Office Hour

Office Hour
Si Gio Bikin Masalah Aje



Selayang Pandang dari Tante Author Ca’em.


Dear Sedulur Tercinta, tersayang, ter-nganu.


Banyak dari rider bertanya kenapa alurnya beda sekali dengan Woman On Top, Master dari Office Hour ini. Dan seringkali banyak yang mengeluh ‘bingung, harusnya kan begini, harusnya kan begitu, bukannya dulu begini, kenapa jadi begitu...’ hehe.


Jawabannya,


YESS, betul. Karena Office Hour BUKAN Woman On Top.


Novel Office Hour ini ada, karena banyak pembaca Novel Toon yang belum sempat membaca Woman On Top dan bertanya mengenai Dimas, bapak dari Nayaka, ipar dari Pak Sebastian, cikal bakal semua novel Tante Author, tapi sudah terlanjur tante hapus.


Ini adalah persembahan Tante Author untuk kalian semua.


Di Office Hour, sebagian kata-katanya, bahkan alurnya SANGAT BERBEDA dari Woman On Top, bahkan adegannya lebih greget dan kalimatnya lebih tertata. Banyak adegan yang tidak ada di Woman On Top. TAPI semua adegan penting di Woman On Top ADA di sini.


Karena itu disebut Re-Make. Yang berarti Pembuatan ulang. Yang berati, Revisi. Yang berarti PENYEMPURNAAN.


Kenapa Woman On Top dihapus? Jawabannya :


Karena JUDULNYA EKSPLISIT (Vulgar),


isi ceritanya dianggap tidak cocok dengan kebijakan Novel Toon, sehingga Woman On Top SELALU TIDAK LOLOS KONTRAK walau pun isinya sebenarnya TIDAK MENGANDUNG KONTEN NEGATIF.


Padahal di sini, Woman (Perempuan) On TOP (Di Atas) sebenarnya mengisahkan mengenai Meilinda yang jabatannya dianggap lebih tinggi dari Dimas, dengan usia yang jauh lebih tua, dan dia berkuasa di atas segalanya.


Namun SISTEM Novel Toon membaca kalau Woman On Top itu menceritakan mengenai gaya bercinta. Hehe.


Dan saat sebuah Novel di Platform Online TIDAK DIKONTRAK, maka hal itu dapat membahayakan kondisi si Novel karena sarat akan plagiat. Dan saat plagiat terjadi sebelum dikontrak, Author tidak bisa mempertahankan diri, tidak bisa protes, karena tidak memiliki Hak Cipta. Kecuali novel itu sudah didaftarkan ISBN dan hal itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Apalagi, Kalau sudah didaftarkan ISBN Mandiri, tentu novel itu tidak bisa tayang di Novel Toon, hehe.


Yowes, itu aja penjelasannya.


Semoga Pembaca menikmati Novel OFFICE HOUR ini ya.


INGAT,


INI BUKAN WOMAN ON TOP...


Bukan, Loooh. Heheheheheheh (Ini Ketawa Licik)


Ps. Kayaknya gaya WOT harus ada ya di sini.


Ups!!


**


“Aku antar pulang ya?” desisku sambil mendekati Meilinda dan menghapus titik-titik air mata di pipinya. Melihatnya seperti itu aku benar-benar kuatir.


Aku tidak  ingin dia ikut tertekan akibat kejadian ini.


Tapi nyatanya digertak oleh seorang Bataragunadi mereka tidak gentar!


“Aku pulang sendiri aja Mas, kamu kan harus kerja. Kalau aku kan tinggal tunggu proposal kamu dan acc bisa dari rumah,” kata Meilinda lemah.


“Aku hubungi Trevor ya biar dia bisa jemput kamu? Kalau hanya driver aku nggak yakin akan keselamatan kamu,” kataku.


“Tenang aja Mas, aku cuma kaget aja hari ini. Aku nggak papa kok,”


“Nggak apa-apa gimana? Muka kamu pucat banget!” tegurku.


“Ini cuma shock mas,”


“Tapi-“


“JIANCOEEEEEG! COEG! COEG! Aku liak sendiri dooooong itu tulisan segambreng! Kok ISAAAAA??” seru Pak David Huang ribut sambil foto-foto TKP.


“Iki toh Mas kejadian di kantor lama ya ngono iki? Ono berbie disundut-sundut jugak? Huebbboh iki! Sejarah tertoreh di Garnet! Untung ae kowe karyawan berprestasi, pacaran karo adik’e owner pulak, neng kowe iki recehan wis tak tendiang, nyusahin soale!”


Tendangnya pake i di tengah-tengah kata saking dia semangatnya.


Aku jadi pingin c1p0k ini Chindo Surabaya, bikin suasana jadi rame aja.


“Ohiya, mumpung you belon pingsan, Mel, lusa ono karyawan baru pindahan Garnet Properti Yo!” sempat-sempatnya Pak David Huang ngomongin kerjaan. Ya memang masih Jam Kantor sih. Office Hour.


