
Aku membiarkan Bu Meilinda memilih sendiri restorannya, karena dia yang traktir. Gajiku bulan ini bisa dibilang ‘utuh’ pengeluaranku sedikit. Akhirnya tinggal 5 hari lagi gajian, uangku bulan ini bisa kutabung untuk beli rumah. Aku ingin membeli rumah yang ada di dekat komplek tempat ibuku tinggal, agar aku bisa sering main ke sana seandainya nanti aku berumah tangga. Tapi harga pasaran di sana sekarang sudah sekitar 1milyaran.
Aku kerja di Bank, jadi aku tahu ‘jahat’nya dunia ekonomi. Aku memutuskan untuk membeli rumahku cash, bukan cicilan karena jatuhnya akan jadi lebih mahal. Jadi itu sebabnya butuh waktu agak lama untuk berhemat. Makan enak ditraktir adalah salah satu caraku untuk menyambung hidup, kebetulan... teman-temanku orang kaya semua. Kumanfaatkan saja privilledge itu.
Tampaknya mereka juga mengerti gaya hidupku. Mereka juga pernah dalam posisi sepertiku soalnya, kecuali Trevor. Dari lahir dia udah jadi Sultan.
Ditambah, tampangku ini membuatku ‘tidak pernah terlihat miskin’, jadi kepercayaan diriku selalu berada di atas kalau soal fashion. Aku pakai kaos robek-robek aja mereka nyangkanya fashion terbaru dari Eropa. Padahal itu kaos kupakai sejak kuliah dan keseringan di cuci.
Otomatis, aku tidak mengeluarkan uang untuk baju dan pritilannya.
Lagian ada Mas Bram. Pinjem aja, susah amat sih?!
Saat seperti ini untuk meningkatkan mood, Nasi dengan Soto Betawi adalah pilihanku. Nggak usah ditanya harganya, mata bisa keluar dari rongga kalau ngeliatin bon-nya.
Kami makan siang...eh, sore di Garnet Hotel. Di lobby ada restoran mewah yang aku lupa namanya. Tapi ini kan Hotel milik kakak Bu Meilinda, jadi kurasa dia dapat keistimewaan ini-itu di sini.
Kulihat, Bu Meilinda tidak makan.
Hanya ada sepotong cake warna putih yang dimakan setengah di mejanya dan cappuchino di samping piring cakenya.
Dia hanya diam di sana sambil memperhatikanku makan. Gila ini daging enak banget! Daging apaan ya? Bisa empuk gini kayak makan tahu! Kok bisa enak banget gini!
Aku santai saja, urusan perut lebih penting.
“Kamu selalu terlihat seperti ini?” tanyanya kemudian.
Aku mengangkat wajahku, “Seperti apa, Bu?”
“Sempurna,”
Aku mengernyitkan kening. Aku tidak tahu maksudnya. Kudiamkan saja, kuanggap Bu Meilinda lagi ngaco karena stress.
“Jadi,” terlihat kalau Bu Meilinda menatap sekitarnya dengan waspada. Apa dia tidak ingin terlihat bersamaku di luar kantor? Mungkin dia malas kalau dilanda gosip miring.
Ya bisa dimaklumi, tapi mana ada karyawan kantorku yang makan siang di Garnet Hotel? Harga satu menu saja bisa buat makan seminggu. Mendingan ngasih duitnya ke ibuku buat bayar token.
“Jadi ?” aku menunggu kalimat selanjutnya.
“Tas yang diberikan Siswoto kepada saya itu, adalah titipan dari Gunawan untuk diberikan pada saya. Siswoto adalah ‘suruhan’ Gunawan. Dari Gunawan, Sarah bisa tahu ada keluarga yang namanya Bagaswirya, dan proyek Siswoto itu juga sebenarnya adalah proyek milik Gunawan. Jatuhnya pribadi, tapi karena Gunawan tidak ingin mandiri dan lepas dari bayang-bayang ‘kakak’ saya, jadi dia membangun proyek sendiri, memakai nama Siswoto,”
“Gunawan ini siapa bu? Saya sering sekali mendengar namanya,”
Tepat saat itu, Arya mengirimkan WA padaku. Pas sekali isinya mengenai profil Gunawan Ambrose. Sesuai yang kuminta padanya minggu lalu.
