Office Hour

Office Hour
Ciwi-Ciwi Pada Datang lagi



Back to story,


Begitulah yang namanya disidang pas Raker. Jadi jangan mengkhayal yang ikutan Raker berasa penting, kagak!


Yang udah tau Raker tuh isinya beginian pasti bersyukur nggak ikutan. (Tante Author aja kalo pas Raker, pagi-pagi pasti muntah-muntah dulu di wc, gugupnya poll soalnya. Kalau yang belum tahu, kayaknya keren gitu yah pas bilang “Ada meeting di sini, ada Rapat di sono”. Beuh!! Kalau tahu isiannya meeting tuh beginian semua, mending kabur makan indomie di kantin dah!).


"Belakangan yang kinerjanya menurun malah Meilinda, ini kamu banyak sekali temuan, Meli," Sahut Pak Sebastian.


Dia membolak balik laporan. "Laporan temuan ditandatangan pacar kamu nih. Tega banget kamu Boyo,"


Nggak usah bilang 'pacar' kenapa sih, ini namanya profesionalisme Pak.


"Yah Pak, mohon maaf, saya sudah memperbaiki kinerja staff saya setelah mendapatkan laporan dari Tim Audit, terus terang saja dengan adanya laporan dari Timnya Dimas, mata saya semakin terbuka terhadap kenyataan yang ada," Sahut Meilinda.


"Dulu di divisi kamu masih ada Dimas, jadi performa kamu bagus. sekarang Dimas nggak ada malah kamu berantakan. Woi Boyokethek, bantu istri kamu nih ya buat teknisnya." Kata Pak Sebastian.


Nggak usah bilang 'istri' juga kali...


“Semoga tahun ini kami akan bisa bekerja dengan lebih efisien, mohon bantuannya ya Pak,” kata Meilinda menengahi kami.


Seluruh anggota kepatuhan langsung kasak kusuk. Meilinda berubah banget soalnya. Dari caranya berbicara yang lebih kalem dan bersahaja, juga dia lebih cerdas dalam menanggapi setiap masukan dari kami.


Aku semakin jatuh cinta.


Aku akui di Raker kali ini dia lembut banget ngomongnya. Malah makin keibuan, aura macam begitu sangat berbahaya untuk kesehatan jantungku sebenarnya.


Dia lagi cantik banget, walopun wajahnya agak pucat.


Sebenarnya aku juga rindu sih masa-masa diteriakin dia.


Kakiku diinjak Selena.


Akhirnya setelah menyimak beberapa Divisi presentasi dan dibully manajemen, tiba saat coffe break untuk ngemil dan istirahat 15 menit. Kebanyakan aktivitas ngemil dilakukan di dalam ruang meeting sambil membahas bahan Raker berikutnya.


Andrew menggeser posisiku dan menggeret Selena pergi ke pojok ruangan, Selena mau minta tolong padaku tapi udah keburu dibajak Andrew.


Aku bisa apa, coba...


Cecilia ngobrol rame sama Daniel dan Ari mengenai rencana mereka pergi rame-rame ke Dufan sama anak operasional. Sementara Sena lagi kalem baca laporan Audit sambil ngemil.


Dan aku?


Aku sedang memperhatikan Meilinda.


Ck!


Di depanku ada yang lagi berlagak mesra-mesraan.


Stephen dan Meilinda, ngobrol sambil ketawa-tawa.


Mau mancing keributan, heh?!


Nggak mempan!


Mau bikin aku cemburu?


Apalagi itu.


Yang ada malah...


"Anu... Mas Dimas? Ada tamunya di ruang meeting no.6, katanya penting. Dia kasih ini ke Saya." Pak Suku menyerahkan amplop putih padaku.


Aku buka isinya.


Test pack. “Huaaah!!” seruku spontan.


Semua langsung menatapk.


Lalu menatap lantai.


Testpacknya jatoh ke sana, dan semua memanjangkan mata melihatnya.


“WAAAAH KASUUUUUSSS!” seru semua peserta.


“GILA SIH DIMAAAASSSS!”


“DON JUAN SOMPLAK, LOOOO!”


“Joroook!!” seruku begidik sambil mengambil benda itu dengan tisu dan membuangnya ke tong sampah, lalu cuci tangan.


Ih, nggak steril!


Dipikir kita anak SD percaya aja dikasih gini-ginian?!


Belum sampai 10 menit Desi datang tergopoh-gopoh, meeting udah mau dimulai lagi dan para pejabat sudah ready di kursi masing-masing.


"Mas hot!! Keributan gempar di lantai 5 itu fansnya maksa mau ketemu! Diriku nggak bisa nahan-nahan terus yang ada malah kegencet!" Seru Desi histeris.


