
Jadilah hari itu akhirnya kami akhirnya putar balik ke Purwokerto dan berencana bermalam di Aston, dengan Aki Tirem sebagai driver.
Cara nyetirnya...
Bedeuh udah kayak pilot pesawat. Salip sana sini nggak ada lawan serasa kita terbang. Tanpa goncangan.
"Kemesraan iniiiiiii... Jaaanganlah cepat berlaaaaluuuu...!!" seru Aki
Dia nyanyi, loh...
"Gue malah pingin cepetan berlalu. Dia kalo siang, ilang nggak?" bisik Daniel ke aku.
"Loh Mas Daniel, jangan salah sangka." sahut Aki.
Daniel langsung beringsut ke bangku paling belakang di dekat Fendi dan berlindung di balik bantal. "Dia tahu nama gue!" serunya.
"Ya tahu dong. Kami kan dari awal perjalanan, ada di sini. Pasti kami mengamati pembicaraan, hanya tidak bisa terlihat saja karena tidak satu frekuensi dan Tidak dapat izin memperlihatkan diri." sahut Aki
"Jadi kalo siang tetap ada dong Broki?" tanyaku.
Posisi duduk kami di dalam mobil berubah. Di depan ada Aki yang menyetir dan Leon yang sedang mengelap senjata, di tengah ada aku dan Andrew, dia duduk bertopang sambil memijat dahinya seakan dia lagi banyak pikiran. Dan di belakang ada Daniel yang memeluk bantal dengan posesif. Terakhir Fendi yang lagi menstyling rambutnya dengan pomade.
Sempet-sempetnya dia dandan di suasana begini.
Eh, dia poles-poles lipbalm segala. Mau ketemu siapa yak?!
"Ada dong... nggak siang nggak malam. Kami kan sebangsa jin, punya aktifitas juga lah." sahutnya.
Leon mengunci senjatanya dan lanjut memeriksa senjata yang lain.
"Jadi bukan cuma aki dong yang berkeliaran di sini. Tapi kan bilangnya 'kami'... Jadi ada banyak di sini?" tanya Leon.
"Ada sepasukan yang ditugaskan mengawal mas-mas sekalian."
Andrew dan Daniel langsung tegang.
“Kenapa banyak ki?”
“Hm... bagaimana ya? Frekwensi Mas Dimas ini pas sekali dengan astral penting yang ada di sana. Sudah waktunya dia kembali setelah puluhan tahun mengembara di hutan. Diharapkan Mas Dimas bisa membawanya ke tempatyang semestinya. Selama ini keturunannya mencarinya, termasuk Pak Sebastian dan Pak Arman. Tapi tidak pernah bisa ditemukan.”
“Siapa?” tanyaku.
“Nanti juga mas Dimas tahu sendiri, hehehe,”
“Kenapa nggak dikasih tahu aja sih Ki?”
“Duuuh ingin sih, tapi belum dapat izin dari Kanjeng,”
“Kanjengnya ditelpon dong minta iin!” desis Leon kesal.
“Dia lagi di spa, saya bisa diomeli kalauganggu,”
"Oh... Gue lagi pingin banget bunuh orang nih sekarang." desis Leon.
“Kanjeng sih nggak bakal mempan kalau Cuma pakai Tokarev biasa,”
Aku menepuk bahu Aki.
"Lo diem aja, Ki. Si Leon lagi ngantuk berat. Tadi kebangun gara-gara Daniel nyasar soalnya." sahutku.
"Manusia jaman sekarang tuh serem-serem yah Mas," keluh Aki.
**
Keesokan harinya.
Oke...
Sekarang pukul 11 siang
Dan kita dalam perjalanan ke Villa.
Tadi aktivitas yang di skip ceritanya adalah :
Aktivitas rebahan di hotel
Aktivitas perjalanan Purwokerto-Wonosobo (Di sini Aki entah kemana. Balik ke teko Aladinnya, kali. Jadi Andrew yang kebagian nyetir.)
Dan Aktivitas nitipin mobil di basecamp.
(Tentunya jadi bahan perhatian orang-orang di sana.)
