Office Hour

Office Hour
Pagi-Pagi Heboh AJe



“Kamu ke Bandung nggak bawa baju?” Bu Meilinda bertanya saat kami menuju ke kantor. Aku membuka sunroof dan menyalakan rokokku.


“Ada di kantor 3 stel. Kayaknya udah selesai dicuci Syarif,” jawabku.


Aku biasa memberi Syarif bonus tambahan setiap bulan, sebagai gantinya ia mencucikan kemeja dan celana kerjaku. Kalau aku lembur sampai menginap seperti kemarin, Syarif bahkan rela memasakkan indomie untukku. Rumahnya di perkampungan dekat kantor katanya, jadi bisa bolak balik.


Dari sudut mata aku bisa melihat Bu Meilinda menatapku, dengan pandangan menyelidik. Dari kepala sampai kaki, tatapan sinis khas dirinya.


Tapi ini kan masih pagi, aku jadi risih kalau diperhatiin seakan ada kesalahan fatal yang kubuat pagi ini. “Kenapa bu? Saya bikin salah apa lagi?” tanyaku akhirnya.


“Kenapa kamu langsung sudzon begitu?” gerutunya.


“Biasanya kalo ibu ngeliatinnya begitu pasti ada masalah.” sahutku.


“nggak ada apa-apa,” dia langsung mengalihkan pandangan ke depan.


Aku tidak menggubrisnya, hatiku sedang senang karena sarapanku berkualitas. Bukannya setiap hari aku kelaperan yah, tapi sarapanku kali ini bagaikan makan siang di hotel bintang lima. Aku sempat membawa croissant untuk Pak Jaka dan anak-anak Audit, walaupun Bu Meilinda sempat bilang kalau aku terlalu baik.


Kami saat ini memang hanya berdua ke kantor, tanpa sopir Bu Meilinda, dengan aku menyetir Lexus LS 500nya, tunggangan keren gila! Membuat Kegantenganku meningkat 6400% kayak rpm nya. Baru kali ini bisa ngerasain mesin V8 dengan perjalanan sejauh ini. Biasanya Cuma kantor bengkel yang jaraknya 200  meteran.


Ajib bener dah! Semakin digeber suara mesinnya semakin halus.


Kayaknya outfit ku nggak matching yak, harusnya pake jas atau minimal kaos Supreme, Hahaha.


“Kamu kayaknya senang, dari tadi senyum-senyum,” sahut Bu Meilinda lagi.


“Oh ya Bu? Mungkin karena udah kenyang. Dan…” aku mengelus setir Sexy Lexy (panggilanku untuk si Lexus) dengan sepenuh hati. “Lagi membelai cewek cantik banget," dan mengelus dashboard kayu mewahnya.


“Wah! Jadi iri saya," gumamnya pelan, tapi aku masih bisa mendengar.


"Apa bu?" aku meminta pengulangan kalimat.


"Nggak apa-apa," gumamnya lagi.


"Ohya?" Aku tersenyum sinis, "Mau dibelai juga?" aku sengaja memancingnya. Dia melotot padaku karena mungkin tak menyangka kalau aku mendengar ucapannya.


“Jangan mulai kamu!” Potong Bu Meilinda.


Aku terkekeh.


“Dimas, sebelumnya kamu punya pacar?” tanya Bu Meilinda tiba-tiba.


“Selain ibu? Tidak tertarik karena menyusahkan," jawabku cepat.


Aku sudah ratusan kali ditanya hal yang sama, dan secara otomatis mulutku langsung menjawab itu.


Aku pria normal, kok. Jangan menghakimi dulu. Dan nyatanya aku sebenarnya takut sama makhluk yang namanya perempuan.


Aku sangat menghormati ibuku, pokoknya jangan sampai beliau marah dan yang lebih parah, menangis. Udah berasa durhaka banget dah.


Lalu kejadian di kantor lama, membuka mataku bahwa perempuan itu, seperti cabe rawit yang sembunyi dibalik arem-arem, di luar sangat lembut tapi di dalam kalau tak sengaja kegigit jadi pedes, panas, dan sangat mungkin berbahaya.


