
Hari Sabtu yang cerah. Langit berawan dan matahari tampaknya bersinar dengan senang.
Se-senang teman-temanku yang sekarang duduk di depanku, melempariku dengan kentang goreng karena aku lebih banyak diam.
Aku kurang tidur woy!
Dan pergelangan tanganku jadi kaku karena kebanyakan c*li.
Astaga, masih pagi tapi aku sudah capek, macam habis lari marathon.
“Jangan buang-buang makanan, Alex,” gumamku sebal sambil menyesap rokokku dan membuang asapnya ke atas, ke udara.
“Lo kenapa bro? Macam habis dipecat,” kekeh Alex sambil kembali melempariku dengan kentang. Karena serpihannya berjatuhan di pangkuanku, kukumpulkan lagi dan kuletakkan di atas piringnya.
“Makan, buang-buang makanan ntar rejeki lo seret,” desisku.
“Gue lagi bagi-bagi rejeki ke elo nih,” desis Alex sambil menggigit kentangnya.
“Kenapa lagi lo? Kena omel lagi? Sama tante aja depresi, apalagi kalo berhadapan sama bokap gue,” dengus Trevor masih sedang memainkan ponselnya. Kelihatannya dia lagi chatting sama pacarnya, Ayumi, yang lagi ada di Jepang.
Kok bisa ya dia LDR-an, ini sudah tahun ketiga mereka pacaran seingatku.
“Mana mungkin gue ketemu bokap lo, pegawai receh macam gue,” desisku sambil menyeruput kopiku. Tapi serentak setelah aku berbicara begitu, kami bertiga menoleh ke arah belakangku.
Saat ini, di hari Sabtu yang indah, kami berada di JCC di acara pameran properti yang diadakan besar-besaran oleh Garnet Properti milik si Trevor. Iya, dia sebagai Manager Operasional wilayah Timur, sekaligus Pemegang saham terbesar Garnet Property, yang duitnya tentu saja lungsuran bapaknya, seharusnya dia berada di sana, di Hall sana, bersama para pemegang saham dan klien besar.
Yang kini berada di hall, malah Bapaknya Trevor, Sebastian Bataragunadi, dan Milady yang dengan setia mengikuti langkah di BigBoss itu kemana -mana.
“Bokap lo tuh disana, lo nggak ikut dampingin?” tanya Alex.
“Males, biar aja sekali-kali BigBoss yang di sana, gue jadi bisa ngopi sebentar,”
“Nah lu ngapain di sini, Lex?” tanyaku.
“Gue dapet undangan ke pameran,”
“Maksud gue, kenapa lu malah makan di sini? Lo bukannya rekanan developernya?”
“Ya gue kan juga butuh ngopi, sama nge-cengin lu!” kembali ia melemparku dengan kentang goreng.
Sabtu ku yang melelahkan, setelah semalaman aku nggak bisa tidur, niatnya pas subuh naik kereta pertama untuk pulang ke Bekasi aku akan leyeh-leyeh, eeeeh, malah di Whatsap sama ni dua kacrut.
“Ke Pameran Properti Yok!!” begitu isi Whatsap dari Trevor dan Alex.
Aku nggak ada kepentingan sebenarnya di sini. Tapi setelah kudengar kalau Milady akan jadi agen pemasaran dan ikut jadi SPG, aku langsung meluncur ke sini tanpa pikir panjang.
Siapa tahu kehadiran Milady akan membuatku lupa dengan sosok yang tadi malam.
“Jadi, lo mau beli rumah yang mana Mas, pilih aje,” desis Trevor.
Aku mendengus.
“Pilah-pilih... pas gue pilih gue sendiri yang nyicil! Gue dah tau akal bulus lo!” gerutuku
“Yaa kan gue cuma nawarin buat pilih, bukan buat beliin, weheee,” desis Trevor.
“Ntar gue hubungin lo kalo gue mau kewong, buat rumah masa depan. Sekarang nabung dulu,” kataku dengan otak yang penuh hitung-htungan rencana masa depan.
“Jangan minta diskon 75% ya, nggak ada harga temen di gue!” sahut Trevor cepat.
“Karena Mas Bram bilang suatu saat dia mau tinggal di rumah ibu aja kalau sudah dapat calon istri, jadi gue mau minta jatah rumah dia yang di garnet, sekaligus minta diskonan sama lo,”
“Sama aje lo jatohnya dapet rumah gratis! Elahh!” seru Trevor yang kini gantian melempariku dengan kentang.
“Laper deh gue, habis keluar duit 1 triliun,” desis Alex sambil buka-buka buku menu.
“Lagak lo, itu 1 triliun bakalan nambah bunga 200 miliar dalam sebulan, masih aje lu ngeluh. Harusnya gue yang amsyong!” desis Trevor.
“Sana cari developer lain,” desis Alex.
“Nggak mau, nggak bisa protes kalo ke developer lain, enakan ke Beaufort, wakakak,”
Obrolan para eksekutif muda yang aku jelas nggak masuk karena bukan kelasnya. Jadi aku diam saja. Entahlah apa peranku di sini, penggembira kayaknya.
Aku menoleh ke belakang, Milady di belakang Pak Sebastian Bataragunadi, masih dengan senyum manisnya.
Cantik...
Senyumnya yang lembut menenangkan hatiku, dan gesture tubuhnya saat berbicara sangat memikat.
