Office Hour

Office Hour
Nikah Woy! (2)



Akhirnya ibuku berencana menjadikan semua Cake yang kubuat untuk hantaran pengantin. Aku sih nggak masalah, toh semua kubuat untuk pelampiasan stress.


Saat ini, Aku belum boleh ketemu Meilinda padahal aku pingin banget peluk dia.


Dan aku tidak tidur semalaman.


Sekitar pukul 6, aku baru selesai mandi, itu pun karena digeret ibuku ke kamar mandi, nggak lucu kalo di kamar mandi aku bengong-bengong aja, jadi ya aku mandi...


Beberapa orang sudah menunggu di teras rumahku.


"Le..." Mas Bram sudah siap dengan setelan Dolce & Gabbananya yang berkilauan dan sangat pas dia pakai.


Kegantengannya langsung meningkat 1000%. Aku agak Jiper karena dia jadi lebih charming dari pada aku.


"Ibu mana?" tanyaku.


"Sudah ke TKP duluan, tadi dijemput Selena." jawabnya.


Aku terpaku agak lama sambil memperhatikannya memasang dasi kupu-kupu.


Lalu mulai meracau karena tiba-tiba ngomong : "Pingin main Assasin Creed Origin..." keluhku.


Ia hanya menghela napas. Ia langsung tahu aku lagi mabok.


Mabok tapi nggak minum.


"Game versi lama kan ngebosenin. Sekarang udah jamannya Apex legend kali, Le..."


"Pingin main game yang nggak pake mikir,"


Aku melangkah gontai ke kamarku untuk berganti pakaian. Rasanya seluruh tubuh pegal-pegal.


Masku mengikutiku masuk ke kamar.


"Mas, kapan nikah?"


"Nanti bulan Juli. Kenapa Le?"


"Perasaan kamu yang ngelamar duluan kenapa jadi aku yang nikah duluan?"


Ia menyeringai.


"Aku kan santai Le. Kamu harus maklum lah kalau Meilinda kejar tayang,"


"Kejar tayangnya nggak masalah. Tapi bayanganku tentang resepsi pernikahan jauh dari yang sekarang. Kenapa sih pernikahanku harus megah begini mas? Aku tuh males ketemu orang banyak loh," keluhku.


"Ya kamu harusnya sejak lama ngomong ke Pak Sebastian. Kalau sekarang sudah telat,"


"Kenapa sih harus ada dia lagi-dia lagi," keluhku lagi.


"Ngeluh terus kerjanya malah nggak jadi-jadi nih,"


"Pengen kabur ke dungeon aja,"


"Kamu bukan Ezio (tokoh di Game Assasin's Creed Lineage th 2009), seorang emilio junior itu harus bisa menghadapi segala masalah, jangan malah lari ke kastil yang cuma ada di game. Kalo mati, reset lagi, nggak aesthetic,"


"Emilio Junior... Aku malah belum sowan ke makam bapak." aku terkekeh masam.


Mas Bram membantuku mengenakan suit. Kiriman dari Pak Sebastian untukku, labelnya Prada.


Yang nggak bakalan bisa kubeli pakai gaji bulananku, pastinya.


"Itu diluar, di teras kita, rame banget," gumamku.


"Iya. Pak Sebastian kirim staff untuk mengawal kita,"


"Huh," aku mendengus. "Jadi inget waktu kita ke Gedung Pusat,"


"Pagi-pagi Pak RT sampai ke sini untuk konfirmasi. Pas tahu kamu bakalan jadi menantunya Pak Hans Bataragunadi, dia langsung kegirangan sendiri,"


"Girang karena sebentar lagi aku nggak tinggal disini lagi, jadi kerjaan dia ngatur keamanan komplek jadi ringan," gerutuku.


"Kamu ini... Udah tidur belum sih Mas?!" tanya Mas Bram.


"Belum, kayaknya,"


"Walah... nggak lupa bacaan ijab kabul kan?"


"Ijab Kabul tuh apa?” Sahutku sambil menata rambutku.


Mas Bram menoyor dahiku.


“Mabok genjer ni bocah!” omelnya sambil berjalan keluar. Lalu aku mencari-cari kacamata hitam Ray**Ban KW punya Bang Sa'ad yang masih kupinjam. Lama-lama jadi hak milik kayaknya.


Aku menatap diriku di cermin.


Yah,


Mau pakai setelan Prada, kek, D&G, kek, Gorden ibuku, kek, Tetap saja tampang ganteng mah cocok pake apa aja.


Eh, sombong bet dah!


Sekali-kali gapapa lah...


"Kuy mas, kita eksekusi!" sahutku.


"Kamu belum tidur loh,"


"Habis akad nanti boci."


"Malam pertamanya?"


"Judulnya malam, nggak harus dilakukan siang, kan? Dan nggak harus hari ini kan?!"


"Itu kan cuma kiasan, Le..."


Aku mengibaskan tangan ke arahnya.


Ia menatapku curiga sambil mengikutiku ke mobil.


