
“Sekedar tahu nama sih Mbak, dia sering kasih proyek ke Garnet Bank,”
“Iya dia memang sering ambil kerja sampingan. Lumayan hasilnya bisa buat sekolah anak-anak,” kata Mitha ceria.
“Kalau tak salah Pak Gunawan masih kerabat Bataragunadi ya?”
“Ya kerabat jauh... Pak Hans punya sepupu, sepupunya punya ipar, nah itu keluarganya Gunawan,”
“Pak Hans itu siapa Mbak?”
“Itu bapaknya Pak Sebastian,”
“Oh gitu... masih hidup orangnya Mbak?”
“Alhamdulillah masih sehat loh Mas, kalau tak salah usianya sudah 80 tahunan sekarang,”
“Mbak Mitha dulu di GSA?” aku penasaran soal yang ini.
“Hihihi,”dia cekikikan. “Saya bagian operator dan penyamaran Mas, kalo yang berantem-berantem saya kasih ke unit penyerangan.
“Kenal Pak Arman dong?”
“Waktu saya kerja di sana, Pak Arman belum masuk GSA, Mas. Dia masih di kepolisian. Tapi saya dengar tuh kegaduhannya, yang katanya dia membunuh salah satu anggota dewan yang membunuh keluarganya, ribet urusannya Mas. Saya aja sampai begidik mendengarnya,”
“Mbak Mitha sudah menikah saat itu?”
“Belum, Mas. Saya resign dari GSA juga karena...” dia tidak melanjutkan ceritanya, seperti ada keraguan di rautnya.
“Kalau nggak mau cerita nggak papa sih Mbak,”
Dan Mitha pun mencondongkan tubuhnya ke arahku, “Pernikahan saya tidak direstui oleh Pak Sebastian,” bisiknya.
Aku mengangkat alisku, ada kepentingan apa Pak Sebastian sampai ikut campur urusan cinta orang lain?!
“Jadi sampai sekarang beliau tidak tahu kalau saya dan Gunawan menikah,”
“Memang apa alasan Pak Sebastian, mbak?”
“Dia bilang Gunawan bukan laki-laki yang baik untuk saya,”
Aku sangat setuju.
Tapi bagaimana caranya memberitahunya?
Aku sendiri belum pernah bertemu dengan si Gunawan ini...
“Mas Dimas ke sini sendirian?” tanya Mitha kemudian.
Aku menarik nafas panjang. Rasanya tidak etis kalau kuberitahu aku kesini bareng sama Bossku yang mana adalah adiknya Pak Sebastian, yang mana adalah pacar suaminya Mitha, dan kami ke sini dalam rangka memergoki Gunawan.
Aku bukan tukang gosip, bukan tukang gibah, tapi entah bagaimana aku selalu berada dalam situasi yang sulit, yang membuatku jadi tahu semua urusan orang. Dan rasanya tidak sampai hati kepada Mitha dan anak-anaknya. Dilihat dari segi mana pun Bu Meilinda pasti akan kalah juga. Dan bagaimana pun Mitha tampaknya adalah istri Sah Gunawan.
Rasa-rasanya aku harus ketemu sama si Gunawan ini...
**
Bagaimana caranya agar Bu Meilinda tidak terlalu sakit hati dan melupakan Gunawan dengan sukarela?
Aku memikirkan itu sepanjang jalan ke lantai atas.
Karena sudah malam, Mitha dan anak-anaknya kembali ke kamar, dan aku pun dengan pandangan menerawang berjalan ke kamar hotel sambil berpikir.
Kulihat di ujung sana, di depan kamar, Bu Meilinda berdiri di tengah koridor dengan kimono hotel menghadangku sambil berkacak pinggang. “MAEN TEROOOOSSSS!!” serunya.
Buset, ini tuh di koridor hotel! Dan aku pria berusia 33 tahun, yang pulang jam 11. Bencong aja baru keluar mangkal di taman lawang! Aku udah disindir-sindir!
“Baru buka kali bu Club-nya,” gerutuku. Serasa lagi maen bola pas maghrib disuruh pulang tapi diacungin sapu lidi.
“Kamu ke club?”
“Lah terus salah?”
“Yaa... nggak papa sih, itu hak kamu sebagai laki-laki dewasa,” desisnya sambil membuang muka terus masuk ke dalam kamar.
Bilang ‘nggak papa’ tapi kenapa mukanya ditekuk gitu coba?!
Dan setelah itu dia hanya terus-terusan misuh nggak jelas sambil tidur di ranjang. Di tengah-tengah, seakan sedang mengklaim kalau itu ranjang miliknya, dirimu silakan tidur di extrabed.
Kuperiksa extra bed yang memang kutegakkan untuk menutupi dinding kaca kamar mandi, lah basah.
Mandinya gimana sih sebenernya ni orang, kenapa sampe nyiprat-nyiprat keluar gini?
Tapi jelas aku tak mau kalah. Inikamar yang kubayar pakai uang tabunganku perkara ada tulisan Honeymoon nya. Jadi...
“Duh!” serunya terganggu, “Kamu tidur di sofa doong,”
“Ibu aja tidur di sofa, saya mau tidur di kasur,”
“Ya kan ada extra bed,”
“Sana tidur di extra bed,” gumamku.
“Saya kan perempuan Dimas, ngalah dong!”
“Apa yang terjadi dengan emansipasi wanita?!”
Tepok-tepok bantal, tarik selimut sampai kepala, tidur.
**
Bangun kesiangan... ambyar!
Pas sadar udah jam 10 loh!
Padahal aku sudah berniat untuk menghindari Bu Meilinda ketemu sama Mitha dan Gunawan.
Belum kalo ada yang memviralkan.