Lalu wanita yang sekarang di sebelahku, dari awal sudah menunjukan bahwa dia pasti pedes kayak keripik Paqui. Tapi nyatanya sangat naif terhadap ‘pacarnya’. Perempuan memang sulit dimengerti, bahkan oleh sesama perempuan sekalipun.


Kata-kata ‘tidak tertarik pacaran' saat ditanya punya pacar atau belum menjadi pelindungku dari kejaran para fanatik.


“Tapi kamu normal kan?”


“Ya ada wanita yang saya sukai, tapi kelihatannya dia suka orang lain,” desisku, “Karena tidak respon terhadap perhatian saya,”


“Kamu bisa juga ditolak wanita ya, jadi heran saya,”


“Ketampanan itu kan relatif bu, Ibu juga bukan jenis yang gampang tergoda sama saya,”


“Laki-laki di sekeliling saya tampangnya kayak dewa semua, itu ada Zeus di rumah,”


Aku terkekeh karena menangkap yang dia maksud ‘Zeus’ bisa jadi adalah sosok Kakaknya, Pak Sebastian. Dan baru kali ini aku setuju dengannya.


“Waduh, kamu bisa ketawa juga rupanya, saya pikir bibir kamu cuma bisa cemberut mode on,” kata Bu Meilinda.


Lalu keadaan di mobil kembali berubah hening. Saking heningnya aku sampai bosan dan menyalakan radio. Jalanan sedang macet aku takut ngantuk karena barusan makan banyak.


“Dimas, anu..." Bu Meilinda kembali membuka pembicaraan. "Sepertinya ada kemungkinan Gunawan merekam semua adegan yang kami lakukan, apa kamu bisa menghapus rekaman-rekamannya?”


Aku meliriknya. Hal yang kukhawatirkan terjadi.


Lagian bego, mau saja disuruh pose ini-itu. Sekarang begitu si pacar menghilang, kalang kabut, kan!


“Untuk urusan rekaman video call sepertinya butuh profesional. Paling tidak, butuh ip address komputernya” jawabku.


Aku jadi tak tega. Posisinya saat ini memang tidak menguntungkan, kalau rekaman video vulgar sampai tersebar dipastikan Bu Meilinda akan bersembunyi di kamarnya bertahun-tahun.


“Kamu langsung ngeh ya saya mau ngomong apa," sahutnya.


“Ujung-ujungnya sama aja sih,"


“Setelah kejadian itu dia tiba-tiba tidak bisa dihubungi.” Bu Meilinda menunduk menatap sepatunya yang berharga ratusan juta. “Saat live kemarin sebenarnya gelagatnya sudah tidak beres. Tiba-tiba dia meminta gaya macam-macam, nggak seperti biasanya. Lalu tiba-tiba terdengar suara anak kecil memanggil papa, lalu koneksi langsung terputus,"


“Dan sampai sekarang tidak bisa dihubungi? Sama sekali?”


“Sempat balas wa saya kemarin malam, katanya ‘sorry sayang, tasnya sudah terima kan?’. Tapi begitu ditanya suara anak siapa itu, dia hanya read wa saya saja, sampai sekarang,"


“Ini kan baru sehari bu,” kataku. “Kita lihat sampai besok ya Bu, kalau masih tidak ada kabar, nanti saya bantu cari tahu,”


“Apa pacaran memang sesulit ini yah? Apa sebaiknya langsung menikah?” Bu Meilinda menatapku nanar. Terlihat jelas kalau ia kelelahan.


Aku menyeringai. “Ibu bertanya sama orang yang salah,”


“Ah iya juga," ia menghela napas, lalu kembali sibuk dengan ponselnya.


*


*


Aku memarkir mobil tepat di depan lobi yang memang disediakan untuk Very Very Important Person. Terlihat dari kejauhan teman-temanku bergerombol menunggu lift.


“Mohon kerja samanya ya bu," desisku. “Tapi nggak usah galak-galak,”


“Ya kalau mereka mendekat masa saya nggak bentak? Kamu kan pacar saya,”


Widih... sudah menjiwai sekali nih yaaa.


