
Saat aku memasuki ruangan itu, terdengar isak tangis dari arah sofa hitam yang membelakangi pintu masuk.
Aku merasa teringat masa lalu saat aku menggenggam rahasia terbesar Meilinda Bataragunadi.
Tapi saat ini berbeda, terdengar menangis dari arah sofa itu.
Aku masuk tanpa suara, dan menghampiri sofa. Kulihat ia duduk di sana sambil mengusap air matanya.
Di tangannya, ia menggenggam sebuah name tag.
Ada fotoku di benda itu.
Itu Name Tag lamaku saat masih tergabung di Divisinya, saat jabatanku Kepala Seksi.
Foto yang tertera di sana juga foto lamaku.
“Jahat kamu... dari semua pria, kamu yang paling jahat padaku,”
Aku menyangga tubuhku di kepala sofa, masih diam dan memutuskan untuk mendengarkannya dulu tanpa menginterupsinya.
Kemungkinan dia belum sadar kalau aku berada di sini.
Dia berbicara mengarah ke fotoku, seakan aku sedang berada di depannya.
“Jeffry enggan menyentuhku, Gunawan bahkan belum pernah berhubungan intim denganku. Kalau kamu mau tahu, Kami bertemu langsung hanya untuk pekerjaan dan mengobrol. Beberapa ciuman ringan, beberapa sentuhan, lalu sisanya dilakukan via VC karena dia selalu sibuk,” Meilinda terisak lagi. “Kamu yang pertama bagiku, membuatku berbuat di luar batas... semua yang tidak bisa aku lakukan dengan Jeffry dan Gunawan, aku lakukan padamu,”
Aku sampai bengong mendnegranya.
Sekian lama ini... bagaimana bisa? Lalu apa saja yang ia lakukan sepanjang tahun pernikahannya? Sepanjang hubungannya dengan Gunawan?
Apakah aku harus tahu hal itu?
Atau hanya sebatas ini saja yang harus kuketahui karena itu sudah masa lalu?
“Begitu sadar, perasaanku semakin tercebur sangat dalam,” Meilinda menarik lututnya dan menangis, “Aku kangen kamu, Dimas...” desisnya di sela-sela tangisnya.
“Teganya kamu,” lirihnya.
Aku menghela nafas, “Kamu salah paham,”
Hening.
Dia tersentak dan menjauhiku.
"Sshhh," desisku sambil menempelkan telunjukku ke bibir.
Aku berusaha tenang agar ia juga tidak terlalu kaget. Aku hanya mencegahnya agar tidak berteriak. Aku tidak tahu apakah ada yang masih belum pulang dari unit lain.
"Sejak... kapan..." Meilinda tergagap.
"Sejak aku dibilang jahat," sahutku sambil memicingkan mata.
Meilinda menunduk sambil menggigit bibirnya. Duh manis banget.
Aku duduk di sebelahnya, ia malah beringsut ke ujung sana. "Kok jauhan? Katanya kangen," ujarku, senang saja aku menggodanya.
Dia memalingkan wajahnya ke arah lain sehingga aku bisa melihat wajahnya yang terkena cahaya dari luar ternyata merona. Aku menggeser dudukku supaya bersentuhan dengan tubuhnya.
“Over-thinking melulu kerjanya,” aku mengelus pipinya. Dia buang muka.
“Hei, dengar dulu dong...” bisikku sambil memepetnya. Mulai sekarang aku nggak akan tanggung-tanggung lagi bertindak. Dia sudah jadi milikku.
Aku tidak akan menahan diriku saat berduaan seperti ini.
Kuraih jemarinya, kuambil Name Tag lamaku yang kuperkirakan ia dapat dari Pak David, lalu kukecup buku jarinya.
"Tega banget kamu nuduh aku selingkuh, aku nggak ada hubungan apa pun dengan Selena Kelihatannya dia suka sama Mas Bram." sahutku.
Meilinda menatapku dengan pandangan yang kira-kira maknanya surprise.
"Hanya kemungkinan Mas Bram menolaknya, dan dia sakit hati. Makanya sekarang dia minta dimutasi ke Garnet Bank. Tapi ini hanya spekulasiku sih," Kami terdiam beberapa saat, dan ia kembali memalingkan wajahnya ke tempat lain.
“Maaf udah cuekin kamu, jujur aja aku dalam kondisi lagi diajak Posan ke club,”
Meilinda menatapku dengan sebal, “kamu minum-minum?!”
“Yaaa... gimana dong?! Namanya juga sekalian reuni,”
“Kamu main cewek juga nggak?”
