Office Hour

Office Hour
Masalah Jodoh-Jodohan



Aku kaget saat pagi-pagi meja Selena kosong.


Ku tengok kanan -kiri, kutengok ke arah pantry, kutengok kolong meja, dalam lemari, dalam laci. Tak ada.


Lalu kutengahdahkan kepalaku ke atas, siapa tahu dia nangkring di Plafon.


Untungnya tak ada.


“Kemana nih anak?” tanyaku sambil menunjuk meja Selena. Soalnya tak ada pesan masuk ke ponselku mengenai rencananya izin atau cuti mendadak. Dan biasanya Selena itu datang ke kantor lebih pagi dariku, masih pake roll rambut dan masker di wajahnya. Habis itu 5 menit sebelum jam 8 wajahnya udah kinclong dan penampilannya udah cetar.


Ini udah jam 8, dia belom nongol. Baunya juga nggak terdeteksi hidung sledingku ini. Rasanya ruanganku ini bersuasana pegunungan soalnya. Tenang , damai, syahdu. Hal yang tak biasa.


Soalnya kalau dia datang, suasananya macam di dalam Wedhus Gembel, sumpek membakar.


Okky, Daniel, Handry dan Tenny geleng-geleng kepala, lalu lanjut makan bubur kacang ijo.


“Buburnya berasa manis nggak sih?” tanya Okky.


“Iya, santannya juga kok lebih neak ya hari ini,” desis Handry sambil mengernyit.


“Biasanya berasa anyep-anyep yak,” kata Tenny sambil memainkan cairan hijau dari sendoknya.


Daniel meneguk seluruh bubur langsung dari mangkoknya, “Huaaahhh Legaaa! Emang makan kacang ijo itu lebih estetik tanpa dengerin omelan Malaikat Maut! Enaknya berasa hangat di tubuhku iniii!”


Malaikat mautnya belom dateng, makanya suasananya tenang nggak grasa-grusu.


Ya selena itu.


“Hay Gaeeeeeessss!! Aku bawa Mie Ayam selusin niiih!!” Cecilia datang dengan riang sambil angkat-angkat kantong plastik.


“Horeeee!!” seru kami sambil mengerubunginya.


**


“Mbak Seleb mana Pak Dim?” tanya Cecilia sambil mengunyah. Ini anak Lady rocker juga ya. Atas pake blazer, rok sepan, tapi bawahnya pake sneakers. Rambutnya dia bikin gelung di atas kepala biar lebih rapi, ekstra pita warna pink.


“Sepatu lo ganti ya ntar, tauk nih gue juga nanyak ke anak-anak tumben Selena belom dateng,”


“Iya ntar diganti, aku kan susah kalo naik motor pake sepatu hak tinggi. Lohhh Mbak Selena itu paling rajin datang pagi loh di sini, ini udah jam 8 lewat 15 kok belom nongol ya? Coba ditelpon Pak Dim jangan-jangan dia diculik Alien, tahu kan kalo Alien itu suka naruh chip di tubuh kita untuk mendeteksi pergerakan makhluk bumi ini sehingga mereka bisa mengambil langkah strategis bagaimana menyerang bumi kita tercinta ini? Karena kabarnya, sampai sekarang manusia itu dikabarkan sebagai Makhluk sempurna yang belum bisa dikalahkan baik dari kebaikannya maupun dari keburukannya! Baiknya 10x lipat jeleknya juga 10kali lipat. Yang satu ngerusak bumi, yang satu lagi melestarikan bumi. Kan membingungkan untuk kaum Alien, mereka pasti bilang ini maunya manusia tuh apa sih sebenernya kok beda-beda. Nah penculikan Alien itu biasanya random Pak Dim, bla bla bla bla-“


Aku langsung memotong ocehan Cecilia.


“Bisa-bisa pesawat mereka meledak kalo yang mereka culik itu Selena,”


Dan kami ketawa bareng-bareng.


“Mas,” Meilinda masuk ke ruangan kami. Dia bawa-bawa bantex hasil investigasi Cabang Solo.


Semua langsung diam beku.


Ada Direktur, rela nyamperin ke ruangan, bawa-bawa bantex tebal pula. Dan terkenal sebagai Boss Killer.


Sambil meletakkan bantex di mejaku di seberang, dan kami masih diam waspada, dia menatap kami semua ambil geleng-geleng kepala.


“Sarapan itu seharusnya sebelum jam 8, yang kalian lakukan ini namanya korupsi waktu,”


Njir!!Langsung nohok ke tenggorokan.


Diomongin secara lembut kenapa rasanya lebih tajam daripada diteriakin ya?!


“Maaf Bu,” desisku sambil menegak kuah Mie Ayam sekali teguk, lalu beres-beres meja. Semua anak-anak langsung kalang-kabut berlarian ke segala arah.


Dia menegur kami dalam kapasitasnya sebagai Direktur Kepatuhan.


Sambil duduk di kursi depan mejaku, dan menatapku yang lagi minum, dia pun tersenyum.


“Aku ke sini mau mengabarkan kalau akan ada banyak anak buahku yang dimutasi. Aku butuh karyawan baru yang kemampuannya menyamai kamu,”


“Hem, sudah pasti karyawan senior ya?”