Aku tak heran jika setelah ini dia mampu menjaring banyak customer.
Coba aku perhatikan pelan-pelan, kira-kira dia sedang bicara apa ke kliennya.
“Kalau untuk istri bapak, saya pikir lebih cocok perumahan di komplek Mutiara karena dekat dengan swalayan dan ruko,” dari caranya membuka mulut, sepertinya dia sedang bicara begitu. “Juga ada sekolah internasional sekitar 2 kilometer dari gerbang komplek. Dimas, laporan OJK tinggal 186 cabang lagi, kapan bisa selesai kalau kamu kerjanya nongkrong nggak jelas?!”
Heh?
Aku mengejabkan mataku.
Kayaknya sekilas aku ngeliat Bu Meilinda.
Nggak deng, berubah lagi jadi Milady.
Aku kenapa?!
“Kingcrab kami semua fresh, Pak. Masih hidup di kolam. Dikukus dengan panci berukuran 50cm,” jelas si Waitress.
“Serius lo pagi-pagi makan kingcrab?!”
“Gue sih mau makan pasta, yang ini mau gue bawa pulang buat Bianca,”
King Crab.
Jenis kepiting yang berasal dari perairan lepas pantai Alaska dan Laut Bering. memiliki panjang hingga 28 cm. Rentang kaki Alaskan King Crab dapat mencapai 150 cm. Kakinya berjumlah lima pasang. menjapai 47 dollar AS atau setara Rp 700.000 per satu pon bobotnya. bobot satu Alaskan King Crab bisa sampai sembilan kilogram.
Yang Alex beli harganya 6,5juta seekor. Setengah dari gajiku sebulan.
Masalahnya bukan harganya.
Tapi bentuknya yang membuatku terpaku dan langsung tegang.
Karena saat cangkang kepiting diikat dengan tali, dan dalam posisi terbalik seketika aku jadi teringat dengan Bu Meilinda dalam posisi yang sama tadi malam.
Aku menarik nafas panjang, kupejamkan mataku, dan kututupi hoodie sampai menutupi keningku.
Mukaku pasti merah sekali saat ini.
Bayangan itu tak bisa lepas dari benakku.
Bagaimana bisa seseorang terikat dengan kondisi menggoda tapi dia tidakbisa membebaskan dirinya sendiri?! Dan siapa yang akan melepaskannya kalau aku tak ada di sana tadi malam?!
Astaga...
“Mas?” seseorang menepuk bahuku.
Aku agak terlonjak karen akaget dan kulihat Milady sudah di sebelahku.
“Hey,” kusapa wanita itu dengan lega dan kupeluk dia.
“duh capek deh aku,” Milady mengeluh dan duduk di depanku.
“Udah laku berapa, Bu Lady?” tanya Trevor.
“Udah sold out semua,”
“Widiiiih, pengorbananmu itu seharusnya diapresiasi lebih besar,” desis Alex menyindir Trevor, “Sekretaris, bukan kerjaannya loh, tapi sold out. Dapet fee nggak nih?!”
“Ya dapet lah, dia kan juga ada kepentingan pribadi sini,” desis Trevor.
“Aku butuh fee buat bantu kakak modalin cafenya,” kata Milady ke Alex.
“Cafe? Kakak kamu buka cafe?” tanya Alex
“Iya, namanya Cafe Bunga. Kami mau buka cabang di Mall Garnet tapi biaya sewanya mahal sekali per tahunnya,”
“Cafe Bunga? Nasabahku nama cafenya juga itu,”
“Nama Nasabah kamu siapa, Lex?”
“Samantha, Samantha Kusuma,”
“Loh... itu kan partner bisnis kakakku,” kata Milady terkejut
“Woooh, dunia ini kecil!” Alex menjabat tangan Milady.
“Kakakku namanya Yori, dia dan Samantha patungan untuk usaha Cafe Bunga ini. Walaupun sudah didiskon karena aku karyawan Garnet, tapi tetap saja mahal. Aku butuh uang untuk tahun pertama saja, karena kalau sudah dapat di Mall Garnet, biasanya usaha itu akan cepat berkembang. Kami memperkirakan BEP akan cepat terjadi tahun depan,” cerita Milady.
“Gratisin aja ngapa sih Trev, dasar medit...” gumamku sambil merapatkan hoodieku dan menyesap kopiku.
“Bisnis ya bisnis, jangan digabung sama pribadi dong,” kata Trevor.
“Lo kenapa Mas, gemetaran begitu?”
Hah?
Aku langsung menatap ke depan.
Alex sedang memperhatikanku. Tak ayal, Milady dan Trevor ikut-ikutan memperhatikanku.
Aku pun mengikuti arah pandangan mata mereka. Mereka fokus ke tanganku.
Yang ternyata memang gemetaran saat mengangkat cangkir kopi.
Sial...
Aku belum move on juga dari Bu Meilinda.
“Cuma kecapekan,” desisku.
“Tante kayaknya harus dibilangi kalo jangan terlalu galak,” kata Trevor sambil mengernyit memperhatikanku. Tante yang dimaksud kayaknya ya Tantenya sendiri, Bu Meilinda.
“Gue aja yang terlalu forsir sama kerjaan,” dalihku.
“Halah, paling lo kebanyakan c*li, makanya cari bini sana!” ujar Alex yang langsung dicubit sama Milady.
Kenapa dia bener banget?! Kurang ajar ni cowok!