
“Kamu tahu nggak,” dia mulai berbicara dengan santai denganku.
Aku akhirnya lanjut makan lagi, perutku bunyi lagi seperti bilang : Belum selesai Booos, piringnya belum bersih mengilat Booos!
“Saya tadinya ragu-ragu pas kamu ketuk pintu ruangan saya. Saya hanya berharap kamu bisa menjaga rahasia saya. Tapi dipikir-pikir lagi, untung kamu yang masuk ke ruangan saya dan bukan orang lain,”
“Kenapa? Salah besar kalau ibu pikir bisa percaya sama saya,”
“Selama ini saya memang paling percaya sama kamu. Saya jadi ingat, sebelum kamu jadi karyawan kami, cewek-cewek di kantor sudah pada heboh gara-gara ngeliat kamu di ruangan interview. Saya hampir saja tidak menerima kamu masuk ke Divisi Audit nyatanya hasil tes kamu cukup tinggi,"
Aku mencebik merasa tersindir. “Jadi, apa saya memuaskan sebagai karyawan?” tanyaku.
“Kamu sangat pintar, teliti, saya cukup puas dengan hasil kerja kamu. Tapi, mulut kamu itu perlu diajari sopan santun,”
“Kalau saya ramah, takutnya kejadian di kantor lama terulang lagi, Bu. Saya lumayan traumatis akibat hal itu,” kataku.
“Hm,” dia menatapku lekat-lekat.
“Nggak usah ngeliatin saya, ntar suka,” desisku.
Dia hanya berdehem sambil menggaruk tengkuknya. Reaksi yang cukup mencurigakan di mataku.
“Untung kamu judes,” gumamnya.
“Kalau saya waktu itu sudah pulang, ibu berencana akan memanggil siapa? Syarif?”
“Tetap kamu,”
“Tetap saya?”
“Hal terakhir di pikiran saya saat kamu belum mengetuk pintu itu, adalah pagi-pagi saya akan meneriakkan nama kamu, agar kamu datang ke ruangan saya,”
“Astaga...” desisku sambil menyeruput Kopiku.
“Sahabat Trevor tidak akan mengkhianati saya, kan?!”
“Ya ampun...” gumamku.
“Kata Trevor kamu masih perjaka, jadi kamu nggak akan berani macam-macam,” ia menyeringai.
“Udah dong bu,” gerutuku.
Ia akhirnya memesan makanan lain, mungkin Bu Meilinda sudah agak lega mencurahkan hatinya padaku.
Aku gantian yang kini memperhatikan gerakannya.
Saat duduk dia anggun, punggungnya tegak. Manner yang sangat baik, dengan cara makan yang tidak terburu-buru. Kalau makan roti, dia cuil dulu dan makan dengan perlahan.
“Bu...”
“Hm?” dia menatapku.
“Seandainya... Gunawan tidak seperti yang ibu pikirkan bagaimana?”
“Maksud kamu?”
“Seperti ada hal-hal yang dia sembunyikan dari ibu, tapi sebenarnya kami semua sudah tahu,”
“Apa yang kamu tahu?” ia mencondongkan tubuhnya ke arahku. Tatapannya langsung waspada seakan curiga.
Aku pun menatap layar ponselku.
Lalu membaca lokasi yang tertera di sana. Postingan terakhir Gunawan di instagram milik salah satu istrinya, di posting pagi ini. Mereka ada di sebuah hotel. Hotel bintang lima...
“Gunawan ada di Bandung sekarang, bersama anak dan istrinya,”
**
Malam ini di kantor, suasana menjadi semakin panas.
Panas untukku.
Semua orang menatapku, memperhatikanku, mengamatiku. Aku benar-benar risih.
Cewek-cewek dari divisi Marketing berkumpul bergosip di meja Gio di depanku, sambil berulang kali lirik-lirik ke arahku.
Tapi aku tetap teguh menyelesaikan laporanku, sambil memikirkan mengenai raut wajah Bu Meilinda di saat terakhir tadi.
Tegang dan waspada, dengan tangannya yang gemetaran.
Ada perasaan menyesal dalam diriku, kenapa saat kami berhadapan, aku selalu saja membuatnya kesal.
“Mas Dimas, Mas Dimas,” kudengar Syarif memanggilku.
“Napa Rip?”
Dia ada di belakangku, sedang membersihkan ruangan karena sebentar lagi sudah saatnya jam pulang.
“Mas Dimas itu nggak pernah buang sampah ya? Belakangan kok tempat sampahnya kosong terus,”
Aku spontan menaikkan alisku dan kutatap tempat sampahku yang sudah ditenteng Syarif.
“Lah...” gumamku.
