Office Hour

Office Hour
eps 56



Saat Selena dan Dimas berdampingan berdiskusi membahas sesuatu, orang-orang sampai rela memanjangkan leher demi bisa melihat keserasian mereka, kalau diumpamakan, sosok keduanya bagaikan dewa dewi di lukisan klasik. Padahal yang sedang dibicarakan tidak terlalu penting seperti obrolan absurd berikut ini :


"Seharusnya operasional nggak masalah lah sedikit ribet nyediain data toh nanti kalau ada masalah kan auditor yang hadapin OJK. Ya harusnya kita dibantu dengan data. Masa maunya enak sendiri sih? Mana kita dianggap penghalang pula." keluh Dimas saat ia membicarakan protes dari Pak Haryono saat meeting unit, sejam yang lalu, di depan para shareholders.


"Ya pak saya mengerti. Hubungan kita dengan unit lain itu seperti gaya missionaris kan?"


Dimas menatap Selena sambil mengerutkan kening.


"Gaya missionaris?" ia tak mengerti. Selena mengangguk.


"Ceweknya di bawah cuma modal berbaring dan buka paha soalnya kan kalau dimasukin sakit jadi ada baiknya dia nggak bekerja terlalu keras, yang cowok di atas yang bergerak karena kan dia yang akan merasa enak." wajah Selena masih tanpa ekspresi.


"Oh..." Dimas tampak berpikir keras. "Gue pikir lo ngomongin perang."


"Pak?"


"Ya"


"Masih per..."


"Diem!"


"..ja..."


"Diem!"


"...ka...yah?"


“Bisa nggak sih lo tuh kalo ngomong yang lebih berbobot gitu loh Leeeen, tampang lo cakeeeep kayak model catwalk didempulin, tapi mulut lo mesum melulu!” Dimas berujar sambil merapatkan bibirnya. Selena menarik napas.


"Wah, hebat juga." dan masih tanpa ekspresi. Ia cuek dengan nasihat dari Dimas barusan.


"Gue udah tahu lo nyebelin, tapi makin hari makin bikin kesel aja," desis Dimas.


"Sebenarnya sih tidak perlu malu dengan keadaan seperti itu Pak, namun Bapak perlu berhati-hati karena akan menjadi mangsa empuk wanita single yang h0rny apabila sampai ada yang mengetahui keadaan bapak," Selena membetulkan letak kacamatanya.


"Kalau ada yang nyerang gue, lo yang bakalan bertanggung jawab."


"Menuduh tanpa tahu kepastiannya bisa dimasukan kategori fitnah pak."


"Menyebarkan informasi pribadi yang bisa membuat keresahan massal bisa dikategorikan perbuatan tidak menyenangkan, Len,"


“Ohiya, saya ini jenis wanita yang tidak mudah puas, terus terang saja tapi nggak usah ngomong-ngomong yang lain,  saya ini jarang Org4sme. Makanya ada rasa yang belum tersampaikan jadi mulut saya kotor terus,”


“Gue tau penyebabnya,”


“Apa?”


“Punya lo udah melar,” Dan Dimas kabur dari sana. Selena sempat melemparnya dengan sepatu, tapi sayang sepatunya malah nangkring di meja Daniel.


Dan seterusnya....


Tampaknya Dimas mendapatkan lawan yang seimbang dalam berdebat.


Dan saat ini Bram sengaja datang ke Kantor Dimas selain dia memang ada pekerjaan di dekat sini, ia juga ingin memeriksa keadaan Selena.


Kali ini Selena memang tidak mengindahkannya, namun sebenarnya dada wanita itu bergemuruh.


Ia sangat merindukan Bram.


Namun rasa gengsi menyelimutinya.


Ia sebenarnya merasa sangat menyesal kenapa Bram harus memergokinya dalam keadaan yang tidak pantas.


Saat itu dipikirannya akan memberikan reward kepada teman-temannya yang sudah membantunya dalam persoalan somasi pembebasan lahan.