Selama di skip, rupanya -aku baru tahu belakangan- terdapat kehebohan di rumah Bianca.
Persilahkan Author sebagai Narator (karena diriku sibuk traveling estetik) :
Rumah Bianca.
Terletak di sebuah komplek perumahan biasa, di daerah Jakarta Pusat agak ke Utara dimana terdapat semua fasilitas emak-emak minded seperti :
-Tukang sayur suka lewat
-Deket pasar
-Tukang bakso, Tukang Somay, Abang Ketoprak dan Kue Putu masih rajin absen
-Kalo sore ada odong-odong lewat
-Deket mesjid
-ibu-ibu komplek masih rajin ngadain arisan panci dan pengajian
-ada warung sembako
-tukang jahit rumahan masih standby buat bikinin baju kondangan.
Yang paling penting...
Bu Ertenya masih friendly bagi-bagi makanan.
"Koh Leon!! Lu orang kaga angkat telpon sekali lagi, pulang-pulang PS 5 lu udah di dalem akuarium! Ngerti!!" Seru Farah meradang.
Dia jalan bolak-balik dari satu ruangan ke ruangan lain.
Sementara Selena dan Bianca sibuk mencoba makeup-makeup kekinian hasil ngeborong dari online shop, Milady sedang mencoba game RPG baru keluaran Beaufort Techno (mau lihat orang hamil tua main game? Nah!) dan Meilinda dari tadi pagi makan.
Dan makan.
Dan makan lagi.
Sampai saat Milady merasa lapar dan tangannya meraih cake kenari, namun jemarinya hanya menemukan remahan kacang.
Lalu dia mengernyit menatap Meilinda.
"Serius Mbak Mel?" dengus Milady.
Meilinda hanya meliriknya sambil mesem-mesem.
"Aku itu perasaan pesan 2 lusin loh." desis Milady.
"Sakit lambung kali?"
"Hm..." Meilinda membersihkan cream di sudut bibirnya. "Aku lagi suka banget sama yang manis-manis."
"Anaknya cewek kali itu!" seru Selena dari tengah ruangan.
"Mitosnya sih begitu..." desis Milady. "Tapi yaaah, Lihat saja nanti." tambahnya.
"Kalo kamu dulu ngidam apa Led?" tanya Meilinda.
"Ngidam? 3 bulan pertama, aku suka banget sama nastar bikinan Dimas. Kebetulan Mas Yan juga suka, ada kejadian dia habisin nastarnya, aku marah besar lalu... Hehe... Menggores Bugatti Chironnya pake kuku. Sepanjang badan mobilnya. Dia cuma bisa pasrah,"
Lalu semua diam.
Harga Bugatti Chiron 57,5 miliar, dia gores pake kuku, cuma gara-gara nastar.
Kalo laki orang lain pasti udah langsung nangis darah.
Untung Sebastian hartanya nggak habis 20 turunan.
Milady yang depannya tampak kalem, kalau lagi ngambek ternyata sangat menakutkan.
Pikir semuanya.
"Kalau sekarang sih udah nggak ngidam-ngidam lagi. Tapi aku suka makan daging. Kalau cake rasanya perlu karena aku suka main game, permainan mengasah otak, jadi perlu gula untuk asupan tenaga," sahut Milady panjang lebar.
"Cakenya masih ada?" tanya Meilinda.
"Udah ah, Mbak. Kamu itu udah makan dua lusin!" Milady beranjak dari duduknya dengan susah payah karena perutnya semakin besar.
Lalu...
"Bakmienya datang gaaaaaallls!!"
"Yuhuuu!!" seru Selena sambil beranjak dan menyambut Isabel dengan sukacita.
"Lo semua kenapa tenang-tenang aja sih?! Laki kita tuh lagi di antah berantah ga bisa dihubungi dari kemaren nih!" omel Farah.
"Itu bukan antah berantah, itu cuma di Wonosobo, masih satu pulau." desis Selena sambil meraup satu suap besar bakmi.
"Kuatir sih.. tapi Daniel kan lagi jalan sama cowok lu, udah gitu ditambah ada Dimas, jadi gue mah tenang-tenang aja hahahaha!" seru Isabel.