Mungkin di bayangannya, aku dan Meilinda udah sering berbuat, jadi 'malam pertama' udah bukan prioritasku lagi. Mana ada cowok yang menolak malam pertama, coba?!


Ya tapi kalo cowoknya lagi tertekan kayak aku kan mungkin aja, loh...


"Elah... Ada Royco Gulung Tujuh Bayangan di depan rumah! Naik itu kita?!" seruku terkesima.


"Udah sinting kamu bawa-bawa merek kaldu,"


"Lah itu? RollRoyce Phantom VII?!" seruku lagi. "Kan aku cuma translate, Mas,"


Masku menatapku dengan tatapan seakan aku virus. "Di mobil kamu harus tidur, nggak tidur aku gebukin sampe pingsan. Pokoknya kamu merem!" tegurnya.


Aku berdecak mendengarnya.


Aula Garnet Hotel penuh orang. Dan disetiap sudutnya ada orang-orang berpakaian suit rapi macam bodyguard. Lalu tentara dan polisi dimana-mana.


Aku juga melihat karangan bunga ada disekitar pagar.


Lalu tempat parkiran bagaikan pameran mobil mewah.


Ini beneran Garnet Hotel ato acara Grammy Awards sih?! Jangan-jangan pas aku tadi tidur di mobil, Masku nyasar.


Aku jadi males keluar karena mobil kami langsung dikerubungi wartawan.


Macam aku pejabat tersangka KPK dan mereka minta penjelasan.


"Kebayang nggak sih kalo aku keluar..." aku meringis ngeri.


"Paling baju robek-robek dikit. Dompet hape pegang erat-erat."


"Masukin ke celana dalem aja kali ya?"


"Jangan mulai Le."


Masku kenapa jadi angker begini?!


Mungkin dia baru sadar kalo adiknya sebenarnya dalam bahaya...


Lalu entah dari mana, Pak Arman dan Krunya datang. Aku bisa melihat Tresna dan Heksa juga di sana, bawa-bawa bedil di belakang mereka.


“Mohon jangan berlebihan,” sahut pak Arman.


Dan suasana langsung hening.


Singgg... gitu kayak setan lewat.


Biasa, aku tukang fitnah Mas Setan.


"Gila..." gumamku dan Mas Bram berbarengan.


Saat aku masih terkagum-kagum dengan adegan di depanku, Mas Bram menarik daguku, kanan-kiri- atas-bawah dia perhatikan.


"Oke. You'll be fine." katanya.


Apanya?!


Petugas Valet mobil datang dan berdiri menunggu disamping pintu mobil. "Sana keluar... Jangan aneh-aneh. Akting kayak orang normal aja."


Aku jadi bertanya-tanya, di pandangannya selama ini aku sebenarnya nggak normal ya?


"Mas,aku ke sana," bisik Masku sambil menunjuk sisi kanan aula.


"Lah kamu mau kemana?" tanyaku karena dia berbelok ke kanan.


"Ada orang penting yang harus kutemui buat bisnis." dia menunjuk bagian kanan Aula. Lalu tangannya mengibaskanku untuk menyusuri lorong dan masuk ruang rias.


Bisnis di hari pernikahanku.


Lama-lama dia jadi kayak...


"Hei, Boyo!!" panggil Pak Sebastian di ujung ruang.


Baru juga mau kuomongin...


Gila nggak sih dia panggil aku 'boyo' di depan semua tamu.


Dan lagi kenapa ruangan gedung tempatku mau akad, banyak selebritis begini?


Dan lampu apa ini kerlap-kerlip. Lampu blitz dimana-mana...


Bikin silau!!


"Nih kenalin, Menteri Pertahanan Italy."


Eh, Buset!!


"Pak, saya belum dirias." Bisikku.


"Emang kamu perlu dirias? Ini lebih penting buat jaringan kamu kalau jadi presdir."


"Lionel mau dikemanain pak?"


"Dia mau jadi Komut nanti. Kamu gantiin dia."


Aku mengerang tidak setuju.


Segala macam alih jabatan ini, aku sebenarnya tidak suka.


Akhirnya karena dia terus memaksa, aku maju modal dengkul dan bahasa Italy yang pas-pasan.


Karena nggak ingin kelihatan bego, aku pasang senyum manis andalan yang biasa kupakai kalau mau menghipnotis manusia, dan menyapa :


"Buongiorno."


Paling enggakk kalau ada salah kata, mereka nggak ngeh.


"questo è il futuro cognato, lo sposo." (Ini calon adik ipar, si pengantin laki-laki.) Pak Sebastian mengenalkanku.


Lawan bicaraku bengong menatapku.


Mungkin udah terhipnotis senyumanku.


"Come stai...(apa kabar?)" sambungku.


Mereka tetap diam.


Aku salah ngomong nggak sih.


Terdengar dengusan Pak Sebastian.


"Oh mio Dio. Che bello..." desis istri Pak Menteri.


Walah...


