
“Ada apa sih ribut-ribut,”
Meilinda masuk ke ruanganku, orang-orang reflek menyingkir memberinya jalan. Sudah macam Ratu Sejagat.
Aku perhatikan Cecilia menatap Meilinda dengan terbelalak, lalu matanya perlahan turun sampai ke kaki Meilinda, lalu naik kembali ke wajah Meilinda, lalu mundur tiga langkah sampai tubuhnya kepentok pinggiran meja.
Meilinda mendekati gadis itu dan mengangkat dagu Cecilia, menatapnya dalam, lalu menyampingkan wajah gadis itu ke kiri dan kanan. Setelah dirasa bukan saingannya ia melepasnya dan berjalan menuju arahku sambil menatap tajam ke Selena, lalu duduk di pangkuanku.
“Siapa?” tanyanya.
“Anaknya Bu Ajeng Atmo,” desisku sambil menyeringai.
“Oh,nggak mirip,” ujar Meilinda sambil tetap memperhatikan Cecilia yang kini melipir di belakang Selena. Berlindung.
“Kamu tahu Bu Ajeng?” tanyaku.
“Sesama pengusaha pasti tahu, pernah ketemu di acara pelestarian Batik,” katanya. Dunia ini memang sempit. Kalau tiba-tiba Pak Sebastiantahu bapakku siapa, atau kenal, kayaknya aku nggak usah heran lagi.
Pintu ruanganku diketok agak cepat, terlihat pak Haryono melongok, “Meli, Meeting. Mas, jam dua kita Gedung Garnet ya, shareholder mau tahu kasus Solo.” Pak Haryono berseru sambil tetap berjalan cepat ke ruangannya. “Gue lagi telpon Danu ini dari tadi nggak diangkat!”
“Ya Boss,” desisku.
“Ck, ganggu aja,” Meilinda mencium pipiku dan berlalu ke ruangan Pak Haryono.
“Mbak Seleb, Mbak Seleb!” bisik Cecilian sambil menyenggol-nyenggol lengan Selena. “Itu siapa?? Cuantiiikkk banget kayak Dewi Khayangan!” seru Cecil, memangnya dia pernah ngeliat dewi khayangan?! Dan kenapa nama Selena jadi Seleb?
“Itu Direktur Kepatuhan, namanya Bu Meilinda. Dia itu,” Selena melirikku sinis“...Majikannya Pak Dimas,”
Aku berdecak.
“Oh Pantesan tadi kayak minta dipangku, ternyata majikannya ya mbak! Ckckck harusnya kalo nggak ada kursi, Pak Dimas membungkuk biar dia bisa duduk di punggung Pak Dimas!”
Aku dan Selena bengong.
Ini menghina atau memang dia polos?! Tapi kok raut mukanya innocent.
“Mas,” Pak Danu muncul di pintu kubikelku. “Hari ini beneran ada meeting temuan Solo? Kok mendadak sih? Si Haryono miskol gue 12 kali nih,” decaknya.
“Baru saja dia nyariin bapak, katanya nanti siang jam 2 kita meeting di Gedung Garnet.”
“Lo ikut ya ke Gedung Garnet, ada pihak yang ngebocorin nih jadinya viral. Harus cepet-cepet desak OJK buat acc terus balikin duit Nasabah plus bayar denda untuk kelalaian, biar beritanya nggak semakin melebar,” keluhnya.
“Tasnya Bu Meilinda laku 1 milyar, nyampe nggak dendanya segitu Boss?”
“Wah gila! Hebat! Makasih ya Mas,” seru Pak Danu.
“Ini nih, Makasihnya sama dia,” aku menunjuk Cecilia, karena memang Bu Ajeng Atmo kan ibunya.
“Ini siapa?” Pak Danu menatap Cecilian seperti menatap anak anjing yang lagi ketakutan bersembunyi di belakang Truk Tronton (Selena).