Pikiranku ke arah Desy. Dia bilang waktu itu ada orang-orang yang secara khusus melelang benda-benda bekas kupakai.
Aku langsung merinding.
“Hem, mungkin udah dibersihin sama OB lain?” desisku berusaha berpikiran positif.
“OB yang diberi wewenang di ruangan direksi ini kan hanya aku Mas, mana mau OB lain nginjekkin kaki ke sini, mereka takut sama Pak Danu sama Bu Meilinda,” kata Syarif.
“Udahlah, besok aja dibersihinnya,”
“Iya Mas, tapi aku kan penasaran aja,” kata Syarif menurut, sambil melanjutkan sapu-sapuannya.
Aku melanjutkan mengetik, tapi sudut mataku ini fokus ke arah kerumunan marketing yang sedang mengobrol seru di meja Gio.
Lalu sengaja kurobek kertas di atas meja, dan kujadikan bola. Lalu kubuang ke tempat sampah.
Aku keluar dari ruangan, menunggu di selasar sambil merokok.
Aku ingin membuktikan sesuatu.
Kulihat dari jendela besar, satu per satu anak buahku keluar dari area manajemen ke arah lift.
Sudah pukul 17.30 rupanya.
Lalu kulihat Pak Danu dan Pak Haryono berjalan ke arah lift Direksi untuk turun ke bawah.
Setelah itu Tresna dan Heksa merangkul bahu Oki sambil heboh mau makan apa malam ini. Sepertinya mereka lagi berdebat karena Oki ingin makan ikan bakar, Tresna malah mau ke karaoke, sementara Heksa mau langsung pulang dan tidur.
Lalu... Gio dan ciwi-ciwi marketing pun keluar dari area manajemen.
Mereka sempat melirikku, lalu senyum-senyum sambil manggut-manggut. Gio hanya dadah-dadah pamit pulang padaku.
Dan Bu Meilinda pun keluar dari koridor sambil mengomel, “Duuuh! Jangan ribut di sini dong! Ngapain sih rame-rame di ruangan Direksi?! Kalian kan punya area sendiri di lantai bawah!!” suaranya kedengeran sampai ke selasar.
Cewek-cewek Marketing langsung pada diam sambil merengut. Mereka hanya menatap Bu Meilinda dengan sinis.
Pas Bu Meilinda menoleh ke arah jendela selasar dan mendapatiku berdiri di sana dengan rokok di sudut bibirku.
Ia pun membuka pintu penghubung dari besi berat itu, “Dari tadi saya cariin malah nongkrong di sini! Merokok dapat mengakibatkan penyakit degeneratif!”
Aku menghembuskan asap ke atas.
“Bisa dibantu bu?” tanyaku.
“Saya kabari Cabang Bandung dulu,”
“Kita nggak ke Cabang,”
Aku langsung tahu kita mau ke mana.
“Ke ruangan saya dulu yuk bu, saya harus cari alasan untuk Dinas besok. Nggak mungkin kita cuti berdua sekaligus, nanti banyak yang curiga,”
Bu Meilinda menghela nafas panjang sambil menatapku dengan sendu.
“Capek saya,” keluhnya. “Semua ini membuat mental saya down,”
Aku melihat semua orang kini berkumpul di koridor sambil menatap ke arah kami, mereka tampaknya menunggu ada bahan gosip.
Aku menjatuhkan sisa rokokku ke lantai dan kuinjak supaya apinya padam.
“Sabar dulu, bu,” dan aku pun berjalan masuk ke dalam gedung, ia mengikutiku dari belakang.
Aku sempat mendengar Bu Meilinda kembali mengomeli para cewek Marketing, “Jangan kerumunan di sini dong!! Ganggu orang mau jalan! Apa? Mau protes?! Ini gedung milik keluarga saya! Sini kalau mau protes, saya lempar keluar!!”
Preman bener sumpah...
Tapi efektif, semua pada diam dengan melipir ke samping.
**
Sampai di dalam ruangan, aku pun berhenti mendadak.
“Doh!!” seru Bu Meilinda karena ia juga berhenti dan hidungnya terantuk punggungku, “Berhenti kok nggak pake alarm sih Dimas!!” serunya kesal.
“Sssst! Bawel...” gerutuku sambil langsung mengintip dari pinggir pintu.
Aku memicingkan mataku menajamkan penglihatanku dan berlutut di depan pintu.
Dan kulihat dari sela-sela pintu, kejadian mengherankan terjadi di luar sana.
Cewek-cewek dari divisi Marketing yang tadi berkumpul di koridor, berlarian ke arah selasar dan mereka... memperebutkan puntung rokokku!
Malah beberapa hampir saja jatuh dari pagar pembatas, dan akhirnya diomeli sekuriti.