Disertai kata-kata dari Arya : Nyarinya susah Mas, makanya gue butuh waktu agak lama. Dia ini menghapus semua history-nya di internet.
Dan kubalas : ‘Makasih Ya, nanti prototype Game dari Beaufort gue kirim ke lo.’
Perjuangan Arya kubayar pakai Game terbaru dari Beaufort yang belum pernah diluncurkan. Si Bara emang baek banget ama gue.
Oke, profil dari dunia maya sudah kudapat dan cukup membuatku kaget juga sebenarnya. Tinggal profil yang kudengar dari Bu Meilinda seperti apa.
“Gunawan itu pacar saya, dia kerja di cabang Garnet di Moscow. Usaha tambang berlian kakak saya yang ada di Yakutsk, Garnet Moscow yang mengelola manajemennya. Gunawan ada CEO di sana. Dia itu anak dari sepupu ayah saya. Jadi masih kerabat,”
“Ibu sudah lama berhubungan dengannya?”
“Sejak saya tahu Jeffry ada orientasi seksual berbeda, saya mulai mengalihkan perhatian saya pada Gunawan. Kakak saya tidak tahu saya berhubungan dengan Gunawan. Katanya dia tak ingin mengacaukan hubungan profesionalisme,”
“Dan hubungannya dengan Tas itu?”
Bu Meilinda menarik nafas panjang dan menunduk. Wajahnya berubah merah.
“Waktu malam itu kamu menemukan saya dalam posisi yang ekstrim, saya sedang mencoba alat baru yang dia kirimkan. Dia suka kalau saya berpose seksi,”
“Seksi...” aku mengulangi kata-katanya. Karena merasa kata ‘vulgar’ lebih cocok daripada seksi.
“Kamu harus mengerti, saya sekarang tidak peduli kamu mau mencap saya sebagai wanita murahan, wanita naif, penggila *3** bebas, mempermalukan nama keluarga... saya tidak merugikan hidup orang lain. Saya berada dalam titik terendah hidup saya saat Jeffry akhirnya mengakui kalau dia Gay. Saya menikah dengannya sudah 10 tahun, dan selama itu saya dibohongi!” ujarnya.
Aku menghentikan acara makanku dan mulai mendengarkannya dengan penuh perhatian.
“Jeffry bilang, dia mulai menyukai laki-laki saat tahu kalau ia impoten. Ia stress dan bermaksud liburan ke Paris, dia bilang ingin sendirian. Saat itu lah ia bertemu dengan pasangannya. Mereka bahkan mengadopsi dua anak di Paris! Mas, sejak pertama kali menikah dengannya, saya tidak mempermasalahkan apakah dia ukurannya kecil atau kah dia tidak bisa tegak, masih ada alat bantu! Semua bisa diusahakan. Dan sekarang dia bilang dia jadi Gay karena dia impoten! Kamu percaya hal itu?!”
Aku diam saja.
Aku tidak sepemikiran dengan Bu Meilinda.
Aku tidak setuju dengan Bu Meilinda, tapi aku juga tidak setuju dengan Pak Jeffry.
“Pokoknya, akhirnya saya bertemu Gunawan saat saya ke cabang kita di Moscow. Dan kami jadi dekat... tapi malam itu,” lagi-lagi dia menghela nafas panjang, lalu menatapku dengan sedih.
“Saat sedang mencoba suatu gaya, sedikit Maso, ditambah BD5M untuk bumbunya, ada anak kecil masuk ke dalam kamarnya dan memanggilnya ‘Papa, sedang apa? Mama dari tadi manggil-manggil,”
Aku ternganga.
