
“Yolanda...” Aku memanggilnya. “Kamu tahu kalau semua usaha kamu akan sia-sia kan?”
“Aku nggak peduli, Pak Dimas,” Dia membuka dasiku dengan gunting, lalu nametag ku.
“Apa sih untungnya berusaha menarik perhatian saya, saya nggak punya apa-apa, loh,” desisku lagi.
Dia cuma terkekeh.
Lalu tubuhnya merambat ke atas, ke dadaku, dan kini hidung kami bersentuhan. Menandakan kalau ia sangat dekat denganku.
“Yang itu juga aku nggak peduli,” bisiknya, dan ia merenggut bibirku.
Aku tidak menolak ciumannya, namun juga tidak menyukainya.
Walaupun kami berpanggut lidah. Dan juga saling mendesah,
Karena statusku adalah sandera.
Yolanda menyudahi dengan sedikit kekehan, disambut wanita yang lain yang berebutan menciumku juga.
Aku bisa merasakan salah satu jemari membuka kancing-kancing pakaianku, membuka ikat pinggangku, sepatuku, dan lainnya yang tersisa.
Dan dalam sekejab ciuman tidak terjadi hanya di bibirku tapi di seluruh tubuhku.
Perasaan seperti ini...
Benar-benar membuatku jijik!
Sudah berapa jam waktu berlalu?
Rasanya lama sekali waktu berjalan.
Yang harus kulakukan sekarang adalah menurut.
Ini pembullyan tingkat tinggi.
Rasanya pusing...
Dan aku juga tak bisa melarang siapa pun untuk melakukan apapun, cuma bisa pasrah.
8 wanita, semua seksi, semua cantik,
semua gila!
Dan semua menggerayangi tubuhku, terutama bagian itu.
Mereka juga menawarkan bagian-bagian tubuh mereka padaku, menyodorkannya ke depan mukaku, tepatnya.
Aku bisa mendengar eranganku sendiri saat salah satunya mulai berbuat tak senonoh dengan mulut mereka. Entahlah siapa.
Oke, lihat dari sisi positifnya.
Mereka semua wanita.
Untung saja semuanya wanita, dan single yang kutahu.
Sisi positif lainnya?
Hm... Rasanya memang enak. Sedikit Geli. Tapi mungkin bisa lebih nikmat kalau melakukannya dengan orang yang kusayang.
Meilinda...
Ya Ampun, dilihat dari mana pun tidak ada sisi positifnya ternyata! Rasanya mau nangis!
****
(Narator : Author yang lagi kelimpungan ngurusin bocil-bocil aktif)
Sebastian Bataragunadi,
Triliuner paling bergengsi di negara ini, orang yang sangat disegani di dunia bisnis, orang yang kedatangannya paling ditunggu-tunggu disetiap pertemuan, warga negara pembayar pajak terbesar dari bisnis maupun pribadi, pengusaha yang bahkan pejabat negara rela antri untuk sekedar berjabat tangan dengannya, hari ini harus membatalkan beberapa meeting penting senilai jutaan dollar hanya karena sekretaris plaboy durjana menelponnya, menanyakan mengenai :
"Pak Sebastian, GPS yang dipasang di jam Rolexnya Pak Dimas, koneksinya kemana?"
Ck!
Arman seharusnya mengurusi mengenai pekerjaan yang sifatnya krusial di kala ia meeting penting dengan para pejabat untuk menentukan nasib perekonomian tanah air! Apa tidak ada obrolan Boss-sekretaris yang lebih penting lagi?! Batin Sebastian berkecamuk dan mengomel kesal.
"Ngapain tanya-tanya? Dari mana kamu tau?!" Sebastian sewot karena ketahuan.
"Saya sudah kenal Bapak dari dulu, tidak mungkin memberi tanpa ada maksud," desis Arman, “Termasuk hampers ke Mbak Milad-“
"Jangan sesumbar kamu! Awas kamu pakai itu untuk ancam-ancam saya! Bikin masalah apa lagi si Dimas sampai kamu turun tangan?!"
"Lumayan seru sih Pak, kalau Bapak tahu pasti bapak juga bakalan ketawa," kekeh Arman.