Namun ia malah melakukan pesta itu dikantornya, karena hotel yang ia tempati baru saja ada penggerebekan razia pasangan mesum. Ia mengira semua orang sudah pulang, namun ternyata Bram masih disana.


Dari semua orang di Garnet Grup kenapa harus Bram yang memergokinya.


Saat ini, Bram hanya menatapnya dalam diam, namun pandangan pria itu hangat seakan lega bahwa Selena baik-baik saja.


Kalau saja sejak awal ia tahu Dimas adalah adik Bram, ia akan menolak posisi ini. Bukan karena ia kesulitan dengan tingkah Dimas, namun karena ia akan sering ketemu Bram lagi.


Sejak saat itu Selena menghentikan aktivitas pergumulannya, dengan siapapun, karena traumatis yang mendalam. Orang yang ia harapkan akan menjadi pasangan cintanya malah jadi menatapnya dengan pandangan menyedihkan.


Lima tahun ia bekerja bersama Bram, boleh dibilang lebih sering bertemu Bram dibandingkan orang tuanya, namun semua berakhir dengan memalukan.


Dan kini, kenapa malah sosok itu datang lagi, dan sialnya, sedang menatapnya bekerja sepanjang malam.


**


Bram memperhatikan Selena dengan sudut matanya, tubuh Selena terlihat lebih berisi dan kulitnya lebih cerah. Jauh lebih cantik dari saat terakhir mereka bertemu.


Mungkin Selena lebih bahagia bekerja di sini, pikir Bram.


Yang Bram tidak tahu bahwa selama bekerja dengannya Selena berusaha membentuk tubuhnya supaya lebih anggun dan serasi dengan Bram yang maskulin. Sosok Bram yang tingginya 190cm dengan keadaan otot perut yang indah membuat siapapun yang menghadapinya gentar, termasuk Pak Sebastian dan Trevor.


Mungkin memang Bram memiliki fans yang lebih sedikit dari Trevor karena Bram introvert dan kalem, namun sikap misteriusnya yang mampu menenangkan hati membuat orang mendekatinya.


Ia juga pandai berdiplomasi dan seorang ahli siasat, sehingga klien ataupun masyarakat yang terlibat dengan proyek menjadi lebih tenang dengan penawaran kontrak.


Kini, setelah bekerja di kantor Dimas, Selena merasa ia sudah tidak perlu lagi bersusah payah diet ketat dan skincare mahal, toh di sini tidak ada yang menarik hatinya. Jadilah ia menjadi dirinya sendiri, lebih santai, lebih lepas dan lebih...


"Pak Dimas, tolong lebih teliti lagi untuk hal pengetikan, kalau typo begini kan yang baca jadi berprasangka buruk dengan divisi kita. Jangan bilang itu kerjaan saya ya! Pokoknya kalau ada apa-apa semua salah Pak Dimas!" omel Selena.


...lebih bebas mengekspresikan diri tanpa kuatir jaga image.


"Siap Bu Boss, silakan duet dengan Meeilinda di pojok sana. Presentasi sudah dikirim ke anda, tolong direview ketikannya ya...Diriku mau udut dulu di balkon." sahut Dimas sambil menyeringai puas.


"Syaa udah bilang itu bukan kerjaan sayaaa!"


Selena menatapnya dengan jengkel saat pria itu melepas kacamata dan dasinya, lalu menarik Bram keluar ruangan.


"Apaaaa? Gue nggak denger woooy!" seru Dimas sambil ngacir.


**


Dimas menawari Bram rokoknya. Mereka berbagi api dari ujung batang.


"Mas, ada hubungan apa sama Selena?" Dimas tidak suka basa basi.


"Dulu anak buahku." jawab Bram sambil menatap dunia malam Jakarta dari atas balkon. Asap rokok mereka bergerak perlahan menari anggun menghilang di langit malam. Tidak ada angin malam ini namun udara terasa sejuk.