“Dan kunci yang saya pegang untuk membuka borgol, terjatuh karena saya kaget, ke bawah sofa. Saya berada dalam posisi absurd, sulit, butuh bantuan. Dan kunci cadangan ada di dalam tas saya di atas meja, satu meter dari saya,”
Itu sebabnya dia tidak bisa membebaskan diri. Aku jadi urung bertanya sudah berapa lama dia berada di posisi terikat seperti itu.
Dan kami pun berdiam diri setelahnya.
Aku tidak jadi menghabiskan Soto Betawiku. Rasanya perut seperti diaduk.
“Dia saat ini berada di mana?” tanyaku.
“Di Rusia,”
“Pakai nomor Rusia?”
“Ya,”
“Apa dia sudah menikah?”
“Dia mengaku belum,”
“Apakah Ibu mencari tahu mengenai dia selengkapnya saat berhubungan dengannya?”
“Dia masih kerabat kami, saya rasa semua informasi sudah saya tahu,”
Aku menatapnya lekat-lekat, sampai dia salah tingkah.
Disertai dengan tarikan nafasku yang berat.
Bagaimana wanita ini bisa sepolos ini? Padahal sehari-harinya dia menunjukan taringnya padaku.
Sebenarnya Bu Meilinda itu bagaimana sih orangnya? Kok mau-maunya di bodohi?
Apakah hal seperti ini adalah wajar bagi seorang wanita? Saat stress dan frustasi, main tebas saja? Logika tak berjalan, akal sehat hilang, padahal pendidikannya setinggi langit. Aku sungguh tak mengerti.
Bu Meilinda seperti dihipnotis oleh Gunawan.
“Setelah anak misterius itu muncul, kontak kami terputus. Setelah itu dia tidak bisa dihubungi lagi, sampai sekarang saya kehilangan kontak. Kemarin Siswoto menghubungi saya, katanya ada titipan dari Gunawan,”
Tas itu... ternyata itu tanda permintaan maaf.
Dari ‘kejahatan’ yang dilakukan Pak Gunawan.
Laki-laki brengsek.
“Sekalian Pak Siswoto meminta saya melakukan penambahan kredit, untuk pinjaman atas namanya,”
“Yang sebenarnya itu juga proyeknya Gunawan kan bu? Gunawan dimana-mana... sampai saya bosan liat dan dengar nama itu,” desisku.
Bu Meilinda hanya mencibir.
“Kalau kakak saya tahu, dia akan babat habis si Gunawan. Tapi Mas... sampai kapan saya akan hidup bergantung ke Kakak? Apakah saya tidak bisa berdiri sendiri? Saya tidak ingin melibatkannya dalam urusan cinta saya. Kakak saya sudah cukup sibuk dengan hidupnya,”
Aku menggeleng dan tersenyum masam.
Wanita di depanku ini...
Mungkin dari kecil dia sudah dimanja kakaknya, saat mencoba terbebas, dia malah kehilangan arah.
Pelayan datang dan anehnya bukan membawakan desertku tapi secangkir kopi.
“Saya nggak pesan ini,” desisku.
“Betul, Mas. Ini dari Mbak yang duduk di sana,” Mas-mas pelayan menunjuk sudut meja dekat jendela. Para wanita yang tampangnya seger-seger kayak buah-buahan di All Fresh melambaikan tangan kepadaku sambil tersenyum.
“Ck," terdengar decakan kesal dari bibir Bu Meilinda. “Padahal dari tadi sudah saya pelototin. Rupanya mereka nggak gentar ya,"
Oh jadi sikapnya yang tadi lihat kanan-kiri depan belakang, bukannya dia takut ketahuan makan bersamaku, tapi tatapan penuh ancaman ke wanita-wanita itu.
Ya, enak juga serasa punya pengawal.
“Kamu sering ya digoda seperti ini?" tanyanya lagi. Dari raut wajahnya terlihat dia tidak senang dengan situasi sekarang.
Aku mengangkat bahu lagi. “Lumayan sering," Dan gara-gara itu aku memutuskan pindah kerja.
“Mereka belom tahu rasanya diaudit kamu,” sindir Meilinda.
Aku terkekeh lagi. Pokoknya mood ku sudah membaik saat ini.
