
Aku mengikuti Pak Sebastian ke Basement, ke arah parkiran mobil. Ia memutar-mutar kunci yang berlambang merek mobil sejuta umat di tangannya.
Pak Sebastian gitu loh.
Pake mobil sejuta umat.
Ada musibah apa lagi ini...
Lalu sampai di depan salah satu citycar ia menekan tombol alarm.
Astaga,
Dia pake Jazz.
"Apa?" tanyanya begitu menyadari aku terpaku di tempatku berdiri.
Lalu jemariku menunjuk mobil di depan kami dengan daguku.
"Ini mobil Milady," jelasnya.
Drastis amat dari Maybach exelero jadi pake jazz... mana yang jenisnya dari tahun 2010 pulak. Tapi sejujurnya aku lebih nyaman pake mobil ginian.
Lucu aja kalau membayangkan ketidakcocokannya dengan makhluk astral berambut putih di depanku ini.
Aku menengadahkan tanganku.
"Saya saja yang nyetir," aku nggak tega sama dia, udah turun strata masih harus nyetirin aku pula.
Pak Sebastian menyerahkan kunci padaku dan duduk di kursi depan.
Yah, dia nggak duduk dikursi belakang, paling tidak aku nggak dianggap supir.
"Saya sudah bilang kalau akan membelikannya mobil yang lebih pantas bagi seorang lady, tapi dia tolak mentah-mentah. Katanya ini mobil hasil jerih payahnya," katanya saat kami keluar dari parkiran mobil.
"Paham," sahutku.
"Hm, kamu sepertinya sangat memahaminya ya. Sudah berapa lama kamu kenal Milady?"
Ini dia... Mulai interogasinya.
"Udah lama banget tapi nggak terlalu akrab. Deketnya pas waktu itu lagi iseng mau ngajak Mas Bram nonton midnight, ngeliat dia lagi nangis di kantin. Katanya habis dimarahin sama Trevor,"
Aku melihat dari sudut mataku kalau ia menatapku dengan serius.
"Dimarahin Trevor?!"
"Hm... Dulu Trevor lumayan saklek kalo kerja. Nggak suka orang lelet dan obsesif. Sekarang lebih santai. Dan Milady dulu karyawan dengan hasil tes tertinggi, dan latar belakang pendidikan yang cukup memukau. Jadi Trevor berharap banyak padanya. Tapi yah, yang namanya anak baru, fresh graduate pula. Ya pasti ada penyesuaian lah. Tapi Trevor sepertinya nggak mau tau. Jadi saya bantu sedikit,"
"Bantu 'sedikit' itu sesedikit apa?!"
Ni genderuwo curigaan banget sih...
"Saya tenangkan hatinya, dengerin curhatnya, traktir kopi, nonton, terus ke hotel."
Dia diam.
Lalu ada aura aneh.
Rasanya kayak dihujam pisau tak kasat mata.
"Bercanda kaliiii," sahutku lagi. "Serius amat, dasar penganten baru," gerutuku kemudian.
"Saya bantu dia kerja, waktu itu Selena belum ada. Dia disuruh jalan untuk ikutan tender, saya temenin. Disuruh ke notaris, disuruh meriksa lokasi proyek di antah berantah kebon sawit, saya setirin. Banyak deh,"
"Kamu bantu dia sampai sejauh itu, ada maksud apa? Kamu memang nggak tegaan atau kamu dulu suka sama dia?"
Aku terkekeh.
Begini mungkin rasanya diinterogasi sama calon mertua. Tapi masalahnya, dia bukan calon mertuaku tapi kerjanya menggerecokiku. Yang beneran calon mertua malah sibuk sendiri sama tanamannya.
Yang bener ya begitu, anak-anaknya kan udah gede.
"Nggak mungkin nggak ada perasaan apa-apa kali, Pak Booooss. Ya pasti ada laaaah..." aku menyeringai. "Setelah saya pindah dan masuk Ke Garnet Bank, komunikasi mulai tersendat karena kami sama-sama lebih sibuk. Dia diangkat jadi staff ahli, dan boss saya orangnya bawel banget. Jadi jarang banget ketemu lagi, kecuali saya ada acara di property,"
Lalu kami diam-diaman di mobil. Ada kali setengah jam kami tenggelam dalam pikiran kami masing-masing, sepanjang perjalanan dari gedung property ke gedung bank.
