang mukaku.
"Apa sih maaasss?!" aku mulai jengkel.
"Jangan bengong," desisnya.
Aku menghela napas.
"Masih nggak mau ngomong?" tanya Mas Bram.
Aku mengacak-ngacak rambutku, rasanya aliran darah stuck di kepala.
"Aku ngomong sama Mas kayaknya nggak bakalan ngerti, karena aku sendiri bingung cara jelasinnya." sahutku.
Mas Bram mengangguk.
"Kira-kira siapa yang bisa dengerin kamu?"
"Yang jelas, harus sesama wanita yang mengerti Meilinda."
"Ooh... Masalah Meli." desis Mas Bram. Lalu ia duduk menyandar.
"Perlu kamu tahu, Le, Meli itu berbeda dengan wanita lain di sekitar kita. Wanita dengan usia lanjut seperti dia punya banyak permasalahan yang kompleks. Dan lagi karena staminanya sudah tidak bisa menyamai kita yang 10 tahun lebih muda, jadi dia lebih sering merasa tidak percaya diri," desis Mas Bram.
"Jadi yang ngerti dia cuma... Ibu?" tanyaku.
Mas Bram mengangkat bahunya. "Mungkin." jawabnya.
"...sekarang... Kamu." ia menunjukku.
"Aku?"
"Iya, kamu..."
"Aku kenapa?"
"Ya itu yang mau kutanya. Kamu kenapa?"
"Aku nggak kenapa-napa," tapi aku menghela napas dan extra garuk kepala lagi.
Salah shampoo kali, ya.
"Ck! Masih ngeles." desis Mas Bram. "Le, aku tuh tahu loh kalau kamu itu sebenarnya terima Meli apa adanya. Mau dia jadi tua duluan, kek, mau menopause, kek, Mau berkerut duluan, kek, Kamu dari awal juga sudah mengerti keadaan itu. Iya?"
"Hm..." aku menanggapinya dengan malas. Ketahuan Mas Bram, seperti biasa aku nggak bakalan bisa bohong ataupun menyembunyikan sesuatu di depannya.
Aku mencibir ke arahnya.
"Iya, Ini hanya... Kegalauan seorang suami," desisku. "Aku cuma ingin Meli nyaman dengan dirinya. Dia bakalan insecure masih selama 6 bulan kedepan. Dan dia menyinggung masalah anak, di depan Milady yang lagi hamil. Meilinda suka anak-anak. Kenyataan kalau dia nggak bisa memberikan kami keturunan sudah pasti akan menurunkan..." aku mengernyit, malas meneruskan kata-kataku.
"... Menurunkan?" Mas Bram menungguku bicara.
"... menurunkan..." aku meringis.
Masa sih Masku nggak tahu aku bakalan ngomong apa? Plis deh mas!!
"Apa ?" tanya Masku.
Aku menggerutu sendiri, dia beneran nggak tahu.
"Menurunkan nafsu bercinta." Suara wanita di belakangku.
Astaga...
Nyi Blorong akhirnya dateng.
"Ngomong gitu aja susah banget, sih... Bikin kesal aja deh!"
Aku menoleh ke belakang, ke arah Selena yang nyinyir dan memandangku dengan masam.
"Ngapain sih lo di sini? Senin kan kita ketemu lagi, nggak usah ganggu weekend gue dong," gerutuku.
"Ya jangan ganggu calon suami saya pas weekend, dong! Tau nggak sih ini waktunya liburan pasangan! Situ malah kayak bujangan ke mall nggak sama istri!" omelnya.
"Mas, speakernya dikecilin dong! Berisik banget!" keluhku.
Selena mencubit pipiku.
"Dirut plin plan!" ejeknya.
"Dirkep Gada Akhlak!" balasku.
“Pak Dimas rese ih,”
“Nyai jangan berisik dong!”
Mas Bram terkekeh, “Kalau nanti meeting gini nih kelakuan kalian, saling hina, hehe,”
Selena duduk dipangkuan Bram, menyingkirkan mata nyalang cewek-cewek di sekitar kami dengan tindakannya yang mengancam. Mengklaim areanya kayak kucing garong lagi nge-critt tembok rumah. Nyebar-nyebar feromon. Bedanya yang ini wanita... atau betina? Nyi Blorong tuh bentuknya ular loh.
Halah...
"Pangku-pangkuan di retoran fastfood bisa viral loooooh," ujarku.
Selena menjulurkan lidahnya mengejekku.