Artinya kurang lebih : OMG, ganteng bet dah...


Dengusan Pak Sebastian berubah jadi decakan mengejek, dan dia langsung beranjak meninggaklkanku sendirian.


Aku memutuskan untuk tetap disana, mengobrol dengan Pak Menteri Pertahanan Italy dan istri karena...


Aku hanya butuh mengobrol dengan sebanyak mungkin orang...


“Cos'è rosso e si muove su e giù?” (Apa yang berwarna merah dan bergerak ke atas dan ke bawah?) tanyaku.


“La pallina rossa viene lanciata?” (Bola merah dilempar/dilambungkan)


“Un pomodoro di un assensor!” (Tomat di lift!) jawabku.


“HAHAHAHAHA!!” seru kami berbarengan.


Tidak sampai 10 menit kami sudah melontarkan jokes. Orang Italia terkenal humoris, soalnya. Biar saja tebakanku receh yang penting aku bisa ketawa.


“Un uomo disse al dottore: "Dottore, ha prescritto dei sonniferi a mia suocera?"” (Seorang pria menemui dokter dan bertanya, Dokter, apakah anda bisa meresepkan obat tidur untuk Ibu Mertua saya?) Kembali aku bertanya.


“Perche? Sua suocera soffre d'insonnia?” (Dokter menjawab, "Mengapa? Apakah ibu mertua Anda menderita insomnia?")


Jawabanku, “No, mia suocera la notte dorme benissimo. Il sonnifero era per il giorno.”  (Pria itu menjawab, "Tidak, ibu mertua saya tidur nyenyak di malam hari, obat tidurnya untuk siang.")


“HAHAHAHAHAHAH!!”


"Aaaahhhhahahaha Bene Tu!!" (bisa saja kamu!) seru Pak Menteri.


"ma è vero!!" (tapi itu benar, sih!!) Istrinya sampai menghapus air mata karena dia ketawa kencang sekali tadi. Mungkin dia ada masalah dengan ibu mertuanya.


Tunggu... efektif tidak ya kalau kuselipkan obat tidur ke nastar terus kukirimkan ke Pak Sebastian?


Aku menatap Pak Sebastian di seberang sana. Dia tampak menghadiri konferensi pers bersama Milady.


Lalu dari kejauhan kulihat Pak Arman mondar-mandir, aku bisa melihat Tokalev terselip di pinggang di balik jasnya.


Dan aku pun mengernyit sebal dan menggeleng.


Tidak, tidak bisa kuselipkan obat tidur di nastar. Pasti langsung ketahuan Pak Arman. Jalan satu-satunya adalah mengajak Pak Arman bekerja sama denganku. Siapa tahu dia lagi capek mengurusi Zeus.


Dan akhirnya banyak orang yang mengerubungi kami saling bercanda dengan jokes andalannya, kali ini pakai bahasa inggris.


Salah satunya yang dilontarkan oleh bapak-bapak gemuk yang katanya berprofesi sebagai guru besar di salah satu universitas berstatus ivy league di Amerika.


Si Professor : “Can you name three consecutive days without using the words Monday, Tuesday, Wednesday, Thursday, Friday, Saturday, or Sunday?” (Sebutkan tiga hari, tapi jangan pakai kata-kata Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu, Minggu!)


Kami pun Protes, “Maaaan, how come?!” masalahnya jokesnya berat banget. Ya dia kan professor.


Aku pun menawar jawabannya : Can I answer it with other language? (Bisa gue jawab pake bahasa lain nggak? Kan Monday pake bahasa inggris)


“Nope!” kata si Professor.


Pak Arman pun melewati kami dan berujar, “Jawabannya, Yesterday, Today, and Tomorrow. Three days.” lalu dia melengos pergi. (Kemarin, Hari ini, Besok. Tuh, dihitung 3 hari kan?!)


“Brooooo!” seruku sebal.


Semua heboh karena geli. “He’s right,”kata si professor sambil menyeruput kopinya.


Aku sekali lagi melontarkan jokes berfaedah, “Oke, Guys. What is always in front of you but can't be seen?” (Apa yang selalu ada di depanmu, tapi tidak bisa kau lihat?)


Semua menatapku dengan serius.


Kujawab, “The Future.” (Masa depan).


“Aaaaw, Dimaaas,” semua sepertinya tersentuh. “Happy Wedding, Brooo,” desis semuanya sambil memelukku.


Pelukan hangat dari orang random.


Ternyata bisa menenangkan hatiku.


Tapi gara-gara jokes, aku bisa tahu siapa saja yang datang di acara ini. Undangan Pak Sebastian tidak main-main.


Lalu sebuah jeweran mendarat di telingaku.


"Astaga Pak Dimas!! Dari tadi dicariin ternyata parkir disini! Kamu nikah 10 menit lagi mana belom dirias sama sekali, gimana sih!!" Selena muncul sambil menarik telingaku dan menggeretku ke ruang rias.


Ih, padahal tadi lagi asik...