Aku prediksi orang-orang akan melihatku turun dari mobil mewah ini karena tampilannya sangat mencolok, dan diparkir di tempat yang strategis, dengan kaca yang tidak sepenuhnya gelap. Dan si pemilik mobil memiliki gaya sosialita yang sering jadi trending. Mungkin akan mengundang sedikit kehebohan karena kami berdua lebih dikenal sebagai musuh.


Saat Bu Meilinda menurunkan kakinya saja para wanita di sekitar kami sudah memanjangkan lehernya melirik-lirik sepatunya, apalagi waktu aku turun dan menyandang ranselku di punggung, menutup pintu mobil dan menyalakan alarm.


Kami berjalan beriringan menyingkirkan gerombolan yang secara otomatis merapat ke pinggir. Pak Jaka melihatku sambil melotot, Daniel menghentikan aktifitas mobile legendnya, beberapa orang kasak kusuk di belakang, sisanya melongo tak jelas.


Bu Meilinda dipersilahkan untuk menunggu lift direksi paling depan. Sampai-sampai Pak Danu dan Pak Haryono lirik-lirikan dan menatapku dengan keheranan.


Aku memperlambat langkahku dan berdiri paling belakang, berdiri di sebelah Daniel. Saat pria itu akan bertanya padaku, Bu Meilinda keburu memanggiku. “Ayo Dimas, Liftnya sudah terbuka.” dia mengajakku ikut naik bersamanya.


Naik Lift Direksi.


Bukan Lift Karyawan.


Widih, serasa jadi raja sehari.


Untuk lebih greget aku mempersilahkan Bu Meilinda masuk lift duluan sambil menyentuh punggungnya pelan, kulakukan selembut mungkin. Aku akan terima protesnya nanti saja.


Nyatanya, kami jadinya hanya berdua di dalam lift. Orang-orang tidak ada yang berani


masuk. Tapi saat pintu tertutup, aku sempat melihat Pak Danu tersenyum mengerikan padaku, dan Pak Haryono mencibir.


“Hm," desis wanita itu saat pintu lift tertutup. “Kamu tuh kalau masalah pegang-pegang nggak tanggung-tanggung ya. Kemarin di Hambalang dada saya jadi korban, sekarang pantat saya,”


“Kemarin itu khilaf, sekarang sengaja. Lagian Cuma pinggul sih bu, nggak sampai ke pantat. Atau berharap tangan saya turun sedikit?”" desisku.


“Saya masih nggak keberatan asal masih dalam batas kewajaran,”


“Yang wajar versi ibu itu yang bagaimana?!” sepertinya semua terasa tidak wajar kalau dalam kehidupannya.


“Saya juga bingung kalau ditanya begitu,”


“Oke, lain kali kalau ada kesempatan bisa saya gandeng," Aku hanya bercanda.


Beneran deh, hanya bercanda.


Dan aku harapkan bisa ditimpali dengan sedikit humor pagi. Tapi aku lupa, ini Bu Meilinda loh.


Jokes bukan bagian dari kehidupannya.


Yang membuatku kaget wajah Bu Meilinda langsung berubah kemerahan.


Dia marah?


Dia malu?


Jadi, kulitnya kan putih banget itu, sampai urat nadinya bisa kelihatan, nah ini langsung berubah jadi pink.


Setelah itu dia diam. Bungkam sampai lantai 15. Beneran diam sampai aku jadi sesak.


Eh, Btw, sampai lantai 15 tak ada orang yang berani masuk lift begitu tahu di dalamnya ada Bu Meilinda. Sampai sebegitu pengaruhnya di seantero gedung.


Kegaduhan juga terjadi saat kami tiba di lantai 15, semua orang seakan sudah menanti kami di depan lift. Aku keluar dari lift dan berujar, “Saya ke pantry dulu,”


“Ya Dimas, setelah itu ke ruangan saya yah,"


Raut wajahnya saat itu sendu, lembut, agak lemas kelihatannya, dan yang paling aneh nada ‘ke ruangan saya’ nya itu diucapkan dengan... apa ya?! Terdengar beda saja. Suaranya parau jadi kedengaran seksi.


