Office Hour

Office Hour
Ngebahas Ruangan



Bahkan setelah selesai meeting aku tidak bisa berbicara dengan Meilinda. Karena saat ini divisiku sudah berada di bawah Presiden Direktur yaitu Pak Danu, maka kami mengadakan meeting internal setelah meeting besar yang tadi.


"Akhirnya kita bisa bersatu juga baby!!" seru Daniel saat melihatku. Aku tidak menanggapinya dengan terlalu antusias karena benakku hanya dipenuhi dengan Meilinda.


"Okkyyyyyyy” seru Tresna sambil merentangkan tangannya.


“Okkkkyyyyyy!” seru Heksa yang masih ngunyah entah apa sambil menghampiri Okky.


“Duo Racuuuuun,” seru Okky yang langsung memeluk mereka berdua.


Jadilah adegan komidi putar. Kayaknya seneng banget itu mereka bertigaan jadi satu divisi. Ditambah Daniel, lengkap sudah kegaduhan dalam hidupku.


Heran deh, tiap makan siang bareng, tiap pulang juga bareng, kenapa juga sekarang macam nggak ketemu bertahun-tahun.


Dasar Bocil.


Dan Aku masih diam, merasa malas. Perutku kayak diaduk-aduk.


Haduh mendingan Meilinda ngomel-ngomel maki-maki deh daripada diam begini malah bikin aku ngerasa bersalah banget!


"Beliin gorengan," desisku lemah saat Daniel teriak-teriak nggak jelas ikutan heboh bareng tiga serangga. Aku menelungkupkan kepalaku di atas meja.


Dunia rasanya hampa! Walau pun sekitarku gempar.


"Siyap bossquuuu!! Kali ini gorengannya gue aje yang traktir! Tapi KPI gue lo bagusin yeeeeee!" dia ngacir ke kantin.


*KPI (Key Performance Indicator) adalah alat ukur yang menggakmbarkan efektivitas perusahaan dalam mencapai tujuan bisnisnya. Perusahaan menggunakan KPI untuk mengukur kesuksesan pencapaian target mereka. KPI juga digunakan untuk mengukur kinerja karyawan secara personal.


"Kopinye jangan lupa," desisku nggak semangat.


"Pak Dimas. Mau tips dari saya?" tawar Selena, terlihat di wajahnya ia lagi seneng. Mungkin karena melihatku sengsara.


"Kalo tips dari lo nggak beres, gue mutasi lagi lo ke tempat Mas  Bram," desisku.


Senyumnya memudar.


"Ya sudah kalo nggak mau dengar,"


"Yeee gue nggak bilang nggak mau denger,"


"Nggak jadi," desisnya langsung bete.


Ada apa sih dia sama Mas Bram?


Bagus nih bisa dijadiin ancaman efektif kalo dia macem-macem, tinggal sebut nama ‘Bram’ langsung mingkem.


**


Meeting berlangsung lama ternyata sampai hampir tengah malam kami masih membahas strategi budget untuk pesangon dan rekrut karyawan.


"Pak, bukankah seharusnya ada masukan juga dari Internal Control karena selama ini yang mengawasi kinerja operasional kan divisi kepatuhan," kata Selena


"Tadi Meli sudah bilang mau mengumpulkan bahan pembahasan, dia minta waktu sehari. Besok pagi mereka meeting dengan kita. Tampaknya tadi dia juga mengontak Dirga untuk laporan polisinya." kata Pak Danu.


Tim Internal Control ada 5 orang ditambah Pak Jaka yang dipindahkan dari divisi Audit ke divisi kepatuhan. Pasti habis mereka diomel-omelin... Sayang sekali aku nggak di sana untuk menonton adegan pembantaian.


"Dimas coba kamu koordinasi sama Meli, soalnya kamu kan punya semua bahannya."


"Sepertinya semua divisi juga sedang meeting internal untuk membahas kasus ini. Mungkin dia belum pulang. Baik untuk saat ini cukup dulu." kata Pak Danu menutup meeting.


**


Malam ini sunyi sendiri...


Aku malas pulang ke rumah, dan lagi udah malam juga. Lama-lama bisa-bisa aku sewa satu ruangan di gedung ini untuk jadi kos-kosanku saking seringnya aku menginap. Syarif juga pamit pulang setelah ia membelikanku martabak. Selena merayu Daniel untuk diantar pulang karena dia bawa 2 koper.