"Kalo itu mah Syarif juga tau! Maksudnya pernah ada skandal atau hubungan pribadi yang aku nggak tau?"


"Hubungan pribadi?" Bram menatap Dimas dengan mata sayunya, berusaha mencari tahu apa yang dipikirkan Dimas.


"Memang apa yang membuat kamu menyimpulkan hal seperti itu?" tanya Bram.


"Dia gemeteran ngeliat kamu, Mas. Aku bisa ngeliat dia berapa kali ngeliatin kamu. Tapi mukanya sedih,"


"Terus dia jadi lebih sadis Mas, semua diprotes," Dimas menyeringai. "Aku berasa kerja sama kumpulan Macan Betina. Yang satu untung udah pulang,"


Bram mengubah posisi berdirinya menjadi menatap Dimas.


"Kamu ada yang mau diomongin sama aku?" Bram balik bertanya.


Dimas tahu Bram menuntut penjelasan.


Dimas tampak berpikir. Lalu menatap kakaknya seperti anak meminta restu dari bapaknya. "Kayaknya aku akan serius sama Meilinda."


“Usianya 14 tahun diatas kamu, sudah dipikirkan resikonya?”


Dimas mengangkat bahu. “Risiko wanita 44 tahun... Apa ya? Sudah tidak bisa melayani suami dengan maksimal, gampang capek, emosi labil, kehamilan penuh risiko, menopause, sakit tua, meninggal duluan, apa lagi? Kayaknya aku bisa menerima semua itu kalau sama dia,”


“Itu kan setelah menikah. Yang aku tanya, kesiapan kamu untuk menikah,”


Dimas menghela napas.


Bram mengangguk mengerti.


“Jangan bilang iya kalau belum siap, nanti kamu yang kewalahan. Stress dalam berumah tangga itu tidak bisa diremehkan, Mas. Bisa berpengaruh ke kondisi fisik. Walaupun kamu cinta tapi kalau kamu tertekan hasilnya sama saja nol," Bram menatap ke langit berbintang.


“Yang perlu diwaspadai adalah emosinya, Le. Dia berasal dari keluarga yang kaya raya, sedangkan kita hanya rakyat kebanyakan. Apa dia mau mengikuti suaminya? Menerima segala kesederhanaan kita? Ikut ke gubuk kita? Menerima sifat kamu yang kadang kekanak-kanakan?” tanya Bram.


Dimas mengangguk mengerti. “Nanti aku tanya,”


“Kamu masih bisa dapat yang lebih muda, yang selevel dengan kita,"


“Iya aku tahu. Gampang kok dapatnya,” sahut Dimas. Lalu ia tersenyum ke Bram, “Tapi mas, kalo dibalik, banyak nggak yang seperti Bu Meilinda?”


Bram hanya terkekeh.


"Kalau udah siap, ngomong yah," sahut Bram sambil mengangguk memaklumi. "Jalani pelan-pelan. Nggak usah dengerin kanan kiri. Yang penting nurani kamu,"


"Terus, bagaimana yang itu?” goda Dimas.


"Yang itu apa?"


Dimas menunjuk ke dalam ruangan Audit dengan dagunya. Maksudnya adalah sosok Selena.


Bram terkekeh lagi. "Aku kenal dia udah lama. Sudah tahu enak dan nggak enaknya. Dari waktu masih naif sampai jadi...Macan, dan aku udah anggap dia-"


"Nggak usah ngeles ke aku mas, " potong Dimas sambil meniupkan asap rokoknya ke udara. "Dari dulu walaupun mas sering ada kerjaan di sekitar sini mana ada inisiatif mau jemput aku. Kesini mau liat Selena kan? ngaku aja!"


"Iya ngaku kok, takutnya ada bekas gigitan kamu,"


"Ngaco! Bisa-bisa digantung di monas aku sama kreji rit Dharmawangsa!" kekeh Dimas.