“Kalau kujawab, percaya apa nggak?”
“Nggak,”
“Ih, yang kejam tuh kamu,” kekehku. Aku mendekat dan menciumnya.
“Tanggung jawab kamu,” bisikku di sela-sela ciuman kami. “Gara-gara kamu aku nggak bisa main sama cewek,” kuarahkan tangannya ke alam resleting celanaku.
Jemarinya dingin.
Aku tak peduli.
Tanganku masuk ke sela bra-nya.
Meremas gumpalan daging menawan yang ada di sana.
Ia mendesis menahan hasratnya. “Kenapa gara-gara aku?” des4hnya.
“Sepertinya sejak kenal kamu, mataku mulai rusak,” gumamku sambil menyesap puncak dadanya. Ia duduk di atas pangkuanku sambil melengkungkan punggungnya.
“Semua wanita nggak ada yang cantik di mataku, bahkan cewek yang dulu aku suka, terasa biasa saja sekarang,” ujarku.
Terdengar tawanya yang renyah.
“Gombal banget sih kamu!” ia memukul bahuku. “Jari tengah kamu, masukan ke sini...” ia mengarahkanku untuk menyentuh tubuhnya lebih dalam.
Aku menurutinya,
Kulakukan sebisaku, mencontek gerakan dari video VPN yang sering kutonton.
Terdengar eran9annya yang intens.
Aku menarik tengkuknya ke arahku dan kembali kucium bibirnya.
Rasanya aku ingin segera bersatu dengannya.
Aku ingin merasakan semuanya yang ada didirinya, manisnya, pahitnya, semua sudut tubuhnya.
Semua kehidupannya...
Tanpa kusadari aku menciumnya terlalu kuat.
Dia sedikit mendorong dadaku.
Ia sudah lepas...
Saat aku menjauhkan bibirku darinya, ia terengah-engah. Tidak bicara apa pun hanya menatapku dengan napasnya yang memburu.
Tatapan itu... pasrah.
Membiusku agar bertindak lebih jauh.
Tidak bisa, aku masih mendengar banyak orang di luar.
Akan kulakukan suatu saat, setidaknya jangan di sini.
"Pulang yuk? Kamu besok kan banyak meeting," desisku. Aku merasa kerongkonganku kering, dan suara yang keluar menjadi serak. Ia terlihat kecewa, hanya diam sambil menatapku sendu.
Mungkin masih shock. Atau dia ingin lebih. Tapi logikaku berjalan, tidak bisa di sini dan tidak bisa sekarang. Terlalu beresiko. Lagipula dia tadi sudah pelepasan. Tapi raut wajahnya... Terlalu sayang untuk kuacuhkan.
"Sayang," desisku sambil membelai dagunya.
"Aku juga pingin, aku udah lama nahannya," sahutku sambil menciumnya kembali.
"Tapi aku tak ingin melakukannya di sini," aku menggenggam tangannya yang lentik dan lembut dan kuarahkan ke kejantananku. Ia pasti bisa merasakan hasrat yang kutahan untuk meledak. “Aku harus menikahi kamu dulu, setidaknya kali ini, aku ingin melakukannya dengan sepantasnya. Karena kamu terlalu berharga untukku,”
Dia terdengar terkesiap. Aku menciumnya lagi.
-------
Kami kembali ke rumah Meilinda, kali ini ia bawa driver karena aku dinas luar. Kami tidak bisa bicara banyak di mobil, tapi aku sepanjang jalan menggandeng tangannya. Ia juga menyandarkan kepalanya di bahuku sambil menatap jalanan. Tidak ada yang bersuara.
Kami sudah cukup mengetahui perasaan masing-masing. Saat aku turun dari mobil dan membuka bagasi mobil untuk mengambil koperku, ia tiba-tiba menciumku. Di depan pintu rumahnya. Di depan orang-orang.
Kami berciuman lumayan lama sampai Pak Sebastian berdehem untuk mengingatkan kami.
Aku melepas ciumannya dan menyeringai.
"Balik dulu yah... Aku sayang kamu." sahutku. Aku menyelipkan kotak cincin di antara jemarinya.
"Bukanya di kamar aja..." bisikku. Bibirnya yang tebal menyunggingkan senyum paling manis yang pernah kulihat.
"Sapto, antar si buaya ke rumahnya, Tapi kalau kamu lewat Banjir Kanal, bolehlah kamu ceburin dia,” sahut Pak Sebastian sebelum menggeret Meilinda masuk rumah.
Buaya mau diceburin ke kali? Ya tinggal berenang... susah amat!
**