"Katanya udah putus, tapi masalah tetap jalan ya!!" Sebastian hampir saja menutup teleponnya saat ia mendengar kalimat selanjutnya yang membuat ia menaikkan alisnya.
“Pak Dimas diculik, Pak,”
“Hah?”
“Pak Dimas... DICULIK,” ulang Arman lebih tegas
“Nggak usah teriak-teriak saya nggak budeg!”
“Lah tadi bilang ‘hah?!’ saya pikir minta pengulangan,”
“Siapa yang nyulik, apa gunanya dia diculik? Dia bukan anak konglomerat,”
“Kayaknya fans fanatiknya dia Pak, yang waktu itu berantem sama Bu Meilinda,”
Dimas diculik.
Sippp!!
Tidak ada komedi yang lebih lucu dari itu, Batinnya.
“Waaaah, ini baru Cassanova sejati! Kalah kamu Man! Dia sampe diculik cewek-cewek, kamu malah kerjanya nyulik cewek,”
“Saya nyulik cewek juga atas perintah Pak Sebastian,” gumam Arman. “Lagipula, kalau Pak Dimas bentuknya cewek saya juga mau hahaha!”
“Asisten kok koyok wedus, kawin kanan kiri,” gerutu Pak Sebastian. "Ya udah, bikin pingsan aja dulu si Boyo tuh, baru ditolongin," Sebastian menyeringai sambil menutup teleponnya. Saat terakhir panggilan ia masih bisa mendengar sekretarisnya mengeluh.
Tadinya ia mau cuek.
Mengulur waktu supaya Dimas, si tukang main cewek biad4b, bisa merasa menyesal telah tidak menghormatinya selama ini.
Lancang mencium adik kesayangannya, yang sudah ia jaga seumur hidupnya dari bangs4t-bangs4t lain, di depan matanya.
Laki-laki yang telah membuat adik perempuan kesayangannya berlutut menyembahnya bagaikan dewa, sampai-sampai tidak mengindahkan Sebastian lagi.
Hanya karena sedikit ganteng, pikir Sebastian.
Dan sedikit pintar.
Dan sedikit bisa dipercaya.
Dan sedikit ... apa lah...!
Tapi tiba-tiba Sebastian galau.
Haduh.
Kenapa Dimas harus jadi anaknya Bu Lastri sih! Umpatnya.
Jelas-jelas ia berhutang banyak budi sama wanita itu! Dan yang lebih menyebalkan, raut wajah Dimas sama persis dengan Emilio, suami Bu Lastri, orang yang paling dibenci Sebastian.
Dosa apa sih dia harus terjun ke lingkaran setan ini.
Apa ada yang menyantetnya? Saingan bisnis yang mana berani-beraninya mengirim hal sial padanya?!
Cih...
Ia mengutuk dirinya.
Karena terlalu lemah terhadap wanita.
Rasanya ia ingin sekali memukul wajah sok ganteng si Dimas!
Awas aja kalo Meli nangis-nangis gara-gara si cowok bego itu!! Dia mengumpat dalam hati.
Lalu ia menelpon seseorang.
"Pak Baratadhika? Saya Sebastian... Saya perlu koordinat dari lokasi GPS No.1 milik saya. Iya pak, yang dipasang di Rolex si boyo-caur itu!"
**
Brakkk!!!!
Pintu besi kokoh nan gemoy itu didobrak oleh sekumpulan preman bersenjata golok berkilauan disinari cahaya neon bekas diskotik yang temaram di ruangan berukuran 10x10 itu.
"Wuhuuuu!!! Akhirnya ketemu jugaaa!!!" Bang Sa'ad penuh rasa puas karena berhasil memimpin penyerangan mendebarkan, dan temuannya kali ini bagaikan harta karun yang ia tidak sangka-sangka.
Wanita-wanita cantik tanpa pakaian!!
Anak buahnya bersorak-sorai kegirangan, di saat yang bersamaan para wanita itu menjerit-jerit kaget dan kalut sambil mencari pakaian mereka.
Bang Sa'ad sudah memiliki seorang istri, dan ia adalah preman yang setia. Jadi penanganan para penculik ia serahkan saja ke para anak buahnya
Tidak bermoral?