Semua diam menyimak.


"Emang ada berapa orang yang dateng Des?"


"Ada kali lebih dari 10, beberapa nginep dari kemaren dirimu nggak mau ketemu!"


Duh...


"Terus semua ditumpuk di ruang meeting no.6 gitu?!"


Desi salah tingkah.


"Plis dong Des," Keluhku. Gini nih kalo cuma modal cium pipi.


Lebih dari 10 orang yang datang dan mereka menungguku, kelaparan. Bukan laper makan tapi laper darahku.


Saat sedang memikirkan keberlangsungan hidupku, aku menatap Daniel, yang sedang menghabiskan snack kotakannya.


Lalu aku menatap Andrew yang sedang menatap Selena dengan sepenuh hatinya yang sedang menatapku dengan memohon pertolongan.


Aku cari Ari dan Sena kemana-mana. Tak ada. Si duet maut udah ngibrit nggak mau ikut-ikutan.


Aku menghela napas.


Dan berdoa mohon pertolonganNya.


Akhirnya dengan sisa kekuatanku aku meninggalkan Raker sejenak, aku minta Daniel dan Andrew menemaniku.


"Oke." Jawab Daniel tanpa beban.


".........." Andrew mau ngomong tapi nggak jadi. Kayaknya dia udah curiga duluan padaku.


Iya.


Aku memang mau mengumpankan mereka.


Pas mau ke lift, aku bertemu Fendi yang habis dari toilet. Aku juga menariknya masuk ke lift walaupun dia sedikit meronta.


"Kita ngapain nih?!" Seru Daniel semangat saat di lift buat turun ke lantai 5. Ni anak blo’onnya maksimal ya, untung aja gue bawa dia.


Aku dan Desi saling melirik, wanita itu masih tegang.


"Jadi... Lo bertiga bantuin gue buat ngulur waktu sampe gue bisa nemuin mereka secara privat habis Raker, sukur-sukur bisa ngusir mereka. Gimana? Yang nggak sanggup bisa mundur,"


"Gue ga sanggup. Gue alergi cewek," Sahut Fendi.


"Tapi kan lo biasa ngadepin sarah. Kurang cewek apa dia? Level Nyebelinnya sebagai emak-emak sen kiri belok kanan udah maksimal itu. Gue yakin lo sanggup bantuin gue," Aku mencoba jurus merayu.


"Eh sembarangan! kebiasa apa maksud lo? Udah sampe nangis darah boker batu gue ngadepin dia!”


"Itung-itung ini bisa mengasah kemampuan membujuk lo sebagai Marketing Fen, ntar gue kasih kupon diskon ke Gym yang banyak cowok gantengnya!”"


Fendi tampak berpikir, lalu akhirnya mengangguk mau-mau aja. Kalo udah diiming-imingi cowok ganteng dia manut. Padahal yang mau gue kasih tuh Gym yang suka jadi langganan preman pasar dan tukang bangunan sih.


"Iya deh gue bantuin,” Desis Fendi langsung sumringah sambil jemari melayangkan tanda peace.


Aku memencet tombol close dan lift meneruskan perjalanannya ke lantai 5.


"Ulur waktu seperti apa yang dimaksud di sini, Mas?" Tanya Andrew.


"Kalau caranya sih terserah lo aja. Lo temenin ngobrol ato ajak maksi ato gimana kek. Lumayan seorang dapet 4 cewek kan, selama gue ikutan raker."


"Jadi. Kayak host gitu?" Tanya Andrew.


"Yang suka ada di Kabukicho di Jepang itu yah," Sahut Daniel.


Aku mengangguk. Yah, rencananya sih begitu... tergantung kondisi dan kemampuan improvisasi mereka aja. Dan aku baru sadar kalau sepertinya aku mengajak orang-orang yang tepat. Mereka bertiga jomblo soalnya. Siapa tahu Daniel dapat pacar, Andrew bisa melupakan Selena dan Fendi nggak random lagi.


Andrew dan Daniel bertatapan dengan kilatan di matanya. Entah apa yang mereka berdua pikirkan tapi Fendi mendengus kesal.


"Des, bisa minta tolong siapin konsumsi ato minuman gitu?" Tanyaku.


"Yang itu dari kemarin diriku sudah siapkan Mas Hot!! Terima beres lah!!"


Aku menyerahkan kartu debitku padanya.


"Kalo bisa ada sisanya," Kataku sangat berharap.


"Siap. Hehehehehe," Desi mengerling padaku.


Serasa ngasih bini duit belanja.


Aku membuka ruang meeting nomor 6.


Wajah-wajah yang kukenal sedang memandangiku.


Tidak sampai 5 detik mereka sudah berebutan menghampiriku.