“Duuuh Daviiid,” gumam Meilinda sambil merebahkan kepalanya di sofa sambil menempelkan kain kompresan di dahinya.


“Iyo-Iyo! Sek lah Dimas investigasi. Gampang lah ini, bisa-bisa semua ciwi di kantor jadi tersangka. Bisa lah Dimas yaaak?! Aku tinggal rekrut pegawai lagi gampang nyarinya. Mati satu tumbuh sak jutooo,”


“Berisik David,” gerutu Bu Meilinda. “Sayang, aku pulang duluan, Pak Sapto udah sampai di Lobby,”


“Sayang-sayang-sayang, Mbuh!” gerutu Pak david.


Aku menjulurkan lidahku padanya sambil mengantar Bu Meilinda ke Lobby.


**


Setelah kejadian heboh,


Malam itu udara di dalam kantor terasa sumpek. Di luar sedang hujan deras dan petir bersambung- sambungan, seakan Illahi sedang menunjukkan kuasanya menaklukan langit. Jam dinding menunjukkan pukul 9 malam. Sebagian besar karyawan telah pulang dan sebagian besar lantai telah gelap.


Aku, Dimas Tanurahardja, masih berkutat dengan pekerjaan di ruanganku, ruangan Divisi Audit yang terbuat dari kubikel yang besar berukuran 8 x 8 ditempati oleh 20 orang. Tapi malam ini seperti biasa, aku ditinggalkan pulang.


Sendirian.


Iya, memang mereka tega’an kalo masalah pulang tenggo.


Sebenarnya aku merasa lelah sangat, tapi tampaknya idealismeku cukup besar sehingga sangat terganggu dengan bantex yang menumpuk di mejaku. Jiwa perfeksionis-ku menggeliat.


Aku sebenarnya mencurigai Gio, namun aku tangguhkan dulu karena tidak bisa sembarangan menuduh.


Sebenarnya banyak yang menghimbauku untuk pulang saja karena besar kemungkinan keselamatanku juga terancam. Namun aku malah memilih lembur karena ada yang ingin kupastikan.


Aku juga sudah memanggil sumber terpercaya untuk menemuiku di ruanganku, namun karena yang bersangkutan masih ada pertemuan dengan Nasabah jadi baru bisa ke kantor menemuiku jam 9 malam.


Aku berani bertaruh di lantai ini yang masih standby hanya aku dan Divisi IT. Mereka masih berkutat dengan CCTV untuk investigasi kejadian tadi pagi. Dan aku sedang berpikir apakah kasus vandalisme ini termasuk ke temuan resmi atau bisa di-petikemas-kan dulu sebagai rahasia umum.


Dulu kejadian sama persis juga terjadi. Para wanita di kantorku yang lama juga berbuat hampir persis seperti yang tadi pagi.


Kalau dulu aku masih bertahan dan cuek saja. Namun akibatnya ternyata fatal, teman-teman wanitaku dilukai dan dikuntit seharian sehingga psikologis mereka terganggu, dan yang tetap bertahan malah berakhir dengan perkelahian.


Namun kalau saat ini, pelakunya bisa dibilang nekat karena berani mengusik crazy rich Darmawangsa. Sudah pasti Meilinda akan menggunakan uangnya untuk melacak si pelaku, kalau perlu semua pengacara kondang di negara ini ia sewa untuk mengadili pelaku.


Siapa sih yang berani ngusilin Meilinda, mungkinkan beneran nggak punya otak?!


Kami mewanti-wanti agar Pak Sebastian dan Pak Hans tidak mengetahuinya. Tapi Pak Danu meragukannya. Pasti akan ketahuan juga, katanya, karena mata-mata Pak Sebastian di mana-mana.


Apabila kasus ini sampai diketahui mereka, selain aku akan kehilangan kepalaku, pelaku dikubur hidup-hidup, dan Meilinda di suruh resign karena nggak boleh keluar rumah selama 10 tahun demi keselamatannya, nasib jajaran manajemen ada 6 orang direksi 4 komisaris 500 karyawan tetap dan 2500 karyawan outsourching bisa terancam diobrak abrik jabatannya. (ini majas hiperbola ya).


Bayangkan apa yang akan dipikirkan ibuku.


Jadi dengan pertimbangan itu, kepulangan Meilinda ke rumahnya hari ini dilaporkan karena kesehatannya terganggu akibat sering dinas keluar kota a.k.a kecapekan.


Aku begadang hari ini juga karena kepentingan itu. Pekerjaan Auditor sudah beres dari jam 8 malam, dan sudah 1 jam aku mengamati cctv. Baik itu cctv gedung (aku hack), cctv semua lantai (aku hack juga), cctv tenant lain (pastinya aku hack), juga cctv ruangan kantorku (hasil remote komputer Arya), dan pelakunya sudah berhasil kuidentifikasi secara mandiri.


