Office Hour

Office Hour
Loyalitas



Astaga Ya Tuhanku.


45 missed Call


120 chat bertuliskan namaku


50 diantaranya berisi ancaman


10 di antaranya rekaman video dia lagi nangis.


Dan kepalaku semakin berat.


Mau nelpon balik?


Takut...


Lebih baik lanjut kerja dulu, masalah pribadi kuselesaikan setelah dari Solo. Karena sudah pasti tidak akan selesai dalam sehari. Bisa dua hari, bisa lebih.


Ini Meilinda, soalnya.


Jadi begini ceritanya kenapa aku bisa tepar.


Kemarin setelah makan bakso sama Pak Kompol, kami ke bandara menjemput Pak Haryono.


Beliau datang bersama beberapa orang staffnya termasuk dari IT dan operasional.


Kenapa jadi ramai,


Iya, karena kami menemukan banyak bukti yang mengarah ke kecurangan. Hal ini akan menurunkan kredibilitas kami di mata masyarakat. Apalagi sekarang apa-apa bisa diviralin. Pak Danu makan soto di pinggir jalan aja bisa viral, apalagi kalau kasus penipuan yang dilakukan pegawai bank macam begini.


Garnet Bank Cabang Solo terbukti melakukan tindakan pemalsuan cek dan giro. Mereka juga mengambil uang nasabah yang tidak aktif.


Dan parahnya uang di dalam khazanah, setiap gepokannya berkurang selembar dua lembar.


Katanya sih mau dipinjam dulu, nanti segera dikembalikan.


Mereka sudah melakukan hal ini berapa lama ya?!


Aku tak pakai ampun-ampunan kalau yang seperti ini. No sori-sori nih. Bodo amat.


Langsung laporanlah ke Kantor Pusat, disertai bukti-bukti yang ada.


Pelaporan tentu didampingi pengacara (Pak Posan dan Pak Albert) juga didampingi aparat yang berwenang, makanya si Dirga, sohibku, dateng.


Aku menjelaskan masalahnya dengan singkat di mobil ke Pak Haryono. Para nasabah yang dirugikan sudah sampai duluan di unit pelaporan.


Aku dan Selena diberikan puluhan pertanyaan, beruntung gara-gara ada Dirga jadi kami santai saja menjalaninya. Aku bahkan dibeliin Starb**ks. Tumben dia banyak duit, di sini upetinya lebih sejahtera dari Jakarta kali ya? Biasanya minum kapal api aja ngutang dia.


Siangnya saat giliran Selena dan Pak Haryono masuk ke ruangan, aku menyempatkan diri jualan buaya Birkin ke alamat yang ditunjukan ibuku. Aku juga sempat membeli buah tangan untuk meminta maaf bahwa rekeningnya sempat terkena imbas fraud.


Mengenai proses jualanku, kujelaskan di episode selanjutnya saja. Kepanjangan soalnya. Bisa satu episode sendiri bahas Bu Ajeng terus.


Setelah itu aku kembali ke tempat Dirga. Kami merencanakan kalau proses selesai kami akan pesta reunian. Sekalian syukuran kenaikan jabatanku, yang mana berarti... ya, TUGASKU SEMAKIN BANYAK.


Menjelang tengah malam kami baru selesai diproses, Pak Posan mengajakku ke restoran dan karaoke miliknya. Di sana ia menantangku minum. eh, si Posan udah sadar belum tuh, kalo tiba-tiba mati suri keracunan alkhohol kan gue amsyong jadinya! Biasa minum tuak dikasih tequilla, tepar dia.


Hari ini setelah checkout dari hotel sebelum ke bandara aku merayu Selena untuk membawaku ke Mall terbesar di Solo, mau cari sajen buat Bu Meilinda, dalihku.


"Pak Dimas, menurut saya karena Bu Meli sudah punya segalanya, bapak tidak perlu beli yang mahal pasti dia punya yang lebih mahal yang Pak Dimas harus nabung sampai kiamat belum tentu terkumpul, yang penting berkesan, bisa dipakai setiap hari, dan hadiahnya dikasih langsung sama Pak Dimas sendiri" sahutnya saat aku googling 'cara meluluhkan kemarahan istri'.


Aku semakin terbiasa sama tingkahnya yang seperti punya dua kepribadian. Tapi dua sifatnya itu sama-sama seneng banget bikin aku tersakiti.


"Menghina ato ngasih saran?" sungutku.


"Keduanya benar," Selena tersenyum padaku. Hati dan mulut nggak sinkron. Lalu dia berhenti didepan toko emas.


"Nggak perlu yang berliannya besar, kecil aja udah cukup asal ngasihnya pake drama,"


Aku menatapnya sambil pasang tampang sedih


"Sori nih Len,"desisku.


"Sori ? Kenapa ?"


"Sori karena nggak tahan mau ngecengin lo, kesian amat lo gada yang ngasih cinciiin, " desisku pura-pura nangis.


Dia hanya menatapku masam.


"Nanti dipesawat jangan ketiduran ya pak,"


"Napa?" tantangku.


"Saya kepikiran mau ngeludahin minuman Pak Dimas," dia melenggang masuk toko sepatu.


Sambil berharap dia bercanda doang.


