
Aku menunggunya bersiap-siap di kamar mandi.
Aku duduk di pinggir ranjang sambil menatap ke arahnya.
Ia tampak berulang kali melirikku.
Kami hanya dibatasi kaca saat ini, jadi aku bisa melihat semua aktivitasnya di kamar mandi.
Kusadari, ini bukan pertama kalinya kami sekamar, dan aku sudah melihat seluruh tubuhnya, sampai ke dalam-dalamnya.
Pertahanan kami seperti kaca di depan sana, tipis dan jernih.
Untuk apa aku masih mencoba mengingkari semua pertanda?
Aku sengaja duduk di sini menghadap ke arahnya karena aku ingin mengklaim kepemilikanku. Kalau dulu Gunawan bisa melihat semua yang ada dirinya, kenapa aku tidak?!
Kalau perlu, aku akan menemui Pak Sebastian sekali lagi dan meminta adiknya jadi milikku.
Tapi sebelum itu kulakukan, aku harus pastikan perasaan Bu Meilinda terhadapku sekuat perjuanganku nantinya.
Dan tahap kali ini, adalah berusaha memiliki hatinya.
“Mas...” panggilnya. Ia menatapku dengan khawatir.
“Hm?”
“Saya mau pipis, kamu balik badan dulu,” Bu Meilinda memutar telunjuknya memeriku aba-aba supaya aku mengalihkan pandangan darinya.
Aku menoleh ke samping, menatap jendela di sebelah kami.
Kulihat di sudut mataku, dia duduk di toilet.
Lalu aku kembali menatap ke depan, ke arahnya.
Dia tampak jengah saat melihat ke arahku, “Dimas, saya sedang...” kemudian dia berhenti, tidak melanjutkan kalimatnya melihat tingkah kurang ajarku.
Tidak tahu apa yang merasukiku, aku ingin melihat ke arahnya.
Dia begitu manis di mataku, semua berubah mulai sejak aku menempelkan bibirku di bibirnya.
Ia tertegun menatapku, mungkin menyadari perubahan wajahku.
Tidak ada jalan untuk kembali untukku.
Aku sudah terpikat padanya, aku tidak bisa mengalihkan pandanganku darinya.
Kulihat, dia tampak pasrah dan membersihkan dirinya, dengan gerakan canggung, di depanku.
Saat ini aku berpikir, kalau dia tidak menyukaiku, atau tidak ada rasa padaku, dia pasti sudah marah habis-habisan, melaporkanku ke polisi, atau pindah hotel sendirian.
Tapi dia tetap di sini.
Di depanku.
Aku menjadikan itu lampu hijau untukku.
Saat selesai bersih-bersih, dia tampak lebih baik dari tadi. Raut wajahnya sudah lebih tenang dan ada senyum saat melihatku.
Dia menghampiriku, lalu naik ke pangkuanku, berlutut di atasku.
Dan menarik rahangku ke atas, ke arahnya wajahnya.
“Kamu tahu kan, pacar jenis apa saya ini?” tanyanya.
“Hm,” diperbudak pun rasanya kau mau saja. Dari dulu juga begitu.
“Kamu selingkuh, kamu mati. Ngerti? Saya sudah cukup disakiti laki-laki,” desisnya.
Aku tidak menjawabnya, hanya menatapnya.
Matanya menghipnotisku, membuatku sulit mengalihkan pandangan darinya.
Aku mengangkat tanganku, aku tak peduli lagi dia mau marah atau teriak. Instingku bilang ‘lakukan sebelum menyesal’. Ku belai pahanya yang terbuka, kurengkuh bokongnya yang padat, dan ku peluk pinggangnya, berbarengan dia menurunkan wajahnya dan menciumku.
Ciuman kami kali ini berbeda dengan yang tadi.
Ia membuka bibirnya, ia berusaha menunjukkan kuasanya. Ia ingin menunjukkan kalau ia wanita kuat, dan bisa mengendalikanku.
Aku tidak membiarkan itu terjadi.
Aku merenggut lidahnya dengan lidahku, menyesapnya dan menikmati dirinya. Aku ingin menunjukkan, sebesar apa pun dia berusaha menguasaiku, hal itu tidak akan berpengaruh. Cinta bukanlah berat sebelah, seperti pengertiannya.
Seperti Yin dan Yang, berbeda namun saling bertaut tak terpisah. Seperti kami saat ini, laki-laki dan perempuan yang memiliki tujuan berbeda. Dia menggunakanku untuk melupakan masa lalunya, dan aku yang ingin menjauhkan semua wanita lain yang mengejarku tapi benar-benar terpikat dengannya.
Setelah beberapa lama bibir kami saling memagut, ia tampak goyah. Ia kehabisan tenaga dan berusaha menarik wajahnya.
Aku tidak membiarkannya.
Tanganku merengkuh tubuhnya membalikkan dirinya, sehingga kami berbaring di ranjang dengan aku berada di atasnya.
Entah dari mana kekuatanku, aku belum pernah memperlakukan wanita seintim ini sebelumnya. Semua gerakanku murni insting laki-laki, aku melakukan semua yang kumau tanpa mempertimbangkan dia suka atau tidak dengan perlakuanku.