Sampai akhirnya saat aku selesai memarkir mobil di parkiran bank, dia buka suara.
"Jauhi Milady, lalu saya akan restui hubungan kamu dengan Meli," katanya.
Kayak aku segitu penjahatnya.
Yah, tapi ternyata solusi minta restunya gampang banget deh, coba dari dulu aku tahu kebucinannya dia. Kan nggak perlu baku hantam.
Aku hampir aja ngomong kalau nggak mungkin bakalan jauhin Milady, kan nanti bakalan serumah dan jadi iparan.
Tapi demi kedamaian dunia, akhirnya aku diam saja.
*****
Sesi ini narator By Tante Author kece kena badai :
Khamandanu Rusli... CEO Garnet Bank.
Lalu ia mengernyit menatap kartu namanya yang baru saja jadi. Cepat sekali ia kehabisan kartu nama. Bulan ini saja ia sudah menghabiskan 4 kotak isi 100. Ia bahkan tak ingat sudah ia bagikan kemana saja.
Apa seharusnya lebih resmi kalau ditulis 'Presiden Direktur'? Atau 'Direktur Utama' ? Tapi Haryono meyakinkannya kalau tulisan CEO lebih terdengar keren.
Halah.
Sebagai pemegang jabatan yang paling tinggi di sini, pemegang kuasa seluruh keputusan, main core dari perusahaan, juga sebagai salah satu pemegang saham, ia merasa bekerja di sini sudah membuatnya melupakan dirinya sendiri.
Apa sih tujuan hidupnya?
Ia bertanya pada diri sendiri.
Apa yah? Pikirnya lagi.
Apakah kedua orangtuanya yang sudah meninggal tanpa sempat menggendong cucu darinya bahagia?
Terdengar suara ketukan di pintu ruangannya. Salah satu sekretarisnya melongok ke dalam. Siapa yang kira-kira bakal Tante Author tumbalin buat kena omelan? Tresna aja deh. Di real life si Tresna ini nyebelin soalnya.
"Pak Danu, dari Tim Marketing tanya mengenai tanda tangan bapak di proposal pengajuannya, sudah bapak setujui?" tanya Tresna sambil melongok ke dalam ruangan Pak Danu.
"Tim marketing yang mana? Yang kredit atau yang dana?"
"Sebentar pak," Tresna merogoh ponselnya yang tersimpan di kantong celana lalu membacakannya.
"...ehm..." Tresna pun berdehem dengan mulutnya yang penuh remahan ciki berdehem. "Tresna, proposal gue udah disetujui apa belom? Lama amat sih kerjanya manajemen?! Kalau nggak segera, nasabah bisa kabur!!" lalu ia mengangkat wajahnya dan melayangkan pandangan bertanya padanya.
Polos amat sih jadi karyawan.
"Oh, dari unit pendanaan kalau kalimatnya seperti itu," dengus Danu. "Coba kamu ketik balasannya Tres, pakai huruf capital semua, saya dikte."
"Siap pak..." Tresna bersiap-siap mengetik di ponselnya.
"LO UDAH BACA MEMO DANA YANG BARU BELOM?! IKUTIN KETENTUAN DONG!! GUE BUKAN BUDAK LO!!!"
Tresna mengetik dengan cepat.
"Pak, tanda serunya sekali apa dua kali?" tanya Tresna.
"Tiga kali." sahut Pak Danu. "Cepet send. Mereka ngomel, kamu rekam suara saya."
"Siap pak!"
Dan sekretarisnya berlalu dari ruangannya.
Danu menghela napas.
Saat ini dia sedang galau, dan menunggu kabar dari seseorang yang paling populer di kantor ini.
Dari pagi para staff masih sepi-sepi aja, ini sudah jam menjelang makan siang dan sosok yang ia tunggu belum datang.
Lalu Danu kembali membolak-balik kartu namanya.
Sudah berapa lama sih dia bekerja di sini?!
Sejak fresh Graduate, sewaktu Bank ini belum diambil alih sama Sebastian. Dulu ayahnya masih menjadi pemegang saham utama.
Lalu beliau menghilang saat Danu masih SMA. Menghilang entah kemana, bersama dua orang bodyguardnya. Tapi sempat mewariskan semua saham padanya. Jadi setelah lulus SMA, Danu sudah bekerja di Bank ini, sembari kuliah, Ia mulai dari bawah perlahan-lahan naik ke atas, walaupun ia adalah pemegang saham.