Sampai dalam mereka jingkrak-jingkrak nggak jelas dan membungkus puntung rokokku dengan tisue, lalu berlarian masuk ke lift.
Aku ternganga sampai kurasakan lututku ini gemetar.
“Wah, gila! Saya benar-benar melihatnya sendiri!” desis Bu Meilinda sambil menjadikan punggungku tumpuan, dia ternyata juga ikut mengintip. Pantas ubun-ubunku terasa berat, ternyata ditiban bongkahan lemak besar, jumlahnya dua pula.
“Katanya itu sampai dilelang loh Dimas, ” desisnya antusias. Nggak usah diomongin juga.
“Tau dari siapa?!” desisku.
“tau dari Desy,”
“Tapi ibu nggak beli, kan?!”
“Saya nggak beli sampah,” sahutnya. Pinter. Pingin elus-elus kepalanya deh.
“Kalau saya kesal, kamu tinggal saya bius, saya karungin, saya jual ke tante-tante. Laku paling 5 milyar...” katanya.
“Human Traficking,” gerutuku nggak jadi seneng.
“Bener juga, kamu masih perjaka. 10 miliar lah...”
Sue’ bener
Dan saat kami ke ruanganku, sampahku sudah kosong.
Aku langsung deg-degan, takut kejadian lama terulang kembali.
Dulu itu kuingat-ingat lagi, bermula dari mereka yang memajang fotoku di kubikel mereka dengan dalih ‘biar semangat kerja’, lalu merambat sampai minta foto bareng, aku sampai bolak balik ganti gelas kopi karena mereka selalu minta pakai gelas bekasku. Dan akhirnya...
“Duh...” desisku sambil memegangi dadaku, karena rasanya sesak dan debaran jantungku jadi tak menentu.
“Mau saya laporkan ke manajemen tidak? Takutnya kerja kamu jadi nggak fokus karena ketakutan,” kata Bu Meilinda sambil duduk di kursiku dan mengangkat kaki ke atas meja.
Cela-na dal4mnya kemana-mana. Ni Boss Lady kalau di depanku nggak ada jaim-jaimnya.
Aku berdiri bersandar di pinggir mejaku sambil merenung. Aku tidak bisa merepotkan manajemen untuk urusan beginian, karena di kantor lamaku dulu, pihak manajemennya sampai kesal mengurusiku akhirnya aku malah dipecat.
“Pijetin,” desis Bu Meilinda sambil meletakkan kakinya di pangkuanku.
Aku memijatnya perlahan sambil berpikir.
Apa cara efektif untuk menyingkirkan para cewek yang ada indikasi ke arah vandalisme.
“Kita ke nasabah Bandung dulu, kamu besok pagi bawakan saya filenya cabang Braga ya, bla bla bla bla,” aku tak fokus mendengarkan Bu Meilinda bicara. Otakku langsung terasa penuh.
“...habis itu kita ke Intercontinental, kamu booking dulu via online malam ini- bla bla bla-“
Aku masih termenung sambil memijat kaki yang satunya.
“Habis itu-“
Krieeet!
Gio pun masuk ke dalam ruangan.
Diikuti dengan beberapa cewek.
Kami menoleh ke arahnya.
Mereka tercenung menatap kami.
Kami juga terdiam menatap mereka.
Situasi entah kenapa berubah tegang.
“Balik lagi, Yo?” sapaku sambil lanjut memijat betis Bu Meilinda. Kulakukan semua karena reflek, sampai aku kemudian sadar ngapain juga aku rela memijat kaki Boss-ku?!
Tapi rupanya itulah fokus pandangan mereka.
Kaki Bu Meilinda di atas pangkuanku.
“I-i-iyaaa Mas Dim, laptopku ketinggalan...” gumam Gio sambil dengan hati-hati mengambil tas laptop yang tergeletak di atas kursinya, tapi matanya masih lirik-lirik ke arah aku dan Bu Meilinda.
“Gio, kamu besok urusin surat dinas saya dan Dimas ya, dua malam ya. Kami mau ke cabang Braga dan Gatsu, dan ada beberapa nasabah yang kami mau lihat peruntukannya,” kata Bu Meilinda tegas.
“Baik bu...” gumam Gio sambil kabur dari sana.
Kami bisa mendengar teriakan histeris dan langsung ramai di luar ruanganku.
“JANGAN BERISIK!!” seru Bu Meilinda.
Lalu hening.
Seketika, aku dapat ide.
Mungkin, ini bisa jadi jalan keluarku. Mereka menurut kalau sama Bu Meilinda. Lebih tepatnya mereka takut.
“Bu...” desisku.
“Apa?”
“Mau jadi pacar saya?”
**