
Warning!
Episode ini mengandung banyak ‘kebencian’ wakakakakak.
Apa yang terjadi saat Meilinda berhadapan dengan para pembully-nya?
Dalam kasus ini, tersangkanya ada 14 orang, sudah termasuk Gio. Jadi kini tinggal sisa 13 orangnya yang diinterogasi untuk dipertimbangkan mau diberikan SP3 atau dipecat, atau malah lanjut kerja.
Nama-nama tersangkanya tidak kusebutkan di sini, yang jelas ternyata semuanya mengarah ke satu nama, yaitu Yolanda. Otak dan provokator di balik kasus vandalisme ini.
Kita lihat dulu prosesnya ya,
Pertanyaan kali ini, Apa yang membuat kamu melakukan hal ini?
“Yolanda nyuruh saya,”
“Yolanda datang ke saya, nanya mau bantuin nggak nanti susu anak saya dibayarin,”
“Saya udah lama suka sama Pak Dimas, tapi sebenarnya nggak kepikiran mau lakuin hal-hal buruk, sampai Yolanda datang ke saya,”
“Saya sebenarnya nggak mau ikut-ikutan tapi saya takut nanti nggak dibantuin nyari nasabah,”
“Pak, saya jangan dipecat, apa kata suami dan anak-anak saya nanti? Saya akan berkelakuan baik, saya ikhlasin Pak Dimas buat Bu Meilinda,”
“Saya memang beberapa kali dibentak sama Bu Meilinda, makanya saya mau aja ikut waktu diminta,”
“Yolanda bilang mengenai rencananya ya saya ikutan soalnya saya juga sebel sama Bu Meilinda,”
Di atas itu adalah alasan-alasan yang masih bisa kami terima. Dengan kalem, karena udah diultimatum sama Pak Sebastian, Bu Meilinda meminta maaf ke tersangka di atas kalau selama ini dia sudah bertingkah arogan.
“Saya juga minta maaf ya kalau ada kelakuan saya yang menyakiti hati kamu, berikutnya saya akan memperbaiki sikap saya. Saya sadar kalian punya hak untuk nyaman di tempat kerja, dan saya senang kita bisa sharing uneg-uneg selama ini,” kata Meilinda.
Berikutnya reaksi para tersangka biasanya nangis, minta maaf juga, peluk-pelukan, dan bebaslah mereka dari segala resiko.
SP2 tanpa bonus tahunan.
Nah,
Itu yang gampang.
Gimana kalo fans garis kerasnya?
Jelas, rame dan heboh, main tunjuk-tunjukan, main cakar-cakaran, Aku bahkan sambil membopong Meilinda ke belakang soalnya dia hampir maju dan mencakar-cakar wajah salah satunya.
Begini prosesnya.
Pertanyaannya sama, Apa yang membuat kamu melakukan hal ini?
Febi : “Saya nggak takut sama golongan Konglomerat, bisa apa kalian kalau Tuhan berkehendak?! Saya di sini ingin memberi pelajaran ke Meli kalo di sini itu derajatnya sama! Karyawan memang digaji, tapi kami memberikan effrot lebih untuk kesejahteraan kalian. Karena usaha kami, Meli bisa beli tas branded, sepatu desainer, jadi jangan sombong!”
Rosa : “Nggak usah macem-macem deh bu baru jadi Direktur aja, Presiden aja kalau songong saya lawan!”
Kessy : “Saya yakin banget Dimas dipelet sama Meli, lah udah tua begini, mana kelakuan kayak Dajjal, bacot kemana-mana, petantang-petenteng macam Ratu sejagad, mana mau Dimas kalo ngak di-dukunin ya gak? Ngaku aja deh! Gue nih lebih muda lebih cantik, lebih Gaya, anak anggota DPR, logikanya seharusnya dia lebih suka gue dari lu Mel!”
Carla : “*&@*&()$ !!” Ngen- Bab- Mon- “)(@^@^$(*)()_” piip poop peeep piiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiip !!!”
