Office Hour

Office Hour
Paket Bulan Madu



“Ha? Gimana Mas?” tanyaku sambil mengernyit saat menemui Resepsionis di Front Desk.


“Hm...” Si Mas-Mas Resepsionis hanya tersenyum masam untuk menunjukkan permohonan maafnya kepadaku, “Jadi, bagian reservasi baru saja menghubungi saya bahwa untuk ketersediaan kamar atas pemesanan Pak Dimas kami alihkan ke unit lain, karena secara tiba-tiba sebagian besar kamar di hotel kami di sewa oleh tamu dari istana Negara,”


“Tamu dari Istana Negara mana yang bawa orang sebanyak ini? Pangeran Arab?!” aku hanya menyindir.


“Betul Pak, dari Dubai tepatnya,”


“Heh? Serius Mas?”


Mas Resepsionis mengangguk, “Kami juga kaget Pak, Pak Dimas pasti tahu sekalinya liburan, mereka bisa bawa seluruh keluarga besar, 4 istrinya, belum anak-anak dari istri-istrinya, belum paman dari paman dari ipar dari tetangganya...”


“Belum pembantu-pembantunya,”


“Tepat sekali Pak Dimas,” desis si Mas Resepsionis, “Yang tersisa dikamar kami hanya tipe Honeymoon Suite. Tapi kami akan gratiskan extrabednya,”


“Honeymoon...suite?”


“Aslinya harganya tiga kali lipat dari kamar yang Pak Dimas pesan, tapi kami bebankan biaya kamar single Pak, selain itu ada diskon 40% lagi sebagai compliment dari kami,”


Aku berhitung.


Jatuhnya sih akan lebih hemat, tapi kan kami kemari biaya dari kantor karena jatuhnya Dinas. Apa jadinya kalau Pak David Huang sebagai Direktur Personalia dan Umum melihat tagihan untuk kamar hotel kami berlabel ‘Honeymoon Suite’?!


“Kwitansinya nanti bisa diakali tidak, jangan ada tulisan Honeymoon Suitenya?”


“Aduh, belum bisa pak kalau yang itu, jatuhnya pelanggaran di peraturan hotel kami,”


“Dimas! Lama amat sih? Saya udah ngantuk nih!” seru Bu Meilinda dari ujung lobby. Sempat-sempatnya dia teriak di tengah hotel.


“Apa boleh kami pesankan hotel yang lain Pak? Harganya kami samakan dengan penawaran terakhir kami,”


“Ibunya minta di sini, ada kepentingan soalnya,” kataku, karena Gunawan diprediksi ada di hotel ini, menurut GPS yang kami retas. Masalahnya kami tak tahu dia di kamar yang mana.


“Kamar yang mana saja lah Dimaaaas, yang penting nggak tidur di kolam renang!” seru Bu Meilinda lagi.


“Bawel...” gerutuku, “Ya sudah lah honeymoon suite saja, yang penting nggak tidur di kolam renang,” Terpaksa kubayar pakai tabunganku daripada nanti receiptnya disindir-sindir orang sekantor!


**


Dan lihatlah perubahan raut wajahnya saat kami tiba di kamar keramat.


“Astagaaaaaa Dimaaaaas?! Saya jadi curiga bakalan di-apa-apain sama kamu!” dia menatapku dengan alis terangkat dan tampak sangat kaget.


“Bukannya sebaliknya bu? Makhluk yang tampangnya macam saya kalau mau ngapa-ngapain cewek udah dari dulu kali!” omelku.


“Lah terus ini kenapa judulnya Paketan Bulan Madu gini?!”


“Cuma ini kamar yang tersisa, yang lain udah dibooking Pangeran Dubai!”


“Memangnya kamu pesan yang mana kemarin?”


“Ini diluar prediksi, kita juga dapat compliment, kok...”


“Dimas, kamar mandinya cuma pake kaca! Nggak pake tembok nggak pake gorden!”


“Ya makanya ibu jangan aneh-aneh kalo di WC! Nanti kasur saya senderin ke sana buat nutupin! Ribet...” gerutuku. “Katanya kamar yang mana aja yang penting nggak tidur di kolam renang...” mulutku nyinyir.


Dan bisa ditebak lah kehidupanku semalam bersamanya.


Aku jam 10 malam harus keluar dari kamar karena beliau mau berendam di kamar mandi.


Dan biasanya kalau cewek lagi berendam, kegiatan itu akan memakan waktu berjam-jam.


Pas aku tanya step-stepnya, dia bilangnya , “Kan belum cukuran, belum luluran, belum exfoliasi angkat kulit mati, habis itu scrub, sabunan, baru deh berendam,”


Aku pun mendengarkan dengan malas, “Habis berendam ngapain?” aku penasaran.


“Rambut harus di hairdryer sampai kering, pakai hair mask, terus muka pake cleanser, facial wash, maskeran, toner, serum, eye cream, moisturizer, lip balm, sheet mask, cuci rambut yang kedua dari hair mask, conditioner, keringkan, baru deh bobok,”


Aku bisa minta pengulangan kata nggak? Rasanya harus dicatat yang barusan. Soalnya banyak kosa kata dan istilah yang sama sekali belum pernah kudengar.