Saat Sebastian kembali dari pendidikannya di luar negeri, pria itu membeli banyak saham dari bank lain, dan menggabungkan seluruhnya menjadi Garnet Bank, Danu memutuskan untuk bergabung dengannya.
Kini pemegang saham Garnet Bank 10% miliknya, 10% milik Meilinda, 50% milik Sebastian atas nama Garnet Grup, sisanya masyarakat.
Tak lama terdengar keriuhan di luar ruangan. Inilah yang ia tunggu. Sosok yang dinantinya selalu menjadi perhatian semua karyawan sehingga kedatangannya saja merupakan alarm baginya untuk bersiap-siap dengan kehebohan.
Lumayanlah untuk mengatasi kejenuhan 24 tahun kerja disini.
Terdengar ketukan di pintu ruangannya.
"Hai, Lioneeeeeel... bisa diganggu?" Dimas muncul dengan wajah sumringah dan babak belur.
Danu bahkan nggak bisa senyum melihatnya.
"Gue benci nama itu, dari mana lo tau?! Terus muka lo kayak habis diseruduk banteng!" gerutu Danu.
Dimas cengengesan dan duduk di depannya. Danu beranjak dan berdiri di depan Dimas dengan setengah duduk di ujung mejanya dan melipat tangannya.
Menunggu informasi.
"Jadi?" tanya Danu.
"Hold dulu katanya." sahut Dimas “Soal Gunawan Ambrose,”.
"Alasan apa yang gue pake buat hadepin Sarah?"
"Kenapa butuh alasan ke Sarah? Macam Sarah atasan lo aja,"
"Dan Stephen," tambah Danu.
Walaupun ia CEO dan secara resmi keputusannya mutlak, namun ia tidak bisa seenaknya mengindahkan hasil kerja seseorang. Bagaimanapun mereka sama-sama bekerja, sebuah tim menuju kesuksesan perusahaan, jadi nggak bisa kayak di novel CEO main pecat main ngomong kasar main banting barang, bisa-bisa dia dituntut sama karyawan lewat Lembaga Bantuan Hukum, kali.
Lagipula, sebagai informasi, memecat orang lebih mahal biayanya daripada meresignkan seseorang.
meresignkan seseorang bisa banyak caranya. Di antaranya dengan membuatnya tidak nyaman dengan pekerjaannya dan akhirnya si karyawan resign sendiri.
jadi, bagaimana caranya membuat Sarah resign?
Hm...
"Suruh mereka menghadap saya, sekarang..." Tiba-tiba Pak Sebastian masuk ke ruangan Danu.
Sambil ternganga karena kaget tiba-tiba kedatangan tamu agung tanpa peringatan, mana belum sempat beli kuker. Nastar 10 toples udah habis dicemilin Heksa-Tresna, duo sekretaris gada akhlak. Alasannya udah hampir kadaluarsa kelamaan disimpen di lemari, padahal kan masih sisa 6 bulan dari tanggal due date.
Astaga, kenapa Dimas bawa-bawa Kuyang kesini sih... gerutu Danu dalam hati. Jadi masing-masing orang memiliki julukan sendiri terhadap Pak Sebastian. Khusus Danu, karena Pak Sebastian selalu membuat orang-orang yang ditemuinya lemas bagai kehabisan darah, ia menjulukinya Kuyang.
Kuyang itu ngisep darah kan yah? Vampir juga sih...
Danu mencet tombol interkom.
"Tes! Tes! Kepada Stephen, Sarah dan Bebeb, harap ke ruangan 01 untuk berbincang manis dengan Bigboss. Saya ulangi-"
Dimas terbahak mendengar toa baru Danu.
"Sejak kapan lo pake interkom?! Ngaco aja deh..."
"Sejak hari ini. Tim lo sering berbuat keributan. Gunanya untuk menghalau massa." kata Danu. “Barusan gue pake buat neriakin anak buah lo tuh! Soalnya si Ari nekat naik ke plafon benerin saluran AC sendiri,”
“Lo neriakin dia apa, Lionel?”
“Ari! kalo naik ke plafon, jangan pake rok nanti keserimpet,”