Office Hour

Office Hour
Lembang Astaganaga



Astaganagabonarbawagolokempugandring!


Epic bener ketemu Gunawan Ambrose di Lembang.


Padahal baru aja Bandreknya ditaro di meja udah heboh aja.


Jadi, kami menemukan restoran menarik di area Greenforest Resort tidak jauh dari perumahan, direkomendasikan oleh para staff di Garnet Bank cabang Gatsu, dan saat kami datang ke sana tempatnya super romantis.


Membuat wajah pacarku sumringah dan senyum terus-terusan.


Wih, udah bisa disebut ‘pacarku’ ya.


Akhirnya 30 tahun hidupku, aku punya pacar. Dan ini pacar beneran, aku yang nembak langsung, bukan cewek ngaku-ngaku sendiri.


Iya, saking sangat berhati-hati dan trauma, cowok ganteng macam aku juga bisa jadi jomblo sejati. Aku juga sudah dua kali patah hati loh, pertama sama Bianca, kedua sama Milady. Masalahnya temen-temenku tampangnya kayak model majalah fitness dicelup kolam emas.


Aku penasaran deh Milady jatuh cinta sama siapa ya? Cewek selembut itu.


Its! Udah punya pacar masih mikirin cewek lain.


Pamali!


Dipikir-pikir Bu Meilinda juga kecantikannya paripurna.


Kalo lagi mingkem kayak sekarang.


Dan saat menu yang kami pesan datang, aku pesan Bandrek, biasa udah umur segini suka pegel-pegel punggungku, ada sebuah suara ceria yang meneriakan namaku dari belakang.


“Om Dimaaaaaasss!!”


Iya itu suara Romanof.


Extra dadah-dadah.


Di ujung sana dia naik kursi dan melambaikan tangan padaku. Ibunya juga menatapku dengan mata berbinar.


“Teropongnya udah ditutup Om! Aku nggak jadi petualangan Sherina!” serunya lagi.


“Roman! Turun ih ntar jatoh!” Mitha tampak menarik Roman supaya turun.


“Itu Om Dimas loh Mah!!”


“Iya Mamah juga liat! Om Dimas lagi pacaran jangan diganggu!” seru Mitha.


Suara kenceng banget kita kan se-restoran jadi tau kalau aku lagi pacaran.


“Om Dimas bawa pacarnya ke sini boleh, kok aku nggak boleh?”


“Sejak kapan kamu punya pacar Roman?! Bocil 6 taun SD aja belom boleh masuk!!” seru Mitha heboh.


Beberapa orang cekikikan mendengar ibu dan anak yang ceriwis itu.


Aku bengong.


Bu Meilinda?


Ia aku otomatis meliriknya.


Yah, tampangnya seram banget, natap tajam ke Gunawan tapi diam di tempat kayak Puma lagi ngincer ikan asin dijemur.


Sementara kulihat Gunawan, Pria itu menatap Bu Meilinda dengan salah tingkah.


Sementara anak-anak Gunawan berlarian di sekitar kami dan istrinya sibuk dengan buku menu. Gunawan duduk di sebelah istrinya tapi dia tidak berhenti menatap Bu Meilinda.


Aku?


Menyesap Bandrek panas dan melihat bergantian antara Bu Meilinda dan Gunawan.


Tidak, aku tidak berusaha menghentikan Bu Meilinda kalau wanita itu mau melabraknya.


Sudah kepalang tanggung juga soalnya.


Dan lagi aku sudah capek saja, terlalu banyak aktivitas yang tak ada hubungannya denganku.


Biar Gunawan rasain sedapnya ditampar sama Puma.


Jadi, kami berdua menatap Gunawan Ambrose lekat-lekat.


Lucu deh ngeliatin orang salah tingkah. Nonton sambil pesen singkong aja kali ya?


Tiba-tiba setelah menyesap Bandrek seteguk, aku ada ide.


Aku berbisik ke Bu Meilinda “Aku ke sana dulu, menyapa sebentar. Kamu tunggu di sini,” dan disambut dengan tatapan ragu darinya.


Bu Meilinda mengerutkan keningnya, mungkin dia tidak yakin dengan apa yang akan aku lakukan, ya karena memang aku tidak meyakinkan, ah sebenarnya aku juga nggak yakin dengan apa yang akan aku lakukan. Mungkin hanya masalah refleksifitas. Kata-kata refleksifitas tuh bener ada di kamus Bahasa Indonesia nggak sih.


Eh, nggak yakin juga sih.


Aku beranjak dari dudukku dan menghampiri Gunawan.


Pria itu menatapku dengan waspada, aku memberinya senyum licik.


Terlicik, kayak Joker. Nggak seseram itu sih, tampangku kan lebih enak dilihat daripada Joker.


“Roman ih, mana ada layang-layang udah malem gini?!”seru Mitha


“Itu yang terbang-terbang di atas! Itu yang putih itu looooh!”


“Heh! Mata batin ditutup dulu, Mama jadi serem!”


Iya aku juga seram.


“Mas, kenalin suamiku. Pah, Dimas ini kerja di Garnet Bank juga loh! Itu bukannya Mbak Meilinda ya?? Duh aku belum pernah ketemu ternyata bener ya gosipnya dia cuantiiiik banget! Aku ke sana bentar yaaaa kenalan!” seru Mitha sambil menggendong Raka dan menghampiri Bu Meilinda.