“Anggota baru pak, namanya Cecilia Wira Atmo.” Kataku mengenalkan keduanya, “Bu Ajeng Atmo, nasabah kita yang kena Fraud sekaligus yang beli tasnya Meilinda, itu ibunya Cecil,” Pak Danu hanya mengangguk kecil sambil menatap Cecil.
“Terus dia kenapa di sini?”
“Bu Ajeng nitip CV, Pas Pak David tes ternyata mumpuni,” kataku
“Wah, lumayan dong. Selamat datang di Garnet Bank, ya,” sahut Pak Danu memberi salam ke Cecilia.
Herannya, kali ini Cecilia tidak berkoar-koar. Dia malah menatap Pak Danu tanpa berkedip.
“Woy, salam dong!” desisku sambil mendorong pelan punggung Cecil.
“A-a-a-anuuu,” Cecilia mendekat dan dia... berlutut sambil sungkeman, “Ngaturaken Sugeng Riyadi, Sedoyo lepat nyuwun ngapuroooo,”
Krik krik...
Krik krik...
Jangkring geng gong
Mau ketawa tapi kok momentnya pas bener yaaa.
Pak Danu saja sampai terkekeh. Aku langsung menunduk. Dia serem kalo nyengir soalnya. Mendingan aku berhadapan sama Banda versi genderuwo, deh. “Kerja yang rajin ya, yang jujur...” sahut Pak Danu. “Oke Mas, siapin bahannya, gue ke ruangan Haryono dulu. Meli dimana?”
“Sudah di ruangan Pak Har,”
“Oke, Daaag Cecil,” sahut Pak Danu sambil keluar dari ruanganku.
Kenapa Cuma Cecil yang didadah-dadahin?!
“Ooooo Eeeem Giiii,” gumam Cecilia sambil mengguncang-guncangkan lenganku.
“Ya Tuhan...!!! Ternyata ada yang level kegantengannya di atas Pak Dimas!!” Seru Cecil.
Hah? Ada yang lebih ganteng dari gue?!
“Itu Siapa? Astaga kayak Pangeran Kegelapan!! Tipeku banget!! Gothic misterius Visual Kei gituuuu!!!”
Elah!
Serius dia ngefans sama Raja Vampir?!
**
Ceritanya, seminggu berlalu sudah.
Dicepetin aja, masa cerita aku kerja melulu.
Walau pun judul novelnya ‘Office Hour’ ya kami juga punya kehidupan di luar jam kantor dong aaaah.
Sabtu Pagi, setelah mandi, aku mendekati Ibuku.
Ekstra nyenggol-nyenggol lengannya dengan mesra soalnya mau merayu.
Ceritanya, aku hari ini mau ke Darmawangsa menjemput Meilinda. karena hubunganku dengan Meilinda mengalami progress yang pesat, jadi aku pikir sudah saatnya mereka bertemu. Toh tempo hari Meilinda memang bilang ingin bertemu ibuku.
"Bu, Gini," Aku membuka obrolan. Pelan-pelan, takut ibuku kaget, “jadi, aku deket sama cewek, bu-“
"Anak siapa yang kamu hamili?!" ibuku ekstra melotot. Belom juga ngomong!
"Wih!! Ati-ati loh bu, ucapan seorang ibu itu bisa jadi doa!" seruku.
"Ohiyaya, Astaghfirullah!" Lalu dia mengucap kalimat doa minta ampunan Yang Maha Kuasa. "Opo?"
Akhirnya dia bertanya.
"Ibu inget Pak Sebas... anuuu, Pak Yan, Kan?” tanyaku.
“Ya iya lah ingat,”
“Kan dia punya adik tuh bu,”
“Iya, Si Linda. Boss mu kan Le? Apa kabar dia le? Pasti uuayuu tenan saiki toh le? Mbiyen iku Linda paling ayu sekota, rupane koyok wong londo!” (Apa kabar dia Nak? Pasti sekarang cantikbanget kan ya? Dulu itu Linda paling cantik sekota, karena wajahnya seperti orang bule).