Jesica : “Pecat aja saya, nggak sudi saya ngeliat muka Meilinda, Saya akan selalu berdoa agar segala keburukan datang ke kamu ya Mel,”
Vini : “Kalau tanpa Pak Sebastian, udah jadi pembantu kali si Bumel! Ini karena dia kayaraya aja Pak Dimas mau sama dia. Harta habis juga Pak Dimas bakalan kabur cari yang lebih muda,”
Parah?
Beluuuuum,
Dengerin dedengkotnya ngomong.
Yolanda : “Waduuuh, baru juga jendela di cat, malah kita kasih bonus boneka Barbie, udah ciut nyalinya, kita dipanggil-panggil ke ruangan. Habis ini kelakuan lo baek-baekin deh ya, masih untung loh ini kita cuma peringatin, kalo cewek lain dari kantor lamanya Dimas pasti langsung datang nyiram air keras ke tampang nyolot lo. Bisa jadi juga malah nyewa pembunuh bayaran,”
“Itu rencana kamu kali, bukan rencana mereka,” desis Pak Danu.
“Yaaa, jangan heran kalau saya gabung dengan mereka juga habis ini,”
Meilinda maju dengan tampang teracung untuk mencakar muka Yolanda, aku dengan sigap menangkap pinggangnya dan membawanya ke sudut yang jauh dari Yolanda.
“Dimas, tahu nomor telepon aku kan ya? Available always yaaaa just for you, Pasti udah seuzur ini gayanya monoton, kalau sama aku, kamu mau pakai gaya apa pun kujabanin hahaha!” Seru Yolanda.
Udah kayak iklan Spa ++
Kalau habis ini ada ruko Spa dan Pijat dengan nama Yolanda, aku kayaknya akan menghindari tempat itu.
Inti dari semua ini, adalah patah hati.
Wanita seringkali bertindak mengerikan saat sakit hati.
Selesai Meeting Meilinda cuma ngomong kalau dia mau stay di ruangannya sendirian buat menenangkan diri. Jadi aku menyingkir ke kantin. Pingin ngomong ke seseorang, tapi siapa. Akhirnya ngomong sama Nasi Rames.
“Nggak usah sedih, kan itu bukan salah lo,” terdengar suara Trevor.
“Iyaaaa, gue juga tahu,” omelku.
“Jaaaahhh. Lagian tampang lo mellow gitu. Gue dong, biasa saja padahal kerjaan numpuk, email dari Bram nggak sempet gue bales pula mana ada demo gara-gara sengketa pembebasan lahan di Jogja sampe pihak Satpol PP turun tangan, gue masih sempet-sempetin kesini broooo,”
“Sempet-sempetin? Orang lo digeret bapak lo,” Aku masih ngomel.
Bram’s Calling.
“Ya iya lah pacar lo di Jepang,” omelku. Trevor mengangkat telepon sambil menempelkan telunjuknya ke tangan memberiku kode supaya tenang.
“Iya sayang, abang dengerin kamu,” begitu salam pembukanya.
“Sayang-sayang, batokmu.” aku masih bisa mendengar Bram mengumpat dari ujung sana,
“Jangan batok dong Yang, kita kan maenannya Beton,” balas Trevor.
Aku hanya menghela napas dan kembali merenung.
Et, ada telepon. Bu Meilinda.
Ia bertanya aku ada dimana.
So Sweet, nasi rames belum disentuh akunya udah dicari-in.
“Habisin,” desisku ke Trevor sambil menggeser Nasi Ramesku ke arahnya dan ngacir.
**
“Ya Bu?” Aku membuka pintu dan melongok ke dalam. Meilinda lagi di depan mejanya, sikapnya merenung kayak aku tadi menghadap nasi rames, tapi yang ini nggak ada apa-apa di mejanya.
“Aku nggak bisa, kayaknya,” lirihnya sambil menatapku dengan raut wajah sedih.