Terlihat ia mengenakan hoodie hitam celana hitam topi hitam, kacamata hitam, masker dan sarung tangan. Tidak jelas gendernya. Tinggi sekitar 170cm dengan berat badan sekitar 60kg.


Cctv kantorku lumayan canggih karena Pak Sebastian sering bolak balik untuk mengecek kinerja kami lewat cctv jadi dibeli yang tercanggih mulai dari warna dan ada deteksi suara yang tentu saja menguras biaya operasional kantor.


Secanggih itu pun orang-orang masih sulit memberikan terduganya. Arya bilang ia mengenakan topeng lagi dibalik maskernya dan bajunya berlapis-lapis di bawah hoodienya.


Namun aku... Mengenalnya.


Sial!


Kenapa aku harus mengenalnya.


Gerak-geriknya, cara jalannya, dan pakaian


yang dipakainya.


Juga sepatu Supreme kw nya.


Dan yang lebih jelas lagi, tulisan di jendela itu keakuratannya dengan tulisan tangannya hampir 100%.


Gio Gio, Ngapain sih looooo! Umpatku dalam hati.


Tanganku mengelus daguku yang baru kucukur sore ini di pantry, ingin sih menumbuhkan jenggot, agak panjang gitu sampai menutupi leher lalu dikepang biar keren, tapi Divisi HRD bisa memanggilku masuk ruangan karena dianggap nggak rapi, Pak David Huang dengan ke-bacotan- hakikinya itu pasti berkoar-koar macam burung beo belum dikasih makan.


Kan enak kalo mikir sambil narik-narik kepangan jenggot.


Apa salahnya sih kan aku Auditor, nggak ketemu Nasabah dan dibalik layar, boleh dong nggak rapi sedikit.


Bisa menimbulkan cemburu sosial mungkin alasannya, karena di Garnet Bank, jumlah marketingnya  lebih banyak dibanding personel lain dan seluruh Marketing diwajibkan berpenampilan stylish dan rapijali. Padahal mereka kan juga ingin berpenampilan bebas. Kayaknya bakalan iri kalau melihatku makin menawan dengan jenggot lebat wekeekek.


Lagian di sini yang diperbolehkan berambut gondrong hanya Pak Haryono sih. Dia memang gayanya metal. Mungkin kalau rambutnya dipotong, kejeniusannya raib.


Aku mendengar ruanganku diketok.


“Mas...?” Fendi melongok ke dalam ruanganku.


“Ya bro?” sapaku.


“Lo nggak papa?” tanyanya. Terlihat wajahnya kuatir.


Aku tersenyum dipaksakan. Masalahnya caranya menanyakan keadaanku saat ini membuatku merinding. Di-khawatirkan oleh orang semacam Fendi tidak membuat hatiku tenang, malah semakin deg--degan.


“Bukannya nggak papa sih, mana mungkin?” desisku.


Fendi terkekeh.


Ia mendekat.


Aku meningkatkan radar.


Ia duduk bersandar di meja kosong di sebelahku sambil memasukkan tangan ke jasnya.


“Lo nggak kedinginan Mas?” desisnya mesra.


“Anjrit lo," desisku sinis. Ia terbahak.


“Gue udah duga sejak di Hambalang kalo hubungan lo bukan sekedar Boss dan pegawai kesayangannya. Untuuung aja gue nggak begitu ama Sarah. Hiii amit-amit!”


“Kampret,” omelku.


Aku menggeser layar komputerku untuk memperlihatkan pada Fendi.


“Siapa menurut lo?” desisku. Fendi menunduk untuk mempertajam penglihatannya.


Eh elah wangi banget ni anak...


Aku akui dia lebih ganteng dariku sebenarnya, tapi yang dia kurang itu adalah aura memikat. Haha.


“Gio.” Sahutnya pendek.


“Tahu dari mana?”


“sejenis soalnya.”


Aku terbahak.


Fendi salah satu karyawan yang dianggap langka karena intuisinya yang cukup tajam, jadi aku bukan tanpa alasan meminta pendapatnya. Tapi yang ini ternyata nggak usah pakai intuisi sudah bisa diidentifikasi dengan cepat.


Seperti perhitunganku, sih.


“Kisah cinta lo ini bikin repot banyak orang! Solat Tobat sanah! sahutnya.


“Ayok barengan solat Tobat,” kataku padanya balik.


“Laaah, udah jam 9 loh iniii, cuss ah!," Dia mengalihkan perhatian dan berbalik keluar ruangan dengan kemayu.


Jadi sebenarnya kedatangan Fendi kesini memang mau mengajakku barengan ke Gym di lantai 20. Jam segini sudah agak sepi dan bisa mengolah tubuh selama 2 jam sebelum tutup. Sekalian aku minta tolong untuk menginvestigasi agar aku tak menduga-duga sendiri, karena insting ni bocah lumayan tajam.


“Bisa’an,” Aku mematikan komputer dan beranjak mengikutinya.