**


"Pak Dimas, saya boleh pulang duluan? Presentasi sudah saya review, laporan temuan juga sudah saya jilid," sahut Selena saat Dimas dan Bram masuk lagi ke ruangan.


"Kamu mau bareng saya, Len? Kita kan searah sama apartemen kamu," tawar Bram.


Dimas otomatis menoleh ke kakaknya itu.


"Eh..." Selena menatap Bram dengan, lebih ke takut sih daripada dibilang kaget.


"Saya pikir juga saya butuh dengar penjelasan lain tentang kepindahan kamu," Bram merendahkan suaranya.


"Em. Saya pikir saya sudah bilang semua alasannya ke Pak Bram," desis Selena merasa waspada.


Dimas menatap bergantian antara Selena dan Bram.


Gimana sih masku ini, terus aku pulang naik KRL lagi?! Udah seneng dikira mau dingin-dinginan naek mobil... sungut Dimas.


Tapi di lain pihak, ia juga mengerti dengan keadaan yang dilalui Masnya dan Selena.


Ngalah lah, kurang baik apa aku coba?! Pikir Dimas kemudian.


"Selena, pulanglah bareng Mas Bram, gue mau siap-siap buat meeting besok. Rencananya mau nginap dikantor."


Lagi-lagi sama Syarif, omel Dimas dalam hati.


Selena menatap Dimas dengan matanya yang membesar, menuntut penjelasan. Bram melirik Dimas.


Wah, adiknya ini ternyata juga pengertian.


Akhirnya Selena mengikuti Bram ke arah parkiran mobil.


Bram membukakan pintu mobil untuk Selena, wanita itu masuk tanpa ragu dan duduk tenang di kursi penumpang.


Sepanjang perjalanan terasa sunyi.


"Mau bicara apa pak? Saya baik-baik saja kok di kantornya Pak Dimas," tembak Selena langsung. Tampak kalau ia berusaha keras menyembunyikan perasaan bergemuruhnya.


"Iya saya bisa melihatnya. Terimakasih ya sudah bekerja dengan baik untuk adik saya. Yang sabar menghadapi Dimas. Kalo keburu-buru kamu capek sendiri nanti," sahut Bram.


Selena menghela napas.


"Pak Dimas itu aneh..."


"Gimana?"


"Kerja sama dia kayak kerja di area gunung berapi. Setiap saat was-was akan meledak."


Bram tertawa pelan mendengar penjelasan Selena.


Wanita itu melanjutkan ceritanya.


"Saya diwanti-wanti Pak Yan untuk tidak umbar soal hubungan Pak Dimas dengan Bu Meilinda, eh berdua malah mesra-mesraan di kantor kayak udah bikin pengumuman. Gimana saya mau jaga rahasianya," keluhnya, tapi menceritakan keadaan itu dengan tersenyum. "Pak Dimas itu pinter banget memang, dia udah bisa dikategorikan pakar. Tapi sifatnya yang suka santai-santai itu yang bikin saya risih,"


"Kalau begitu, kamu tepat dong pindah ke sana, kamu bisa melengkapi yang Dimas nggak punya. Kerapihan." Sahut Bram.


"Ya, mudah-mudahan saya banyak berguna untuknya. Saya juga..." Selena menunduk. "...sudah banyak belajar dari Pak Bram. Jadi saya mudah-mudahan tidak akan mengulangi kesalahan yang sama," Suaranya terdengar bergetar.


Bram menghela napas.


Mereka menyusuri Jakarta di malam hari dengan tenang, akhirnya sampai ke apartemen Selena di dekat area strategis.


"Selena..." dipanggil namanya dengan suara ngebass Bram, membuat kuduknya meremang.


"Lusa, hari Sabtu, kamu ada acara?"


"Ada pak, maskeran." sahut Selena.


Bram terkekeh.


"Saya rencananya mau ngajak kamu ngopi. Boleh?"