Kubayangkan kalau Bu Meilinda tersesat di belantara tanpa alat make upnya, mungkin dia akan amat sangat frustasi.


Rasa-rasanya ibuku hanya pakai sabun cuci muka sehari-harinya, kenapa Bu Meilinda alat ritualnya bisa setoko diborong semua sih...


Sungguh mencengangkan...


Suasana lobby malam itu lumayan ramai. Banyak orang timur tengah cantik-cantik, ganteng-ganteng memenuhi restaurant dan lobby.


Dan aku duduk di salah satu restaurant yang lumayan ramai sambil memesan kopi. Niatnya, buka laptop, ngurusin kerjaan sedikit, makan snack yang kayaknya enak, sejam kemudian balik ke kamar.


Satu jam cukup nggak sih buat ritual malam Bu Meilinda?


Cukup nggak cukup pokoknya jam 11 aku balik! Bodo amat dia belum selesai.


“Mas, Mas, Mas...” seorang wanita memanggilku.


“Ya Mbak?”


“Kita boleh duduk di sini nggak? Di mana-mana penuh, soalnya. Anak saya malam-malam ngebet makan eskrim,” di sebelahnya ada dua anak laki-laki sekitaran 5-6 tahunan, keduanya memegang scoop eskrim. Memandangku sambil menyeringai.


“Eh, nggak papa sih, gabung aja,” kataku sambil bergeser ke samping.


“ Asik! Makasih loh Mas. Bilang makasih ke Om!”


“Makasih Om,” kata anak laki-laki itu sambil duduk di depannku.


“Kamu kok malam-malam maksa makan eskrim sih? Kayak nggak ada hari lain,” tanyaku ke si anak yang tampaknya paling bongsor..


“Es krim di sini terkenal enak loh Om, kan aku jadi bisa pamer di status hehehehe,”


“Ya tapi kan kasian ibu kamu harus ngantri,” desisku.


“Aku tadinya pingin sendiri aja ke sini, tapi Mama mau ikutan,”


“Nggak mungkin juga ninggalin anak seusia kamu jalan-jalan sendirian kali,”


“Aku bisa kok sendirian, tapi Mama terlalu operprotektip,”


Aku diam.


Anak umur segini udah lancar ngomong dan bisa-bisanya dia bilang emaknya over-protektif.


“Nama kamu siapa?”


“Romeo,”


“Romanof,” ralat ibunya.


“Aku lebih suka nama Romeo, lebih gampang diucapkan,”


“Nama Romeo udah dipake buat tokoh Tante Author di novel lain,”


“Anggap aja Tante Author nggak kreatif milih nama,”


“Kalau kamu siapa?” aku beralih ke adiknya.


“Iky,” katanya pendek.


“Namanya Rizky, Mas. Tapi dia masih cadel, hehe,” kata si Mbak berhijab manis.


“Terus si Baby?”


“Ini Raka,” kata si Mbak.


“Ibunya namanya siapa?”


“Namaku Mitha, hehehe,”


“Saya Dimas, Mbak,”


Kami saling mengganggukan kepala tanda hormat, karena tampaknya dia tidak ingin bersentuhan dengan laki-laki.


“Lagi pada liburan nih?” tanyaku sambil menutup laptopku. Enakan ngobrol aja daripada kerja.


“Mumpung bapaknya di Indonesia, saya nuntut liburan,” Mitha cekikikan


“Memang suami kerja di mana?”


“Lompat-lompat negara Mas, kadang di Rusia, kadang di Amerika, mau-maunya perusahaan aja,”


“Namanya juga kerja ya mbak,”


“Ya iya Mas, asal dapur ngebul, hehe,” Mitha melap mulut Romanof a.k.a Romeo yang belepotan eskrim dengan tissue. “Dulu saya juga kerja di kantor yang sama, tapi beda divisi dengan suami saya. Ya saya tahu tekanannya seperti apa, jadi ya sekarang saya ngerti aja kalau tahu-tahu dia bilang : besok aku ke Rusia 6 bulan. Nah udah biasa...”


Kenapa akhir-akhir ini aku sering sekali mendengar mengenai negara itu.


“Memang suami sekarang kerja di mana Mbak?”


“Suamiku kerja di anak usahanya Garnet Grup Cabang Rusia, Mas. Di bagian tambang berlian di Yakutsk,”


Aku membeku.


“Saya... juga orang Garnet Mbak. Garnet Bank,” desisku hati-hati. Tapi dada ini bergemuruh. Bagaikan terjalin benang merah di depan mataku.


“Walah! Sama ya kita! Dulu saya di GSA, Mas. Tapi resign setelah saya hamil,”


Hebat juga cewek mungil begini kerja di GSA.


“Nama suaminya siapa? SIapa tahu saya kenal...” duh mual jadinya aku.


“Nama suami saya Gunawan. Gunawan Ambrose. Kenal Mas?”