Aku ingin merasakan semuanya, selama ini kuperhatikan dia selalu merawat tubuhnya secara eksklusif, dan semakin kusesap, semakin nikmat rasanya. Dia wangi sekali, aroma yang berbeda dengan semua wanita yang kukenal, selama ini tersembunyi di balik kejudesannya, sikapnya yang galak dan defensif di depan orang lain.
Padaku, dia menyerahkan dirinya.
“Mas,” desisnya. “Mas, berhenti,”
Aku berhenti.
Bercinta saat yang satunya tidak ingin, rasanya tidak seimbang.
“Saya tidak enak sama kamu,” ia kembali terisak, “Maaf, tapi rasanya saya tidak pantas bersama kamu,”
Apa maksudnya?
Aku diam karena tak mengerti.
“Saya ini seperti p3lacur murahan yang mendapatkan laki-laki sempurna, saya tidak bisa, saya tidak merasa pantas,”
Aku terkekeh.
“Aku nggak peduli sama masa lalu kamu,” tapi aku menghentikan aktivitas percintaan kami, aku akan mengawalinya dengan perlahan-lahan saja. Yang penting aku sudah menunjukkan padanya kalau aku berkomitmen dalam hubungan ini, bukan sekedar saling memanfaatkan.
“Apa saja yang sudah Gunawan sentuh dari kamu? Yang Jeffry renggut?” tanyaku, “kenikmatan yang mereka persembahkan padamu, akan kulakukan sama persis padamu, bahkan akan kutambah. Agar kamu melupakan mereka, dan hanya melihatku saja,”
“Astaga Dimas... beginikah cara kamu mencinta?”
Aku melihat wajahnya langsung merah saat menatapku.
Aku tersenyum melihat caranya terkesima padaku.
Kukecup bibirnya ringan, lalu pipinya, dan kupeluk dia. “Di depanku, tolong selalu tersenyum,” bisikku.
Sekarang, tinggal memikirkan caraku mendapatkan banyak uang agar bisa mengimbangi tas kulit buaya yang Gunawan berikan, bisa jadi aku akan melamar jadi CEO di Beaufort dan rela diperbudak Alex.
Juga, bagaimana cara mendapatkan restu Pak Sebastian dan Pak Hans.
“Kerja dulu yuk?” tawarku kemudian.
**
Malam itu setelah berjibaku dengan jaminan tanah dan bangunan yang kondisinya ancur-ancuran, kami memutuskan untuk menjernihkan pikiran kami dengan ngopi di Lembang.
Sepanjang perjalanan, kami hanya diam sambil berpegangan tangan. Kadang dia bersandar di bahuku dan memeluk lenganku dengan posesif.
Dunia terasa lebih indah di depan mataku.
“Mas, kamu tertarik padaku karena aku cantik, atau karena aku kaya?” tanyanya tiba-tiba. Padahal tidak ada masalah di depan kami. Apakah memang gaya bicaranya yang ceplas-ceplos seperti itu karena dididik sejak kecil oleh seseorang yang otoriter? Atau terlalu banyak rasa sakit yang dialami di masa lalunya?
“Kamu nggak cantik, dan kekayaan kamu dari Pak Sebastian,” kujawab tak kalah pedas.
“Hehe, dasar kamu...” pelukannya semakin erat. Aku tahu dia tak akan tersinggung dengan lidahku, karena selama ini sudah biasa bagi kami untuk berdebat.
“Kalau bisa, jarang-jarang aja ketemu kakak kamu, serem atmosfernya,” aku begidik sendiri.
“Kamu pede banget menyatakan cinta padaku, memang kamu punya apa?” tanya Bu Meilinda.
Kusadari, ia sedang berusaha melatihku bicara.
Bicara dengan kakaknya.
Karena pasti pertanyaan itu yang terlontar dari mulut Pak Sebastian kalau suatu saat aku bertemu dengan beliau.
“Punya burung,” jawabku.
“Hahahahahaha!! Duh konyol...” ia langsung terbahak sambil memukul-mukul bahuku.
“Aku bohong,” desisku.
“Bohong?”
“Bohong waktu bilang kamu nggak cantik,”
“Itu jawaban jujur atau kamu cuma tidak ingin aku pecat?!”
“Aku mudah mencari pekerjaan dengan tampang seperti ini, dan kamu tahu teman-temanku...”
“Oh itu yang membuat kamu selama ini nggak takut dipecat ya,”
“Aku tanya balik,”
“Apa?”
“Kamu rela aja dicium sama Mas-Mas kere kayak aku, kenapa?”
“Karena aku jablay,”
“Woy... semprul,” desisku sambil mencubit pipinya.
Ia terkekeh.
“Kupikir kamu beranggapan kalau aku selama ini begitu. Aku kepergok berkali-kali melakukan ini-itu,” katanya.
“Nggak sih, malah kupikir... kamu itu seksi banget,” desisku.
“Ohya?”
“Hm,”
“Hehe...” dan setelahnya kami terdiam.
Tapi aku bisa melihat dari kilatan cahaya kendaraan yang terpantul di kaca jendela mobil, ada semburat merah di pipinya.