Ini sih gawat.
Jadi, aku bercukur kilat, mandi seadanya yang penting wangi nggak bau asem, kusambar pakaian yang pertama kulihat, dan terburu-buru aku ke lantai bawah sambil mencari-cari Bu Meilinda.
Sampai di Lobby Hotel aku menyapukan pandanganku ke segala arah.
Yang kucari adalah wanita bertubuh mungil berkulit putih pucat dan pakaiannya membuat wanita lain merasa jiper saking mahalnya, wanita seperti itu pasti sangat mencolok, bisa jadi mudah ditemukan.
Tapi aku lupa, ini Hotel Bintang 5 kalo ada rangking 10 mungkin ini hotel bintang 10. Sudah pasti wanita bertaraf internasional seperti Bu Meilinda berseliweran di sini.
Apa aku tunggu aja di lobi duduk dengan tenang, menunggu ada suara ribut-ribut atau pertumpahan darah baru aku samperin. Atau aku duduk di restoran ngopi-ngopi dulu sampai ada titik terang. Kan belum tentu juga ada di sini, siapa tau dia belanja keluar hotel, atau lagi berenang-renang di kolam.
Akhirnya karena isi dompet yang mepet, aku duduk di Lobi. (hehe).
“Mas,” seorang wanita yang tidak kukenal menghampiri dan duduk disebelahku. Cantik sih, tapi make up-nya tebel banget kayak yang di Yutub acara The Power Of Make Up. “Aku kamar 302, yah,” dia menyelipkan kartu ke tanganku.
Eh gilak! Aku ditawar?!
“Nggak dijual, Sori Neng,” desisku sambil mengembalikan kartunya.
”Maunya berapa? Aku mampu kasih kamu 100juta sejam,”
Aku tertegun.
Ambil jangan nih?! Masa keperjakaanku murah amat cuman 100juta? Apa kutawar aja satu em gitu?!
“Udah ada yang punya!” aku merasakan ada seseorang yang memelukku dari belakang. Wangi yang kukenal. “Cari yang lain aja yah mbak, yang ini nggak jualan, ” Akhirnya yang kucari ada di sini, di dekatku, dan dalam kondisi belum menyerang siapa-siapa.
Kulirik kuku panjangnya, belum ada noda darah.
Aku pun lega.
Lega karena Mitha nggak kenapa-napa.
“Eh, Sayang,” Aku mencium rahangnya dengan lembut. “Anak-anak udah di kamar?”
Bu Meilinda tampak diam, mungkin beliau mencerna. Lalu dia berdehem. Maksudku ingin menunjukkan di Neng Cantik Jelita Gemoy bohay di depan kami ini, kalau kami adalah pasangan suami-istri jadi dia bisa gone with the wind aje.
Setelah beberapa saat dia baru bisa ngeh maksudku seenaknya menciumnya “Si kakak mau eskrim, tapi si dede mintanya pizza, jadi terserah kamu mau ajak mereka makan di mana," begitu katanya.
Akting maksimal.
Jantungku berdebar semakin kencang.
Karena kok rasanya natural banget sih?!
“Yang penting kamu, sayang. Kamu maunya makan apa?" kataku
Tak terasa cewek yang tadi tiba-tiba menghilang.
Oke, Cut! Akting selesai.
Kami terdiam di lobi, aku berusaha mengatur napas dan jantungku. Wah, belum berumah tangga aja udah berasa capek banget yah. Kok celana berasa sempit?!
“Baru ditinggal sebentar udah diincer vampir,” sindirnya sambil duduk di sebelahku.
“Baru meleng sebentar udah ngejar yang lain," balasku.
Dia terdengar menghela napas. “kamu tidur udah kayak mati, saya tendang-tendang, malah nendang saya balik! Kurang ajar...”
“Saya penganut sistem Nyawa dibalas Nyawa, kalo digigit anjing, gigit balik," katakuku.
Terdengar decakannya, “Ketahuan kamu yang nendang saya dari kasur waktu di Hambalang,”
Aku hanya menyeringai.
Lalu terbesit ide untuk membuat dia semakin menyukaiku, agar dia melupakan Gunawan.
Entah bagaimana aku semakin peduli padanya, padahal tidak terbersit sedikit pun mengenai perasaan cinta padanya.
Apakah aku terlibat cinta lokasi? Atau Cinta karena Kondisi?
Karena sejak kejadian itu, aku semakin tidak dapat mengalihkan pandanganku darinya.
Aku menyodorkan tanganku, meminta hp nya.
“Buat?” tanyanya.
“Sini.” desisku sedikit menekan.
Ia ragu menyerahkan hpnya. Kucari nomor telepon Gunawan di sana, dan sesuai dengan yang diajarkan Arya, aku lacak keberadaan Gunawan. Nggak sampai 1 menit, “Waduh,” gumamku.
“Kenapa Mas?”
“Gunawan Ambrose menuju lobby.” Aku deg-degan.
“Sendirian?”
Aku menghela nafas, aku tak ingin memberitahunya hal ini, tapi harus kulakukan, “Nggak tahu Bu, kita lihat saja,”
Dalam hati aku berdoa supaya Gunawan tidak bersama Mitha dan anak-anaknya.
Tapi doaku tidak terkabul.
Karena saat lift terbuka, yang kulihat pertamakali adalah Romanof dengan lollipop di mulutnya, Rizky yang sedang menenteng Dotnya, dan wajah khas Mitha yang ramah dan sumringah.
Laki-laki di belakang Mitha, tampak merangkul bahu Mitha sambil menggendong seorang bayi, yang kukenal, itu Raka.
“Itu-“
dan aku mencium bibir Bu Meilinda.