"Itu kalo Daniel... tapi Leon pernah ngeluh sama gue, kalo ketemu Dimas dia bawaannya sial melulu," sungut Farah.
"Keberuntungannya Leon langsung kesedot Pak Dimas," sahut Selena.
"Pak Dimas itu kenapa hidupnya selalu beruntung ? Jangan-jangan benar dia itu..."
"Apa???" tanya semua Meilinda langsung pasang perhatian.
"...dia itu... Keturunan Paman Gober hahahaha." sahut Selena sambil terbahak. "Tegang banget sih lo pada!"
"Sering gue nggak ngerti sama jalan pikiran lo yang rumit itu," gerutu Farah sambil mengambil jatah bakmienya.
"Eh, gilak enak banget kih? Micinnya berapa centong?!" serunya kaget.
Isabel melemparnya dengan sawi. "Enak aje micin... Itu kaldu dari sumsum sapi!"
”Memangnya nggak pada kuatir sama cowok lo pada?” seru Farah lagi.
"Kan ada Leon..." desis Isabel dan Meilinda berbarengan.
Farah semakin mengeram.
Milady terkekeh mendengarnya lalu menyambar ponselnya dan menepuk punggung Bianca lembut.
"Dia sudah bilang jangan ganggu." desis Bianca dengan pandangan penuh arti.
"Memangnya bisa nolak kalau kamu yang sudah ganggu...?" desis Milady.
Semua menatap dua Ratu sejagad itu dengan penasaran.
"Ayolah Bi... Daripada Farah nggak bisa tidur." Milady mengerling padanya dan menyeringai.
"Aduh..." Bianca menggakruk tengkuknya. "Okelah.." desisnya kemudian. Lalu mengambil ponsel di tangan Milady.
Dering sekali...
Dering dua kali...
"Aku udah bilang jangan di ganggu." desis Alex dari seberang sana.
"Iya, maaf. Tapi ini mendesak."
"Kalau ini masalah Dimas, aku pass..." desis Alex.
"Ayolah Alex. Ini juga mengenai Leon dan 3 orang lainnya. Mereka tidak bisa dihubungi dari kemarin. Masa kamu nggak kuatir?!"
"Kamu kuatir sama Leon...?" terdengar nada suara Alex yang muram.
Lalu terdengar keriuhan dengan bahasa Arab di belakangnya.
"Kamu cemburu?" tantang Bianca.
"Ya iya lah... Aku lagi dalam kondisi nggak bisa pulang juga karena ditahan sama pemerintah Uni Emirat karena bisnis nggak lancar, nggak kamu kuatirkan, malah mengkuatirkan cowoknya orang lain, mantan kamu pula, dia cuma lagi jalan-jalan ke gunung sindoro gitu loh..." Omel Alex.
"Alex..." desis Bianca bernada merajuk.
Semua jadi tegang dan berhenti mengunyah Bakmie.
"Kirimkan tim pengamanan kita ke Gunung Sindoro, cari mereka." desis Bianca tegas.
"Astaga... Aku nggak pernah menang dari kamu Mbak Six..." dengus Alex sambil menutup teleponnya.
Bianca menyeringai ke Milady. "Dari saya sudah beres. Sekarang tinggakl dari kamu."
Milady menyeringai.
Lalu menghubungi suaminya.
"Sayang?" sapa Sebastian.
"Bilang sama Mas Danu, kalau sampai jam 12 Dimas belum sampai juga ke sana, aku bakal hubungi Bu Gandhes terus ku Bom vilanya. Ngerti?!"
"Astaga..." dan Sebastian menutup teleponnya.
Semua makin tegang.
Ratu lagi marah besar ternyata, kelihatannya aja kalem dari tadi, ternyata memendam amarah.
tapi emangnya bisa nge-bom vila goib?
Anggap aja kalo sekelas Milady, bisa lah ya...
"Lena, jemput Cecil. kita sandera dia sampai Dimas dan Leon berhasil dihubungi." sahut Milady.
"Assiikkk!!" seru Selena bersemangat.