“Pak Gunawan. Apa kabar?” aku mengulurkan tangannya untuk menjabatnya.


Gunawan tersenyum dipaksakan dan menyambut tanganku. “Kabar baik, Pak,”


“Om beneran nggak ada layang-layang ya?” si Roman interupsi melulu.


“Nggak ada, coba kamu baca doa sanaaa,” gerutuku. Jadi Roman turun dari gendonganku, duduk tenang di antara kami bersama Rizky, dan keningnya berkerut berusaha micing-micing. Entah ngapain dia, fokusku ke Pak Gunawan aja.


“Liburan Pak?” tanyaku.


“Iya Pak Dimas, Disini memang spotnya bagus untuk santai-santai. Anda bareng Istri?” Pak Gunawan menunjuk Bu Meilinda dengan dagunya.


Aku menoleh ke Bu Meilinda yang sedang menyesap kopinya dengan cara duduk tertegang yang pernah kulihat. Beneran bang-sat ni laki-laki.


Sementara Mitha sedang mengajaknya ngobrol dengan ceria.


“Itu bukan istri saya, itu Direktur saya. Tadinya kami sedang Kunjungan Nasabah di lokasi dekat sini habis itu mampir ngopi-ngopi ke sini sebelum kembali ke hotel,”


“Sepenglihatan saya hubungan kalian lumayan akrab, bukan sekedar karyawan dan Bossnya,”


Aku mengamatinya. Ada nada cemburu dalam kata-katanya.


“Hm, iya. Dia nangis terus karena pacarnya ketahuan udah punya anak tiga ternyata,”


Gunawan dengan waspada menatapku.


“Setelah saya selidiki, ternyata istrinya juga lebih dari satu. Saya nggak sampai hati sih ngomong ke beliau. Ditambah ternyata salah satu istrinya bekas anak buah di Garnet juga. Jadi yaaa, dalam situasi seperti itu, saya juga sudah lama suka sama beliau. Akhirnya saya minta dia jadi pacar saya,”


Aku blak-blakan untuk memberitahunya hal itu.


Aku mengklaim milik-ku.


Sekaligus ancaman kalau aku tahu rahasianya.


Jadi jangan macam-macam menyebarkan rekaman-rekaman VC ini-itu, atau kubongkar mengenai istri-istrinya.


“Hm,” Pak Gunawan hanya bergumam tak jelas.


“Sampai di sini masalahnya bisa kita anggap selesai ya Pak, dan tolong jangan merekomendasikan nasabah lagi ke Garnet Bank. Saya capek menyelesaikannya, soalnya rata-rata macet semua. Mana di belakangnya perusahaannya semua milik bapak juga ternyata,”


“Kalau kamu sampai bilang mengenai masalah ini ke Pak Sebastian-“


“Kalau begitu, jangan muncul-muncul lagi di depan kami,” kataku tegas.


Gunawan menghela napas. Dia melirik Bu Meilinda. “Saya memegang rahasianya, yang seharusnya takut itu kalian,”


Yap! Positif orang breng-sek.


“Saya sudah tahu rahasianya, dan Pak Gunawan tahu kan kalau Garnet memiliki tim IT terkuat dengan GSA-nya,” desisku.


Bu Meilinda tampak tertunduk.


Aku, tersenyum sinis.


Mitha menghampiri kami, “Ih lagi liburan jangan ngomongin kerjaan melulu ah! Mas Dimas bolehlah dilanjut pacar-pacarannya, kami tak akan gangguuu,” sahutnya.


“Baik pak,” aku mengulurkan tangan untuk menjabatnya, dengan senyum termanis ku layangkan padanya. “Nomor telepon saya masih sama dengan yang dulu. Tapi kami tidak akan menunggu bapak loh kalau bapak tidak datang lagi. Kami alihkan ke proyek yang selanjutnya,” Di kata-kata ini terdapat kode : kalo lo nggak mau selesaikan masalahnya sekarang juga, Bu Meilinda bakal gue rebut, oke bro?!


Dan ternyata Gunawan menyadarinya. Ia menatap Bu Meilinda dengan… yah, kuakui ada perasaan tertentu. Mukanya kayak sedih tapi menyalahkan. “Proyek anda harus tetap berjalan tanpa saya, Pak. Soalnya saya ada proyek yang lebih besar,” sahutnya.


Proyeknya adalah keluarganya. Yah, dia cukup mencintainya keluarganya, walaupun penipu.


Aku meringis. “Oke pak, selamat bersantai, maaf mengganggu liburannya.”


“Roman, salim ke Om Dimas!” sahut mitha.


“Aku ikutan main sama Om Dimas aja boleh nggak?”


“Ya nggak boleh laaah,” seruku dan Mitha berbarengan.


“Lah kompak! Bete banget aku niiiih!” seru Roman dengan gaya lebaynya.


Aku kembali ke Bu Meilinda, membantunya berdiri, ke arah kasir dan menuntun tubuhnya yang sudah lemas ke mobil.


Dan sepanjang perjalanan ke hotel dia menangis sambil memelukku.


Wanita ini sudah cukup menahan diri untuk tidak menghabisi Gunawan Ambrose di depan keluarganya.


Salut.