“Besok aku mau ajak Meilinda ke sini,"
“Boleh Boleeeh, Walah Ibuk wis kangeeeen tenan!”
Aku menggakruk-garuk kepalaku, kayak ada yang ketinggalan. Oh iya benar juga, aku lupa belum cerita sama ibuku kalau...
Ibuku melotot padaku.
"Baru jadian dua bulan sih- Adaww!! Adaww!! Adaawww!!" Seruku kesakitan. Tiba- tiba dia malah menjewer telingaku.
"Dengerin ibu ya cah gendeng, yen kowe njahati Linda, tak pites burungmu!" geram ibuku.
Nasibku. Dituduh Masku masuk dunia hitam, dituduh ibuku Orang Jahat.
Se-fakboi- itukah tampangku ini?!
**
"Bu Lastriiiiii!!!"
"Ya Ampun! Lindaaaa!!!"
Dan mereka berpelukan erat melepas kangen.
Aku belum turun dari mobil, Meilinda sudah berlari menghampiri ibuku tepat setelah mesin mobil kumatikan. Sudah berapa tahun ya mereka tak bertemu? Masih hafal muka masing-masing yah.
Mungkin memang ikatan di antara mereka sangat erat dulunya, atau ada kejadian yang aku nggak tau. Setelah itu Meilinda bahkan lupa padaku karena ia asik dengan ibuku. Mungkin bercerita masa lalu... kayaknya sih begitu karena mereka cekikikan si ruang makan sambil ngemil.
Aku menuju dapur untuk memeriksa kulkas. Ini hari Sabtu, biasanya ibuku nggak masak. Kami memang memutuskan kalau weekend pekerjaan rumah tangga diliburkan juga. Seharusnya yang menggantikan pekerjaan beliau adalah aku atau Bram, tapi kami sendiri sudah terlalu capek bekerja, jadi kadang kalau butuh untuk bersih-bersih kami menyewa ART online khusus weekend.
Aku lupa,
Makanan kesukaan Meilinda apa yah.
Aku belum tahu loh selama ini aku kenal dia. Aku ingat-ingat saat diundang sarapan, pagi dia cuma makan buah. Lalu saat dia mencoba menyogokku makan steak, dia cuma makan salad. Aku memeriksa bahan makanan di kulkas. Hanya ada bahan untuk spageti.
Ya sudahlah kubuat aja ala-ala, kalo nggak habis biasanya Bram nanti yang menyelesaikan hehe.
Masku itu makannya banyak.
Aku melongok ke kamarnya, belum ada pergerakan. Masih menyatu dengan kasur kayaknya. Kalau nggak salah kemarin dia kencan lagi sama Selena. Nggak heran dia kecapekan, aku saja suka merasa akhir-akhir ini punggungku pegal kalau menghadapi omelan Selena. Belum kalau Meli ngambek, dan cecilia ngoceh nggak berhenti.
Duh, berasa ketindihan sambil duduk.
Jadi, di sinilah aku sekarang. Masak sambil mengawasi dua wanita kesayanganku.
"Kok kamu mau sih nduk sama Dimas. Dia kan playboy, dulu itu sebulan sekali ganti pacar, sampe aku itu pusing gara-gara banyak yang nangis-nangis di depan pager nggak mau diputusin katanya. Malu aku diliatin tetangga!"
Ibuku membicarakan diriku dengan antusias.
Meilinda terbahak.
"Pas Bram nyamperin terus dibentak, mereka baru mau pergi," Lanjut ibuku.
Meilinda terbahak sampai keluar air mata.
"Kowe pacaran karo Dimas, nggak diapa-apain kan karo wong wedhok liyane?!"
"Yah,kemarin sih sempat berantem sih bu sama fansnya Dimas." Ibuku terpekik.