Pas di pesawat saat aku bertanya mengenai masalahku pada Selena, wanita itu hanya berujar


“Pak Dimas saya maafkan segala kesalahan bapak selama ini, Rest In Peace ya pak,”


Menyebalkan.


“Sudah pasti mati sih itu. 45 missed call... gila!” sahutnya mantap kemudian.


**


Setelah sampai di Jakarta tanpa sempat pulang, kami langsung ke kantor untuk meeting besar mengenai temuan dan keterlibatan polisi. Seluruh jajaran manajemen berkumpul termasuk Pak Sebastian dan Pak Arman juga tampak terlihat di belakang Pak Sebastian.


Kalau sampai Bodyguard Dewata yang satu itu nongol, Jadi Pak Sebastian sudah menganggap masalah ini sangat serius.


Aku melakukan presentasi berdasarkan video dan foto temuan, Polisi masih melakukan penyelidikan lebih lanjut, ada kemungkinan dalam waktu dekat kami akan dipanggil lagi.


Aku melirik Meilinda, tampangnya hanya datar sambil mencatat sesuatu di agendanya.


“Jadi permasalahan selanjutnya adalah perekrutan pegawai untuk menggantikan karyawan yang terlibat dalam kasus, serta biaya dua pengacara yang saya hire untuk pihak Bank yang telah disetujui secara singkat lewat WA ke Pak Haryono dan Pak Danu, harga pasnya sekitar xxxjuta rupiah.”


“Itu si Posan dan Si Albert ya, nggak bisa minta diskon?” tanya Pak Danu.


“Tadinya tagihannya...” aku mencari wa dari Posan. “Segini. Karena diskonnya 50% jadinya segitu.”


“Wiss, hebat juga lo bisa minta diskon 50%,”


“Bukan saya pak, tapi si ibu ini yang bagian negosiasi,” aku menunjuk ke arah Selena.


Semua terkekeh.


Aku bisa melihat Selena menatap semuanya dengan sinis.


Mungkin Ia sudah terbiasa dengan tatapan nakal, dia pernah bilang padaku sepanjang wujud lawan bicaranya masih seorang laki-laki, ia masih bisa merayu.


Kecuali aku dan Mas Bram.


Lima tahun ia bekerja dengan Mas Bram tidak sekalipun ia disentuh. Bahkan kakakku tidak pernah membawanya dinas ke luar padahal pekerjaannya berkaitan dengan kontrak. Sekalinya dinas luar ke Jogja itu pun sebulan yang lalu dan setelah itu ia resign.


Dia masih belum bilang padaku alasan resignnya, tapi aku merasa hal itu berkaitan dengan Mas Bram.


Aku kembali melirik Meilinda. Masih tak ada tanggapan darinya. Gawat ini... dia beneran ngambek gara-gara telponnya nggak kuangkat.


Jadi sambil menjelaskan mengenai spesifikasi kasus, aku hanya bisa berdoa semoga arwahku bisa tenang.


“Kamu sudah jual tas saya?” Akhirnya Bu Meilinda angkat bicara.


Aku saking senengnya nggak bisa jawab, akhirnya ia bicara kepadaku!


Selena sampai menendang kakiku untuk membuatku sadar. Tapi Meilinda tampaknya tidak menunggu jawabannya.


“Kalau sudah, kita bisa pakai dana hasil penjualan untuk biaya pengacara ya Pak?! Masih ada sisa untuk tambahan bonus pegawai di semester ini,” desisnya.


Semua mengiyakan.


Profesional sekali pacarku ini. Mudah-mudahan dia masih menganggapku kekasihnya.


“Dana hasil penjualan sudah masuk ke rekening perantara kas ya Bu... Sekalian kami mohon maaf kepada pihak=pihak yang menghubungi kami tapi urung kami tanggapi, karena seharian sangat sibuk jadi kami slow respon terhadap telepon selain yang berkepentingan, “ sahut Selena cepat.


Aku sampai terperangah menatapnya.


Apakah dia mencoba membantuku agar Meilinda tidak terlalu meradang padaku? Masa sih?


Pasti ni bocah lagi kesurupan!


“Pendekatan apa’an, paling lo mabok habis party sama si Posan...” desis Pak Haryono sambil terbahak, soalnya dia diajak kemarin nggak mau sih. Tapi kan disitu ada Dirga juga.


"Baik, Untuk sementara kita sudahi sampai di sini dulu, selanjutnya silakan melakukan koordinasi dengan masing-masing unit, kita bertemu kembali besok jam 10 untuk meeting besar, mohon semua karyawan inti hadir." Kata Pak Danu mempertahankan situasi tetap kondusif.


"By the way, Good Job untuk Divisi Audit yang baru. Luar biasa! I'm very appreciate it..." Pak Danu melayangkan senyuman Vampirnya sambil bertepuk tangan.


Aku merinding. Semua hadirin di sana berdiri sambil bertepuk tangan. Menatapku dan Selena dengan senyum di wajah.


Aku juga bertepuk tangan.


Ada rasa bangga terhadap diri sendiri saat kerja kita dihargai oleh orang lain. Tidak usah tambah bonus naik gaji dll, cukup bilang aja : Good Job, kami sebagai karyawan pasti akan loyal dengan perusahaan.


Saat ini kami semua bertepuk tangan untuk memberi penghargaan pada diri kami sendiri.