Office Hour

Office Hour
Creambath pake siput



Lampu merah berhenti sekitar 60 detik, kami menghabiskan waktu dengan berciuman. Bodo amat ditonton mobil depan belakang.


"Pak Sebastian di mana?" tanyaku sambil meremas dadanya. Ia mende sah.


"Kayaknya kakak di penthouse." GumamanMeilinda terdengar sangat seksi di telingaku.


"Trevor?" tanyaku lagi


"Di Jepang."


"Hm..."


Lampu kuning. Aku menghentikan aktivitasku.


Lampu hijau. Aku menyetir setengah mengebut ke Istana Dharmawangsa.


Sampai di rumahnya, parkir mobil di basement, dan berlagak bersikap normal kepada orang-orang yang kami temui.


Mamang kebun lagi nonton tv sambil pegang ponsel dan ngopi di ruang keluarga. Meilinda mengecup dahi ayahnya, aku salim.


"Selamat ulang tahun sayang..." ujar Mamang ke Meilinda.


"Makasih Ayah,"


"Dirayainnya akhir minggu saja ya?"


"Tidak usah dirayakan, sekalian saja dengan resepsi." balasku


Mamang melirikku.


Aku menyeringai lalu menyerahkan tas kecil serut warna hitam padanya, bonus transaksi golok dari Bang Sa'ad, aku pakai buat sogokan biar boleh bertamu sampai malam di rumahnya.


"Apa ini Mas?" ia membuka serutnya. "Waah... Ini sungai dareh bukan?! Buaggus bener ini!! Saya belum punya!" ia tampak senang dan mengagumi cincin batu akiknya.


"Dudukannya dari palladium yah Mang, jadi nggak berkarat," kataku. Sebenarnya waktu disuruh milih bonus batu akik sama Bang Sa'ad, aku nggak tahu mau pilih yang mana. aku nggak terlalu mendalami dunia operakikan jadi aku pilih yang warnanya hijau terang biar matching sama warna taman kebanggaannya.


"Waduuuuh, Terima kasih loh Mas! Batu jenis ini disukai kalangan atas seperti Pak Susilo Bambang Yudhoyono dan Mantan Presiden Barack Obama juga pernah terlihat mengenakan batu jenis ini!" jelasnya ke Meilinda. Ia langsung mengenakannya di jari tengahnya. "Pas!" serunya senang.


"Kamu ini memang bisa banget ngambil hati saya. Ckckckck! Sudah sana, tapi jangan kemalaman, belum sah!"


Tahu saja si Mamang kalo kita buru-buru.


Meilinda menyambar bibirku langsung setelah mengunci pintu kamar. Aku membuka jaketku sambil tetap menempelkan bibirku padanya. Lalu kaosku, celanaku, dan pakaian yang tersisa lainnya.


Dan pada akhirnya kami tanpa sehelai benang pun, berbaring di tempat tidur Meli, saling membelai semuanya dengan tangan dan mulut kami, sampai menjelang tengah malam kami mengalami beberapa pelepasan dan ketiduran karena kecapekan.


*****


Esoknya, cuaca cerah, panas, dan mengundang orang untuk leha-leha di kantin, kabur dari meeting yang ngejelimet.


Aku melihat Gunawan Ambrose dan koleganya melewati ruangan internal didampingi Pak Stephen dan Bu Sarah. Ia tampak lebih tua daripada yang aku ingat dan wajahnya terlihat lelah.


Mereka masuk ke ruangan Pak Danu.


Aku bertanya-tanya apakah Pak Sebastian dan Meilinda tahu kalau Gunawan hari ini datang ke kantor.


Namun bagaimanapun ini belum jadi urusanku.


Aku tidak termasuk ke dalam manajemen pemberi keputusan, jadi aku tidak sepantasnya menginterupsi porsi mereka, walaupun calon istriku memiliki saham di sini. Aku juga tidak ingin dianggap menjadi tukang ikut campur kerjaan orang.


Tapi aku penasaran.


Kali ini aku bertekad tidak akan bertindak ceroboh, slow aja dan menunggu kesempatan datang sendiri padaku.


"Pak Boss!" Daniel menghampiri mejaku. Jengah kali aku dipanggil 'Boss'.


"Aamiin," sahutku.


Daniel terkekeh.


"Coffee break yuk... Laper."


"Coffe break itu ngemil, cuy. Bukan makan! Pasti lo mau beli indomie kornet, kan?!"


"Itu ngemil bagi gue,"


"Ayo lah. Mana si Selena? buat jagain kandang-"


Dan Nyi Blorong memasuki ruangan kami sambil misuh-misuh.


"Luar biasa fans Pak Dimas! Mereka melempari saya pake telor!! Untung nggak kena rambut, ini baru saja saya creambath pake ekstrak siput, kalo sampe kena, dirimu yang ganti biaya salon saya! " serunya sebal. Aku bisa melihat pecahan telur di pakaiannya.