Meilinda mengangguk, “Tapi David Huang mengajukan beberapa anak yang menarik. Aku minta kamu mengeceknya dan bergabung dengan Divisi HRD untuk ikut ambil usulan,”


“Siapa saja?”


“Kamu kenal Andrew Daud?”


“Nggak kenal,”


“Dia Kepala Seksi Analyst di Garnet Property Cabang Jerman saat ini, katanya minta pindah ke Indonesia saja karena orang tuanya sudah mulai sakit-sakitan,”


“Oke, Lalu?”


“Nama jalan?”


Bukan, Dimaaas,” Meilinda terkekeh, “Dia Sekuriti di Garnet Grup,”


“Sekuriti?”


Meilinda mengangguk.


“Garnet Grup Kantor pusat?!”


“Iya, dia sekarang sedang menyelesaikan kuliah sembari  bekerja sebagai sekuriti. Tapi kemampuannya lumayan loh. Memang dia sempat terlibat beberapa kasus kriminal, tapi kakak sangat merekomendasikannya,”


“Hah? Pak Sebastian merekomendasikan sekurity yang pernah terlibat kasus kriminal dan sekarang masih kuliah untuk bekerja di Garnet Bank?!”


“Sulit dipercaya kan?”


“Mindblowing,”


“Saya percaya kakak saya tak salah menilai seseorang,” kata Meilinda,  “Yang ketiga, ada lagi masuk satu data, Perempuan. Namanya Ari Sangaji. Masalahnya, sama seperti Sena, dia belum lulus kuliah,”


“Menempatkan orang-orang yang belum berpengalaman untuk bekerja di Divisi Kepatuhan, apa tidak beresiko nantinya?”


“Itulah kenapa aku butuh kamu,” kata Meilinda.


“Karena?” tanyaku.


“Pada akhirnya karyawan yang bekerja di Divisiku, Divisi Kepatuhan, akan masuk juga ke Divisi kamu, Divisi SKAI. Karena dua unit ini saling berkaitan. Yang satu internal. Yang satu secara umum. Jadi kurasa kamu juga harus ambil andil untuk menilai kemampuan mereka karena pada akhirnya suatu saat mereka juga akan menjadi anak buah kamu,” ujar Meilinda.


“Benar juga sih,”


Lalu Meilinda menatap ke arah meja Selena yang kosong, dan menyeringai. “Belum datang ya dia,” desisnya sambil tersenyum sinis.


“Biasanya dia datang pagi, ini entahlah, belum ada kabar juga darinya,”


“Kurasa aku tahu kenapa,”


“Kenapa?” tanyaku. Sempat kulirik, anak-anak staffku langsung menoleh ke arah Bu Meilinda. Nguping tapi terang-terangan.


“Tadi malam itu Pak Farid AL Farouq berkunjung ke rumahku, biasa, membicarakan masalah reuni. Ada juga Pak Goetto dan Pak Adara, bapaknya Milady,”


“Hem, empat serangkai ya,” desisku.


Pak Farid, Bapaknya Selena.


Pak Adara, Bapaknya Milady.


Dan setahuku Pak Goetto di luar negeri, mungkin mereka merayakan kepulangan Pak Goetto ke Indonesia makanya kumpul-kumpul.


Selena bisa berteman dengan Milady mungkin juga karena orang tua mereka bersahabat.


Bisa jadi mereka berempat itu adalah murid-murid ibuku.


Aku juga pingin deh anak-anakku di masa depan nanti berteman dengan anak-anak dari orang-orang yang kukenal baik. Jadi tidak sulit mengawasi mereka.


“Betul. Empat serangkai,” Meilinda menyeringai, “Dan di sana Trevor juga datang. Terang-terangan menolak soal perjodohannya dengan Milady,”


“Masalah perjodohan di kalangan bisnis itu sudah biasa,”


“Ya, Masalah Trevor ini tidak biasa. Kamu kan tahu Trevor memiliki Phobia,”


Yang aku tahu, karena kekerasan yang dialaminya saat kecil oleh ibunya, Trevor tidak bisa berdekatan dengan wanita lebih dari 5 menit. Ia akan langsung keringat dingin dan hampir pingsan. Karen ayang dilihatnya dari wanita adalah perasaan ‘sakit’.


Itu juga yang membuatnya melajang di usinya yang ke 35 tahun.


Hanya ada beberapa wanita yang sifatnya bertolak belakang dengan ibunya, yang mampu ia toleransi keberadaannya. Seperti Ayumi, pacarnya di Jepang, yang sudah kita tahu wanita di negara itu terkenal dengan slogan Yamato Nadeshiko, juga Milady yang jelas sifatnya penuh kelembutan dan cerdas berbeda denganibunya Trevor.


“Hanya Milady yang bisa dekat dengannya, dan Kakak tidak setuju ia menjalin hubungan dengan wanita Jepang,”


“Iya itu yang kudengar,” gumamku. Aku ertanya-tanya dalamhati, apakah Meilinda tahu kalau aku pernah jatuh hati dengan Milady? Jangan sampai tahu deh, bisa-bisa dia musuhi itu cewek.


“Tapi tadi malam Trevor menolak perjodohan dengan Milady, jadiiii,”


“Jadi?”


“Kakak menjodohkan Trevor dengan Selena,”


“Halah!!”