“Nggak bisa… apa?” tanyaku was-was. Apa bakalan ada drama lagi? Maksudnya nggak bisa itu apa? nggak bisa menjalin hubungan denganku? Dia capek atau apa?
“Nggak bisa kalo nggak cemburu,” gumamnya.
Aku langsung menyeringai. Lalu menghela napas lega.
Eh, dia nangis! Ini di kantor!
Aku harus bagaimana!
Panik Mode on!
“Nyebelin banget, kenapa nggak semuanya aja dipecat siiih,” isaknya.
Seringaiku makin lebar. Tapi sialnya nggak bisa ngedeket, pintu masih kebuka, soalnya.
“Dimas, soriii,” Isaknya lagi. “Kayaknya aku kecanduan kamu, aku jadi sebel banget sama cewek-cewek tadi, rasanya pingin kusewa aja GSA biar diberesin, tapi tindakan itu tidak manusiawi. Aku nggak pingin kamu direbut siapa-siapa!”
Aku nggak tahu harus ngomong apa.
“Mungkin kamu beranggapan aku gampang banget jatuh cinta, padahal baru diputusin sama Gunawan, tapi aku nggak tahu harus gimana nahannya,” Dia kini ambil tisu dan menghapus air matanya.
Aku masih nggak tahu aku harus gimana. Mau aku tenangin tapi dia imut kalo lagi nangis, mau aku peluk nanti malah kebablasan, mau aku cuekin nanti dia galau.
Coba bagaimana?
“Meli...” aku duduk di kursi tamu di depan mejanya. “Maaf ya. Gara-gara aku kamu jadi kesusahan,”
“Kan aku sudah bilang aku terbiasa dibenci, Dimas, jadi nggak papaaaa,” Nangis lagi.
“Iya tapi sudah merambah ke ancaman,”
“Kan saya udah bilang nggak takut diancam ‘anak kemaren sore’,”
“Yaaa....” aku mikir kata-kata selanjutnya tapi tiba-tiba otakku blank. Dan tiba-tiba aku laper. Nasi Ramesku paling sudah dimakan Trevor.
“Apa, kita sudahi saja hubungan ini? Aku beneran nggak tega kalau kamu mengalami hal semacam ini lagi-“
“Apa maksudnya sudahi hubungan ini? Kamu mutusin aku??” pekiknya.
Duh, aku salah ya?
“Mel, masih banyak fansku yang bisa bertindak lebih parah dari Yolanda. Hidup kamu terancam kalau sama aku lebih lama. Aku masih sayang kamu, Mel. Mana tega aku ngebiarin kamu diancam begini?!”
“Justru kalau kamu mutusin aku, hal itu tidak mengubah apa pun, nanti bakalan ada lagi serangga lain yang deketin kamu! Nggak, nggak, Aku nggak sanggup mikirinnya !” sahutnya. Ia malah berdiri. Lalu jalan ke arah pintu, dan menutupnya.
“Sini kamu!” ia menghampiriku dan menarik dasiku, lalu mendesakku ke dinding.
“Aku bakalan nekat sekarang, aku sudah nggak peduli lagi kamu bakalan mencap aku apa!” Lalu ia menciumku.
“Plis jangan putusin aku ya,” Menciumku lagi. Kali ini dengan sesapan.
“Masih banyak cewek di sini yang suka sama kamu, aku akan ;indungi kamu terus,” Kali ini tangannya masuk ke kemejaku sambil tetap menciumku. Dadanya yang membusung menekan ulu hatiku, tangan yang satunya merangkul leherku, menarikku untuk menunduk mengimbangi tinggi badannya.
“Aku nggak masalah diancam kayak apa pun,” Dan menciumku lagi kali ini lebih lama sampai kami berpanggutan lidah.
“Please...” desisnya memohon. Kakinya terangkat dan lututnya sengaja menyenggol adekku di bawah.
Gila...rasanya kayak melayang.
“Mel, kita meeting lagi ya!” Pak Danu. Di depan pintu. Membukanya dengan lebar. Di belakangnya banyak orang.
D.A.M.N