"Jadi... Ada yang ketagihan malam pertama yah Pak Dimas?" ejek Selena.
"Mungkin untuk wanita itu bukan hal utama, tapi buat pria itu hal penting. Masalah seksual bisa bikin perang dunia dalam rumah tangga."
"Tinggal tunggu Mbak Meli Baper, teruus dirimu dicuekin. Ya Ampuun, seneng banget lah saya ini!"
"Kenapa lo harus tahu yang begituan sih?!" aku menyalahkan feeling Selena yang kuat terhadap diriku.
"Saya juga nggak bangga punya feeling terhadap dirimu Pak, mengganggu tahu nggak?!" gerutunya.
"Kalian ini ngomongin apa sih, kok aku nggak ngeh," ujar Mas Bram.
Lalu dia menggendong Selena, meletakkannya di kursi di sampingnya bagaikan mengangkat tisu, lalu mencondongkan tubuhnya ke arahku.
"Ngene wae, Le. Yakinkan Meli kalau kamu akan tetap ada untuknya. Menopause bukan akhir segalanya. Banyak jalan untuk mendapat keturunan, banyak juga yang sampai akhir tidak memiliki anak namun tetap bahagia. Atau malah kamu yang..."
"Aku nggak masalah. Tapi tampaknya Meli nggak percaya kalau itu bukan masalah untukku." potongku.
"Wah, bakalan uring-uringan sampai berbulan-bulan dia." desis Selena.
Aku meliriknya sambil mengernyit.
Itu dia yang dari tadi aku pikirkan.
Aku agak malas menghadapi Meli yang lagi uring-uringan. Karena bisa serba salah.
"Lo tuh bisa baca pikiran gue yah?!" aku waspada.
"Pikiran dirimu nggak sulit ditebak." sahutnya.
"Pikiran Dimas lumayan belibet kok... Hebat juga kamu." sindir Masku ke Selena.
Selena menatap Masku dengan alis terangkat.
Mereka saling memandang.
Tapi auranya langsung pada gelap.
Cih, mulai deh saling cemburu...
"Pulang duluan yah. Aku naik ojek online aja. Jangan pada berantem," sahutku sambil beranjak.
**
Aku memutuskan untuk kembali ke kamar dan mencari-cari laporan kandungan yang tadi pagi diberikan padaku.
Lab di sebuah RS Ibu dan Anak. Lalu berniat membawa kertas itu ke rumah sakit untuk konsultasi mandiri, selagi Meilinda nggak ada di rumah karena ada acara arisan berlian sama Milady di luar.
Baru saja aku keluar kamar mau ke garasi mobil, aku hampir saja bertabrakan dengan Pak Sebastian yang juga lagi fokus ke ponselnya.
"Ceile Mas hati-hati, dong! Aku buru-buru nih!" omelku.
Dia memandangku dengan alis terangkat.
Aku tidak mengindahkannya dan langsung turun ke basement, tapi sebuah cengkeraman menahan tengkukku.
Duh...
Lagi-lagi cengkeraman totok aliran darah!
"Lama-lama kamu makin kurang ajar ya..." gerutunya dengan bibir ditipiskan, mungkin dia gemas padaku.
"Sama kakak sendiri, nggak ada jaim-jaiman, doooong," desisku.
Lalu aku menatapnya. Mungkin dia bisa... "Mas Yan habis ini mau kemana?"
"Ke kantor."
"Hari Minggu?"
"Nggak ada hari libur untuk saya."
“Pantes Pak Arman selalu terlihat tertekan,” gumamku pelan.
“Apa?”
"Nggaaaak, nggak papa. Hm... Mau temenin aku?" tawarku cepat.
"Kemana?"
Aku mengangkat laporan kandungan. Ia membaca isinya.
Lalu menghela napas.
"Kenapa kamu mau ke rumah sakit? Kan hasilnya sudah jelas, dia sudah menopause," sahut Pak Sebastian. Lalu pandangannya menyelidikiku. "Atau kamu berpikir masih ada harapan siapa tahu bisa diobati? nggak terima akan hasilnya?!"
"Bukan itu. Aku mau konsultasi mandiri. Cara menghadapi mood wanita menopause yang labil," dengusku. "Dia lagi sensitif banget gara-gara hasil tes ini, bisa-bisa tiap hari nangis. Aku mau tanya perlu ada resep obat penenang atau gimana?!"
"Hm..." Pak Sebastian melepaskan cengkeramannya. "Ya sudah, saya temani." sahutnya sambil mendahuluiku ke garasi di basement.