“Saya mempelajari background kamu, Dimas,”
Aku menunduk untuk menyesap kopiku. Enak sih, tapi tetap nomor satu bikinan si Syarif.
“Saya lihat di kantor sebelumnya kamu di Divisi Akunting sudah 10 tahun, lalu kamu pindah ke perusahaan retail dan melamar sebagai Audit, tapi belum 1 tahun kamu sudah resign. Ada apa?”
Ya, karena aibnya sudah kuketahui, tidak ada salahnya aku memberitahukan masa lalu kelamku. Toh nggak bisa dijadikan senjata juga sih.
“Saya memilih pekerjaan yang membuat saya dibenci," sahutku.
“Kenapa?” dia tampak tertarik dan mencondongkan tubuhnya ke arahku.
“Di kantor yang lama, ada beberapa orang yang berantem gara-gara saya," jelasku.
Bukannya sok ganteng ya tapi memang begitu kejadiannya, terus terang aku cukup trauma melihat darah berceceran. Dan mereka semua wanita. Plis deh kaum hawa jaman sekarang, tolong lebih bersahaja sedikit begitu loh.
“Astaga! Jadi berita itu beneran? Bukan gosip belaka ternyata!” sahutnya dengan mata tampak bersemangat.
“Beneran bagaimana?” gerrutuku.
“Saya diwanti-wanti sama David Huang untuk berhati-hati sama kamu, katanya kamu player.”
Anjrit! Lagi-lagi kata-kata itu!
“Dan katanya kamu adalah penyebab perkelahian beberapa wanita di kantor yang dulu karena diduga kamu menjalin cinta dengan banyak wanita sekaligus," sambungnya.
Aku ternganga. Tiba-tiba sakit hati.
“Maaf ya bu,” potongku. Aku cukup geram mendengarnya. “Mereka sendiri yang menganggap saya pasangan mereka, saya nggak pernah mengklaim apa pun. Terus apa maksudnya menjalin cinta? Maksudnya *3** begitu? Saya bukan type yang bisa begituan dengan teman sekantor, bisa-bisa ibu saya nangis dengernya,"
Aku paling takut kalau ibuku nangis. Jujur. Terakhir aku melihat beliau menangis waktu bapak meninggal. Dan saat itu rasanya dunia remuk redam.
“Tapi kalo nggak sekantor bisa, gitu?” sindirnya.
“Menurut ibu bagaimana?!” dengusku. Aku capek menanggapinya. Itu privasiku, bukan urusannya.
Ia menaikkan salah satu alisnya.
“Terus kenapa bisa ada kejadian begitu kalau bukan kamu yang mancing-mancing?!”
“Saya cuma berusaha bersikap baik,"
“Aah, itu sebabnya,"
“Apa?” aku mulai emosi.
"Kalau kamu itu terlalu baik, wanita bisa salah paham,"
Aku diam. Aku sebenarnya tahu itu. Tapi masa aku bersikap kasar?
"Wanita makhluk yang rumit," gumamku akhirnya. "Dibaikin salah, dijahatin bilang 'semua laki-laki sama saja' padahal dia trouble makernya. Playing victim,"
"Hei-hei! Saya jadi tersinggung nih!" seru Bu Meilinda.
"Yah ibu juga sama saja," gerutuku.
Dia hanya berdecak menanggapiku. Padahal mulutku sudah sangat pedas, tapi dia tampaknya tak gentar.
“Tahu nggak, Kamu itu dibilang punya susuk.” katanya. Another Absurd topic. Bisa ya bahas sesuatu, urusannya belum selesai malah sudah bahas topik lain.
Dan apa tadi? Aku dituduh punya susuk?!
Sial!
“Dan susuknya ditaruh di bibir kamu,” lanjutnya.
Asw!
“Jadi kalau kamu senyum...”
“Sudah tak usah dilanjut," potongku. Bete.
Dia terkakak. Mungkin baginya ini lucu, tapi digosipin yang jelek-jelek ternyata nggak enak.