"Sini, ikut saya bantuin ngelap telor!" Selena menggeretku ke ruangan Meilinda.


Pemilik ruangan lagi nggak ada, lagi meeting di Bank Indonesia baru balik lagi setelah makan siang, jadi kami beranjak ke arah lemari pakaiannya.


Ada lemari pakaian di ruangan Direktur. Juga kamar mandi di dalam pakai bathtub, mungkin suatu saat akan kupakai untuk mesra-mesraan sama Meli.


Memang kalau wanita, onderdilnya banyak yah, ruangan kantor udah dianggap seperti rumah kedua.


Aku membantu Selena melepas pakaian dengan sebisa mungkin tidak mengenai rambutnya, sementara kedua tangannya mati-matian melindungi rambutnya.


"Ada cerita apa sampai lo yang dilemparin telor?" tanyaku.


"Heh, kadal buduk! Masa nggak tau kalo kita itu setiap hari digosipin ada affair?! Dirimu itu dicap harem, kata orang-orang selagi menyandang status sebagai calon suami Mbak Meli dengan tujuan mengeruk harta Bataragunadi, pacar Pak Dimas yang sebenarnya adalah... Saya."


Aku diam.


Ih, geli...


"Masa, sih?!" seruku agak emosi. Seketika aku merasa pasaranku turun drastis.


"Makanya, main-main ke ruangan marketing!"


"Ogah, ntar ketemu Sarah. Nah lo ngapain ke ruangan marketing?"


Selena melotot sambil mengetuk dahiku. Dadanya yang besar di balik branya terguncang-guncang.


"Yang ngasih saya kerjaan untuk periksa semua transaksi Marketing Pendanaan siapaaaaaaaaaaa yaaaaaaahhhh???" ketusnya.


"Iyaaa iyaaaa," gerutuku lagi. Selena melepas rok pensilnya.


Aku paling malas ke bagian marketing, saat ada kepentingan 'kangen' sama Fendi pun aku panggil dia ke ruangan audit, atau ketemuan di tempat gym.


"Astaga, telurnya tembus!!" Pekik Selena sambil menatap branya. "Pantesan baunya masih amis! iyuuuhhh!!"


"Lo yakin itu amis? Nggak anyir?" godaku.


"Nggak pingin becanda, i hate you." dengusnya sambil melepaskan branya.


"Jadi, rupanya ada yang kasih tau ke fans dirimu kalau saya adalah Mbak Meli, jadi telurnya salah sasaran! Ini juga gara-gara sebaran undangan nikah dirimu, mereka jadi lebih beringas!" tambahnya mengomel sambil membuka lemari Meilinda dan mulai memilih baju.


"Len... Lo ngitemin kulit yah?" tanyaku.


"Tanning maksud Pak Dimas? Iya. Soalnya bercak putih di pundak saya banyak juga. Sekalian bikini wax..." ia menggeser potongan segitiga di antara pahanya, memperlihatkan hasil waxingnya.


Aku menaikkan alisku mengagumi hasilnya.


Lalu mengutak atik ponselku. "Lumayan mahal yah?" tanyaku.


Selena mengangkat bahu. "Nggak juga, sih. Paket sama creambath sekitar 2jutaan."


Dua jutaan dia bilang nggak mahal. Sue bener.


Lalu aku memasukannya ke notes di ponselku, estimasi biaya perawatan bulanan Meilinda, belum termasuk skincare. Untuk persiapan nafkah saat nanti jadi suami.


Cklekk!!


Kami menoleh karena pintu ruangan Meilinda dibuka dari luar.


Andrew muncul dari baliknya sambil menenteng map plastik. Selena langsung sembunyi di belakangku.


Aku sih tahu yang dia bawa adalah laporan hasil investigasi untuk divisi kepatuhan yang butuh ditandatangani Meli, wajar kalau ia masuk ruangan untuk menaruh map itu di meja Meilinda.


Tapi timingnya itu... Pas banget.


Ia hanya menatap Selena yang telanjang hanya pakai panty tipis dari kepala ke ujung kakinya. Wajahnya masih sedingin kemarin-kemarin. Lalu menatapku dengan sinis, lebih angker daripada wajah Pak Sebastian.


"Nggak usah salah paham. Gue cuma nemenin dia ganti baju." sahutku ke Andrew.


Dia mendengus, mungkin nggak percaya pada konfirmasiku, meletakkan map plastik di atas meja Meilinda, lalu keluar tanpa bicara apa pun.


Aku menghela napas.


Lalu menatap Selena dengan kesal.


"Cepetan sana ganti baju, sebelum kamtib juga ikutan ngedobrak ruangan!" sahutku ke Selena.


*****