“Mas, kita naik Jazz Milady lagi? ”
“Ya sekarang naik mobil beneran dooong,” serunya dari kejauhan. Dia bisa dihujat rakyat Indonesia habis ini, karena menganggap Jazz itu bukan mobil tapi mainan.
**
Sepanjang perjalanan aku mempelajari laporan hasil lab dan mencari maknanya lewat mbah gugel.
Feelingku mengatakan ada yang salah, namun aku belum menemukan entah apa.
Setelah beberapa saat, aku memperhatikan jalanan di depanku.
Lalu mengangkat kepalaku dan melirik ke Kakak iparku.
Pak Sebastian sedang menyetir, dengan cerutu di bibirnya, dan tangan satunya disandarkan ke tepian jendela.
Nyetir Lamborghini Aventador LP 720-4.
Di Indonesia, hanya 12 orang yang memiliki mobil ini. Dan kata doi, harganya murah hanya belasan milyar.
Jiah!! Duit makan 1 kelurahan selama 1 tahun sehari makan 3 kali sama snack mewah.
Dan aku baru sadar kalau... kenapa aku duduk di sebelahnya, di kursi penumpang?!
Mungkin seumur hidupnya, hanya ada beberapa orang yang menjadikan dia supir pribadi.
Pak Hans, Milady, dan kini... aku.
Waw...
Sepertinya benar katanya, lama-lama aku semakin kurang ajar padanya.
"Apa?" sepertinya dia sadar kalau sedang kuperhatikan.
"Makasih sudah nganterin, sayang..." sahutku berlagak mesra.
Dia mendecak.
Lalu diam lagi.
Kenapa ya dia mau nganterin aku?
Sampai sekarang aku masih beranggapan kalau ia sangat menyayangi Meilinda, jadi dia juga care sama aku.
Positif thinking aja yah.
Walaupun nggak yakin juga sih aku.
Aku kembali mengamati hasil laporan, dan sampailah di lembar ketiga.
"Mas... Perasaan golongan darahnya Meli kan O yah?" tanyaku.
"Iya."
"Di sini tulisannya A... Atau memang dulu nggak di tes, langsung dianggap O aja karena orang tua sama-sama O?"
"Ayah dan Saya B. Setahu saya, Mama saya juga B. Bisa jadi B ketemu B jadinya O. Tapi nggak mungkin jadi A!" sahutnya.
"Hah?" dengusku.
"Kamu nggak salah liat?" Pak Sebastian merebut kertas hasil lab dari tanganku. Astaga ini orang, dia lagi nyetir loh ini.
"Apa... Meilinda sebenarnya bukan anak Pak Ha-"
"Hoi, Boyo! Ini bukan nama Meli! di sini tulisannya Melinda Bagaskara, bukan Meilinda. Gimana Sih!" serunya sambil melempar kertas itu ke mukaku.
Idih... Sadis euy!
Akhirnya,
Setelah mencegah mati-matian agar amukan Pak Sebastian tidak menimbulkan kegemparan sosial di rumah sakit, (nggak, nggak kucium kayak waktu Meilinda dulu, cuma kuancem aja laporin ke mama-nya di Turki, biar Pak Sebastian diomelin, eh dia nurut jadi nahan emosi. Sempat ngamuk tapi nggak lama.) Masalahnya ini bukan rumah sakit miliknya, dan lagi kasian sama petugas Lab nya yang udah pucat nunduk sambil nangis gara-gara diomelin kasih hasil Lab yang salah, kami pulang ke rumah dengan hati lega.
Kenapa lega?
Karena Meilinda belum Menopause.
Menurut hasil darah, estimasi hormonal mengalami gejala kira-kira dua tahun lagi, ia masih punya indung telur.
Aku lega bukan karena akhirnya Meilinda kemungkinan bisa hamil ! Tapi lebih ke karena nggak jadi diserang sama misuh-misuh badmoodnya. Sip! Nanti malam bisa praktekin gaya baru.
"Berenti dulu di situ, Boss," sahutku.
"Hah?! Kamu nyuruh saya berhenti dipikir saya driver kamu?!"
"Udah berenti aja dulu, ah, bawel! Nanti kubikinin nastar!"
"Eh, dasar..."
Aku nggak denger lagi dia ngomong apa, pokoknya mobil berhenti di bahu jalan, aku langsung keluar.
Ke toko bunga.
Kasihan Meilinda udah sedih seharian. Sekali-kali lah kukasih hampers.