Kenapa perangai mereka jadi begini yah, aku seperti pernah berbuat nista saja kepada mereka. Sepanjang ingatanku, nggak ada kondisi aku nyerempet-nyerempet ke hal mesum kecuali sama Meilinda.


Fendi ambil garda depan untuk melindungiku.


"Kalo mau ngobrol pake sopan santun dong!!! Jangan kayak cabe-cabean langsung maen serang aja!!!" Ia berteriak dengan tegas.


Wuih galak juga.


Jadi inget Mas Bram.


"Punya harga diri nggak hah?! Pantes Dimas langsung kabur, yang ngejar nggak punya akhlak semua macam lo!!!" Serunya lagi.


Aku menatap Fendi tegang.


"Lo semua tau nggak kalo pacarnya Dimas itu Meilinda Bataragunadi, hah?!? Mau lo semua dijeblosin ke penjara?!"


Lagi-lagi pake nama itu...


Bosen.


Memang aku akui nama keluarga Meilinda cukup efektif untuk menghalau penganggu yang datang, tapi kenyataannya aku benci nama itu.


Seperti... Aku nggak punya identitas dan kualitas diri. Ngekorin nama keluarga pacar... eh, mantan pacar, ding! Mantan pacar yang masih saling sayang, lebih tepatnya.


Beberapa cewek mulai mundur mendengar nama itu. Sisanya nggak percaya. Aku menghela napas, lalu menyapa mereka dengan menyebutkan satu-persatu nama mereka. Fendi sampai mengernyit melihatku mengebut nama nama mereka kayak absen di luar kepala, bukan apa-apa karena masing-masing dari para wanita ini adalah teman-temanku sendiri tadinya.


Ada yang cuma sekedar say hai di jalan pulang, teman berbarengan naik busway, teman berbarengan makan siang, teman satu tim akunting (dulu aku kerja di bagian akunting) malah ada yang bekas atasanku waktu masih nangkring di bagian umum.


"Sekarang pada pulang aja yah, dari awal aku cuma anggakp kalian teman. Nggak ada indikasi mau jadiin pasangan, seingatku. Juga aku ga pernah janjiin apapun," sahutku.


"Udah sana pada lanjutin hidup masing-masing!! Lo semua ganggu kita mau kerja tau nggak?!?" Seru Fendi lagi. Ni cowok ternyata mulutnya kayak toa.


Seorang wanita maju ke depan menantang Fendi.


Namanya Isabel, dulu satu kantor tapi beda divisi, dia pernah kutemenin nonton waktu dia putus sama pacarnya. Tapi itupun cuma sekali. Kita juga nggak ngapa-apain cuma ngobrol dikit, ngemil, kebanyakan nontonnya. Aku inget dulu filmnya Joker. Film yang disturbing dan nggak bakalan kita ngobrol kalo nonton itu, kan? Soalnya butuh fokus agak instens kalo nonton film bergenre dark macam begitu. Ketemunya juga nggak sengaja, waktu itu pulang kantor naik KRL pas ditengah jalan pingin rujak, jadi aku turun dulu di Stasiun Cikini terus ada rujak enak di area bioskop terkenal disitu. Untuk kedepan aku malas kalau menyusuri jalan, jadi aku ambil jalan pintas ke dalam bioskop. Nah di situ Isabel ada di salah satu sofa sambil nangis, aku samperin say hai. Sudah begitu doang tapi bapernya sampe sekarang.


"Kamu itu siapa? Kita butuhnya ngomong sama Dimas, bukan kamu." Isabel menunjuk dada Fendi.


Fendi mau emosi, tapi ditahan Andrew.


Wah, dia maju.


"Maaf yah Mbak, Dimas sampai bawa-bawa kami sebagai tameng apa nggak kepikiran kalau dia nggak mau ngomong sama Mbaknya?!"


Isabel mundur selangkah, karena memang si Andrew ini lumayan ganteng juga. Tipe cool boy kalo di pinterest. Aku sengaja bawa yang gantengnya bisa nutupin karismaku soalnya, biar kerumunannya bisa teralihkan.


Macam Daniel, Andrew dan Fendi (kalo nggak gay mungkin dia bakalan menemaniku jadi rebutan cewek-cewek).


"Kalo Dimas masih care pasti udah diajak ngobrol lah," Fendi menimpali Andrew, mereka berdua tertawa mengejek.


"Mas lo meeting aje sana, lebih dibutuhin di ruang meeting daripada ribut sama cewek-cewek. Di sini kita yang hadepin." Sahut Fendi.


"Tengkyu gengs, gue lanjut Raker." Sahutku, disertai kibasan tangan Fendi yang mengusirku pergi.