Jelas!
Tapi si penculik yang mulai duluan.
Jadi ia melakukan hal tersebut tanpa rasa bersalah.
Bang Sa'ad langsung, fokus, tanpa ragu, tak berhenti, melangkahkan kakinya ke ranjang besi berseprai satin berhiaskan rantai yang bergelantungan, tempat Dimas diikat.
"Broooooo!!!" serunya senang sambil merentangkan tangannya. "Masa pas kita ketemu lagi tampang lo kacau begini Broooo!!!"
"Gilaaaa!" Dimas terengah. Lega tidak terkira saat melihat Bang Sa'ad datang, syukur berkali-kali ia panjatkan doa kepada Yang Maha Kuasa.
Bang Sa'ad melepaskan rantai yang mengikat kedua tangan dan kaki Dimas, lalu mereka berpelukan.
"Anjrit lo bau keringet!" seru Dimas senang.
"Daripada lo, bau pelumas!!" Bang Sa'ad mengacak-acak rambut Dimas.
"Gue hampir pingsan, kampret!!" sahut Dimas.
"Masa gitu aja nggak kuat, cuma delapan orang bro, gue pikir lo bisa lebih banyak nanggepinnya!!"
"Gue gak seGATOT itu, Bang..." Dengus Dimas.
“Gatot apa’an?”
“Em... Gagah Berotot,”
“HUAKAKAKAKA!!” seru mereka.
“Kalo gitu gue BRUNO,”
“Bruno?”
“Baru masUk udah bilang Oh No!”
“HUAKAKAKAKAKA!!” mereka tertawa berdua.
"Udah keluar berapa kali lo?!" tawa membahana Bang Sa'ad membuat Dimas mengernyit kesal.
"Belom."
"Widihhhh!! Ah, nggak kerasa aja kali!!"
"Seingat gue sih belom bang!"
"Jadi lo itu KAGURA, bro!!"
“Kagura?”
“Kuat , Gundul dan berauRA,”
“HUAHAHAHAHAHAHA!! Udah dong gue jadi sakit perut!! Bangsat lo!” teriak Dimas sambil mukul-mukul ranjang.
“Lah emang gue Bang Sa’ad! Jangan digabung!”
“Embuh!!”
Dimas mengelus pergelangan tangannya yang kini bebas. Lalu mencari ponselnya. "Tu cewek-cewek jangan diapa-apain ntar masalahnya makin rumit!" kata Dimas memberi peringatan ke para anak buah Bang Sa'ad yang mulai 'mengerjai' para penculik. Mereka kini berkumpul di salah satu sudut ruangan sambil menjerit-jerit.
"Dikerjain dikit lah, sambil agak ngancem biar efek jera."
"Jangan terlalu parah Bang, mereka punya backing pejabat." sahut Dimas.
"Dijamin mereka ga bakalan berani ngomong siapa-siapa, beres sudah! Udah bersih lo terima kasus!" Bang Sa'ad menepuk punggung Dimas.
Pria itu menaikan resleting celananya, mengikat ikat pinggangnya dan mengenakan kembali kemejanya. Beberapa kancing sudah raib entah kemana hanya tersisa satu kancing di baris ketiga dari atas.
Ia benar-benar butuh mandi.
Saat ponselnya menyala, muncul laporan 25 panggilan tak terjawab, dan belasan pesan singkat.
Ada demo di Garnet Bank.
Dimas menghela napas.
Hari ini beneran penuh berkah...
"Lo tau dari mana gue di sini?" Dimas keluar dari arena penculikan. Ternyata mereka berada di dekat gedung Garnet Bank, di basement salah satu bangunan bekas diskotik. Itu sebabnya mereka berani menculik siang bolong, karena memang lokasinya ternyata hanya berjarak beberapa gedung.
"Pak Bram kirim lokasi." jawab Bang Sa'ad sambil mensejajari langkah Dimas.
"Gue kayaknya butuh tumpangan ke kantor..." desis Dimas.
"Mandi terus ngopi dulu di rumah gue lah...!"
"Iye, gue butuh itu juga." dengus Dimas sambil masuk ke mobil Bang Sa'ad.