"Tapi sebagian sudah aku pecat," Sambung Meilinda.
"Walah walah!kowe ora kesel nduk pacaran karo cah gendeng iku?"
"Ya capek sih. Tapi gimana, terlanjur." Ibuku terpekik.
"Terlanjur? Terlanjur opo?!?"
"...terlanjur sayang." Meilinda mengerling padaku.
Aku menjatuhkan centong sayurku.
Astaga!
Cantik banget ni bidadari!
Jantungku langsung mencelot.
Aku inhale exhale untuk menetralisir degupan jantungku dan melanjutkan memasak. Untung tadi bukan pegang pisau.
"Kamu ngapain sih dari tadi disitu?" tanya Meilinda akhirnya.
Aku udah disini 30 menit dan dia baru nanya aku ngapain? Ckckck. Ibu-ibu kalo lagi ngegosip emang nggak liat waktu.
"Ya masak lah, masa mejeng," Omelku.
Bagus juga nanti kalo udah nikah nyuruh dia di dapur masak indomie cuma pake celemek doang kayak di film dewasa, hehe.
"Kamu bisa masak?" tanyanya.
Wajahnya menyiratkan kekaguman. Memangnya aku seaneh itu ya kalo bisa masak?
"Anak-anakku semua bisa masak lo nda, biar istrinya nanti bisa punya waktu luang. Bapaknya anak-anak dulu itu juga pinter masak, aku jadinya bisa gantian," Kata ibuku.
Entah kenapa mukanya Meilinda langsung suram.
Aku meletakkan piring berisi spageti di depannya.
Ia hanya menatapnya.
Kok kayaknya tampangnya nggak berkenan.
"Kamu lagi program diet? Kalo iya, mau aku bikinin salad aja?" tanyaku, kalo dia lagi program diet aku langsung ngacir ke supermarket naik motor.
"Aku nggak pernah diet, kok, Sangsi aja sama rasanya hehe." Dia memang terkekeh, tapi aku bisa melihat senyumnya dipaksakan.
"Cobain dulu sayang. Mau aku suapin?" Aku mencoba menggodanya. Sekarang pipinya merona. Suapan pertama, dia langsung menatapku sambil menggangkat alisnya. Nggak yakin suapan kedua, melototnya lebih lebar. Terus mukanya jadi lebih suram dari yang tadi.
"Nggak sesuai selera ya," tanyaku. Soalnya tampangnya cemberut gitu.
"Bukan, enak banget malah. Kamu bisa bikin restoran kalo begini." Tapi pujiannya nggak bikin aku bangga malah bikin aku kuatir, karena tampangnya kelihatan sedih.
Tiba-tiba ponsel ibuku berdering. “Sek yo aku angkat disik!” kata ibuku sambil menjauh.
"Kamu kenapa?" bisikku.
"Nggak papa..." jawabnya pendek sambil memakan spageti dengan muram. Tapi habisnya cepet.
Aku nggak yakin sama jawabannya. Soalnya menurut buku pedoman cowok ganteng sejagat, kalo wanita bilang nggak papa pasti ada masalah yang beratnya ngalah-ngalahin krisis ekonomi.
"Le, ono pesenan nasi uduk 200 paket iki, mendadak untuk sesok. Lah aku harus belanja iki!" seru ibuku setelah menutup telepon.
"Perlu dianterin bu?" tanyaku.
"Ora usah, kowe neng kene ngancani Linda wae, ibu nang restoran sek yooo!" sahutnya sambil panik bersiap-siap. Lalu ia memeluk Meilinda.
"Mugi-mugi kowe dadi mantuku yo nda, aduh!! Aku suenneng buanget iki ketemu kowe cah ayuuu!!" sahut ibuku.
Udah mantu-mantuan aja ibuku.
Aku sih seneng-seneng aja loooh.
Nggak tau ya kalau Pak Sebastian.