Aku merogoh tasku. Menatap cincin berlian yang kubeli di Solo. Aku tidak berkesempatan untuk memberikannya tadi. Kulongok ruangannya sudah gelap. Yah dia harus banyak istirahat karena besok pasti divisinya yang akan diserang. Karena control untuk sehari harinya ditangani oleh Divisi Internal Control, bisa sampai kecolongan begini jadi sudah pasti besok dia akan ditanya.


Banyak tekanan datang ke Bu Meilinda akhir-akhir ini. Kebanyakan datang dari masalah pribadi. Aku tidak ingin lebih mengganggunya. Jadi, setelah memikirkan beberapa lama, akhirnya aku memutuskan untuk menaruh kotak cincin di atas mejanya saja, dengan kartu ucapan kecil aku lampirkan di bawahnya.


Toko emas tadi siang juga memberiku kartu ucapan soalnya, baguslah aku tidak perlu susah payah memikirkan kata-katanya.


Kalau ia luluh dengan hadiah ini pasti besok ia pakai, tandanya ia sudah memaafkanku, kalau besok dia masih ngambek mungkin dia akan kembalikan atau dia tetap terima tapi tidak dipakainya.


Aku melihat ke sekitarku, beneran udah sepi ni kantor... Ya tapi udah jam 23.30 sih. Kantorku ini dekorasi ruangannya udah seperti rumah sendiri, jadi kami betah berlama-lama di dalamnya, tujuannya untuk segi psikologis.


Divisi SKAI kami bergulat dengan detail, jadi dibutuhkan fokus tinggi, untuk ketenangan pikiran dibuat konsep homey. Apalagi disatukan dengan ruangan empat direksi, udah pasti mewah dan banyak sofa empuk, enak buat duduk di sana sambil ngetik via laptop. Enaknya lagi, karyawan lain tidak ada yang berani mendekati Area Manajemen.


Padahal Direkturku orangnya termasuk enak-enak loh tabiatnya.


Pak Haryono aja suka tiduran di sofa sambil ngompres kepalanya cuma pake sarung habis Jum’atan kalo dia lagi pusing.


Aku juga sering main Candy Crush lawan Tresna di tengah area.


Untuk ruangan unit marketing di lantai 14, dibuat minimalist karena marketing lebih sering berada di luar kantor.


Untuk divisi operasional dan IT dibuat lebih futuristik macam pameran komputer. Seringkali divisi lain kalau mau bersantai mereka main-main ke ruangan IT karena bawaannya kayak di dunia lain. Enak buat foto-foto.


Sedangkan Divisi Akunting dibuat serba hitam, serba kayu dan sangat monoton karena kalau terlalu cozy mereka malah mengantuk, you know kalau ngeliat angka bawaannya kan ngantuk.


Aku membuka pintu ruangan Meilinda. Tiba-tiba teringat saat aku pertama kali pada malam sepi membuka pintu ruangan ini karena ada suara aneh dari dalamnya, hehe. Kejadian itu menarikku untuk lebih dekat lagi dengan wanita seksi bawel yang manja itu.


Aku mengenalnya sudah 2 tahun dan aku akui dia cukup ekspresif selama ini. Kami mengenal satu sama lain sebagai rival, hampir setiap hari berdebat saling mempermalukan satu sama lain sampai menjadi bahan tontonan.


Saat ini malah aku yang banyak mengalah. Kenapa aku mudah luluh ya sama Meilinda. Kalau dibandingkan, banyak wanita lain yang lebih cantik sebenarnya, lebih seksi, dengan kelakuan lebih manis, seperti Selena contohnya.


Mungkin semua mencapku dengan : karena Meilinda lebih kaya.


Maaf nih ya Netizen Yth, pernah denger ungkapan duit suami ya duit istri, duit istri ya duit istri.


Justru memiliki pasangan seperti Meilinda, dengan gaya hidup hedon yang kalau belanja di indom**t main ambil aja nggak mikirin harga, akan membuat laki-laki yang penghasilannya masih merangkak perlahan persis bekicot sepertiku akan terbebani. Kami juga memiliki harga diri dan prinsip untuk membiayai segala pengeluaran rumah tangga.


Gajiku sebulan saja sama dengan setengah harga tas Bu Meilinda. Tapi kenapa aku malah nekat maju?


Itulah misteri Illahi.


Aku melangkah perlahan sambil berpikir akan kuletakkan dimana kotak cincinnya.


Lalu terdengar isakan tangis.


Aku menghentikan langkahku.


Setan lagi lagi setan...