Karena biasanya kata-kata itu diucapkan dengan penuh emosi, pakai tanda seru tiga kali.


Kakiku hampir tidak menurut mau otomatis langsung mengikutinya ke ruangannya, tapi otakku lebih punya kendali dan akhirnya berhasil memaksa sang kaki ke Pantry.


Walah, kenapa aku gemetaran?! Kopi mana kopi? Rokokku dimana?!


“Waaah Mas Dimas pagi-pagi bikin heboh!” Syarif masuk ke pantry dan menepuk punggungku.


“Gue butuh kopi! Pahit, buket, kalo perlu ada racunnya dikit,”


“Kalo racun cuma sedikit sih cuma bisa bikin mencret Mas. Kalau di sini adanya wipol, mau tambah itu?" sahut Syarif sambil cengengesan. “Kok bisa berbarengan sama Bu Meilinda mas? Biasanya berantem pagi-pagi. Ini kok akur kayak lagi pacaran,"


“Gitu ya keliatannya?” Aku hanya mesem-mesem. Di satu pihak rencana berhasil, di lain pihak serasa ada yang salah tapi entah apa.


Masa cuma gara-gara aku bilang gandeng saja bisa berubah atmosfernya. Kalo aku bilang ‘lain kali saya cium’ apa ozon bisa hilang?!


Aku membuka lemari pantry dan menyambar kemejaku, Syarif menutup pintu pantry memberi kesempatan padaku untuk berganti kostum. “Rif, gue ke Bandung malam ini sampai besok,”


“Oh iya Mas, nanti baju aku ambil di Laundry, butuh berapa stel? Tapi yakin Mas Dimas bawa baju? Berat loh Mas, lagiankan itu cuma Bandung. Paling kalau butuh Bu Meilinda pake kartunya,”


“Lah, gue beli baju sendiri lah, lu tau Bu Meilinda pelitnya Naudzubillah. Tapi kalo beli sepatu buat sendiri mahalnya bisa ngalah-ngalahin dana sembako sekelurahan,”


“Sepatu semahal itu buat apa ya Mas? Udah kehilangan fungsinya. Bisa-bisa kalo ada becek di depan, Mas Dimas suruh lepas kaos terus jadiin keset biar sepatunya nggak basah hahaha!!” seru Syarif.


“Kok lu bener banget sih Rif? Hahaha!”


Aku tertawa lepas kalau hanya dengan Syarif atau Daniel saja.


“Ada gosip apa pagi ini mengenai gue? Seru nggak gosipnya?” tanyaku.


“Iya, aku sih nggak ngeliat langsung, cuma denger saja pada heboh. Katanya Mas Dimas dateng sama Bu Meilinda semobil, terus mas Dimas satu lift berduaan,” kata Sarif.


“Pagi-pagi gini pada haus sama skandal ya," dengusku. Padahal kejadian itu hanya berselang beberapa menit saja.


Saat itu pintu pantry terbuka dan wajah yang paling nggak ingin kulihat pagi-pagi saat lagi ganti baju, malah muncul dari baliknya.


Dia lagi dia lagi.


Dan hanya tertegun melihatku.


“Bu," sapaku salah tingkah, tapi sudah tanggung.


“Eeeh, Syarif, saya butuh kopi. Pahit. Pakai kopi Aceh yang kemarin dikasih sama Pak Sebastian saja,” kata Bu Meilinda.


Ngomong ke Syarif tapi matanya ke arahku, menyapu seluruh tubuhku. Kepalang tanggung aku cuek dan lanjut mengancingkan kemejaku.


“Kalau... Dimas mau, kopinya sekalian saja bikinin,” sahutnya lagi tapi matanya fokus ke otot dadaku.


“Iya gue mau, sekalian saja Rif," desisku. “Bu, saya mau pakai celana," Aku mengisyaratkan agar dia keluar dulu sebentar.


“Oh, sori," Dan pintu pun tertutup.


Barusan dia ngomong 'sori' loh.


Syarif sampai menggelengkan kepalanya. “Sudah musim kemarau ya Mas... Hot! Ehehehehehehehe," ia menggodaku.